Ninja Kota 1 (Sang Ninja Api)

Ninja Kota 1 (Sang Ninja Api)
Cahaya bintang di atas langit


__ADS_3

Episode 214


"jadi begitu. " ucap Seina setelah mendengarkan penjelasan dari kakaknya sambil meminum teh yang sudah dibuatnya sendiri.


"Seina, bisakah kau merahasiakannya, akan lebih merepotkan jika semakin banyak orang yang tahu. " pinta Zahra dengan ekspresi tenang.


"huh, baiklah, terserah kakak saja. " kata Seina yang hanya menghela nafas lalu berbaring di atas ranjang tingkat nya.


"maaf merepotkan mu, aku akan tidur di kursi saja. " kata Vana yang masih sempat tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.


"terserah kau saja. " ucap Zahra yang beberapa saat menatapnya dengan ekspresi menakutkan lalu tidur di atas ranjangnya.


Sementara itu di kerajaan kota bintang...........


"pangeran, kami tidak menemukan putri di mana pun. " kata salah satu pengawal nyoren yang sebelumnya menyuruh untuk membawa adiknya.


"aku tidak mau tahu, cari lagi !!. " teriak nyoren yang terlihat sangat kesal mendengar laporan nya.


"baik. " ucap pengawalnya kemudian bergegas pergi mencari adiknya nyoren yang kabur itu.


"Vana, jangan membuat kakak mu murka. " gumam nyoren yang sudah sangat kesal sambil mengepalkan tangannya.


lalu di apartemen, Zahra yang tidak bisa tidur pun keluar dari ruangannya dan melihat Vana berdiri di luar apartemen memandangi banyak bintang yang ada di langit.


"apa yang kau lakukan disini, kau tidak boleh keluar begitu saja, bagaimana jika ada seseorang yang mengetahui mu. " kata Zahra saat keluar dari ruangannya.


"maaf, aku tidak bisa tidur, sepertinya kau juga sama ya. " kata Vana.


kemudian Zahra pun ikut berdiri di sampingnya melihat bintang yang dilihatnya.


"indahnya. " ucap Vana saat memandangi bintang-bintang di langit malam.


"itu indah ya. " ucap Zahra yang ikut melihat bintang dengan ekspresi tenang.


"di kota bintang aku selalu melihat bintang di malam hari sebelum tidur, sejak kecil aku selalu melihatnya bersama keluarga ku, cahaya yang merupakan simbol dari kekuatan kota bintang. " kata Vana menceritakan sekilas masa lalunya.

__ADS_1


"sejujurnya aku iri dengan mu. " ucap Zahra yang agak menunduk menurunkan kepalanya.


"huh. " ucap Vana yang terkejut mendengar perkataan Zahra itu.


"kau bilang simbol kekuatan dari kota mu adalah cahaya kan, kota bintang, itu adalah nama kota yang indah, mungkin terlalu menyilaukan bagi ku yang tinggal di daerah terpencil, seperti warna langit di malam hari ini, dulu saat kecil aku sangat membenci cahaya, apalagi cahaya yang sangat menyilaukan, tapi belakangan ini aku menyadari jika sesuatu yang ku benci itu pasti ada seseorang yang menyukainya, karena itulah aku tinggal di kota ini untuk mencari lebih banyak pengalaman yang ku butuhkan untuk mencari kebenaran dunia. " kata Zahra dengan ekspresi serius.


"begitu ya, kurasa aku juga memahaminya, karena itulah aku kabur dari kota tempat tinggal ku. " kata Vana.


"kau pasti mempunyai alasannya kan. " ucap Zahra.


"ya, kau pasti sudah mengetahuinya kan, mengenai perang itu. " kata Vana dengan ekspresi gelisah.


"hanya sebagian, aku belum lama tinggal di kota ini jadi aku belum banyak tahu mengenai perang itu, penyebabnya ataupun alasannya. " kata Zahra.


"begitu ya, sejujurnya aku tidak ingin perang ini terjadi lagi. " kata Vana.


"lagi, memangnya itu pernah terjadi ?. " tanya Zahra.


"ya, itu pernah terjadi sekitar 7 tahun yang lalu, tepat setelah perdamaian di umumkan, tapi sekarang sepertinya sangat sulit menghentikan perang yang akan terjadi, kurasa perdamaian saja tidak akan cukup untuk menghentikan semua nya. " jawab Vana.


