
Episode 161
setelah perjalanan pulang dari kota sonase, Ardian dan Nizar yang sudah sampai di rumah........
"kami pulang. " ucap Ardian yang baru datang membawa barang-barang nya.
"kakak sudah pulang ya. " kata defa yang terlihat senang saat melihat kedua kakaknya yang sudah pulang itu.
"ya, kami juga membawa oleh-oleh untuk mu. " kata Nizar yang memberikan sesuatu kepada defa.
"wah, kakak, terimakasih. " ucap defa yang tersenyum senang saat menerima oleh-oleh itu.
paman nya yang melihat mereka juga tersenyum kecil sambil menyiapkan makanan untuk mereka.
lalu di lain tempat, raja petir yang kembali sibuk dengan pekerjaan nya, penasehat nya tiba-tiba saja bertanya kejanggalan nya kepada raja petir mengenai pedang petir itu.......
"apakah anda benar-benar serius memberikan pedang petir kepada salah satu anak dari rombongan kota zenai itu, bukankah seluruh kota sudah mendapatkan bagian nya masing-masing pedang kekuatan legendaris, saya hanya takut kalau itu akan menimbulkan konflik. " kata penasehat nya dengan ekspresi gelisah.
"bukankah aku sudah memberikan nya secara resmi kepada mereka, tidak masalah kalau sekarang kita tidak memiliki pedang kekuatan legendaris, karena biarpun kita mempunyai, kita tidak akan selalu menggunakan nya, selama ini kota zenai lah yang selalu melindungi kita, konflik maupun perang, mereka selalu ada dibarisan depan menyelesaikan semuanya, aku selalu gelisah jika memikirkan aku hanya berfokus kepada kota ku sendiri, padahal raja api yang memimpin kota zenai saat ini sedang berperang menyelesaikan konflik, aku tidak bisa banyak membantunya, karena itulah aku berharap setelah memberikan pedang petir kepada anak itu, dunia bisa berubah, aku mempercayai anak itu kalau dia bisa merubah dunia yang penuh dengan peperangan ini, memberikan pedang petir itu adalah keputusan ku sendiri sebagai pemimpin kota sonase, tidak ada kota lain yang bisa menolaknya selama pedang itu tidak jatuh ke tangan yang salah, apakah masih ada yang kau ragukan. " kata raja petir yang menjelaskan nya dengan sangat serius.
"tidak, sepertinya apa yang dikatakan oleh anda, ada benarnya, mewariskan pedang petir itu adalah keputusan anda sendiri secara mutlak, kota lain tidak akan menantang nya. " kata penasehat itu.
"ya begitulah, aku sudah memikirkan itu semua dari awal, jadi tidak perlu khawatir. " kata raja petir kemudian melanjutkan pekerjaan nya mengurus dokumen di meja nya itu.
lalu setelah hari berganti, keesokan harinya, seperti biasa Ardian pergi bersekolah bersama Nizar, lalu saat di perjalanan menunju sekolah.........
"uh, rasanya aku masih lelah setelah perjalanan kemarin. " kata Nizar yang terlihat tidak bersemangat.
"sepertinya kau terlihat tidak bersemangat sekali. " kata Ardian yang melihat ke arah Nizar.
"ya, aku memang tidak bersemangat hari ini. " kata Nizar yang seperti mengeluh.
lalu sesampainya didepan gerbang sekolah.
"Ardian, Nizar, selamat pagi. " kata veysa yang menyapa nya bersama gicha disampingnya.
"ya, selamat pagi. " kata Ardian.
__ADS_1
"uh, ya. " ucap Nizar yang terlihat tidak bersemangat.
"Nizar, apakah kau sakit, kau tidak terlihat bersemangat sekali. " kata gicha.
"aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah kemarin. " kata Nizar.
"begitu ya. " ucap gicha.
"Nizar, kemarin saat latihan kau bilang ingin aku mengajari mu cara mengendalikan naga, apakah kau ingat. " kata Ardian.
"ya, aku ingat, kakak, sepulang sekolah tolong ajari aku cara mengendalikan naga, sampai nanti di kelas. " kata Nizar yang langsung bersemangat dan berlari duluan kedalam kelas nya.
"dasar dia itu. " kata Ardian sambil tersenyum kecil saat melihatnya.
"sikapnya langsung berubah. " kata veysa.
