
suara sambungan terputus pun terdengar, panggilan Yifan terputus,
"Hallo!? Haara hallo!? aish!!" kesal Yifan,
"Kenapa Yifan?" tanya Aldo yang sudah ada sejak tadi, ia datang untuk memberitahu jika ia melihat Daniel tadi, namun ia kehilangan jejak, lalu ia pun datang kesekolah untuk memastikan jika Haara sudah disekolah, namun tebakkannya salah.
"Daniel! dia menemukan Haara, Haara dikejar oleh nya sekarang" jelas Yifan frustasi dan mencoba menelfon Yoan.
Alka menutup mulutnya, sedangkan Riza meringis dan takut terjadi sesuatu dengan Haara.
Yifan tiba tiba saja lari sambil menatap ponselnya,
"Yifan kau mau kemana??"
"Mencari lokasi yang Haara shareloc padaku tadi"
Sontak Alka, Riza dan Aldo mengikuti Yifan,
"Sial, dekat darimana? bahkan ini masih jauh!!" umpat Yifan,
"Riza, coba telfon Kak Ammar segera" panik Yifan frustasi,
Riza mengangguk dan mencoba menelfon Ammar
"Sial kau Yoan! dimana kamu! istrimu sedang dalam bahaya ponselmu tak aktif!" geram Yifan pelan,
●•●•●•●•●
Ammar mempersilahkan Yoan masuk kedalam rumahnya, ia akan membahas sebuah proyek dengan Anna sahabatnya lalu akan pergi rapat setelahnya,
"Kau tak mengantar Haara kesekolah?" tanya Anna memberikan Yoan secangkir teh,
"Ia akan menolak" sahut Yoan singkat
"Masih bertengkar?" tanya Ammar,
"Kalian bertengkar??" tanya Anna terkejut,
"Aku berniat membantunya belajar, aku tak ingin ia menyesal nanti saat ia akan kuliah dan memilih jurusan, aku ingin ia bisa masuk ke Universitas, namun tak kusangka ucapanku membuatnya sakit hati" jelas Yoan,
"Ucapanmu pasti sangat menyebalkan, aku terkesan dengan alasanmu, segeralah berbaikan dan jelaskan padanya maksud dari ucapanmu" nasihat Anna,
"Aku sudah jelaskan"
"Kapan?"
"Kemarin lewat pesan" sahut Yoan enteng,
"Kenapa tak langsung!" geram Anna,
"Ia tak ingin bicara denganku, jadi aku mengirim penjelasan lewat pesan" sahut Yoan miris,
Ponsel Ammar berbunyi dia atas meja, Anna dan Yoan dapat membaca siapa yang menelfonnya,
Yoan mengernyitkan dahinya,
"Riza?" bingung Anna,
"Akan ku loud speaker kan" seru Ammar mengangkat telfon,
Ammar :
"Hallo Riza,ada apa?"
Riza :
"Kak Ammar!apa ada tuan Yoan disana!?(suara ngos ngosan)
Yoan yang mendengar namanya pun langsung menyambar ponsel Ammar,
Yoan :
"Ini aku Yoan,ada apa?"
Riza :
"Haara!Haara dalam bahaya!Daniel mengejar Haara"
Sontak Anna Ammar ikut terkejut,
Yoan melempar ponsel Ammar kepada Ammar dan secepat kilat ia pun pergi,
Ammar dan Anna pun ikut mengejar Yoan,
Yoan masuk kedalam mobil dan membuka shareloc ponsel Haara diponselnya, ia pun mendapat notif jika ada 4 panggilan tak terjawab dari Yifan dan 9 panggilan tak terjawab dari Haara,
Ia pun dengan cepat menancapkan gas ke lokasi yang ditunjukkan.
• • •
Dengan kecepatan yang tinggi, Yoan terus berdoa dalam hati agar Haara tidak apa apa,
Ia memukul keras stirnya, ia menahan emosi, nafasnya naik turun, ia menahan emosi saat ini, ia merutuki kebodohannya, ia menyalahkan dirinya,ini semua salahnya!
__ADS_1
Ia pun menghentikan mobilnya saar mengetahui jalanan macet,
Yoan mengerang kesal, lagi lagi ia memukul stir mobilnya.
