
Alka dan Riza mengikuti Haara, kebetulan mobil jemputan Alka ada di depan mobil Yoan parkir,
"Gila bening banget Vik" seru Diana menepuk nepuk tangan Vika,
"Sakit bodoh! Iya tahu bening, iri aku dengan Haara, ganteng banget Ra pacarmu, eh tunanganmu, calon suami saja deh" sahut Vika merangkul Haara,
Haara yang mendengarnya tersenyum bangga,
Yoan yang bersandar di pintu mobil pun berdiri tegak saat menyadari kehadiran Haara,
"Katanya ada urusan?" tanya Haara menghampiri Yoan
"Sudah selesai" sahut Yoan memasukkan ponselnya ke saku celananya,
"Vika ngedip!" seru Diana,
Haara yang mendengarnya memutar tubuhnya menatap Vika dan Diana,
"Aku dan Riza duluan ya, kakak Yoan kami berdua duluan ya" seru Alka pergi bersama Riza,
Haara menatap Yoan terkejut,
"Ka kakak?!"
"Aku tidak suka mereka memanggilku tuan, mereka memutuskan memanggilku kakak" sahut Yoan pelan,
"Gio jomblo ya, whahaha" ledek Diana naik ke motor Fikri, Fikri pun langsung menggas motornya pergi
"Bisa bisanya kau meledekku, awas kau!" seru Gio mengejar,
"Itu teman satu kelompokmu?" tanya Yoan,
Haara mengangguk,
"Hoi, Vika ayo" seru Andre,
"Iya iya! Oh iya Haara, besok bawa laptopmu ya, power point yang waktu itu presentasi kita pernah satu kelompok, itu akan kita pakai lagi, sekalian edit di laptopmu" seru Vika naik ke motor Andre,
"Oke!" sahut Haara,
Andre pun mengklakson dan melaju pergi,
Haara pun melambaikan tangan pada Vika,
"Sungguh menahan lapar aku menunggumu" seru Yoan melangkah masuk ke dalam mobil,
Haara yang mendengarnya pun ikut masuk ke dalam mobil, ingin betanya lebih pada pria itu.
"Ahahah, maaf, sudah berapa lama kau menungguku?"
"Setengah jam!" sahut Yoan melajukan mobilnya,
Haara terkejut mendengarnya,
"Eh?! Setengah jam?? Mana aku tahu kau menungguku selama itu??" sahut Haara merasa bersalah,
Yoan tak menyahut lagi
"Jangan marah lah~ kalau kau lapar, kenapa tak pergi ke lestoran saja untuk makan?" tanya Haara membela diri,
"Aku benci keramaian" sahut Yoan datar,
"Dari pada nahan lapar karena menungguku pulang lama? Lagi pula ada lestoran burger kok di dekat sekolahku, kau pasti tahu itu" sahut Haara menatap Yoan
Yoan tak menyahut, dapat di lihat wajah Yoan yang terlihat marah,
"Kau mau makan apa? Nanti akan aku buatkan sepulang ke penthouse deh, asal jangan marah ya ya ya" bujuk Haara
Yoan melirik sekilas ke Haara dengan tatapan tajam,
Haara menelan ludahnya berat, pria itu benar benar marah.
●•●•●•●•●
Haara membuntuti Yoan masuk ke dalam lift, ia berdiri di sebelah pria jangkung itu,
__ADS_1
Haara menekuk bibirnya, ia merasa kesal karena di cueki dengan pria disampingnya.
Pintu lift terbuka dan menampakkan pintu penthouse mereka, dengan cepat Yoan melangkah dan menempelkan card nya, itu lebih mudah dari pada memasukkan nomor PIN.
Haara menutup pintu penthousenya, ia membuka sepatunya dalam keadaan berdiri,
Baru saja ia akan melangkah, gerakkan nya terhenti saat Yoan berdiri di depannya dengan wajah datar,
Tatapan pria itu sangat tajam dan lesu
"Mm kenapa menatapku seperti itu?" tanya Haara bingung,
"Spaghetti Carbonara" seru Yoan tiba tiba
"Ha?"
"Spaghetti Carbonara" seru Yoan lagi dengan suara pelan
Haara mengerutkan keningnya bingung,
"Bisakah kau buatkan aku Spaghetti Carbonara? Aku sangat ingin makan itu" seru Yoan dengan tatapan memohon dan nada sedikit merengek,
Haara tertohok saat mendengar pria itu sedikit merengek padanya, ia menutup mulutnya terkejut melihat perubahan pria itu, dan jangan lupakan wajahnya, sungguh menggemaskan sekali~
Haara jadi teringat ucapan Ammar saat hari dimana ia sudah sah menikah dengan Yoan,
'lihatlah mode perubahan Yoan saat lapar akut, dia akan berubah drastis dari Yoan sebelumnya!'
'saat di mode itu aku harap makanan apa yang ia minta turuti ya'
Sekarang Haara paham maksud Ammar, jadi mode yang di maksud adalah mode kekanak kanakkan pria ini, ini adalah sebuah rekomendasi yang bagus sekali yang pernah ia temukkan.
