
Haara masih senantiasa menatap pria itu, pria jangkung dengan model rambut yang berubah tak seperti biasanya, dengan kedua tangan di masukkan kedalam saku celananya,
Ada satu hal yang ia sadari selain perubahan rambut pria itu, suaminya itu terlihat agak kurus.
"Haara? Kenapa?" tanya Riza
"Dia terlihat lebih kurus dari sebelumnya, pasti makan nya tidak teratur sekali" seru Haara sedih
"Ahh, kau menyadarinya sampai sedetail itu ternyata, jika ku perhatikan benar, kak Yoan terlihat lebih kurus" sahut Alka
"Ya sudah aku akan menemuinya ya" pamit Haara
"Baik, sampai jumpa esok, silahkan melepas rindu" kekeh Alka
"Bisa saja, bye bye" seru Haara pergi.
• • •
Haara melangkah mendekati pria itu yang masih belum menyadari keberadaannya
"Uhuk uhuk" batuk kecil pria itu
"Yoan" panggil Haara
Yoan menengok ke samping, pria itu tersenyum padanya
Mata lelah dan wajah lelah dapat terlihat dari pria itu
Haara menghela nafasnya, ia tak berniat membalas senyuman pria itu, wajah khawatir yang ia tunjukkan saat ini
"Ada apa?" tanya Yoan bingung
"Apa kau makan dengan tepat waktu Yoan?" tanya Haara datar
Yoan membungkam bibirnya rapat
"Mm hanya telat beberapa jam saja" sahut Yoan mengacak acak rambutnya
"Sudah ku bilang makan yang baik, tepat waktu, kenapa kau tak menuruti ucapanku??" tanya Haara menarik pergelangan pria itu dengan wajah marah
Yoan tak bisa berkata apa apa,
"Kau terlihat lebih kurus, kau dulu juga pernah seperti ini, jika bekerja tidak ingat waktu dan tak ingat dirimu sendiri!" nasihat Haara kesal
"Pekerjaanku sangatlah banyak, aku benar benar sangat sibuk sekali" sahut Yoan pelan dan .. Sedikit takut
"Kak Ammar kemana? Apa ia tak mengingatkan mu untuk makan tepat waktu?!" marah Haara
Yoan menggaruk garuk rambutnya, ia tak dapat mengatakan apapun
"Ammar pun sibuk" sahut Yoan ragu
Haara menghela nafasnya kasar, ia pun masuk kedalam mobil
Yoan merasa sedang di hakimi dengan gadis itu pun merasa dirinya tegang,
'Sampai sedetail itu ia mengetahui jika aku tak makan tepat waktu?' batin Yoan melangkah masuk ke dalam mobil nya.
• • •
"Jam berapa kamu pulang paling lambat dan paling cepat belakangan ini?" tanya Haara datar
"Mmm, paling lambat Jam .. 2 malam" sahut Yoan ragu
Haara menatap Yoan tak percaya
"Dan .. Jam 11 paling cepat" jelas pria itu lagi
Haara memijat pelipisnya,
"Apa kata orang tuamu nanti melihat anaknya terlihat lebih kurus dan wajahmu yang sangat tidak fresh Yoan~" keluh Haara
Yoan dapat mengartikan jika gadis nya itu sedang mengkhawatirkan dirinya
"Pekerjaan mu sudah selesai? Masih akan lembur?" tanya Haara tajam
"Sudah, sudah selesai" sahut Yoan cepat
Haara benafas lega
Yoan menghela nafasnya pelan, ia sekarang seperti anak kecil yang sedang di hakimi oleh ibu nya.
"Kau sudah makan?" tanya Haara
"Sekarang belum" -Yoan
"Siang tadi?" -Haara
"Sudah" -Yoan
"Makan apa?" -Haara
"Mm itu .. Apa ya~" bingung pria itu
"Kau belum makan siang??!" tak percaya Haara menegakkan tubuhnya menatap pria itu
"Sudah kok sudah, tapi .. Aku tidak tahu apa nama makanan itu" sahut Yoan cepat
haara menyandarkan lagi punggungnya ke kursi mobil
__ADS_1
"Coba jelaskan bentuknya seperti apa" pinta Haara
Yoan mengerutkan keningnya
"Rasanya .. Seperti daging .. ayam, manis dan ditusuk dengan kayu"
"Ahh, sate ayam?" tanya Haara
"Nah iya itu, dan satu lagi aku memakannya dengan sate ayam itu, rasanya seperti nasi"
"Lontong?" tanya Haara
"Ah iya itu, lontong, terdengar aneh sekali namanya" sahut Yoan pelan
Haara mengangguk angguk paham
"Kau membelinya atau dibelikan?" tanya
"Di belikan oleh Ammar" sahut Yoan
Haara menyahut dengan deheman panjang.
"Mau makan tidak?" tanya Haara,
"Kau lapar?" tanya balik Yoan
"Tidak terlalu, aku bertanya padamu"
"aku?" tanya Yoan bingung
"Iya kau"
"Aku merasa lapar" sahut Yoan
"Kita makan di lestoran"
Yoan menatap Haara sekilas
"Tidak!"
