
"Lalu? Jika Jessi pergi bersamaku, bagaimana tanggapanmu?" seru Yoan serius.
Haara terkejut mendengarnya.
"Apa kau mengizinkanku memboncengnya naik motor bersamaku?" tanya Yoan lagi.
"Satu motor???"
Yoan mengangguk dan menatap Haara serius.
Haara terdiam, ia larut dalam fikirannya yang berdebat.
Yoan tersenyum tipis.
"Jika kau tak suka aku memboncengnya aku ..."
"Terserah kamu saja, lagi pula dia temanmu kan? Kalian satu tujuan juga." sela Haara menatap kedepan.
"Ha??" terkejut Yoan mengerutkan keningnya.
"Aku terserah padamu saja, jika mau boceng dia naik motor juga tak apa-apa." sahut Haara menatap Yoan santai.
Yoan menatap Haara datar.
"Kau serius?" tanya Yoan serius.
Haara mengangguk.
Yoan membuang pandangannya, ia merasa kecewa sekali.
"Yoan?"
Pria itu tak menyahut, Haara seketika pun langsung bungkam.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Sore hari kemudian.
Ting! Tong!
Suara bel pintu apartemennya terdengar, Haara pun dengan cepat membukakan pintu apartemennya.
"Hello~"
Haara tersenyum tipis.
"Hello Jessi." sahut Haara dengan senyuman malas.
"Yoan will go right? (Yoan akan pergi kan?)"
Haara mengerutkan keningnya mencoba memahami ucapan wanita itu.
Haara dapat memahami ucapan bahasa inggris orang. Namun ia payah dalam berbicara bahasa inggris.
"Yeah." sahut Haara memahami jika wanita itu mengatakan jika apakah Yoan sudah bilang padanya atau belum jika akan pergi.
"can you call him? we can't be late.
(bisakah kau panggil Yoan? Kita tidak boleh telat.)" seru Jessi tersenyum penuh arti.
"Wait a minute." sahut Haara masuk ke dalam.
●•●•●•●•●
Haara melangkah ke dalam kamar mendapati Yoan yang tengah menatap keluar jendela menikmati indahnya pemandangan kota.
"Yoan." panggil Haara bersikap biasa saja.
Yoan yang terpanggil menatap Haara.
"Jessi sudah datang! pergilah, nanti kalian telat." senyum Haara.
"Aku tak jadi pergi." seru Yoan datar.
Haara yang mendengarnya terkejut.
"Tidak jadi pergi?? Tapi mereka menantikan kau datang lho?"
"Aku tak perduli!" sahut Yoan dingin.
"Ayolah Yoan~" seru Haara menghampiri Yoan
Yoan menatap Haara datar.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Haara.
"Kenapa kau memaksa sekali agar aku menghadiri acara reuni itu, AtHaara?" tanya Yoan dengan tatapan tajam.
Haara tersenyum tulus.
"Karena mereka teman-temanmu, banyak temanmu yang menunggu kehadiranmu disana, mereka pasti ingin main dan berbincang-bincang bersama denganmu, mengingat masa-masa SMA." sahut Haara tenang.
"Bahkan kau tahu. Aku tak memiliki kenangan indah saat SMA." sahut Yoan tajam.
"Mm~ Jika tak ada, buatlah kenangan reunimu saat ini menjadi kenangan masa SMA mu." senyum Haara tulus.
Yoan tak menyangka jika Haara berfikir seperti itu.
"Pergilah, nanti kalian telat, bersenang-senanglah dengan teman-temanmu." seru Haara mengusap pipi Yoan sayang.
__ADS_1
"Aku tak butuh sebuah kenangan, apalagi harus memperbaiki kenangan burukku yang sudah lalu." sahut Yoan tajam.
Haara menarik tangannya dari pipi pria itu, ia merasa jika ia telah membuat mood pria itu semakin buruk.
"Kau sungguh membiarkan ku pergi keluar dengan wanita lain?? Kau sungguh membiarkanku pergi membonceng wanita lain??" tanya Yoan masih tak percaya.
"Dia itu bukan siapa-siapamu, dia itu temanmu kan? Aku akan memahaminya." sahut Haara tenang.
