
Haara turun dari mobil dan menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar dengan senyuman.
Haara berlari kecil menghampiri Yoan yang sudah turun dari mobil milik sang paman yang di pinjamkan lagi untuknya.
"Waaaa~ kereeeennn!!!" antusias Haara bertepuk tangan girang.
Yoan menghalangi arah pandang gadis itu, Pria itu berdiri di depannya.
Yoan merapatkan jaket tebal yang kenakan Haara dengan panjang jaket itu hingga selutut gadis itu.
"Rapatkan jaketmu, cuacanya berhembus dingin meski siang hari juga." seru Yoan protektif.
"Siap!" sahut Haara.
"Ayo, kita beli tiket masuk nya dulu." seru Yoan mengulurkan tangannya.
Tanpa berfikir panjang, gadis itu menerima uluran tangan pria itu.
• • •
Gadis itu tak bisa berhenti menganga takjub melihat banyaknya wahana-wahana menantang yang sangat ingin ia naiki.
"Yoaaan! ayo kita naik roller coaster!!" antusias Haara menarik tangan Yoan membuat pria itu terkejut karena Haara menariknya tiba-tiba.
Kini mereka telah antre, terdengar gadis itu menghela nafasnya kasar karena antrean yang cukup panjang.
"Huwaa~ antre~" rengek Haara dengan raut sedih.
"Apa mau naik wahana yang lain dulu?" tanya Yoan memutar tubuh gadis itu agar menghadapnya.
Gadis itu menggeleng.
"Tidak, kita akan tetap antre, nanti takutnya semakin banyak pengunjungnya." seru Haara.
"Baiklah, sabar ya." senyum Yoan mengusap rambut Haara.
Haara mengangguk cepat, tatapannya kini menatap ke satu wahana, kekompakan suara teriakkan terdengar dari satu wahana ekstrem lain.
"Nanti kita naik itu!!!" seru Haara menunjuk satu wahana yang membuat matanya berbinar.
"Baiklah, aku akan ikut." kekeh Yoan melihat tingkah kekanak-kanakkan gadisnya itu.
"Dari banyaknya wahana, wahana apa yang kau takuti Yoan?" tanya Haara.
"Tidak ada." sahut pria itu cepat.
"Sungguh?"
Pria itu mengangguk.
"Kalau kamu? Sepertinya tak ada satupun wahana yang takut untuk kau coba." seru Yoan takjub
"Eum! Tak ada, termasuk rumah hantu juga." kekeh Haara.
"ahh~ rumah hantu ya~" senyum tipis Yoan.
"Iya, kau pernah masuk ke dalam rumah hantu?" tanya Haara.
Yoan terdiam sejenak.
"Aku tak pernah masuk ke dalam sana." sahut Yoan.
"Lho? Kenapa tak pernah?"
"Saat aku, Anna dan Ammar pergi ke taman hiburan di Indonesia, Anna dan Ammar selalu melarangku untuk masuk ke dalam rumah hantu." jelas pria itu.
"Alasannya?" bingung Haara.
"Karena saat itu aku masih memiliki riwayat trauma, Ammar dan Anna bilang jika di dalam rumah hantu itu gelap, kau tahu sendiri jika trauma ku itu dulu termasuk phobia di tempat yang gelap." jelas Yoan.
Haara mengangguk-angguk paham, ia tersenyum menatap Yoan.
Ia merasa bangga pada dirinya karena sangat tak di sangka telah berhasil menyembuhkan trauma berat pria itu.
Dokter Wang pernah menemui nya, ia merasa takjub pada dirinya karena dirinya dapat menyembuhkan riwayat trauma yang di derita Yoan dengan waktu yangs angat singkat di banding dengan perawatan dari psikologis seperti Dokter Wang sendiri.
"Senang nya aku bisa menyembuhkan trauma mu." senyum cerah Haara.
