My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Suami yang Ternistakan


__ADS_3

Haara tersenyum senang setelah mengabari hal bahagia ini lewat telefon pada mama papa nya, ke kedua mertuanya, dan kepada Anna serta Ammar.


Mereka semua tentu terkejut atas berita yang sangat mengejutkan ini sungguh sangat di luar dugaan tapi nyata.


Mereka turut sangat senang sekali dan membuat mereka tak sabar menantikan si baby twins.


Senyum Haara seketika luntur saat melihat Yoan yang terlihat murung saat ini.


"Yoan?"


"..."


"Yoan??"


"..."


Haara menghela nafas saat tahu jika pria itu sedang melamun.


"Yoan, Yoan, Yoan~" panggil Haara sambil menepuk kedua pipi Yoan agar menatapnya.


Pria itu mengerjapkan matanya terkejut dengan perlakuan Haara.


"Yoaaaan~ kok melamun sih?? Mikirin apa sih?? Kok wajahnya murung gitu??" cemberut Haara.


Seketika Yoan terkekeh.


"Apa sayang~" sahut Yoan.


"Kamu lamunin apa sih??" tanya Haara.


"Rahasia." sahut Yoan.


"Ihh~ kasih tahu aku dong~" kesal Haara.


"Ngga mau." sahut Yoan menggoda Haara.


"Yoaaan~ kasih tahu akuu~" rengek Haara.


Yoan menunjuk pipi kanannya.


"Cium dulu." sahut Yoan.


Haara seketika salah tingkah, dengan perlahan Haara memotong jarak dan mencium pipi Yoan.


"Sebelah lagi." seru Yoan, Haara pun menurut dan kembali mencium pipi sebelah kiri Yoan.


"Kening ku."


"Ihh Yoan~"


"Cium disini saja deh." seru Yoan menunjuk bibirnya.


Haara menatap Yoan tajam.


"Kenapa lihatin aku begitu, tak boleh nolak kemauan suami sendiri, ayo." seru Yoan santai.


Plak!


Haara menepuk kedua pipi Yoan kasar hal itu membuat Yoan meringis kesakitan.


Cup!


Cukup lama Haara pun menyudahinya.


"Sudah!"


"Kenapa nepuk kedua pipi ku kencang sekali sih? Sakit lho." keluh Yoan mengelus-elus kedua pipinya.


"Biarin, habisnya mengulur waktu! Sekarang beritahu aku kenapa kamu murung dan melamun seperti tadi, saat aku manggil kamu tapi kamu tak dengar, jawab!" paksa Haara.


Yoan memejamkan matanya sejenak.


'bersikap seolah bukan hal serius Yoan, jangan samapi Haara memikirkan hal macam-macam karena sikap murung mu.' batin Yoan.


"Aku ... aku hanya berfikir, apa kira-kira jenis kelamin kedua anak kita, apa dua-dua nya perempuan atau dua-duanya laki-laki." sahut Yoan berdusta


"Masa iya kamu murung karena itu sih??" curiga Haara.


"Aku murung karena takut jika mereka lebih dekat sama kamu di banding aku." tawa palsu Yoan.


"Jangan berfikir seperti itu, tapi mengenai itu .. mau perempuan atau laki-laki, aku berharap mereka berdua sehat." senyum Haara mengelus perutnya.


Yoan mengecup kening Haara agak lama.


"AtHaara, aku berharap besar padamu agar selalu sehat, karena kesehatan mu juga menggambarkan kesehatan mereka di dalam perutmu." senyum sendu Yoan.


Haara mengangguk.


Srett!


Haara mengerjapkan sedikit terkejut saat tiba-tiba Yoan memeluk leher nya sambil bergelayut manja.


"AtHaara~" panggil Yoan merengek.


"Apa~? tiba-tiba merengek, buat aku gemas deh~" kekeh Haara mengusap-usap rambut Yoan.


"Aku menyayangimu." sahut Yoan merengek.


Jawaban itu membuat Haara tertawa kecil.


"Ahahah~ aku juga Yoan~ kamu kenapa sih?" heran Haara.