"Jawabanmu, cih! jawabanmu itu membuatku muak!" seru Yoan menatap Haara tajam dan melangkah keluar dari kamarnya.
Haara yang mendengarnya terkejut bukan main.
• • •
"Come on." seru Jessi tersenyum pada Yoan.
Haara yang melihatnya mencoba mengabaikan senyuman Jessi yang di berikan pada Yoan.
Haara menatap Yoan yang menatap nya datar, dengan sikap tenang Haara, gadis itu malah melemparkan Yoan dengan tersenyuman manisnya.
"Aku tak suka melihat senyumanmu untuk saat ini." seru Yoan menusuk.
Secara perlahan senyuman Haara luntur.
Yoan lagi-lagi menghela nafasnya kasar.
Yoan menatap Jessi nanar dan melangkah pergi.
"berhati-hatilah~" senyum Haara.
Yoan tak merespon ucapan Haara, ia melangkah pergi dengan Jessi yang jalan beriringan dengan Yoan.
Haara menghela nafasnya kasar, mendapat respon sangat dingin dan datar dari Yoan membuat hatinya mencelos seketika.
Namun secara bersamaan, ucapan Jessi kemarin terngiang di benaknya.
Ya, ucapan Jessi kemarin, mereka tak sengaja bertemu.
Jessi pun mengajaknya bicara dan memberitahukan tentang adanya acara reuni yang akan di adakan keesokan harinya saat itu.
Ia sudah tahu sebelum Yoan memeberitahunya, Haara terus saja kefikiran ucapan wanita itu.
..."me and Yoan are friends, you can't be jealous or afraid that Yoan will go with me, right?...
...(Aku dan Yoan adalah teman, kau tak mungkin cemburu atau takut Yoan pergi denganku, kan?)"...
..."so funny if it's real! very childish! Ah! I forgot you were a child!...
...(Sangat lucu jika itu sungguhan! Sangat kekanak-kanakan! Ah! Aku lupa kau masih kanak-kanak!)"...
Haara memejamkan matanya rapat-rapat, suara tawa mengejek Jessi terngiang di benaknya.
..."do you know? Men like Yoan generally prefer mature-thinking women rather than childish....
...(apa kamu tahu? Pria seperti Yoan umumnya lebih menyukai wanita yang berpikiran dewasa daripada kekanak-kanakan.)...
...(Kau mengerti? Gadis manis?)"...
Haara menutup pintu apartemennya, ia menyandarkan dirinya di pintu apartemennya.
Tubuhnya merosot, ia memijat pelipisnya pening.
..."Jawabanmu, jawabanmu itu membuatku muak."...
..."Aku tak suka melihat senyumanmu untuk saat ini."...
Haara memegang dadanya, jantungnya terasa sakit sekali.
Wanita itu telah membuat dirinya seperti ini, di ambang kebingungan.
Sangat naif? Mungkin itu adalah sebutan yang pantas untuk Haara.
Ia terlalu polos untuk menyadari niat dan ucapan Jessi padanya kemarin.
Jujur saja ia tak ingin sekali mengizinkan Yoan pergi, apalagi berboncengan satu motor! Bahkan naik motor lebih banyak kontak fisik di bandingkan naik mobil.
Namun, ia termakan oleh ucapan Jessi mengenai Yoan yang tak suka wanita yang ke kanak-kanakkan atau cemburuan, maka dari itu ia mencoba memahami antara Yoan dan teman wanita Yoan, salah satunya yaitu Jessi.
Ia baru menyadari satu hal,
Pria itu tak menyukainya!
Pria itu tak suka Haara memaksanya untuk tetap pergi ke acara reuni itu.
Ia telah membuat Yoan marah padanya.
"Naif nya diriku! Bodoh!!"
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Haara jalan kesana kesini sambil menatap jam tangannya.
Jam telah menunjukkan pukul 00:06.
Hatinya benar-benar sudah sangat tak tenang.
Ia merasa bingung untuk menghubungi pria itu saat ini.
"Kemana dia? Kenapa dia belum pulang juga!?" kesal Haara.
__ADS_1
Pria itu sungguh marah padanya!
