
Episode 122
"indah sekali kan bintang di malam hari. " ucap Nina.
"eh, sejak kapan kau ada disini ?. " tanya Ardian langsung terkejut saat Nina tiba-tiba saja berbicara disampingnya.
"saat kau mulai memandangi bintang bintang di langit. " kata Nina.
"yah maksud ku kenapa kau malah mengikuti ku, bukankah seharusnya kau masih berkenalan dan mencoba berinteraksi dengan mereka semua ?. " tanya Ardian dengan nada tenang.
"kenapa kau menyembunyikannya. " ucap Nina yang membalas dengan pertanyaan.
"apa maksudmu ?. " ucap Ardian melihat ke arah Nina.
"kau sudah tahu kan tentang kecelakaan di pagi tadi ?. " tanya Nina.
"ya, nenek zenah sudah menceritakan semuanya. " jawab Ardian.
"maaf, gara-gara aku membuat masalah, kalian jadi merasa bersalah, sampai sampai aku membuat nenek zenah pingsan, sekarang aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku sendiri... " kata Nina sambil menundukkan kepalanya ke bawah dengan perasaan bersalah.
sontak Ardian langsung mengangkat kepala Nina ke atas dan terlihat Nina menunjukkan ekspresi sedih untuk pertama kalinya.
"ternyata kau juga bisa menangis ya, wajar saja jika kau merasa ketakutan karena itu, tapi sekarang ini tidak ada waktu untuk merasa takut, biarkan saja yang sudah terjadi, untuk sekarang kita harus memikirkan solusinya terlebih dahulu. " kata Ardian setelah itu melepaskan tangannya setelah mengangkat kepala Nina ke atas.
"sakit. " ucap Nina.
"maaf, sepertinya aku terlalu berlebihan, mulai sekarang semua orang disini adalah keluarga mu, yah mungkin kau bisa menganggap nya seperti itu supaya lebih mudah. " kata Ardian.
"apakah kau yakin ?. " tanya Nina.
"tentu saja, kau bisa memanggilku kakak. " kata Ardian sambil menahan rasa malunya.
"kakak. " ucap Nina.
"ya, begitulah. " ucap Ardian.
lalu beberapa saat kemudian di tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba saja sekelompok orang berjubah hitam muncul dari berbagai arah mengepung mereka, seketika Nina langsung bersembunyi dibelakang Ardian.
"siapa, siapa kalian ?. " tanya Ardian yang tiba-tiba dikepung oleh orang berjubah hitam dari berbagai arah.
"minggir, jika nyawamu ingin selamat, biarkan kami membawa gadis dibelakang mu itu. " kata salah satu orang yang berjubah hitam menodongkan pedang nya ke arah Ardian.
__ADS_1
lalu tiba-tiba saja dari belakang segerombolan orang berjubah hitam, terlihat paman Azerd yang membuka jalan untuk Ardian dan Nina.
"kalian berdua, cepatlah lari dari sana. " kata paman Azerd yang terus membuka jalan menggunakan pedang duri nya yang mengeluarkan listrik dan menyambar beberapa orang berjubah hitam di sekitarnya.
"Nina, cepat naik ke pundak ku. " ujar Ardian sambil berjongkok.
kemudian Ardian pun berlari sambil menggendong Nina di pundak nya, Ardian terus berlari menerobos segerombolan orang berjubah hitam yang berusaha mencegahnya.
"cepat kejar bocah itu, jangan biarkan dia lolos. " kata salah satu orang berjubah hitam.
saat Ardian sudah hampir sampai didepan pintu gerbang keluar, tiba-tiba saja segerombolan orang berjubah hitam sudah mengepung mereka.
"kau mau lari kemana sekarang. " kata salah satu orang berjubah hitam yang sudah menunggu.
di lain tempat, paman tento dan yang lainnya sedang berusaha membersihkan orang orang berjubah hitam yang masuk ke rumah.
"semoga cucuku Ardian dan Nina baik baik saja. " ucap nenek zenah yang sangat khawatir.
"tenanglah ibu, Azerd pasti bisa melindungi mereka berdua. " kata paman tento yang berusaha melindungi nenek zenah.
Nizar yang melihat nenek zenah khawatir langsung berlari ke luar dari rumah menerobos segerombolan orang berjubah hitam.
"kakak, mbak Nina, aku akan menyusul kalian berdua. " kata Nizar didalam hatinya sambil terus berlari.
"kakak, bagaimana ini ?. " tanya Nina dibelakangnya yang ketakutan.
"menyerah lah nak, tidak ada jalan keluar untuk mu bisa kabur. " kata salah satu orang berjubah hitam.
disitu Ardian hanya menutup matanya dan mencoba berkonsentrasi pada saat dirinya sudah terpojok.
beberapa saat kemudian, dari tubuh Ardian keluar aura merah.