Ia pun membelokkan mobilnya ke arah rumah makan, ia memparkir asal dan bergegas turun dan lari mengikuti arah yang di tunjukkan,
Yoan pun mencoba menelfon gadisnya yang dalam bahaya itu.
●•●•●•●•●
Nafasnya sudah tak beraturan, ia salah mengambil jalur, ia salah mengambil jalan pelarian jalanan ini begitu sepi.
Samping kanan terdapat danau besar dan samping kirinya terdapat hutan, ia salah prediksi jika jalan yang ia lalui itu perkampungan.
Ia pun dengan cepat bersembunyi di sebalik rongsokkan,
Tubuhnya bergetar hebat, ia ketakutan sekali,
Ponselnya berbunyi, dengan cepat ia mengangkatnya,
Suara khawatir dari seberang telfon itu terdengar, seketika Haara menangis dalam diam,
"Yoan,aku takut~tolong aku Yoan~ia tengah mengejarku sekarang,cepatlah~aku takut~"seru Haara berbisik sambil terisak isak,
Haara terkejut saat ponselnya tiba tiba saja di ambil,
Haara dengan takut menengok kebelakang,
Daniel menyeringai, ia pun membanting ponsel Haara,
"Jangan!" teriak Haara mengambil ponselnya yang hanya menampilkan layar putih, layar ponselnya retak.
Dengan paksa Daniel msnarik tangan Haara paksa,
"Lepaskan aku!!" teriak Haara meronta,
"Kau akan menjadi milikku! kau berani menggoda dengan parasmu, kau harus bertanggung jawab sekarang!" seringai Daniel,
"Aku tak pernah menggodamu!! dasar pria brengsek!!" teriak Haara menampar wajah Daniel,
Daniel terdiam, ia menatap Haara tajam dan penuh amarah,
Daniel pun menampar balik Haara
"Beraninya kau menamparku j*lang!!" naik pitam Daniel,
Haara memegang pipinya yang terasa panas dan terbakar, tubuh Haara bergetar semakin jadi, air matanya nya mengalir dipipinya.
"Ikut aku!!"tarik paksa Daniel,
• • •
Daniel membawa Haara ke sebuah bangunan tua disana, Daniel menyudutkan Haara ditembok, dan menutup jarak diantara mereka.
Haara mendorong Daniel sambil tertunduk,
Perlahan Daniel menarik tangan yang menahan dirinya
"Yo .. an~" isak Haara,
"Siapa Yoan?" tanya Daniel, namun tatapannya terfokus pada jari manis Haara,
"Cincin? cincin apa ini?" tanya Daniel menuntut jawaban,
"Cincin pernikahanku" sahut Haara,
"Menikah? jangan melawak sayang~ bahkan kau masih sekolah, mana mungkin kau masih sekolah namun sudah menikah, lelucon yang sama sekali tidak lucu!" tertawa Daniel,
"Itu faktanya! pria bernama Yoan adalah calon suamiku!! aku menikah muda dengannya!" teriak Haara,
Daniel mentap tajam Haara, ia pun memaksa membuka cincin di tangan Haara.
Tak tinggal diam Haara pun menahan agar cincin itu tidak lepas,
"Lepaskan cincinnya!!" paksa Daniel mendorong Haara,
Kepala Haara terbentur tembok, ia memegang kepalanya, kepalanya terasa sangat sakit atas benturan itu, Haara menatap Daniel yang membuang cincin itu kearah samping.
Daniel menjongkokkan dirinya, memegang dagu Haara,dengan cepat Haara mengeleng kasar,
"Jika kau sudah menikah, berarti kau sudah tak v*rgin bukan?" tanya Daniel,
Haara tercegang dengan ucapan pria didepannya,
"Jika seperti itu, biarkan aku mencoba tubuhmu, Haara~" bisik Daniel,
Haara pun memeluk tubuhnya dan mencoba melindungi diri,
Daniel memaksa Haara membuka jas sekolah Haara,
Perlawanan cukup lama namun pertahanannya gagal, Daniel melempar jas sekolah Haara,
"To tolong jangan lakukan ini, kumohon~" mohon Haara yang kembali menangis,
__ADS_1
Daniel tak menggubris, ia pun menarik paksa baju Haara,
Haara pun berteriak dan meronta,
Dua kancing baju di bagian perutnya sudah copot, kancingnya terpental, Haara terus berteriak, ia terus bertahan agar bajunya tak terbuka.
