Ninja Kota 1 (Sang Ninja Api)

Ninja Kota 1 (Sang Ninja Api)
Pengumpulan informasi perang


__ADS_3

Episode 216


beberapa saat kemudian, garen pun mengajak Ardian dan teman-temannya membuat kesepakatan di taman kerajaan sambil duduk dengan tenang, Zahra yang masih belum sadarkan diri pun di dudukkan Zela di salah satu kursi taman yang tidak jauh dari situ.


"apakah kalian sudah siap untuk mendengar kesepakatan yang ku buat ?. " tanya garen dengan ekspresi santai.


"ya. " jawab Ardian dengan ekspresi serius.


"sebelum itu bisakah kalian memberitahu ku, alasan kenapa kalian bersikeras ingin berada di barisan depan, perlu kalian tahu, di barisan depan itu kalian harus siap berkorban, kalian pasti juga menyadarinya kan, lagipula kalian masihlah anak yang berusia 8 tahun. " kata garen yang penasaran.


"walaupun begitu kami akan bertarung sampai ujung nyawa sekalipun, apakah sensei lupa kalau kami sudah menjadi seorang ninja. " kata Ardian dengan ekspresi serius.


"sepertinya aku hanya khawatir pasukan muda seperti kalian gugur lebih dahulu di barisan depan. " kata garen yang sebelumnya agak terkejut melihat tatapan Ardian.


"tenang saja Sensei, kami tidak berniat membuang nyawa kami di perang itu, lagipula kunci untuk mengakhiri perang sudah ada pada kita. " kata Ardian melihat ke arah Vana sambil tersenyum kecil.


"apapun yang terjadi aku harus menghentikan penyerangan yang dilakukan oleh kakak ku. " kata Vana dengan ekspresi serius.


"hmp, kurasa aku sudah mengerti alur peperangan nya, kalian bisa ikut aku di barisan depan, tapi dengan syarat, kalian harus menjaga putri cahaya apapun yang terjadi. " kata garen yang sudah membuat keputusan.


"huh, garen Sensei juga akan bertarung di barisan depan ?. " tanya Zela yang agak terkejut mendengarnya.


"ya, begitulah, aku menjadi pemimpin pasukan kedua di perang itu. " kata garen dengan santai nya.


di tengah-tengah pembicaraan itu, Zahra yang sudah sadarkan diri pun langsung ikut bergabung dalam pembicaraan itu.


"bingo, kalau begini semua akan jauh lebih mudah, paman, bisakah paman merahasiakan kami ikut di barisan depan. " pinta Zahra sambil tersenyum kecil karena rencananya menjadi lebih mudah.


"aku sudah bisa menebak kalian akan meminta ku merahasiakannya, karena kalian akan tanggungjawab menjaga kunci peperangan, aku akan merahasiakannya, tapi kalian harus mendengarkan arahan ku di Medan perang nanti, kalian mengerti. " kata garen.


"ya. " ucap mereka berempat yang senang mendengarnya.

__ADS_1


setelah membuat kesepakatan itu, sekitar pukul 2 siang mereka berempat pun kembali dan melanjutkan pembicaraan rencananya di sebuah kedai.


"tidak ku sangka garen Sensei akan membantu rencana kita. " kata Ardian yang di kepalanya penuh dengan berbagai pertanyaan.


"tapi bukankah itu bagus, ini akan jauh lebih mudah jika kita merahasiakannya dari raja api, karena masih belum tentu raja api menyetujuinya rencana kita dan resiko terburuknya Vana akan diamankan didalam kerajaan. " kata Zahra.


"kau benar, kita harus tetap melanjutkan rencananya. " kata Zela dengan ekspresi serius.


"rencana apa yang kalian lakukan ?. " tanya seseorang yang terdengar tidak asing duduk dengan santai menyembunyikan dirinya dari tadi berada di kedai menikmati makanannya.


"huh, suara ini, jaylain !!. " kata Ardian yang terkejut dan sempat waspada dengan orang yang duduk di pojokan setelah menghabiskan makanannya itu.


"hey, kelihatannya kau sudah terlibat sesuatu yang menarik ya. " kata jaylain sambil tersenyum kecil melihat Ardian.


"kenapa kau berada di sini ?. " tanya Ardian yang penasaran melihatnya.


"memangnya aku akan pergi kemana, aku selalu disini untuk sarapan siang, lagipula aku juga seorang ninja kota zenai, tidak heran kan kalau aku berada di kota ini. " kata jaylain dengan santai nya.


