
Haara telah tiba di Penthousenya, baru saja ia akan masak, ia mendapati Yoan yang duduk di kursi bar dapur sambil menikmati secankir coklat panas.
Haara bungkam, ia tahu jika Yoan menyadari kedatangannya, namun pria itu nggan menatapnya sedikitpun.
Haara melirik ke meja makan, meja makannya sudah kosong, tak ada lagi omelete diatas meja, ia menelan ludahnya.
'Apa Yoan membuangnya dan sekarang tengah marah dengannya?' batin Haara,
Yoan bangkit berdiri menghampiri Haara,
"Dimana berkasnya?" tanya Yoan datar
"Be berkas?"
"Apa Yifan lupa memberinya padamu?" tanya Yoan tajam,
Iya hampir melupakkannya, Yifan tadi saat pulang sekolah memberikan berkas dari papanya itu kepadanya untuk diberikan kepada Yoan.
Haara dengan cepat mengambil berkas itu di tas nya dan memberikannya kepada Yoan,
Yoan membaca berkas itu,
"Aku sudah makan, buat makan malam untukmu saja" seru Yoan cuek dan pergi meninggalkan Haara,
Haara mematung, ia merasa jika pria itu sekarang balik menghindarinya, dengan cepat ia mencari omelete itu di dapur hingga tempat sampah,
Ia tak menemukannya,
Ia menghela nafasnya kasar, rasanya sakit dicueki seperti ini, benar benar menyakitkan.
Haara pun mengikat rambutnya dan ia akan masak mi untuk makan malam nya sendiri.
• • •
Haara baru tiba dilantai atas,ia melirik ke ruang kerja Yoan yang tidak tertutup, pria itu berdiri dengan posisi membelakangi keberadaan gadis itu,,
Ia hanya menghela nafas dan melangkah ke kamarnya,
Ia memeluk kedua lututnya, apa yang harus ia lakukan?
Seharusnya pria itu menjelaskan dulu alasannya baru mengatai nya bodoh.
Ia membenarkan isi pesan yang pria itu kirim tadi pagi, ia menyetujui ucapan pria itu menilai dirinya, bahwa ia tak pandai menyusun kata kata yang baik.
"Benar benar tak enak sekali rasanya~kami seperti sedang perang dingin" seru Haara melamun.
Suara pintu terbuka dan tertutup pun terdengar,itu bukan suara pintunya, suara itu berasal dari luar kamarnya,
Ia meyakinkan jika pria itu masuk kedalam kamarnya,
"Besok aku harus bangun pagi, membuat sarapan, agar tidak kesiangan" ucapnya menyemangati diri dan menidurkan dirinya, perlahan ia memejamkan matanya.
●•●•●•●•●
Sisi lain~
Suara ketukan pintu terdengar, Alka melirik siapa seseornag yang mengetuk pintunya yang jelas sudah terbuka,
"Kenapa?" tanya Alka kembali fokus pada ponselnya,
"Aku ingin bicara hal penting denganmu" sahut Aldo mendekati adiknya,
"Mengenai apa?"
"Haara"
Alka terdiam sejenak dan menatap kakaknya heran,
"Daniel"
Seketika Alka menatap kakaknya serius,
"Ada apa dengannya kak? apa kakak sudah tahu dimana ia berada sekarang??" tanya Alka,
"Tidak, tapi tadi sore ia mengirim pesan padaku"
"Apa isi pesannya??"
"Ia bilang jangan halangi ia untuk mendapatkan Haara, ia akan mendapatkan Haara bagaimana pun caranya, jika aku ikut campur ia akan mengirim orang untuk menghabisiku" seru Aldo khawatir,
Alka membelalakan matanya,
"Benar benar sudah gila dia!!" emosi Alka,
"Haara menarik perhatiannya, itu juga membuatnya kesal dengan Haara, karena baru kali ini ia mendapatkan sebuah penolakan dan juga baru ada seorang wanita yang tidak menyukainya" jelas Aldo serius,
Alka memegang kepalanya,nyatanya sahabatnya itu belum aman.
"Saat itu Daniel bertemu seorang wanita kurang lebih satu bulan kemarin di mini market, ia tertarik dengan gadis itu pada pandangan pertama, ia akan mencari kemana pun wanita itu katanya" jelas Aldo,
"Sedangkan wanita itu adalah Haara sendiri" tambah Aldo, seketika kepala Alka pening, ia takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya.