"Lho kenapa?? Katanya lapar??" bingung Haara
"Disana ramai"
"Ya iyalah ramai kamu ini gimana sih?" bingung Haara melirik Yoan sekilas
"Tubuhku sangat lelah AtHaara~" seru pria itu lemah
Haara terdiam, ia menatap Yoan disampingnya
"Buatkan aku makanan di penthouse saja, tidak dengan lestoran" seru pria itu lagi
"Ah baiklah, kau ingin apa?" prihatin Haara dengan suara lembut
"Kenapa dengan nada bicaramu? Aku bukan anak kecil" seru Yoan
"Ihh, aku sedang bertanya padamu, bukan anak kecil!" protes Haara
"Aku .."-Yoan
"Tidak dengan Spaghetti Carbonara" sela Haara cepat
Yoan melirik Haara sekilas
"Bagaimana kau tahu aku akan mengatakan itu?" bingung Yoan
"Sudah sangat jelas sekali" sahut Haara
"Hmm, baiklah aku mau nasi goreng".
●•●•●•●•●
Haara menyajikan nasi goreng buatannya di piring dan menyimpannya di meja makan, ia merasa sangat senang sekali saat ini
"Yoan mana ya? Masih belum selesai mandinya kah?" seru Haara melihat ke arah tangga
Suara bel pintu penthouse nya berbunyi, Haara pun melangkahkah kakinya ke pintu penthouse
"Yuu?" senang Haara
Yuu tersenyum sambil mengangkat papperbag yang ia bawa
"Wah, untukku?" tanya Haara
Yuu mengangguk, "iya untukmu"
Haara mengambilnya dan melihat isi didalam papperbagnya
"Wahh! Sepertinya enak! Oh iya ayo masuk, aku memasak nasi goreng, kita makan bersama sama" sumrigah Haara
"Wah sepertinya .. Eh bersama sama??"
"Iya, denganku dan Yoan" sahut Haara
"Mm aku langsung pulang saja" senyum Yuu
"Lho, kenapa? Bahkan kau terlihat ingin bergabung tadi" seru Haara bingung,
"Tidak, aku langsung pergi saja ya, sampai jumpa" pamit Yuu langsung pergi
"E eh, mm iya deh, Hati hati"
__ADS_1
Yuu menunjukkan jempolnya
Haara mengerutkan keningnya bingung
"Siapa?" tanya Yoan yang tiba tiba dibelakang Haara
"Yuu" sahut Haara
"Yuu?"
"Iya, dia memberikan ku cake ini, saat aku ajak ia ke dalam untuk bergabung makan bersama, awalnya dia mau, tapi .. Tak lama ia menolak, ada apa ya?" tanya Haara menatap Yoan
Yoan terdiam,
Haara mengerutkan keningnya,
'Jangan jangan, mereka masih bertengkar?'
"Yuu kok bisa gunakan lift VIP nya sampai ke lantai sini ya?" bingung Haara
"aku memberinya lock card"
"ha?"
"aku memberinya kepada mama papa mu, mama papaku, Anna dan Ammar, serta Yuu dan Yifan" jelas Yoan
Haara mengangguk angguk paham
"Ah! nasi gorengnya nanti dingin, ayo makan" ajak Haara menutup pintu penthouse nya dan melangkah masuk.
• • •
Haara memakan nasi gorengnya sesekali mencuri pandang ke arah Yoan di hadapannya, pria itu terlihat sedang melamun,
"Apa kau dan Yuu bertengkar?" tanya Haara
Yoan menatap Haara terkejut
"Ah, hm" sahut Yoan kembali makan,
"Kalian kenapa?" tanya Haara santai
"Sudah cukup lama masalahnya, dia kecewa besar padaku mengenai suatu hal"
Haara tak menyahut lagi, Haara dapat mengartikan, jika kedua pria itu bertengkar karena mambahas tentang kebohongan Yoan pada Haara sendiri
"Cepatlah selesaikan masalah kalian, tak baik jika bertengkar terlalu lama" nasihat Haara
"Tidak perduli" sahut Yoan cuek
"Tidak perduli? Kenapa kau berfikir itu seperti bukan hal yang penting??"
"Sudah jangan di bahas, aku tak ingin membahasnya lagi AtHaara" seru Yoan dengan nada tak bersahabat
Haara langsung diam, ia pun kembali fokus untuk makan.
• • •
Haara mengeringkan tangannya saat selesai mencuci piring, ia melirik Yoan yang sedang tiduran di sofa ruang santai. tidak, pria itu tertidur.
Haara menghampiri Yoan, ia duduk di sofa tepat disebelah tubuh pria itu,
Haara menatap wajah lelah pria itu, pria itu terlihat sangat kelelahan sekali
"Yoan, bangun~ pindah tidur dikamarmu sana" seru Haara mengguncang kuat tubuh pria itu
Pria itu membuka matanya perlahan,
Yoan menduduki dirinya sambil memegang kepalanya
Haara mengerutkan keningnya merasa ada yang aneh
Haara langsung merampas tangan kiri pria itu,
Yoan sedikit terkejut dengan perlakuan Haara secara tiba tiba,
Haara menatap Yoan dengan tatapan bingung dan tajam
"Ada apa?" tanya Yoan bingung,
Haara menatap Yoan datar
"Kemana cincin mu?" tanya Haara datar.
...•...
...•...
...BERSAMBUNG...
...•...
terima kasih sudah tetap stay di cetitaku😉 semoga makin kesini makin suka dengan ceritanya😍
jangan lupa di :
Like👍
tambah ke favorit❤
Rate⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
dan komentarnya💭 yang selalu aku nantikan❤