"apa yang dilakukannya. " ucap salah satu orang berjubah hitam yang melihatnya.
"akhirnya aku bisa merasakan nya, tangisan, kesedihan yang mendalam, perasaan Nina membuat ku bisa berkonsentrasi dengan maksimal. " kata Ardian di dalam hatinya yang masih berkonsentrasi dan menutup kedua matanya.
"kakak sudah banyak membantu ku, sebenarnya aku ingin berbicara lebih banyak dengan kakak, terimakasih, kakak. " kata Nina didalam hatinya sambil tersenyum dan menyalurkan kekuatannya kepada Ardian sehingga aura merahnya bertambah pekat.
"apa ini, kekuatan ku menjadi sangat ringan, sepertinya aku sudah bisa membuka mata ku. " kata Ardian di dalam hatinya kemudian membuka kedua matanya perlahan lahan.
saat Ardian sudah membuka kedua matanya, terlihat nyala api di sekitar kedua matanya yang berubah menjadi warna merah, kemudian Ardian menurunkan Nina untuk tetap dibelakangnya, seketika seluruh tubuh Ardian perlahan-lahan mengeluarkan api dari dalam kulitnya kemudian dengan perlahan Ardian menarik pedang api yang keluar dari kobaran api di tangan kanannya lalu mengarahkan nya ke arah orang berjubah hitam yang mengepungnya.
__ADS_1
"dia iblis !!. " teriak salah satu orang berjubah hitam yang panik melihatnya.
"apakah benar iblis, tidak mungkin kembali lagi ke kota ini, ini benar-benar tidak mungkin, sebenarnya ada apa ini. " kata salah satu orang berjubah hitam yang juga ketakutan.
"kita langsung saja incar gadis itu, tidak usah pedulikan bocah api itu !!. " teriak salah satu orang berjubah hitam yang berusaha keras mengincar Nina.
saat segerombolan orang berjubah hitam itu hendak menyerang Nina dengan bersamaan, Ardian langsung menggendong Nina di pundaknya sambil melompat tinggi menghindari serangan mereka.
"putaran pedang berapi, terbakar lah !!. " teriak Ardian sambil memutar pedangnya saat di udara sampai ke bawah sehingga segerombolan orang berjubah hitam itu terpental jauh serta terbakar pakaiannya.
sesampainya mendarat dibawah dengan mulus sambil mengendong Nina, Ardian kehabisan tenaga dan pedang nya juga ikut menghilang bersamaan dengan api di sekeliling tubuhnya.
"sepertinya sudah berakhir, kau tidak apa-apa Nina ? " tanya Ardian dengan kelelahan.
"ya, tidak ada yang terluka. " jawab Ardian.
ditengah pembicaraan mereka Ardian melihat salah satu orang berjubah hitam yang diam-diam hendak menusuk Nina dari belakang.
"Nina, awas !!. " teriak Ardian sambil membalikkan badan Nina sehingga Ardian lah yang malah tertusuk pisau di punggungnya.
"bocah, kau selalu menghalangi kami, mati saja kau. " teriak salah satu orang berjubah hitam yang akan menusuk Ardian dengan pisau untuk kedua kalinya.
disaat yang tepat paman Azerd datang menebas orang berjubah hitam yang hendak membunuh Ardian menggunakan pedang duri listriknya.
"kakak kau tidak apa-apa ?. " tanya Nizar yang juga datang bersama paman Azerd.
"sejujurnya tidak baik-baik saja. " jawab Ardian kemudian mengeluarkan darah dari mulutnya.
"kak Ardian tadi berusaha melindungi ku, aku sangat ceroboh tidak melihat sekitar. " kata Nina yang merasa bersalah.
"Nina, kau tidak perlu merasa bersalah, ini sudah tugasku sebagai kakak melindungi adiknya. " ucap Ardian kemudian pingsan karena sudah tidak kuat menahan lukanya.
"kak Ardian, bangunlah. " teriak Nizar yang panik.
"cepat bawa Ardian kedalam rumah. " ujar paman Azerd.
"kakak. " ucap Nina yang meneteskan air mata saat melihat Ardian yang pingsan di gendong oleh Nizar menuju ke dalam rumah.
"Ardian sudah menyelamatkan mu, rawatlah dia. " ucap paman Azerd dengan ekspresi tenang.
setelah mendengar perkataan paman Azerd, Nina pun mengusap air matanya dan mengikuti Nizar yang sedang menggendong Ardian menuju ke dalam rumah yang sudah berantakan karena ulah orang-orang berjubah hitam.
__ADS_1
BERSAMBUNG.........