
episode 110
"oh, apa yang membuat kalian kemari, anak-anak ?. " tanya paman anaki.
"halo. " ucap Ardian sambil menahan rasa takutnya.
"hmm, kau cucunya zenah kan. " ucap paman anaki yang melihat Ardian seperti jelan.
"ya. " ucap Ardian.
"kau sudah bertambah besar ya, ayo masuklah dulu, kita bicara didalam. " kata paman anaki menyuruh mereka semua masuk ke dalam rumahnya yang sangat berantakan.
saat didalam mereka semua pun duduk di sofa ruang tamu yang agak sempit itu sambil melihat sekeliling rumah paman anaki yang seperti kapal pecah dan suram.
"seperti biasa di dalam rumah paman seperti kapal pecah. " kata mbak ciria dengan tenang.
"hahaha, apa kau ingin membantu ku bersih-bersih lagi ?. " tanya paman anaki sambil tertawa.
"tidak, bersihkan saja sendiri, inikan rumah paman. " jawab mbak ciria dengan acuh.
"tenanglah, aku hanya bercanda, lalu untuk apa kalian menemui ku ramai-ramai ini ?. " tanya paman anaki.
"saudaraku Ardian ini ingin berbicara kepada mu, dia bilang ingin menemui sahabat-sahabat neneknya untuk meminta sebuah saran untuk menjadi kuat. " jawab mbak ciria dengan tenang.
"saran ya, (aku tidak percaya, cucu nya elan ini meminta saran dariku). " ucap anaki didalam hatinya sambil tersenyum kecil.
"bisakah paman anaki menceritakan sedikit tentang kakek jelan, mungkin paman bisa memberiku saran setelahnya. " kata Ardian.
"betul juga, ternyata kau sangat jenius seperti kakek mu, dulu dia juga berkata seperti itu saat menasehati ku. " kata paman anaki.
"menasihati paman. " ucap Ardian.
"ya, saat itu, aku masih ragu dengan diriku sendiri, aku dulu adalah salah satu dari anak-anak pembunuh yang di manfaatkan oleh iblis. " kata paman anaki memberikan cerita sedikit tentang hidupnya di masa lalu.
"aku sudah mendengar semuanya dari nenek, hidup sendiri itu memang sulit, benarkan paman. " kata Ardian sambil merasakan kesedihannya.
"begitulah, lalu bagaimana kabar nenek mu saat ini ?. " tanya paman anaki.
"saat ini dia masih sehat-sehat saja. " jawab Ardian.
"syukurlah kalau begitu, kukira dia masih depresi saat kakek mu meninggalkannya, untuk seorang wanita dia mempunyai hati yang sangat kuat. " kata paman anaki menilai nenek zenah.
__ADS_1
"tapi sebelum nenek bercerita banyak kepada ku, dia sempat mengatakan jika dia seperti melakukan kesalahan kepada kakek. " kata Ardian.
"belum saatnya kau mengetahuinya. " ucap paman anaki setelah mendengar perkataan Ardian yang membuatnya sontak langsung terkejut.
"heh, kenapa ?. " tanya Ardian.
"suatu saat kau pasti akan mengetahuinya dengan sendiri. " jawab paman anaki.
"lalu bagaimana dengan ceritamu tadi, paman. " kata mbak ciria.
"ya, benar, hampir saja aku lupa. " ucap paman anaki sambil tertawa kecil.
"begitulah paman anaki, dia selalu lupa dengan perkataannya sendiri. " kata mbak ciria dengan ekspresi tenang.
"setelah tragedi iblis di bukit kota lesar, kami semua pun berteman, tidak ada yang namanya permusuhan lagi, semuanya damai sampai tragedi naga terjadi 8 tahun yang lalu menghancurkan kota ini. " kata paman anaki.
"apa yang dilakukan kakek ku saat itu paman ?. " tanya Ardian.
"dia mengorbankan dirinya, sayangnya dia tidak bisa menyegel semua naga yang sudah membelah menjadi tujuh itu, jadi kakek mu memasrahkan penyegelan nya kepada nenek mu dengan sebuah guci yang sekarang ia simpan bertahun-tahun, lalu karena para warga kota lesar itu merasa tidak aman jika suatu saat ketujuh naga itu keluar lagi, akhirnya para warga memberikan pilihan kepada nenek zenah, membuang jauh-jauh guci yang menjadi penyegelan ketujuh naga itu atau menghancurkannya segera. " jawab paman anaki mencaritakan panjang lebar kepada Ardian dan teman-temannya.
"lalu apa yang nenek ku pilih ?. " tanya Ardian.
