
"Yo Yoan?!" terkejut Haara membulatkan matanya,
Yoan pun bangkit berdiri, ia menghela nafasnya sambil melangkah mendekati Haara di tempat tidur,
"Tiduran saja" seru Yoan datar,
Haara menunduk, ia menggeleng lemah,
"Jika tiduran, aku merasa pandangan ku berputar. Itu membuatku pusing dan mual" sahut Haara pelan, ia menutup matanya rapat rapat untuk menghilangkan rasa nyeri dikepalanya.
Yoan menatap Haara cemas, tergambar jelas wajah gadis itu sangatlah pucat sekali,
Suara rengekkan dan ringisan terdengar, sontak Yoan terkejut saat menyadari gadis itu menangis,
"Hey Haara? kamu Kenapa??" tanya Yoan membungkukkan tubuhnya untuk menatap wajah gadis itu
"Pusing~ kepalaku pusing sekali Yoan~ pandanganku berputar~aku merasa mual~ tubuhku juga sangat tidak enak" isak gadis itu sesenggukan,
"pasti dia masuk angin, sewaktu berangkat ia muntah, ia belum makan apapun" seru Alka menjelaskan,
Yoan yang mendengarnya menghela nafasnya kasar,
"Kenapa tak makan?" tanya Yoan menatap Haara,
"Aku tidak nafsu makan~" sahut Haara menggeleng geleng,
"Heeeu~ berhentilah berputar~!" seru Haara menangis
Yoan menghela nafasnya kasar, ia menarik kepala Haara lembut untuk bersandar di dada bidangnya,
Haara langsung membuka matanya terkejut,
Riza dan Alka yang melihatnya menutup mulut rapat rapat melihat adegan didepan mereka,
Yifan yang melihatnya memutar matanya malas, ia menepuk pundak Rizal yang ternganga,
"Kita pulang dan ke dokter" seru Yoan dingin menundukkan kepalanya menatap Haara dipelukkannya
"Tapi .." -Haara menegakkan tubuhnya dan menatap Yoan
"Yifan, ambil tas Haara dan barang barangnya" seru Yoan
"Aku??" tanya Yifan menunjuk dirinya sendiri,
"Ee .. Biar aku sama Riza saja yang ambilkan" sahut Alka menarik Riza pergi,
"Jadi Haara akan pulang?" tanya Yifan,
"Hm"
"Yoan~ tapi .."
"Aku sudah izinkan kamu pada paman, paman juga memakluminya, jangan membantah" sela Yoan lagi,
"Berhati hatilah kau kak, jalan licin habis hujan" seru Yifan,
"Aku tahu itu"
"Aku kembali dulu, Haara aku dan Rizal pergi oke" pamit Yifan pergi
"Cepat sembuh Haara" seru Rizal melambaikan tangannya ikut pergi,
"Ah iya" sahut Haara tersenyum tipis
• • •
"Bisa berjalan tidak?" tanya Yoan,
"Bisa, tapi pelan pelan, tubuhku lemas" sahut Haara pelan,
Yoan menyahut dengan deheman, ia membantu Haara turun dari tempat tidur,
Yoan merangkul Haara,
"Gerimis" seru Haara menatap langit
Rasa dingin yang menusuk dapat Haara rasakan, cuaca yang tadinya dingin kini terasa makin dingin sehabis hujan.
Yoan menyamakan langkah nya dengan Haara, ia merasa tubuh gadis itu terasa panas,
"Sudah ku bilang tak usah ikut" seru Yoan serius,
"Ini tahun terakhir aku ikut berkemah semasa sekolah, aku tak ingin melewatkannya" sahut Haara pelan,
Yoan yang mendengarnya tak dapat berkata kata.
"Tuan Yoan, ini tas nya Haara" seru Alka memberikkan
"Ini sisanya" tambah Riza,
__ADS_1
"Terima kasih" sahut Yoan mengambil dua tas milik Haara,
"Masuk mobil, cuacanya makin dingin" seru Yoan pada Haara,
"Sebentar~ Alka, Riza aku pulang duluan ya~ maaf aku merepotkan kalian" seru Haara lemah,
"Jangan difikirkan, aku dan Riza tak merasa di repotkan kok~" sahut Alka tersenyum,
"Alka benar, kamu masuk sana, diluar makin dingin" seru Riza,
Haara mengangguk, dan masuk ke dalam mobil Yoan.
Yoan melangkah ke arah Alka dan Riza,
"Terima kasih sudah merawat anak itu saat dia mabuk" seru Yoan,
"sama sama tuan Yoan" sahut Riza,
"Tuan? Bahkan kalian bukan karyawanku"
Alka dan Riza menatap Yoan bingung
"Ee lalu kami memanggil anda apa?" tanya Riza bingung
"Terserah, asal jangan tuan" seru Yoan,
"Kakak? Kak Yoan??" tanya Alka cepat,
Riza menyenggol Alka dan mengumpat,
"Hay Alka, apa yang .."-Riza
"Tidak buruk" sahut Yoan mengangguk angguk,
Alka dan Riza mengerjapkan matanya,
Yoan pun melangkah pergi masuk kedalam mobil,
"Kakak??"
