
Satu minggu kini telah berlalu, waktu kini terus berjalan cepat.
Esok adalah hari dimana tour selama tiga hari dan kini Haara harus menyempatkan diri ke Dokter, Haara baru bisa pergi konsultasi sendiri ke Dokter kandungan.
Haara sampai pergi keluar menggunakan masker dan kacamata biasa untuk menyamar, ia takut jika ada yang melihatnya pergi ke Dokter kandungan.
Bukan karena malu, ia lakukan itu agar tak ada gosip jelek di sekolah, bahkan siswi di sekolahnya itu sangat sensitif sekali mengenai kehidupan nya, ia takut jika fakta jika ia hamil terungkap di sekolah sebelum ia terlepas sepenihnya dengan urusan di sekolah.
Tak menutup kemungkinan seorang Dokter curiga pada diri nya yang terlihat masih muda sedang hamil muda saat ini.
Seorang Dokter kini menatap Haara curiga.
"Janin di dalam kandungan ib- ah! maksudnya kamu, janinnya sehat, sekarang usia kandungan nya sudah mengijak satu bulan." jelas Dokter yang sengaja Haara cari wanita.
"Syukurlah, ah~ sudah satu bulan ya~" senyum Haara mengusap perutnya sayang.
"Maaf jika saya lancang bertanya hal ini, kamu ... terlihat masih muda sekali, apa ... pacar kamu tidak ikut mengantarmu konsultasi??" tanya Dokter itu ragu dan penasaran.
"Ahaha~ sebenarnya ... saya sudah menikah di bulan September tahun lalu, dokter." senyum Haara.
"Ah??! Sudah menikah??!" terkejut dokter itu.
Haara mengangguk.
"Saya menikah muda dengan suami saya, dan suami saya kebetulan ada pekerjaan di luar negeri." senyum Haara.
"Ke luar negeri??"
Haara mengangguk.
"Mm saya tidak bermaksud ikut campur dengan urusan kamu, tapi ... apa suamimu mencintaimu?" tanya Dokter itu sedikit blak-blakkan.
Haara terkekeh.
"Tentu ia mencintai saya Dokter, bahkan kehamilan saya adalah bukti jika kami saling mencintai." seru Haara menatap perut nya yang ia merasa sedikit buncit.
Dokter itu masih terlihat ragu dengan penjelasan Haara.
"Ahaha~ oh iya, dokter kenal dengan dokter Wang ahli psikologi tidak? Apa ia masih praktek di rumah sakit ini? tadinya saya ingin bertemu dengannya, tapi ruang praktek nya sudah tak di tempat biasanya." tanya Haara bingung.
"Dokter Wang? Kamu ... mengenalnya??" tanya Dokter itu.
"Mmm~ dokter kenapa terlihat bingung begitu ya?" heran Haara.
Dokter itu terkekeh.
"Biar saya perjelas, Dokter Wang itu adalah suami saya." kekeh dokter itu.
Haara yang mendengarnya terkejut, ia tak menyangka jika dokter di hadapannya ini adalah istri dari dokter Wang.
"I-istri!?"
"Kamu juga terlihat seterkejut itu, kamu mengenal Dokter Wang?" tanya Dokter itu lagi.
"Aku sangat mengenalnya, karena Dokter Wang itu adalah Dokter pribadinya suami ku." sahut Haara.
"Su-suami?? Maksud kamu adalah tuan Zhao Yoan Ti-En?!!" terkejut Dokter bukan main.
"Wah! Benar! Dokter ternyata mengenal Yo- ah! Maksudku tuan Yoan juga ya?" kekeh Haara.
"Wah! Sungguh sulit di percaya! saya sungguh sangat minta maaf, saya sungguh tak tahu!" refleks dokter itu memegang tangan Haara.
"Ahaha~ tidak apa ibu Dokter." sahut Haara lembut.
"Saya benar-benar tak tahu, waktu itu maaf saya tak bisa datang ke pernikahan kalian, karena secara tiba-tiba ada pasien yang akan melahirkan, jika saja waktu itu saya datang, pasti saya akan mengenal kamu lebih awal." sesal dokter itu.
"Tidak apa-apa, bahkan Dokter telah menyelamatkan dua nyawa saat itu, hebat!" puji Haara.
"Ahaha~ Nyonya muda Zhao bisa saja." kekeh Dokter itu.
Haara tertawa kikuk saat mendengar dokter itu memanggil nya seperti itu.
"Kamu panggil saya bibi saja, bibi Vey, oke?"