__ADS_1
"Lebih baik Haara tidak dibiarkan pulang atau kemana mana sendiri" khawatir Aldo,
"Kakak benar, ini salahku saat itu, kalau saja aku tak memaksa Haara kerumah, mungkin si brengsek itu tak akan bertemu Haara" merasa bersalah Alka menunduk,
"Jangan salahkan dirimu, itu bukan salahmu, jika saat itu kau tak mengajak kerumah pun cepat lambat mereka berdua bertemu, karena Daniel benar benar mencari Haara saat itu" jelas Aldo menenangkan adiknya.
"Kakak benar juga~aku harus beritahu Yifan agar bisa melaporkan segera ke tuan Yoan" serunya,
"Yifan? tuan .. Yoan?? mereka siapa? apa salah satu dari mereka itu pacarnya Haara?? irinya~"kekeh Aldo dan sedikit bingung
Alka menutup mulutnya rapat rapat, ia keceplosan ternyata.
"Ee .. ,ya~"cengir Alka,
"Jadi ia sudah punya pacar??"tanya Aldo tak percaya,
"I ..ya"
"Siapa nama pacarnya? Yifan? atau tuan .. Yoan? kenapa kau menyebutnya tuan Yoan?" tanya Aldo bingung,
Alka memejamkan matanya, otaknya sedang berfikir,
"Alka~" panggil Aldo,
"Yoan! pacarnya itu Yoan, dan Yifan itu .. Sepupunya tuan Yoan"
"Kenapa manggilnya tuan?"
"Karena aku belum begitu akrab dengan pacar nya Haara, jadi aku dan Riza memanggilnya tuan" ucap Alka,
"Apa pacarnya tua? kenapa harus tuan?kenapa tak kakak?"
Alka memejamkan matanya sambil mengumpat,
"Karena ia adalah seorang CEO muda! makannya aku memanggilnya tuan!" sahut Alka kesal, tak sadar jika ia keceplosan lagi.
"CEO?? Berapa umurnya??"
"Aku tidak tahu, tapi seperti sepantaran denganmu"
"Masih kuliah dong? kenapa ia sudah menjadi seorang CEO? bahkan aku belum wisuda dari jurusanku"
"Karena ia itu jauh lebih pintar dari kakak, ia lulus lebih awal, paham?!" jelas Alka yang jelas jelas tak tahu kebenarannya.
"Ah masa? sepintar apa dia bisa mengalahkan ku" sombong Aldo,
"Sangat pintar dan juga sangat tampan~" sahut Alka cekikikan mengingat wajah tampan seorang Yoan.
"Banyak mengoceh! aku mau menelfon Riza dan Yifan dari tadi terus tertunda karena menjawab pertanyaan unfaedah mu, pergi sana, hus!hush!" usir Alka geram mendorong Aldo keluar dan menutup pintunya.
Alka menghela nafasnya dan mencoba menelfon Yifan terlebih dahulu,
Menunggu lama, namun Yifan tak mengangkat telfonnya, ia pun mencoba lagi dan lagi, hasilnya pun nihil,
"Kemana dia!gawat ini!"paniknya mencoba menelfon Riza,
Sahabatnya pun tak mengangkat telfonnya, ia pun mencoba lagi dan lagi, namun sama sama nihil,
"Pasangan menyebalkan!" geram Alka,
Ia pun berfikir akan menelfon Haara, namun ia mengurungkan niatnya, karena ia tak ingin sahabatnya itu ketakutan berlebih, ia tak ingin Haara mengingat kejadian saat Daniel memaksanya untuk ikut pria itu, ia tak akan memberitahu Haara.
"Dia tak perlu tahu, yang penting ia harus tetap tenang. biar aku, Riza dan adik iparnya itu melindunginya" angguk Alka.
●•●•●•●•●
Keesokan paginya ..~
Haara pun melangkah ke arah dapur berniat akan membuat roti untuk sarapan, namun fokusnya teralih saat melihat Yoan yang tengah memakai sepatu,
Haara menatap bingung pria itu,
"Aku akan berangkat sekarang, sebelumnya aku akan kerumah Ammar dan Anna, aku sarapan di kantor nanti" seru Yoan,
"Ah iya" sahut Haara pelan, ia menatap Yoan yang keluar.