Kucing besar yang menyeramkan ini kini telah berubah menjadi anak kucing yang meminta makan, sangat menggemaskan.
"Ah i iya, aku buatkan Spaghetti Carbonara untukmu ya~" sahut Haara menenangkan Yoan,
"Tu tunggu ya" seru Haara dengan cepat lari ke dapur,
'Aduh sepertinya aku harus cari resepnya segera di internet!' batin Haara panik.
• • •
Tatapannya teralih sekilas kesampingnya,
"HWA!! Yo Yoan! Me mengejutkan ku saja!!" terkejut Haara menyadari Yoan yang berdiri di sampingnya dengan wajah .. Menyeramkan,
Haara menelan ludahnya, ia membatin apa ia terlalu lama membuatnya??
"Lama" seru Yoan pelan, ia melangkah satu langkah lebih dekat pada Haara hal itu membuat Haara tercegang,
"Ee, sa sabar ya, a aku baru pertama kali buat, ja jadi aku akan membuatnya dengan hati hati, agar enak oke?" jelas Haara gelagapan, ia mendorong dada bidang Yoan yang mencoba melangkah lebih dekat lagi,
"Agar enak?" tanya Yoan dengan wajah datar dan polos,
"Tentu! Agar enak! Se sekarang kau menjauhlah" seru Haara mendorong tubuh Yoan menjauh,
Haara menghela nafasnya dan kembali fokus,
Tuk!
Deg!!
Mata Haara membulat seketika, ia mematung, ia sulit bernafas saat ini, jantungnya berdegup sangat kencang sekarang.
Ia merasakan jelas pundaknya berat sebelah,
Yoan berdiri dibelakang Haara dan meletakkan keningnya di pundak gadis itu.
"Mana spaghettiku?" seru Yoan dengan nada lesu,
"I iya, tunggu dulu, aku sedang buat~ kau duduk di kursi bar dapur ya" seru Haara gugup, tubuhnya sangat sulit di gerakkan,
Tak ada sahutan dari pria itu, pria itu masih dengan posisi yang sama,
'Bagaimana aku bisa fokus memasak!! Huwaa!! Yoan kenapa kau sangat menggemaskan sekali!! Menggemaskan mu kadang membuatku takut juga!!' batin Haara berteriak
__ADS_1
'aku harus cepat, jika tidak anak kucing ini akan mencakarku!' batin Haara lagi.
Haara menenangkan dirinya ia mencoba fokus, senyumnya melebar karena sangat sennag saat ini.
'Anak kucing ku yang menggemaskan~' batin Haara menahan gemas.
• • •
Haara memerhatikkan Yoan yang sedang makan di kursi makan kursi serong kanannya,
Yoan yang merasa perhatikkan menatap Haara yang senyum senyum menatapnya,
"Ah, kau mau tambah?" tanya Haara dengan nada lembut,
"Menyebalkan" sahut Yoan dengan tatapan datar
Haara yang mendengarnya tertohok,
"Ap apa???" tak percaya Haara,
"Tatapanmu, menyebalkan" sahut Yoan lagi
Haara mendecih saat mendengarnya,
"Wah! Dengan siapa tadi aku berbicara?" tak percaya Haara,
Yoan menatap nya datar,
"Padahal baru beberapa menit yang lalu kau terlihat seperti anak anak yang meminta sesuatu" kecewa Haara menatap Yoan sinis,
Yoan menghela nafasnya dan meminum air nya,
"Coba kau ulangi sikap dan sifat mu seperti tadi" seru Haara antusias,
Yoan memberikkan tatapan maut pada Haara,
Haara menelan ludahnya,
"Hii~ menyeramkan" seru Haara membuang pandangannya,
"Hahh, seharusnya aku merekamnya saja tadi, sangat disayangkan sekali~" seru Haara pelan dengan nada kecewa,
Yoan bangkit berdiri membawa piring dan gelas ke dapur,
"Kenapa dia sangat menggemaskan tadi~" hela nafas Haara,
Yoan yang mendengarnya menghentikkan langkahnya,
"Jangan ceritakan pada siapapun tentang perubahanku tadi pada siapapun, termasuk sahabatmu" seru Yoan tajam,
"Ha? Kenapa? Bahkan kau sangat menggemas ..kan~ .." ucapannya terhenti saat melihat tatapan maut yang Yoan lemparkan padanya,
"Ah maaf, aku tak akan cerita pada siapapun termasuk Alka dan Riza, aku janji" sahut Haara takut,
Haara melihat Yoan melangkah ke tempat cuci piring
"Hahh, menyeramkan sekali dia" kecewa Haara.
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
...hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku😍...
...jangan lupa like👍...
...rate⭐⭐⭐⭐⭐...
...dan komentarnya 💭😊...
...tambahkan juga ceritaku ke favorite❤ agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏...
__ADS_1