"jadi tidak ada pilihan lain selain harus bertarung ya, benar-benar konyol. " kata Zahra dengan ekspresi tenang memejamkan matanya.


"kurasa keputusan mu untuk kabur itu tidak sepenuhnya salah, kau kabur karena tidak ingin terlibat dalam perang ini kan, aku mengerti perasaan mu. " kata Zahra sambil tersenyum kecil.


mendengar itu Vana pun langsung memeluk Zahra dan menangis tersedu-sedu setelah menceritakan semuanya kepada Zahra.


Lalu keesokan harinya, seperti yang sudah mereka rencanakan, Ardian, Zela, Zahra dan Vana pun berkumpul di taman bukit kota zenai.


"maaf terlambat. " ucap Zahra yang baru saja sampai bersama dengan Vana memakai pakaian santai yang bisa menyembunyikan identitas nya.


"kalian lama sekali, apa yang kalian lakukan ?. " tanya Zela yang sudah menunggunya.


"Zahra membelikan ku pakaian ini, dia bilang ini diperlukan untuk menyembunyikan identitas ku. " jawab Vana yang terlihat feminim memakai pakaian santai itu.


"begitu ya, tidak ku sangka kau sampai jauh-jauh memikirkan itu. " kata Zela.

__ADS_1


"berisik, aku hanya tidak ingin ada yang mengetahui identitas asli nya saat di perjalanan, hanya itu saja. " kata Zahra dengan tenang memejamkan matanya.


"kau benar juga, akan merepotkan jika ada yang mengetahuinya. " kata Ardian yang hanya memakluminya.


"bagaimana menurut kalian, apakah aku cocok memakai pakaian ini ?. " tanya Vana kepada Ardian dan Zela.


"bagaimana Zela ?. " bisik Ardian yang terlihat kesulitan memberikan pendapatnya.


"jangan tanya aku. " bisik Zela yang juga terlihat kesulitan memberikan pendapatnya.


melihat mereka berdua berbisik-bisik Vana pun mulai agak cemberut melihatnya.


"itu cocok kok, ya itu cocok sekali untuk seorang putri, benar begitu kan Zela. " kata Ardian yang langsung memberikan pendapat nya karena tidak ingin mengecewakannya.


"ya, itu benar, kurasa juga begitu. " kata Zela yang terdengar agak kaku.


"baguslah kalau begitu, terimakasih banyak mbak Zahra sudah membelikan ku pakaian ini. " ucap Vana yang terlihat senang sekali.


"mbak.., sepertinya kalian berdua sudah sangat dekat ya. " kata Ardian yang senang melihatnya akrab.


"bukan begitu, dia setahun lebih muda dariku, karena itulah aku menyuruhnya untuk memanggil orang dengan sopan, hanya itu saja. " kata Zahra yang agak kesal.


"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, besok perang akan dimulai, itu tidak bisa dihindari, apa ada yang mempunyai rencana ?. " tanya Zela dengan ekspresi serius sambil duduk tenang di bangku panjang taman.


"semalam aku dan Vana sudah mendiskusikan itu, walaupuntidak bisa menghentikan peperangan itu kami mempunyai rencana untuk pencegahan kondisi terburuknya. " jawab Zahra dengan tersenyum kecil.


"apa itu ?. " tanya Ardian yang penasaran.


"ini adalah rencana rahasia, kita saja yang harus tahu, sebut saja, rencana penghalang dalam selimut di Medan perang. " jawab Zahra.


"huh. " ucap Ardian dan Zela yang terkejut mendengarnya lalu memperhatikan baik-baik rencana yang sudah dibuat oleh Zahra itu.


"pertama-tama, kita harus mendapatkan izin dari pemimpin kota ini untuk bertarung di barisan terdepan. " kata Zahra melihat ke arah kerajaan kota zenai.


"tunggu apa jangan-jangan kita akan...... " kata Zela yang terkejut saat menyadari tujuan Zahra itu

__ADS_1


Zahra hanya tersenyum kecil melihat kerajaan kota zenai itu dari atas taman bukit.


BERSAMBUNG............


__ADS_2