Yoan perlahan menarik tangan Haara dan memeluk tubuh gadis itu.
"Hmm~ aku merasa heran dengan dirimu, aku telah menderita trauma itu selama satu tahun lebih, bahkan aku selalu berkonsultasi pada banyak seorang psikolog namun mereka tak bisa menghilangkan traumaku secepat yang kau lakukan padaku, apa kau seorang dewi?" seru Yoan menunduk menatap Haara heran.
Haara yang mendengarnya sontak tertawa.
"Seorang dewi? Bagaimana kau tahu?"
"Raut wajahmu meragukan ku." seru Yoan cemberut.
"Aku seorang dewi lho~ bahkan kau mengatakannya tadi~" tawa Haara.
"Coba tunjukkan sayapmu." seru Yoan.
"Wushhh~ lihatlah sayapku~" -Haara merentangkan kedua tangannya.
Yoan yang melihat tingkah dan wajah menggemaskan Haara tertawa geli.
__ADS_1
"Let's fly!!" seru Haara.
Yoan tak bisa menahan gemasnya, ia menyembunyikan Haara si dalam jaketnya.
Yoan menangkup kedua pipi Haara dan ...
Cup!
Dengan cepat Haara mendorongnya.
"Ihhh! Yoaan~ ini tempat umum ya ampun!" panik Haara melihat sekitar.
"Hal seperti berciuman di tempat umum di China atau di negara tertentu itu tidaklah asing lagi AtHaara, bahkan para remaja di China yang seumuran denganmu jika berkencan tak akan sungkan saling berciuman di tempat umum." jelas Yoan terkekeh.
"Ta-tapi aku malu~" seru Haara tersipu malu.
"Hey, mengenai hal itu, kau berhutang padaku." seru Yoan.
"Berhutang?"
"Ya, kau belum memberikan kiss morning padaku tadi." seru Yoan menaikkan sebelah alisnya.
"Ha??" seru Haara mundur.
"Ayo lakukan, aku menuntut." seru Yoan membungkukkan tubuhnya.
"Tidak."
"Apa? Tidak?"
"Ini tempat umum! Aku tak amu, lagi pula aku tak akan menciummu, kau akan meminta lebih nanti nya, aku tahu modus mu!" seru Haara membelakangi Yoan.
"Mengecewakan, aku akan tagih utang mu lagi, jika kau terus menolak seperti ini, hutangmu akan berbunga." seru Yoan.
"Aku tak dengaar~" ledek Haara cuek.
Yoan menghela nafasnya kecewa.
• • •
Berbagai wahana mulai dari Kora-Kora berbagai jenis yang sama seperti wahana roller coaster tanpa henti, dan kini mereka akan naik perahu untuk bersantai, namun ...
Hoooeeekk~
Haara dengan wajah panik memberikan minyak angin pada tengkuk pria itu.
Pria itu mabuk setelah naik giant frisbee, wahana dengan fasilitas tempat duduk melingkar dan di ayunkan ke kanan dan ke kiri.
Mereka kini tengah duduk di kursi taman.
Yoan yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang di tumpukkan di lututnya pun mengangguk cepat.
"Aduh~ kamu kalau merasa mual dari awal seharusnya bilang denganku, jangan memaksakan seperti tadi harus ikut naik~" nasihat Haara.
"Ini, beri minyak angin pada perutmu juga." seru Haara menuangkan minyak di telapakntangan pria itu.
Pria itu pun menuruti dengan mata menyipit ia mengusap perutnya dengan minyak angin yang di tuangkan Haara di tangannya.
Haara pun berinisiatif memberikan minyak angin di pelipis kanan kiri pria itu dan memijatnya.
"AtHaara~" panggil Yoan.
"Ya? Kenapa Yoan?"
"Kepalaku pusing." seru Yoan memejamkan matanya rapat-rapat.
Haara melirik sekitarnya, tempat yang mereka singgahi ini sepi.
