
Episode 210
di sore hari, Ardian yang masih di dekat danau dan hendak pulang........
"huh, kurasa tetap saja aku masih ragu. " kata Ardian menghela nafas.
"oh, Ardian, ternyata seharian ini kau berada di sini ya. " kata Opel yang bersama dengan teman-teman lainnya.
"kalian. " ucap Ardian saat menoleh ke belakang.
"kami mencari mu lho. " kata Alan sambil tersenyum.
"menari ku, memangnya ada apa ?. " tanya Ardian.
"kau masih mengkhawatirkan raja api kan. " kata Opel yang bertanya balik.
mendengar itu Ardian pun langsung memalingkan wajahnya dengan ekspresi gelisah.
"kami juga mengkhawatirkan nya, karena itu kita tidak bisa diam saja, apapun yang terjadi kami akan menghadapi perang itu. " kata Alan dengan ekspresi serius.
"jangan bilang itu dengan mudah !!. " teriak Ardian dengan lantang.
setelah itu tanpa pikir panjang Ardian pun berlari pergi kedalam hutan meninggalkan teman-temannya.
"kita biarkan saja dia untuk sementara waktu. " kata Alan.
"mungkin kau benar. " ucap Veysa.
lalu Ardian yang berlari di hutan pun tidak sengaja tersandung batang pohon dan membuatnya jatuh terkapar di tanah.
"kenapa aku lari, apa karena aku sedang marah dan tidak bisa mengontrol emosiku, ternyata tidak semudah itu untuk mengubah dunia. " kata Ardian yang terdengar putus asa saat masih dalam posisi jatuh terkapar di tanah.
"benar, kau tidak akan bisa mengubah dunia jika tidak bisa mengubah diri mu sendiri, itu kata dari seseorang yang ku kenal. " kata Zahra yang duduk dengan santai tepat di atas pohon.
"Zahra, kenapa kau ada disini ?. " tanya Ardian yang terkejut saat melihatnya.
"tidak ada alasan khusus, Ardian, kau sepertinya terjebak dalam konspirasi dirimu sendiri ya. " kata Zahra memejamkan matanya dengan ekspresi tenang.
"apa maksudmu ?. " tanya Ardian yang terlihat bingung mendengar perkataan Zahra itu.
__ADS_1
"kau terus saja menghawatirkan orang lain, apakah kau sudah melupakan dirimu sendiri. " kata Zahra yang bertanya balik setelah turun dari pohon.
"bukan begitu !!. " kata Ardian dengan lantang saat berdiri.
"lalu. " ucap Zahra yang ingin mendengar penjelasannya dengan ekspresi serius.
"aku takut. " ucap Ardian dengan pelan dan terlihat tegang.
"takut ?. " ucap Zahra yang masih ingin mendengar lanjutannya.
"aku takut jika perang itu merenggut nyawa banyak orang, apalagi jika seseorang yang berharga, aku tidak ingin kehilangan teman-temanku, tentu saja aku tidak ingin terbunuh di perang itu, aku hanya ingin dunia damai, jadi karena itulah sekarang aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. " jawab Ardian menjelaskan semuanya.
"kau dengar itukan, Zela. " kata Zahra melihat pohon di sampingnya keluar Zela yang sengaja bersembunyi.
"jadi begitu ya. " ucap Zela dengan ekspresi tenang saat menunjukkan dirinya.
"huh, Zela. " ucap Ardian yang terkejut saat melihatnya.
"aku sudah mendengar semuanya, sepertinya kau sedang dalam masalah ya, Ardian, kenapa kau tidak menceritakannya dari awal ?. " tanya Zela.
"aku tidak ingin mengkhawatirkan kalian. " jawab Ardian.
"huh, sudah kuduga kau akan mengatakan itu, yah, aku tidak akan meragukannya, itu memang dirimu, bagaimana kalau sekali-kali kau mempercayai teman mu. " kata Zela yang mencoba untuk mencari solusi.
"kau bisa mengkhawatirkan teman-teman mu, tapi kau tidak boleh lupa dengan tujuan mu, kau harus memperhatikan dirimu sendiri sebelum mengkhawatirkan orang lain, apakah kau mengerti. " kata Zela.
"kurasa kau ada benarnya, terimakasih nasehatnya, Zela dan juga Zahra, jika kalian tidak mengingatkan ku mungkin akan ada banyak keraguan di hati ku, sekarang rasanya sudah agak lega. " kata Ardian dengan tersenyum.
"huh, merepotkan saja. " gumam Zela dengan ekspresi tenang.