"Bibi? Bahkan panggilan bibi itu terlalu tua, aku panggilnya kak Vey saja, dokter Wang saja yang seumuran dengan tuan Yoan saja tak pantas di panggil om atau paman~" tawa Haara.
"Kau benar! Sebutan itu jauh lebih baik deh, ahahaha!" tawa Vey.
"Ah! Maaf, siapa namamu?" tanya Vey.
"AtHaara Martin." senyum Haara.
"Martin? Ah~ aku tahu marga itu, kamu salah, sekarang marganya jadi Zhao, jadi Zhao AtHaara." seru Vey antusias.
"Ahahah~ aku keliru." malu Haara.
Mereka berdua pun terkekeh, siapa sangka mereka akan secepat ini akrab.
"Mm~ kak, bisa jaga rahasia ini untuk sementara waktu tidak?" tanya Haara ragu.
"Rahasia? Rahasia apa?" bingung Vey.
__ADS_1
"Tentang aku sedang mengandung anak tuan Yoan dari dokter Wang? Biar hanya kakak saja yang mengetahui kehamilanku." seru Haara.
"Lho? Kenapa?"
"Mmm~ sebenarnya, tuan Yoan belum tahu jika aku sedang hamil." jujur Haara.
"Apa?? Kenapa kamu tidak bilang??"
"Dia sedang ada masalah dengan urusannya di Korea, bahkan kami terkendala waktu darinya, kami kesulitan untuk menanyakan kabar satu sama lain, jadi aku rasa aku akan memberitahunya jika waktu nya sudah tepat dan luang darinya." jelas Haara.
"Ahh~ kau berfikir dewasa ternyata, mau di beritahu tuan muda dulu baru di umumkan ya~" goda Vey.
Haara tersipu malu.
"Hehe, iya." sahut Haara malu.
"Baiklah! Akan aku jaga rahasiamu." sahut Vey.
"Terima kasih kak dokter Vey~"
"Ahahah~ kau menggemaskan sekali, berapa umurmu?" tanya Vey.
"Eum~ 18 tahun."
"Kau sudah lulus?"
"Tahun ini aku akan lulus." sahut Haara.
"Waw! Sepertinya tuan Yoan sudah tak tahan ya? Gak sabar menunggumu hingga lulus." tawa Vey.
"Kak Vey, ih~ jangan di bahas~" malu Haara.
"Lho? Kenapa, pasti ucapanku benar lho~ biasalah~ naluri dan gairah pria dewasa itu lebih besar lho~"
"Kak Vey~ ayolah~ kak Vey, berapa umur kak Vey?" tanya Haara.
"23 tahun." sahut Vey.
"Tak ku sangka, aku kira umur 20 tahun~" takjub Haara.
"Sungguh aku terlihat lebih muda? Terima kasih." senang Vey.
"Sama sama, ah! Kak Vey, sepertinya aku harus segera ke minimarket dan bergegas cepat pulang, next time kita bertemu lagi kak Vey." ucap Haara memakai kacamata nya dan masker.
"Berhati-hatilah, jaga dirimu." Ucap Vey.
Haara mengangguk dan pergi keluar.
●•●•●•●•●
Haara memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper kecil dan berbagai perlengkapannya yang lain.
Ia lebih mengutamakan kotak p3k nya dan jangan lupakan susu khusus untuk kesehatan dirinya dan calon bayi nya yang tak akan ia lupakan.
"Sayang~ tolong tenang untuk besok hingga tiga hari ke depan ya? Jangan buat teman-teman mama khawatir." seru Haara mengusap perutnya meminta pengertian pada calon bayinya.
Haara mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu untuk di kirim pada Ammar dan tentu untuk di sampai kan pada Yoan.
Haara:
"Kak Ammar, bisa tolong sampaikan pada Yoan jika aku meminjam baju panjang dan hoodie nya;D aku akan ke penthouse untuk mengaambilnya bersama Yifan atau Yuu, oke?"
Haara tersenyum saat membaca isi pesan yang ia kirimkan untuk Ammar ke Yoan.
"Minta antar Yifan saja deh." senyum cerah nya."
●•●•●•●•●
Suara PIN di tekan dan kode PIN benae pun terdengar.
Haara pun langsung masuk ke dalam penthouse dengan hati riang.
"Hm~ apa kau meninggalkan sedikit makanan, kakak ipar?" tanya Yifan mengikuti Haara naik ke lantai atas.
"Delivery saja, masa iya aku meninggalkan penthouse ini beberapa bulan tapi menibggalkan makanan di Penthouse." sahut Haara.