Haara meremas roknya, ia menahan sakit dihatinya, rasanya sulit sekali ia bernafas,
"Pergi saja sana! menyebalkan!!" teriak Haara kesal, ia melangkahkan kakinya sambil menghentakkan kakinya.
• • •
Ia menduduki dirinya di halte bus, terdengar suara notif ponselnya, ia pun merogoh ponselnya di saku jas sekolahnya,
Ia mengerutkan keningnya, pesan itu dari Yoan,
'Lihat sekitarmu,berhati hatilah,jika ada yang macam macam berteriak meminta bantuan'
Haara menghela nafasnya, rautnya berubah sedih seketika,
Bus pun tiba ia pun bangkit berdiri dan melangkah masuk kedalam bus.
__ADS_1
Ia menghela nafas saat bus itu agak penuh, jika bukan karena ia ingin membeli sesuatu, ia tak mungkin memilih berdesakaan di dalam bus,ia akan memilih naik taksi.
• • •
Penumpang demi penumpang terus naik satu persatu membuat ia sungguh sesak sekarang,
Ia berfikir seharusnya ia memilih naik bus berikutnya saja, mengingat jika sekarang sekolahnya memiliki acara ulang tahun sekolah, jadi siswa siswi bebas mau datang kapan saja,
Ia merutuki dirinya memilih berangkat pagi pagi seperti hari biasanya.
Bus kembali berhenti karena ada penumpang, Haara pun berteriak jika ia akan turun, lagi pula sudah tidak begitu jauh kesekolahnya.
Suara dering ponselnya terdengar, ada panggilan masuk untuknya, ia tak menghiraukan karena saat ini ia kesulitan turun.
• • •
Ia menatap kesal bus yang ia tumpangi tadi, benar benar tak mau rugi pemilik bus itu,
"Ahh~tubuhku sakit rasanya karena terus dihempit orang orang disana" keluh Haara memijat tangannya,
Ia mengambil ponselnya dan mengecek siapa yang menelfonnya,
"Riza? kenapa menelfonku ya?" bingung Haara, tak lama dari itu ponselnya kembali berdering, tertulis panggilan masuk dari Yifan,
"Sekarang dia, ada apa sih?" bingung nya mengangkat telfon dari Yifan,
Haara :
"hallo,kenapa sih?"
Yifan :
"kenapa telfon Riza tak diangkat?dimana kau?" (dengan nada panik)
Haara :
"Aku baru turun dari bus tadi, aku sekarang menuju ke sekolah, sedikit lagi sampai, kau kenapa sih?"
Yifan :
"Kak Yoan tak mengantarmu??"
Haara :
"Tadi pagi ia buru buru, dari kemarin aku itu naik bus tahu"
Yifan :
"Bodoh! jadi sekarang kau sendiri??"
Haara :
"Tentu aku sendirian"
Yifan :
"Sekarang turuti ucapanku shareloc lokasi mu sekarang, jangan banyak tanya"
Haara mengerutkan keningnya bingung ia menuruti ucapn Yifan tanpa memutuskan panggilan,
Ia pun fokus berjalan dengan santai, ia menatap bus itu berhenti dan menuruni seseorang disana, seorang pria menatapnya sambil menyeringai
Haara terkejut bukan main, pria itu ..
Haara :
"Yi Yifan~to tolong aku Yifan~" (dengan nada ketakutan,
Yifan :
"Hallo Haara, ada apa Ra???! kau kenapa??!" (panik Yifan)
Haara melangkah mundur saat pria itu melangkah cepat kearahnya dari kejauhan,
Dengan cepat Haara berbalik dan lari kalang kabut, jantungnya berdegup kencang dan gemetar sekali,
Pria itu pun ikut lari saat Haara lari,
Haara :
"Yifan tolong aku! Daniel mengejarku!!".
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
Hai readers dan author author hebat😍
__ADS_1
terima kasih sudah membaca ceritaku, tunggu kelanjutan ceritanya ya kakak kakak❤ jangan lupa Like, Vote, Rate dan Komentarnya yang sangat ditunggunya kakak❤❤budayakan tinggalkan jejak ya😇