__ADS_1


Dapat Haara rasakan pria itu menggeleng.


"Ngga~ aku hanya mau panggil saja, aku suka namamu." sahut Yoan.


"Jika suka, nanti ucapkan terima kasih pada mama dan papa yang telah memberikan nama 'AtHaara' padaku, oke?" seru Haara.


"Baiklah, aku akan terima kasih pada papamu dan mamamu yang sudah melahirkan anak kedua yang sangat cantik ini." sahut Yoan.


Haara tertawa mendengarnya.


"Apa aku harus berterima kasih pada mama dan papamu juga?? sepertinya aku harus mengucapkan terima kasih pada mama mu yang sudah melahirkan anaknya yang sangat tampan di pelukkanku ini?" tawa Haara.


"Boleh saja, aku senang mendengarnya, tapi aku ingin tanya, lebih tampan aku atau Finn?" tanya Yoan masih di posisi yang sama.


"Hmm~ lebih tampan siapa ya~??"


"Kenapa jawabnya harus berfikir lagi??" tanya Yoan tiba-tiba menduduki dirinya tegak.


"Karena kalian saudara, aku jadi bingung." sahut Haara santai.


Yoan menatap Haara tajam.


"Tampan dua-dua sih~" sahut Haara.


"At ... Haa ... ra." seru Yoan menekankan kalimatnya.


"Apa~" tahan tawa Haara.


"Jika Finn lebih tampan, tak masalah kok." sahut Yoan merajuk.


Haara tertawa lepas, ia mencubit kedua pipi Yoan gemas.


"Ihh~ lebih tampan kamu lah~ aku tak suka Finn, wajah Finn seram." sahut Haara.


"Jadi aku tak seram?"


"Seram sih kalau lagi marah." sahut Haara jujur.


"Tapi kalaj sekarang seram tidak?" tanya Yoan memiringkan kepalanya sambil mengerjapkan matanya.


Kini pria itu tengah bertingkah imut.


"Buahahahahaha!! Yoaaan~ wajahmu~" tertawa lepas Haara menutup wajahnya malu.


"Iya aku tahu aku tampan~" sahut Yoan mengedikan sebelah matanya.


"Ya ampun Yoan~ kenapa kamu bisa se menggemaskan ini sih?? Kau seperti bukan Yoan yang sangar seperti biasanya~ kemana Yoanyang sangar??" seru Haara masih menutup wajahnya.


"Sejak kapan aku sangar?? Aku tidak seperti itu." sahut Yoan heran.


"Tak sadar diri kamu!" sahut Haara tanpa sadar mendorong wajah Yoan dengan tangan nya membuat Yoan terjungkal ke belakang.


Haara yang tanpa sengaja mendorong wajah Yoan dengan satu tangannya hingga wajah Yoan mendongak.


Sontak Haara menarik tangannya sendiri dengan wajah terkejut dan tak menyangka ia sampai mencengkram wajah Yoan seperti tadi.


"Ya ampun, Yo-Yoan! Maaf maaf! Astaga! Aku tak sengaja!" panik Haara.


"At ... Haa ... ra." panggil Yoan dengan kalimat penekanan.


Glek!


Haara menelan saliva nya saat melihat tatapan kilat dari Yoan.


"Beraninya kau mencengkram hingga mendorong wajah suamimu~!" seru Yoan tajam.


"Huwaa~ Yoan maaf~ a-aku tak sadar~ ti-tiba saja tanganku mencengkram wajahmu seperti tadi, sungguh aku tak sadar~" takut Haara gelagapan.


Yoan menghela nafasnya sabar.


"Yoan~ maafin aku~ sungguh tak sengaja~" seru Haara dengan puppy eyes nya.


Yoan hanya menatap nya tajam.


"Yoan ihh~ wajahmu ... seraaam~" takut Haara.


Yoan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Yoaaan~ maafin aku~" memelas Haara.


Yoan mengusap wajahnya gusar, seketika wajahnya yang seram pun berubah.


"Jangan di ulangi ya~" senyum terpaksa Yoan.


Haara perlahan tersenyum cerah, gadis itu mengangguk.