"Makan di luar saja habis selesai urusanmu disini." sahut Yifan bersandar di kayu pintu kamar.
"Coba kita acak-acak pakaian Yoan wmueheheh~" seru Haara melangkah ke lemari Yoan.
"Kamu mau ngapain?" tanya Yifan curiga.
"Mau pinjam baju Yoan beberapa." sahut Haara.
"Apa kau tak memiliki baju sampai mau ambil baju kak Yoan???" tak menyangka Yifan.
"Aku ingin pakai baju Yoan, Yoan pasti izinkan kok." sahut Haara membuka pintu lemari milik Yoan.
Harum khas pria itu pun tercium jelas di dalam lemari itu.
"Aku sangat rindu harum ini~" gumam Haara menghirup aroma di dalam lemari itu.
__ADS_1
"Tapi Haara, kak Yoan sungguh sangat tidak suka jika kau mengacak-acak pakaiannya." seru Yifan.
"Aku akan rapihkan, lagipula pakaian nya rapih karena aku yang susun." ucap Haara membela diri.
"Kenapa tiba-tiba mau pakai baju kak Yoan??" tanya Yifan bingung.
"ngga tau juga, Karena suka sepertinya, baju Yoan nyaman jika ku pakai, dulu saja saat study tour aku pakai jaket ..."
"Tapi tetap saja mabuk." sela Yifan meledek.
"Ihh! Itu karena aku belum makan sama sekali, tahu!" seru Haara kesal.
Yifan tertawa mendengarnya.
"Lagi pula jika aku mabuk, yang repot kau juga, harus urusin kakak iparmu yang sedang mabuk, jika tidak nanti kena marah Yoan, wleee~" ledek Haara.
"Ancamanmu ... ah~ menakutkan jika sudah menyangkut nama kak Yoan." gerutu Yifan.
"Zhao Yoan Ti-En, Zhao Cheng Yuu, Zhao Yi Fan, hmm~" gumam Haara menduduki dirinya di tepi kamar.
"Hm, apa? kenapa memanggil nama lengkapku?" tanya Yifan.
"Yifan, aku mau tanya, 'Ti-En' dari nama belakang nama Yoan itu marga bukan sih? Apa itu memang nama panjangannya saja?" bingung Haara.
"Hm? Apa kau belum tahu? Itu adalah marga yang di khusus diberikan anak tertua dari dua belah keluarga besar." sahut Yifan.
"Marga? maksudnya?"
"Hm, Marga itu adalah marga dari keluarga dari nenek dari mama kami, itu adalah marga yang di berikan untuk anak dari bibi Stephannie selaku anak pertama yang menikah dengan anak pertama dari keluarga besar, paman Zhao Tao Ming sendiri." jelas Yifan.
"ahh~ hanya anak pertama saja? Jadi ... Finn memiliki marga di akhir namanya juga?" tanya Haara.
"Xi Cha juga punya, Zhao Finn Ti-En dan Zhao Xi Cha Ti-En, marga 'Ti-En' itu bisa di sebut marga istimewa dan mengartikan seseorang dengan marga itu adalah seorang pemimpin yang sangat di hormati sekali, marga itu sungguh sangat istimewa sekali jika kau tahu." jelas Yifan.
"Pantas saja, tak heran Yoan seperti itu." gumam Haara mengangguk-angguk.
"Jika kau memiliki anak, kau bisa memakai marga 'Ti-En' di belakang nama anak kalian." ucap Yifan.
Haara yang mendengarnya pun langsung menatap Yifan.
"Bagaimana jika dengan Xi Cha? Biasanya, marga akan di berikan dari pihak pria saja yang bisa diturunkan pada anaknya, bukan?" tanya Haara bingung.
"Seperti yang ku jelaskan tadi, marga 'Ti-En' itu berasal dari nenek dari mama kami, mengartikan jika anak perempuan pun bisa memberikan marganya kepada anaknya, marga itu ga akan putus kecuali jika tidak memiliki keturunan." Jelas Yifan.
Haara kini baru tahu mengenai hal ini, bahkan marga kedua di belakang nama yang dimiliki Yoan itu adalah marga besar dan bukan marga sepele.
"Sudah selesai belum? Aku lapar, mari kita cari makan siang." seru Yifan.
"Sudah, ayo." melangkah keluar.
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Auhor:...
..."marga bukan sembarang marga nih, punya dua marga dalam satu nama, gimana pendapatnya untuk part kali ini nih? tulis di komentar ya😇"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
...see you next tomorrow❤...
__ADS_1
🎐我的命运是赵先生🎐