My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Pria (Polos) Idaman


__ADS_3

Haara yang melihat ekspresi Yoan merasa tak enak hati.


"Mm~ tidak usah deh, aku akan beli sendiri." seru Haara tak enak


"Tidak, aku akan belikan untukmu." sahut Yoan tiba-tiba.


"Ehh?? Ka-kamu serius??"


Yoan mengangguk,


"Tapi ... apa kata orang nanti??"


"Tak perduli kata orang, aku tak butuh pandangan orang-orang padaku." seru Yoan melangkah pergi.


"Ti-tidak Yoan! Pergi denganku saja ya, nanti kamu di pandang aneh!" cegah Haara.


"Tidak, ingatlah ini." seru Yoan menunjuk leher Haara.


Ya, pria itu menunjuk hasil karya pria itu sendiri di leher gadisnya itu.


Haara secara perlahan menutup lehernya malu.


"Sudah jangan khawatir, mereka tak akan buta melihatku itu seorang pria atau wanita, orang berwawasan saja yang paham jika aku beli itu bukan untukku." jelas Yoan.


Haara tersenyum haru mendengar jawaban Yoan.


"Aku pergi ke mini market dulu jika seperti itu, ada lagi yang kau inginkan?" tanya Yoan.


"Terima kasih Yoan~" terharu Haara.


Yoan tersenyum dan mengangguk.


"Aku mau cemilan pedas! Aku ingin Makan makanan yang pedas! aku juga akan mudah lapar jika sedang datang bulan." seru Haara malu.


"Baiklah, aku pergi beli dulu, aku tak akan lama ya." senyum Yoan mengusap pipi Haara sebentar dan pergi.


Suara pintu tertutup terdengar, Haara menutup wajahnya malu.


"Huwaaa~ memalukan!! Durhaka nya aku menyuruh suamiku membelikan pembalut! Aku saja yang beli pembalut buat diriku sendiri saja malu! Apalagi Yoan yang jelas-jelas cowok membelikan pembalut untukku? Huwaa~ durhaka nya aku!!" histeris Haara malu.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Yoan melangkah masuk ke dalam mini market, ia mencoba mencari barang bernama 'pembalut' itu.


Yoan pun bertanya pada karyawan wanita di sana, dan ia pun di arahkan ke tempat berjejer nya barang tersebut.


Yoan mengerjapkan matanya dan tertohok.


"Ke-Kenapa banyak jenisnya seperti ini???" tertohok Yoan menatap dari atas kebawah rak itu.


"Yang mana yang harus ku pilih??" frustasi Yoan.


Yoan pun langsung bertanya pada karyawan disana.


"Nǚxìng tōngcháng shǐyòng nǎxiē pǐnpái?( merek apa yang biasanya digunakan wanita?)" tanya Yoan ragu.


Karyawan itu pun langsung mengambil 1 pack dari rak itu.


Yoan mengambil barang itu sesuai rekomendasi karyawan wanita itu.


Gerakan Yoan terhenti saat mendengar dua orang wanita sedang berbisik-bisik dibelakanganya,


Yoan tersenyum bangga mendengarnya,


"Lihat pria itu! Dia membelikan pembalut! Sepertinya ia membelinya untuk pacarnya atau istrinya." ucap wanita pertama dalam bahasa china.


"Wahh! Iya, sepertinya dia sudah menikah, sangat idaman sekali pria seperti dia, pria itu sama sekali tak perduli apa pandangan orang, pengertian sekali pria itu." sahut wanita kedua.


"Benar-benar idaman sekali~ sudah tampan, pengertian juga, aku jadi ingin memiliki suami sepertinya." seru wanita pertama.


"Benar, akan lebih baik jika semua pria itu melihat ketulusan pria itu, dan juga jika para wanita melihatnya pasti akan banyak yang menuntut ingin suaminya seperti pria itu." sahut wanita kedua.


"beruntung sekali istri pria itu, jika suamiku memiliki sikap yang sama dengan pria itu, aku akan sangat mencintai suamiku." seru wanita pertama.


Yoan tersenyum bangga, baru kali ini lagi ia mendrngar ucapan pujian menggunakan bahasa mandarin untuknya sendiri.


"Wǒ jiàng zài zhèlǐ gòumǎi suǒyǒu pǐnpái de wèishēng jīn." seru Yoan dengan percaya dirinya pada karyawan wanita itu.


Karyawan wanita itu yang mendengarnya terkejut.


Yoan mengerutkan keningnya menatap karyawan itu.


"Zěnmeliǎo?(ada apa?)" tanya Yoan.


Karyawan itu yang di pandnag Yoan pun menunduk,


"Duìbùqǐ, xiānshēng. shénme dōu méiyǒu.(maaf, tuan. Tidak ada apa-apa.)" sahut karyawan itu masih tak percaya dengan ucapan Yoan.