"Kemarilah, tiduran di pahaku." seru Haara mengambil posisi.
Yoan yang mendengarnya langsung membuka matanya menatap Haara.
"Kenapa?" tanya Haara.
Yoan menggeleng dan langsung menidurkan kepalanya di paha gadis itu.
"AtHaara, pijat lagi." seru Yoan menatap Haara yang menunduk menatap nya.
Gadis itu menurut dan memijat pelipis pria itu.
"Seharusnya kamu ngomong kalau kau merasa mual Yoan~"
"Mual ku itu karena aku habis makan dan langsung naik berbagai wahana, itu membuat makanan di perutku berguncang." seru Yoan dengan mata terpejam.
"Aku beli obat ya? Nanti makin parah."
"Tidak, aku tiduran saja, mual nya sudah hilang, kini hanya terasa pusing saja." jelas Yoan cepat.
"Tapi ..."
"AtHaara~ di pijat dan tiduran saja itu membuat pusing ku perlahan hilang, bahkan pusing ku tak separah tadi." sela Yoan membuka matanya.
"... Baiklah, maafkan aku."
Yoan mendecih.
__ADS_1
"Kebiasaan sekali, kenapa kamu itu selalu minta maaf saat tak berbuat kesalahan, hm?"
"Aku buat kesalahan karena tak peka padamu tahu!" cemberut Haara.
Yoan terkekeh mendengarnya.
"Kau harus lebih peka dalam satu hal lain." seru Yoan.
"Apa?"
Pria itu pun menduduki dirinya, mata Haara membulat karena melihat wajah Yoan dengan jarak wajahnya dengan wajah pria itu sangatlah dekat.
"Tentang hutang mu padaku." seru Yoan.
"Aku lapar, ayo kita cari lestoran untuk makan siang." seru Haara tak menghiraukan ucapan Yoan.
Tak ada sahutan dari pria itu membuat Haara dengan ragu menatap pria itu.
"Apa?"-Haara.
Pria itu membuang wajahnya, pria itu merajuk.
"Perutmu kosong karena habis memuntahkan semua makanan di perutmu, ayo kita cari makan di lestoran di area lain." seru Haara bangkit berdiri.
"..."
"Yoan?"
"..."
Haara mendengus nafasnya sabar, pria itu kini gantian mencuekinya.
"Yoan~"
Pria itu yang terpanggil lagi kini menatap Haara yang berdiri di sampimgnya dengan tatapan datar, pria itu sungguh merajuk.
"Ayo kita cari makan~"
Siapa sangka pria itu kembali membuang wajahnya.
"Ba-baiklah! Akan ku berikan sebuah ciuman, tapi tidak sekarang." seru Haara gugup.
"Kau menolaknya lagi, hutangmu kembali berbunga." seru Yoan masih belum menatap Haara.
"Te-terserah apa katamu, hitung saja bunga nya, nanti aku akan membayarnya." sahut Haara pasrah.
Yoan yang mendengarnya tersenyum licik.
"Sungguh?"
"Iya, terserah kamu, ayo pergi makan." seru Haara.
"Baiklah, pegang ucapanmu, nona." senyum Yoan yang tak di pahami oleh Haara dibalik senyuman pria itu.
'Semoga aku tak salah berucap.' batin Haara curiga.
...•...
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...Author: " cium kali aja sembuh Yoan nya lho, Haara.😆 kasihan dia mabuk.😆😆"...
...•...
...Hallo kakak-kakak Readers dan kakak-kakak author hebat😍...
...Terima kasih telah setia membaca karya pertama ku ini ya😇...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa Like, Vote, Rate 5 star, +Favorite, dan komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...Please penilaiannya ya kakak-kakak semua😇...
...karena itu semua sangat berharga untuk author sendiri😇🙏...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
...see you next tomorrow❤...
🎐我的命运是赵先生🎐
__ADS_1