"hey kalian bertiga. " kata Legis yang baru saja sampai bersama Mican dan Pingo dengan bersemangat.
"ouh, kalian baru sampai ya. " kata Ardian.
"tugas hokarage memang padat ya. " kata gicha.
"selain itu apakah kalian melihat jaylain ?. " tanya Legis.
"tidak, aku tidak melihatnya pagi ini, bagaimana dengan kalian. " jawab veysa.
"aku duluan dulu. " kata Ardian yang langsung memasang ekspresi serius kemudian berlari kedalam gedung sekolahan.
"hey, Ardian, ada apa dengan nya ya. " teriak Pingo tapi Ardian tidak menghiraukan nya.
"setiap kali menyangkut jaylain, dia selalu terlihat serius. " kata Legis yang merasa penasaran.
lalu saat Ardian hendak mencari jaylain, ia secara kebetulan bertemu dengan gacha di tangga.
"berlari lari di tangga ruangan itu berbahaya. " kata gacha dengan ekspresi tenang saat melihat Ardian terburu-buru dari atas tangga ruangan.
"maaf, gacha, apakah kau melihat jaylain, Legis dan teman-teman yang lain bilang kalau mereka tidak melihatnya sejak kembali ke kota zenai. " kata Ardian yang terlihat terburu-buru sambil mengatur nafas nya itu.
__ADS_1
"ikutlah denganku. " kata gacha mengajaknya berbicara secara pribadi.
kemudian Ardian pun mengikuti gacha dibelakangnya, gacha mengarahkan Ardian ke ruangan yang sepi........
"gacha, bukankah bisa berbicara di atap gedung atau di tempat yang lebih terang, lagipula sekolah masih terlihat sepi. " kata Ardian yang ragu-ragu saat memasuki ruangan itu.
"tidak, ada sesuatu yang tidak boleh kau lihat di tempat terang. " kata gacha yang perlahan-lahan membalikkan badannya.
seketika itu Ardian langsung terkejut saat melihat wajah gacha saat ia membalikkan badannya kebelakang dengan perlahan-lahan.
"gacha, kau menangis " ucap Ardian dengan ekspresi terkejut saat melihat air mata menetes dari mata gacha
"jaylain, tolong selamatkan dia. " kata gacha yang memohon kepada Ardian dengan air mata yang terus berjatuhan.
"huh, gacha, tenanglah, sebenarnya apa yang terjadi dengan jaylain ?. " tanya Ardian.
"kemarin saat sampai di kota zenai, dia meminta ku untuk menemui ku di atap gedung sekolah yang sepi...... " kata gacha kemudian menceritakan apa yang terjadi kepada Ardian dengan rinci.
I-------------------------------------------I
di atap gedung sekolah........
"apa yang ingin kau bicarakan dengan ku ?. " tanya gacha uang yang baru saja sampai dengan ekspresi tenang.
"gacha, setelah semua ini, aku akan berfokus mencari informasi dari iblis api sebanyak yang ku bisa, karena aku tidak bisa terus mengandalkan kalian. aku juga berhutang budi kepada dua orang di kota sonase yang turut membantu kita. " kata jaylain dengan tenang.
"huh. " ucap gacha yang terkejut dan hendak mengentikan nya.
"walaupun kau ingin menghentikan ku sekarang, itu tidak perlu, aku sudah mengambil jalan ku sendiri, jika aku tidak kembali sampai perang dimulai, beritahu kepada yang lain untuk tetap berjuang dan jangan sampai kalah dengan iblis Api, saat ini yang bisa mengimbangi nya hanyalah Ardian dan Nizar yang mendapatkan pedang legendaris dari raja api dan raja petir, jika dia terus berlatih, aku yakin dengan tekad nya dia mampu mengalahkan iblis api itu, apakah kau mempunyai kata terakhir sebelum aku pergi ?. " tanya jaylain dengan ekspresi tenang.
"jangan sampai mati. " jawab gacha yang berusaha tetap tenang.
"kalau itu aku tidak bisa berjanji, tapi akan ku usahakan. " kata jaylain sebelum meninggalkan gacha sendirian di atap gedung sekolah.
dan saat kepergian jaylain itulah gacha untuk pertama kalinya meneteskan air matanya di atap gedung sekolah.
BERSAMBUNG..................
__ADS_1