●•●•●•●•●

__ADS_1


• • •


• •



Kriet!


Haara pun berdiri tegak saat pintu apartemennya terbuka, ia menunggu Yoan di depan pintu apartemen.


"Yooo ..." ucapan Haara terhenti saat melihat pria itu.


"..an."-Haara ternganga.


Ya, Haara ternganga melihat Yoan yang membawa beberapa plastik belanjaan dari minimarket yang begitu banyak.


Haara memberi jalan pada pria itu yang kesusahan berjalan.


"Yoan?? Ka-kamu! Kenapa beli banyak sekali!"


"Ya kau bilang butuh pembalut, aku kebingungan karena banyak jenis dan merek nya, jadi aku beli semua merek di mini market." seru Yoan polos.


Haara menepuk keningnya, ia lupa mengatakan jika dia hanya butuh satu pack pembalut saja,


"Yoaan~ tapi aku hanya butuh satu pack saja~" frustasi Haara melihat tiga kantong plastik besar yang berisi banyaknya pack pembalut berbeda-beda merek.


Yoan yang mendengarnya menatap Haara polos.


"Satu .. Pack saja??" tanya Yoan polos.


Haara memijat pelipis nya menatap Yoan sambil mengangguk.


Tubuh Yoan seketika melemah


"Pantas saja karyawan wanita itu terkejut, dan juga orang-orang menatapku aneh, aku kira tatapan mereka karena terkagum padaku." seru Yoan sangat polos.


"Kenapa kamu .. Punya pemikiran seperti itu?" tanya Haara menahan tawa nya.


"Karena ... Ada dua wanita memujiku tadi, mereka bilang aku membelikan pembalut untuk istriku sendiri, itu sangat mengagumkan bagi mereka, mereka juga bilang aku adalah pria idaman wanita." jelas Yoan.


"pftt .." tahan tawa Haara,


Haara tak bisa menahannya lagi, ia tertawa sambil membuang wajahnya.


"Hahh, jadi mereka memandangku aneh karena memborong pembalut? bodohnya aku, bahkan mereka lebih berwawasan dariku ternyata." seru Yoan merutuki kepolosannya.


Yoan menduduki dirinya di sofa sambil menghela nafasnya kasar.


Haara yang mendengar ocehan Yoan pun tertawa pecah saat itu juga.


Yoan menatap Haara yang mentertawai kebodohannya.


"Ahhh~ memalukkan~" rengek Yoan.


Haara mengambil satu pack pembalut dan melangkah masuk ke dalam kamar dengan suara tawa masih menggema.


• • •


"Apa ada yang mengenalku tadi ya?" tanya Yoan pada dirinya sendiri.


Yoan membayangkan kejadian di perjalanan tadi, banyaknya orang berlalu lalang tadi, ia mengingat banyak sekali orang yang menatapnya, dan bahkan ada yang menertawainya.


"Ahh~ jatuh sudah harga diriku sebagai CEO internasional~" keluh Yoan merengek.


"Apa kata mereka jika mengenalku sambil membawa belanjaan pembalut sampai 3 kantong plastik besar? Ahh~ memalukan~" rengek Yoan menyandarkan dirinya di sofa sambil menutup wajahnya yang menahan malu.


"Yoan, maafkan aku ya~ aku lupa kasih tahu ke kamu untuk beli satu pack saja." merasa bersalah Haara jujur Haara menahan dirinya agar tak kembali tertawa.


"AtHaara~ bagaimana jika ada yang mengenalku nanti~ apa penilaian mereka atas kebodohanku sampai membeli 3 kantong plastik pembalut, memalukan~" rengek Yoan.


"Yoan, maaf ya~"


"Kenapa kau minta maaf padaku? Ini kesalahan dan kebodohanku AtHaara~" seru Yoan masih menutup wajahnya.


"Tapi aku lupa bilang padamu aku hanya butuh satu pack saja." sedih Haara tak tega melihat Yoan yang frustasi menahan malu.


"Rasanya aku ingin pulang ke Indonesia saja." seru Yoan merengek, ia menjatuhkan dirinya kepelukan Haara.


Haara memeluk Yoan sambil mengusap-usap rambut Yoan.


"Hey hey, ayolah~ aku tahu apa yang kau rasakan, tapi yakinlah kau mendapat cap idaman dari para wanita." seru Haara lembut.


Yoan yang mendengarnya mendongakkan kepalanya.


"Lalu bagaimana dengan pandangan para pria??" seru Yoan.


"Mereka pasti mentertawaimu, tapi lain pandangan seorang wanita, mereka pasti terkagum-kagum kepadamu, pasti mereka akan menuntut pacar atau suaminya agar bisa menjadi pria seperti mu, karena kau adalah pria idaman para wanita." jelas Haara menatap Yoan di pelukannya.