"Iya Yoan, maaf ya~" senyum manis Haara.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Keesokan harinya~


"Mmh~" rengkuh Haara.


Ia merasa tubuhnya sangat gerah saat ini.

__ADS_1


Dengan mata masih terpejam ia melepas selimutnya dan mendorongnya menjauh ke sebelah kanannya.


Karena merasa selimutnya tak menggeser, ia mendorongnya dengan tenaga penuh dan ...


Gebruk!!


Sontak Haara membuka matanya sempurna saat mendengar suara nyaring benturan yang membuatnya terkejut.


Ia melirik ke sebelahnya, hal itu membuatnya dengan cepat menduduki tubuhnya.


"Ya ampun Yoan!" terkejut Haara menduduki dirinya sambil menutup mulutnya.


Ya, tanpa Haara sadari ia telah mendorong tubuh Yoan hingga pria itu jatuh dari kasur dan kini dengan mulus bokong Yoan mendarat di lantai.


Yoan dengan kesal menarik selimut yang menutupi kepalanya.


Ia menatap Haara tajam yang kini sudah berada di depannya.


"Yoan maaf maaf ya ampun, aku tak tahu jika aku mendorong tubuh mu! Sungguh!" panik Haara menggenggam kedua tangan Yoan erat.


"At ... Haa ... ra!" kesal Yoan memanggil nama Haara penuh menekankan.


"Hehehe, jangan marah ih~ aku ngga sengaja, nanti ganteng nya hilang lho kalau marah~ jangan marah ya~" bujuk Haara membelai pipi Yoan yang menatap nya tatapan kilat.


"..." tak ada sahutan dari Yoan.


"Yoan ganteng~ Yoan ganteng lho kalau senyum, coba senyum, coba tunjukkin muka ganteng nya mana~" goda Haara menangkup kedua pipi Yoan yang masih menatapnya tajam.


"Seperti nya kamu suka sekali menyakitiku ya?" tanya Yoan.


"Menyakiti??"


"Hm, pertama saat kau mual kau menabrakku hingga seloyongan dan berakhir mencium tembok, lalu kemarin mencengkram wajahku hingga mendorongnya, jujur wajahku terasa sakit saat kau mencengkram wajahku dengan kuku-kuku mu, dan lagi-lagi! kau mendorong ku saat aku tidur hingga aku jatuh dari kasur!"curhat Yoan kesal.


"Ahaa~ Yoaan maaf~ aku sungguh tak sengaja~" memelas Haara.


Yoan menghela nafasnya kasar.


"argh~ Bantu aku duduk di kasur." sahut Yoan meringis.


Haara dengan cepat pun membantu Yoan duduk di kasur.


Yoan sesekali mengusap bokongnya yang terasa sakit.


"Yoan maaf~" cemberut Haara merangkul tangan Yoan erat.


Yoan melirik Haara sekilas.


"Inginnya aku marah, tapi aku tak pernah bisa marah padamu." sahut Yoan meringis.


"Huwaa~ sayang Yoaaan~" senang Haara memeluk Yoan.


Yoan menghela nafasnya dan memaksakan dirinya tersenyum.


'Sabar Yoan, meski tersenyum susah saat bokongmu terasa sakit seperti saat ini, tetaplah tersenyum meski nanti entah apalagi yang akan Haara perbuat padamu.' batin Yoan.


...•...


...●...


...🎐Bersambung🎐...


...●...


...•...


...•...


...Auhor:...


..."malangnya nasibmu Yoan😭 tetap tersenyum oke Yoan😂 mungkin itu reaksi cintanya si baby twins sama kamu tuh😆"...



..."ada salam cinta dari Yoan nih untuk para readers nih😍😍 I love you katanya~😆"...


...•...


...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...


...⭕Jangan lupa:...


...👍 Like,...


...🏷Vote,...


...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...


...❤Favorite,...


...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...


...💃谢谢大家!💃...


...(Xièxiè dàjiā!)...


...(Terima kasih semuanya!)...


...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...


...see you next tomorrow❤...

__ADS_1


🎐我的命运是赵先生🎐


__ADS_2