"karena tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan yang telah dilakukan oleh kakek mu, nenek mu tidak memilih keduanya dan pada akhirnya dia menyembunyikan naga itu di dalam diri cucu-cucunya, berharap jika suatu saat nanti cucu-cucunya bisa mengendalikan naga itu seperti pesan terakhir kakekmu sebelum mengorbankan dirinya. " jawab paman anaki.
"(akhirnya aku paham dengan apa yang kau maksud, jelan). " kata paman anaki didalam hatinya sambil tersenyum saat melihat Ardian mengatakannya dengan ekspresi serius.
"aku tidak punya banyak saran untuk mu, yang bisa kulakukan hanyalah mengembalikan ini kepada cucunya. " kata paman anaki sambil memberikan sebuah kalung permata hijau kepada Ardian.
"kalung. " ucap Ardian.
"wow, sangat indah dan mengkilap. " kata Nizar.
"ini adalah kalung kakek mu dulu yang diberikan kepada ku sebelum tragedi naga terjadi, terimalah. " kata paman anaki.
"apa tidak masalah, kakek ku telah memberikannya kepada paman, bukannya terdengar seperti aku merebutnya kembali. " kata Ardian dengan ragu-ragu.
"aku lupa bilang kepada mu, sebelum kakek mu memberikan kalung ini kepada ku, dia sempat berkata suatu saat nanti jika hatimu sudah tidak ragu, berikanlah kepada orang yang membutuhkan seperti apa yang kulakukan ini. " kata paman anaki.
"mungkin ada keraguan saat aku mengambilnya, tapi jika kakek ku berkata seperti itu, aku akan jujur untuk menerima kalung itu. " kata Ardian dengan ekspresi serius sambil menerima kalung itu dan memakainya di lehernya.
"kau cepat sekali mengerti ya, cucunya jelan. " ucap paman anaki sambil tersenyum.
__ADS_1
"paman, aku punya nama, namaku adalah Ardian, cucu dari kakek jelan. " kata Ardian sambil tersenyum dan bersemangat.
"aku akan mengingatnya. " ucap paman anaki.
"kalau begitu permisi, kami ingin melanjutkan perjalanan kami, terimakasih sudah memberikan saran kepada ku, paman anaki, ternyata paman sangat baik sekali. " kata Ardian sambil berdiri.
setelah itu teman-teman Ardian pun ikut berdiri, kemudian mereka semua pun keluar dari rumah paman anaki dan melanjutkan perjalanan mereka untuk menemui para sahabat sahabatnya nenek zenah.
"ternyata masih ada yang mengatakan jika aku ini adalah orang baik, padahal di masa lalu aku sudah membunuh puluhan nyawa yang tidak bersalah, aku bisa melihat jiwa jelan di dalam diri cucunya itu, Ardian, akan ku ingat namanya, sebenarnya aku masih ragu dengan diriku, apakah aku sudah benar-benar menjadi orang baik, nisan. " kata paman anaki didalam hatinya sambil duduk di sofa dengan tersenyum.
lalu setelah mengunjungi rumah paman anaki, Ardian dan yang lainnya duduk di warung terdekat terlebih dahulu sambil makan untuk mengisi tenaga mereka.
"tadi itu sangat menyenangkan, kupikir tadi itu akan menjadi cerita yang membosankan. " kata gerad.
"benarkah, kupikir itu agak membosankan. " kata mizhura dengan tenang dari tadi.
"yang pasti aku tidak ingin lagi masuk ke dalam rumahnya itu. " kata mbak ciria dengan datar.
"kenapa, apakah kau selalu membantunya membersihkan rumahnya, mbak ciria ?. " tanya Nizar sambil menggodanya.
"tidak, bukan begitu. " jawab mbak ciria sambil menahan rasa malunya.
"mbak ciria, kau sangat baik ya, pernah membantu membersihkan rumah paman anaki itu. " kata Lena.
nira hanya mengangguk saat mendengar perkataan Lena.
"sudah kubilang bukan begitu. " kata mbak ciria yang berusaha menutupi rasa malunya.
"sudahlah, lalu kemana kita selanjutnya, Ardian ?. " tanya grane dengan tenang.
"huh. aku. " ucap Ardian dengan ragu.
"kau yang memimpin petualangan ini kan, kami semua sudah menyetujuinya dari awal, apakah kau masih ragu, Ardian ?. " tanya gerad.
"tidak, aku tidak ragu, selanjutnya kita akan pergi ke rumah paman azer. " jawab Ardian dengan bersemangat.
"heh, rumahku. " ucap gerad dengan terkejut.
"apakah sekarang kau yang menjadi ragu, gerad ?. " tanya Mbak ciria menggodanya.
"tidak, tidak masalah. " jawab gerad dengan kaku.
__ADS_1
tanpa sadar kalung permata yang dipakai Ardian memancarkan cahaya hijau saat keraguan Ardian menghilang seketika.
BERSAMBUNG..........