"ngomong-ngomong kenapa kau bisa tahu kalau aku sedang mempunyai masalah ?. " tanya Ardian penasaran.
"Zahra yang memberitahu ku dan menyeret ku siang tadi, dia bilang kalau teman mu sedang dalam masalah dan galau di dekat danau sendirian. " kata Zela memejamkan matanya.
"oh, bukankah dia orang yang kau kagumi, kenapa tidak jujur saja. " kata Zahra yang sedikit mencoba menjahili Zela.
"woy, hentikan itu. " kata Zela yang langsung mencoba menangkal perkataan Zahra itu.
"begitu ya, terimakasih kalian berdua, melakukan sejauh ini untuk ku. " ucap Ardian dengan tersenyum senang melihat mereka berdua.
__ADS_1
"baguslah kalau kau sudah kembali menjadi dirimu seperti biasa. " kata Zela yang juga senang melihatnya.
di tengah suasana itu, tiba-tiba saja, ada seorang gadis yang berlari dan terlihat seperti dikejar oleh sesuatu.
"tolong aku !!. " teriak gadis itu yang berusaha berlari.
di belakangnya pun terdengar suara tawa jahat mencoba menangkap gadis itu, saat Ardian Zela dan Zahra yang melihatnya dari kejauhan, mereka pun langsung terkejut melihat seorang wanita yang terbang dengan sapu mencoba menangkap gadis yang berusaha lari itu, saat Ardian hendak berlari menyelamatkan gadis itu, semua pun terlambat, gadis itu telah dibawa pergi oleh wanita yang menaiki sapu terlebih dahulu.
"aku terlambat. " kata Ardian dengan ekspresi kesal karena tidak bisa menyelamatkan gadis itu.
"tadi itu, sebenarnya apa. " ucap Zela yang agak terkejut setelah melihat kejadian dalam waktu singkat itu.
"aku pernah mendengarnya, seseorang yang bisa melakukan hal diluar akal sehat manusia dengan membawa benda mistis diluar pemahaman manusia. " kata Zahra yang teringat dengan cerita neneknya dulu.
"maksudmu wanita yang menaiki sapu tadi itu seorang esper ?. " tanya Zela yang mencoba memastikannya.
"bukan, dia seorang penyihir. " jawab Zahra dengan ekspresi serius.
"apa, penyihir, apakah itu benar-benar ada ?. " tanya Ardian yang sulit untuk mempercayainya.
"nenekku pernah bilang kalau seorang penyihir itu ada di dunia ini, tapi jumplah mereka tidaklah banyak, bahkan katanya lebih sedikit dari seorang pengguna kemampuan esper, kepunahan penyihir itu terjadi akibat perburuan penyihir ratusan tahun yang lalu, tidak ku sangka kita bisa melihatnya. " jawab Zahra.
"nanti saja penjelasan lebih lanjut nya, kita harus menyelamatkan gadis yang dibawanya tadi. " ujar Ardian yang belum menyerah untuk menyelamatkan gadis yang dikejar tadi.
"tapi bagaimana, penyihir tadi langsung menghilang setelah menangkap gadis yang dikejarnya tadi. " kata Zela yang tidak menemukan petunjuk apapun.
"aku masih bisa merasakan aura nya tidak jauh dari sini, ayo. " kata Zahra yang memandu Ardian dan Zela untuk mengikuti jejak penyihir itu.
di saat matahari hendak terbenam menjelang malam, mereka bertiga pun akhirnya sampai di depan rumah tua sederhana yang menjadi jejak akhir dari penyihir itu.
"aura penyihir itu berasal dari rumah ini. " kata Zahra menunjuk rumah tua yang terbuat dari kayu itu.
"hey, sebenarnya aku masih penasaran dari tadi, bagaimana kau bisa merasakan aura penyihir itu ?. " tanya Ardian yang masih penasaran.
"itu cukup mudah, aura penyihir itu mempunyai aura yang berbeda dan lebih kuat saat meninggalkan jejak, tapi walaupun begitu ada batasan waktu beberapa menit sebelum aura nya benar-benar menghilang. " jawab Zahra.
"pantas saja kau terburu-buru tadi, kau bisa menjadi detektif yang hebat dengan Indra mu itu. " kata Ardian.
"detektif ya. " gumam Zahra yang berfikir sejenak.
__ADS_1
"hey, apalagi yang kalian tunggu, ayo kita periksa kedalam. " ujar Zela sebelum berjalan mendekati rumah itu dan membuka pintunya.
BERSAMBUNG.................