Ketahuilah, di lain tempat Yoan kini sedang di lingkup amarah.
"Maafkan aku Yoan telah memaksamu~ ku mohon pulanglah~" seru Haara ketakutan.
Air matanya menetes, namun dengan cepat ia mengusapnya.
Ting! Tong! Ting! Tong!
Haara secara tiba-tiba menatap pintu apartemennya, dengan cepat Haara mengecek lewat door viewer (kaca lubang intip).
"Ya ampun Yoan!"
DEG!
Hatinya berdetak dengan rasa sakit.
Sesegera mungkin Haara membuka pintunya.
Dapat dilihat Yoan yang mabuk berat,
Dan jangan lupakan dengan Jessi merangkul suaminya itu.
"Yoan!!" panik Haara mencoba merangkul Yoan.
"Let me ...(biar aku ...)" -Jessi.
"Let go of my husband!! (Lepaskan suamiku!!)" bentak Haara dengan nada tinggi.
Jessi yang mendengarnya tercegang,
"don't ever approach my husband again!!
(Jangan pernah mendekati suamiku lagi!!!)" emosi Haara meneteskan air matanya, ia dengan susah payah merangkul Yoan.
Brak!!
Haara membanting pintu apartemennya.
Haara tak kuat membendungnya lagi, air matanya membanjiri pipinya.
• • •
Haara menidurkan tubuh Yoan yang benar-benar sudah tak sadarkan diri.
Bau alkohol tercium sangat menyengat sekali di tubuh pria itu.
Entah berapa botol pria itu minum.
Ia tak tahu.
Yang ia pastikan sangatlah banyak sekali.
Dengan keadaan masih menangis dan terisak, Haara membukakan sepatu pria itu.
Imajinasinya membayangkan Yoan yang satu motor dengan Jessi dan Jessi memeluk tubuh Yoan membuat sambaran tak terlihat dalam hatinya.
Haara menduduki dirinya di dekat kaki pria itu, ia mengusap air matanya, ia benar-benar berlaku bodoh sekali.
...'Aku tak akan pergi minum jika aku tak memiliki beban fikiran, kemarin itu aku baru pergi minum lagi setelah sekian lama.'...
Ucapan pria itu saat itu terlintas di benaknya.
Pria itu kemarin mabuk karena bertengkar dengannya, dan kini pria itu mabuk lagi karena dirinya lagi!
Haara memukul dadanya yang terasa sesak.
Pulang bersama dengan wanita yang jelas-jelas seorang musuhnya, wanita itu adalah perusak dalam rumah tangganya.
"bodoh! bodoh! bodoh! kamu sangat bodoh AtHaara! kenapa kau begitu naif dan bodoh!!!" rutuk Haara pada dirinya.
"Jika saja aku tak memaksa Yoan pergi, mungkin Yoan tak akan marah padaku dan pergi minum sampai mabuk berat seperti sekarang!!"
"Akulah penyebabnya! akulah penyebab dia begini! Aku benar-benar naif! Aku benar-benar sangat bodoh!!!" rutuk nya lagi pada dirinya sendiri sambil terus menangis histeris.
"Ya, kau memang sangat bodoh."
Haara sontak langsung menatap seseorang yang bicara itu.
Matanya terbelalak sempurna, tubuhnya gemetar bukan main.
"Yo-Yoan!?"
...•...
...•...
...Author : "jadi semua karena Jessi🙃 Haara terlalu naif dan bodoh, ingin terlihat seperti istri pengertian namun yang ada buat Yoan marah🙃 maklumi kenaifannya Haara ya kakak-kakak😊"...
...•...
...❤Bersambung❤...
...•...
...Hai, kakak-kakak Readers👋...
...Hai, kakak-kakak author👋...
...Terima kasih sekali sudah hadir di ceritaku ya😊...
...Jangan lupa Like, Vote, Rate 5 star, dan komentarnya ya😊...
...Karena itu sangat berarti untuk aku selaku author😊...
__ADS_1
...Sehat selalu untuk kakak-kakakku ya, disaat pandemi seperti ini selalu jaga kebugaran tubuh kita ya🤗...
...See you tomorrow😇...