"hmp, tentu saja, kau pasti sangat membutuhkannya, ngomong-ngomong sebelum itu siapa gadis itu ?, aura nya seperti gacha. " kata jaylain bertanya balik sebelum memberitahukan informasi nya.


"oh, baiklah, akan ku perkenalkan, ini adalah teman baru kami yang berasal dari kota kegelapan, namanya adalah Zahra, dan ini adalah teman satu kelas ku dulu, namanya adalah jaylain. " kata Ardian memperkenalkan mereka berdua.


"kota kegelapan ya, kudengar kalian terlibat dalam misi penyelamatan itu, sejak menjadi bekas peperangan di masa lalu kota kegelapan selalu ada hal-hal diluar nalar, syukurlah kalau kalian selamat. " kata jaylain.


"ada banyak hal yang terjadi di misi itu. " kata Ardian yang masih merinding mengingat beberapa hal yang terjadi saat berada di kota kegelapan waktu itu.


"jaylain, bisakah kau memberikan beberapa informasi nya. " pinta Zela dengan ekspresi serius.


"baiklah kalau begitu, sebagai gantinya aku juga akan bertarung di barisan depan bersama kalian. " kata jaylain yang sudah mendengarnya.


"huh, kau dari tadi mendengarnya ya. " kata Zela yang terkejut saat jaylain mengatakannya.

__ADS_1


"baiklah, terserah kau saja. " kata Ardian dengan sigap.


"hmp, sepertinya ini akan menarik. " kata jaylain yang seperti sedang memikirkan sesuatu.


kemudian setelah membicarakan kesepakatan itu, jaylain pun memberikan informasi yang sudah dikumpulkannya mengenai perang itu.


"mungkin ini hanya sekedar teori, aku merasa ada dalang dibalik perang ini. " kata jaylain.


"apa yang membuat mu berfikir seperti itu ?. " tanya Zela yang juga ikut berfikir.


"apakah kalian masih ingat dengan jubah hitam yang belakangan ini muncul mengacaukan kota 3 hari yang lalu. " kata jaylain yang mulai membahasnya.


"lalu apa hubungannya dengan perang itu ?. " tanya Ardian.


"saat pertama kali aku melihatnya di gua tempat persembunyian iblis api dan nyoren, aku merasakan hawa yang mengerikan dari dalam tubuhnya, seperti sesuatu yang mencekam, lalu dia juga mempunyai sebuah tombak kematian yang selalu di bawa nya, saat menunjukkan senjata pamungkas nya itu untuk perang, iblis api tidak bisa berkata apapun, aku rasa iblis api takut dengan tombak itu. " jawab jaylain membuat teori berdasarkan kenyataan yang sudah dia lihat sendiri.


"jika ada senjata yang membuat seseorang mati dengan sekali serangan wajar saja kalau semua orang akan takut. " kata Ardian.


"tapi aku masih bingung, saat jubah hitam itu menunjukkan senjata tombak kematian itu kepada iblis api, kenapa dia tersenyum seperti sedang memanfaatkan seluruh keadaan, jika benar jubah hitam yang memicu timbulnya perang ini maka apa tujuan sebenarnya. " kata jaylain yang sudah mencapai puncak pemikiran nya.


"sepertinya kita baru akan mengetahui semuanya di Medan perang nanti. " kata Zela yang juga mencapai batas pemikiran nya.


di sore hari terlihat seluruh kota penuh dengan penjaga yang sudah tersebar di penjuru daerah, Nizar dan teman-teman lainnya yang sempat bertemu dengan Sonsu dan sonik pun juga mendiskusikan perang itu di tempat lain, terasa kedamaian sudah selesai tepat saat matahari sudah terbenam, di malam hari, Ardian yang baru saja pulang ke rumah, terlihat Nizar dan paman Yazerd yang sudah menunggunya di ruang tamu untuk membicarakan sesuatu mengenai perang yang akan terjadi besok.


"(huh, ada apa dengan suasana mencekam ini). " kata Ardian didalam hatinya saat baru saja menutup pintu dan melihat Nizar dan paman Yazerd yang sudah menunggunya di ruang tamu.


"Ardian, duduklah, ada sesuatu yang akan kita bahas malam ini. " kata paman Yazerd dengan ekspresi serius.


"baik. " ucap Ardian kemudian duduk seperti yang diminta.


BERSAMBUNG..............

__ADS_1


__ADS_2