Daniel benar benar emosi sekarang, karena gadis dihadapannya ini, dapat menahan agar bajunya tak terbuka.
Dalam hati Haara selalu memohon agar Yoan datang menolongnya, ia membutuhkan pria itu sekarang,
ia ingin Yoan memeluknya sekarang,
BUK!!
Sebuah hantaman terdengar dari pendengaran Haara,
Ia membuka matanya perlahan, ia menangis saat menyadari Yoan datang menolongnya,
Tangan kirinya menahan baju seragamnya yang sudah rusak, sedangkan tangan kanan nya menutup mulutnya menyadari keanehan Yoan saat menghajar Daniel dengan sangat penuh emosi,
Ia melihat Yoan tidak seperti Yoan seperti biasanya,
Tatapan penuh kebencian dan amarah,
Ammar dan Anna pun tiba disana, dengan cepat Ammar menahan Yoan yang benar benar sudah naik pitam,
Anna menghampiri Haara dan memeluk Haara erat,
Ammar lari menghampiri Yoan dan menahan Yoan
"Yoan! sudah Yoan! sudah cukup!" seru Ammar kualahan
Ammar berhasil menahan Yoan yang sudah tersulut emosi,
Daniel menyeringai dan mencoba untuk berdiri,
Yoan membelalakan matanya, seringaian dari Daniel membuatnya teringat akan masa lalunya,
"Jadi kau pria bernama Yoan? siapa kau? menganggu kesenanganku saja~" seru Daniel mengusap Darah di pipinya, wajah Daniel sudah sangat babak belur,
"Sialan!! apa yang kau maksud kesenangan dasar bedebah sialan!!" teriak Yoan menatap tajam Daniel,
"Tentu kesenangan menikmati tubuh Haara~, gadis itu milikku, bahkan gadis itu bilang jika ia sudah menikah, itu tak mungkin terjadi, bahkan ia masih seorang siswi SMA, kecuali .." gantung Daniel,
"Ia sudah tidak v*rgin" seringai Daniel,
Ammar, Anna, dan Yoan membelalakan matanya, Haara hanya menggeleng tak membenarkan ucapan Daniel,
Yoan menggertakkan giginya, ia memaksa agar Ammar melepaskan nya, ia pun mendorong Ammar menjauh
Ammar pun terjatuh,
Ucapan yang merendahkan, dan sebuah seringai senyuman Daniel membuat emosi Yoan memuncak.
Yoan kembali menghajar Daniel lebih keras, bahkan Daniel kualahan dan merasa pukulannya lebih menyakitkan dari sebelumnya,
"Jaga bicaramu!! sadarlah dengan siapa kau bicara bedebah sialan!!" emosi Yoan memukul Daniel,
Masa lalu~ masa lalu~, itu yang kini ia ingat saat ia menghajar habis Daniel, ia menganggap jika Daniel itu adalah pria yang dulu menyiksanya.
Amarah dan emosi nya memuncak saat ia mengingat jika ucapan Daniel sama persis dengan ucapan pria yang menyiksanya dulu,
'Gadis itu milikku'
Ammar dan Yifan tak bisa mendekati Yoan saat ini, pria itu benar benar diluar kendali saat ini,
Tubuh Haara bergetar melihat Yoan yang sangat diluar kendali saat ini,
"Ammar! lakukan sesuatu!! Yoan bisa saja membunuh pria sialan itu!" khawatir Anna,
"Aku tak bisa mendekatinya, ia bisa saja memukulku" sahut Ammar panik,
Haara tanpa sadar lari mendekati Yoan,
"Haara!!" teriak Anna,
Daniel sudah tak sadarkan diri, wajahnya penuh dengan darah,
saat akan memukul, gerakan Yoan seketika terhenti, matanya membelalak.
Haara memeluk Yoan dari belakang, ia menahan tangan Yoan yang bersiap akan memukul Daniel lagi,
Haara menangis di punggung pria itu,
"Yoan~ sudah~ sudah cukup~ aku mohon hentikan~" isak Haara memohon.
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
__ADS_1
Hai Readers dan Author Author keren dan hebat😍 terima kasih sudah membaca ceritaku😇 jangan lupa Like, Vote, Rate dan juga komentarnya ya kakak🤗❤