"Kakak ipar saja untukmu Riza" goda Alka menyenggol Riza,
Riza tak menyahut, ia meninggalkan Alka,
"Eh Riza~ malu malu lagi" kekeh Alka mengejar.
Haara fokus kedepan menatap jalanan, banyak orang mengatakan jika menatap jalanan yang di lalui, itu tidak akan membuat orang mabuk dengan jalanan yang naik turun belok belok sekalipun.
"Yoan" panggil Haara, Yoan menyahut dengan deheman
"Apa .. Kau datang kesini karena .. Aku?" tanya Haara,
"Pertanyaan yang tak perlu aku jawab"
"Lho? Kenapa? Aku bertanya serius lho" seru Haara melirik Yoan sekilas,
"Lalu? Jika bukan karenamu, untuk siapa lagi?" seru Yoan,
"Ah, ku kira kau juga ingin berlibur" sahut Haara kikuk,
"Aku tak punya waktu untuk itu" sahut Yoan cuek,
Haara menahan senyumnya, entah kenapa ia merasa ingin sekali tersenyum saat mendengar jawaban pria itu,
"kamu .. tahu dari mana jika aku sakit?" tanya Haara bingung,
"paman menelfonku, ia khawatir saat mengetahui suhu tubuhmu sangat panas dan wajahmu yang terlihat dangat pucat, saat kau pingsan ia menyuruhku untuk datang kesini menjemputmu" jelas Yoan,
Haara ber oh panjang
Ia menatap keluar jendela, tempat makan lesehan terlihat sangatlah menyenangkan jika ia disana,
"Sepertinya enak makan di lesehan" seru Haara,
Yoan melirik Haara sekilas, tanpa mengatakan apapun, Yoan meminggirkan mobilnya dan memparkir di salah satu tempat makan lesehan,
Haara menatap Yoan bingung,
"Lho Yoan? Kenapa .."
"Aku lapar, kau pun belum makan apapun, Kita makan dulu" seru Yoan mematikkan mobilnya dan turun dari mobil,
"Apa ia menanggapi ucapanku yang ingin makan di lesehan ya?".
• • •
Haara memasukkan tangannya ke saku jaket Yoan yang ia kenakan sekarang, cuacanya benar benar sangat dingin sekali, ia benar benar tak kuat sekali, di tambah tubuhnya yang kurang sehat saat ini,
Haara menatap Yoan yang bangkit berdiri,
__ADS_1
"Aku ke mobil sebentar" seru Yoan pergi,
Haara mengangguk,
Tatapannya tak berpaling dari Yoan pergi ke mobil, bukannya melangkah ke arahnya, pria itu pergi ke arah lain.
"Lho? Mau kemana dia??" seru Haara mengigil,
Haara menggesek gesek kedua tangannya untuk mendapat kehangatan, ia benar benar tak kuat,
tak begitu lama Yoan pun kembali,
Sebuah bayangan membuat Haara mendongak, Yoan meduduki dirinya disamping Haara.
"Minum teh ini, agar lebih hangat" seru Yoan,
Haara menatap Yoan sebentar dan mengangguk,
"Pelan pelan panas" peringat Yoan hati hati
Haara kembali mengangguk, ia meminum teh itu perlahan,
"Sudah lebih hangat?" tanya Yoan,
"Tubuhku sudah hangat" sahut Haara,
Yoan secara tiba tiba menarik kedua tangan Haara, membuat gadis itu terkejut,
"Eh Yoan???"
Ia terkagum saat tangannya di kompres handuk kecil yang dibasahi air hangat oleh pria itu,
Deg!!
Jantung Haara berdegup kencang saat itu,
'Apa ia sedang perhatian denganku?' batin Haara,
Srett!!
Mata Haara membelalak saat Yoan meletakaan telapak tangannya di kening Haara,
"Tubuhmu makin panas saja, hahh, tapi sebelum perjalanan pulang kamu harus makan dulu agar tidak mabuk perjalanan lagi" panik Yoan,
Haara mengangguk kaku,
"bagaimana? tanganmu terasa hangat?" tanya Yoan menarap Haara serius,
"masih dingin" dusta Haara,
Yoan yang mendnegarnya pun merangkup tangan Haara erat,
Haara ingin berteriak sekarang, ia tak dapat membedakkan sekarang mana reaksi tubuh panas pada demam dan reaksi tubuh panas atas perlakuan manis pria itu,
"ee .. sudah cukup Yoan, makanan nya sudah jadi" seru Haara,
Yoan mengangguk dan melepaskan tangan Haara
Makanan yang mereka pesan pun telah diantarkan dan di taruh di meja,
Haara melirik Yoan karena pria itu tidak kembali ke tempat awal pria itu duduk, melainkan pria itu duduk disampingnya,
"Cepat makan, jangan melamun" seru Yoan lembut,
"I iya"
Haara pun mulai makan,
'Perasaanku .. tak kharuan, jantungku~' batin Haara memegang dadanya,
'Apa aku menyukainya?' seru Haara menatap Yoan disampingnya.
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
...hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku😍...
...jangan lupa like👍...
...rate⭐⭐⭐⭐⭐...
...dan komentarnya 💭😊...
...tambahkan juga ceritaku ke favorite❤ agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏...
__ADS_1