Yoan tersenyum senang mendengar penjelasan Haara yang menenangkannya.


"Senangnya aku dan beruntungnya aku mendapat suami yang menjadi idamannya para wanita, huhu~" seru Haara memeluk Yoan erat.


Yoan yang mendengarnya terkekeh.


"Sungguh begitukah?" tanya Yoan bangga.

__ADS_1


"Eum! Sungguh idaman sekali! Aku banyak mendapat cerita dari salah satu temanku, jika pacarnya itu dimintai tolong untuk belikan pembalut oleh temanku, ehh pacar temanku menolak keras hingga mereka bertengkar hanya masalah itu." seru Haara bercerita.


Yoan tersenyum tipis mendengarnya.


"ternyata tak hanya salah satu temanku yang mengalaminya, namun beberapa temanku juga pernah mengalami perdebatan hal serupa dengan pacarnya." jelas Haara.


"Jadi sekarang kau tahu bukan kenapa kau di bilang pria idaman?" tanya Haara.


"Hm, aku tahu sekarang, aku lebih senang di anggap pria idaman olehmu." seru Yoan menggenggam tangan Haara erat.


Haara yang mendengarnya terkekeh.


Ucapan Haara sungguh sangat berpengaruh sekali padanya, seketika rasa malu dan kata-kata merutuki untuk dirinya sendiri memudar.


"Lalu? Jika kau hanya butuh satu pack, apa itu semua akan di buang?" tanya Yoan menduduki dirinya tegak.


"Jangan! Sayang lho~ masa di buang, lumayan aku dapat stock selama 1 tahun." kekeh Haara.


Yoan yang mendengarnya mengangguk-angguk polos.


Haara menahan senyumnya menatap Yoan yang mengangguk-angguk dengan wajah polosnya.


Puk!


Yoan membulatkan matanya saat Haara menangkup kedua pipinya untuk menatap gadis itu.


"Saat itu lobak kau bilang wortel kekurangan zat melanin, terus gula kamu bilang garam, sekarang kau salah tanggap lagi, nanti apalagi kira-kira ya?" tawa Haara mencubit kedua pipi Yoan gemas.


Yoan memicingkan matanya menatap Haara.


"Apa? Fakta kamu itu lho~" tawa Haara.


"Suka sekali kamu meledekku ya?" seru Yoan.


"Ya, itu hobi baruku, yaitu membullymu." seru Haara mencoba menyontek kalimat Yoan.


"Kenapa kalimat menggodanya di ganti menjadi membuly? Ahh tak seru." kecewa Yoan.


"Tidak, aku kini harus berhati-hati dengan ucapanku sendiri, karena kau sangat pandai mengganti topik pembicaraan." seru Haara cemberut.


"Hahh, kecewa aku."


Yoan mengangkat sebelah alisnya melihat Haara yang terus menatapnya dengan wajah menahan senyumnya.


"Apa ada yang aneh di wajahku?" tanya Yoan bingung.


Haara menggeleng.


"Lalu kenapa kau menatapku dengan wajah mu yang menahan senyum begitu??" tanya Yoan heran.


"Aku selalu menahan untuk mengatakan ini padamu, tapi aku ingin mengatakannya padamu." seru Haara malu.


"Mengatakan? Mengatakan apa??" tanya Yoan semakin bingung.


"Kau ... Sungguh suamiku?" tanya Haara mengusap-usap kedua pipi Yoan


" ... Ha?" bingung Yoan.


"Kau sungguh suamiku?" tanya Haara lagi sambil cemberut.


"Tentu saja aku suamimu, pertanyaanmu ini ... Kenapa sih??" tanya Yoan semakin bingung.


Yoan mengerjapkan matanya saat Haara menarik kepalanya agar jarak wajah nya lebih dekat dengan wajah Haara.


"Kamu! Kamu kenapa tampan sekali sih, Yoan~"


"... Ha?"-Yoan.


...•...


...•...


...Author : " polosnya CEO internasional satu ini😂 mentang-mrnatang kaya, di borong satu rak😆"...


...•...


...❤Bersambung❤...


...•...


...Hai, kakak-kakak Readers👋 Hai, kakak-kakak author hebat!👋...


...Terima kasih sekali sudah hadir di ceritaku ya😊...


...Jangan lupa:...


...-Like...


...-Vote...


...-Rate 5 star...


...- komentarnya juga ya😊...


...Karena itu sangat berarti untuk aku selaku author😊...

__ADS_1


...Sehat selalu untuk kakak-kakakku ya, disaat pandemi seperti ini selalu jaga kebugaran tubuh kita ya🤗...


...See you tomorrow😇...


__ADS_2