Ninja Kota 1 (Sang Ninja Api)

Ninja Kota 1 (Sang Ninja Api)
Penyihir kesialan


__ADS_3

Episode 211


saat berada tepat didepan pintu masuk rumah tua itu........


"huh. " ucap Zela yang terkejut saat melihat didalam rumah tua sederhana itu.


terlihat penyihir itu hendak melakukan sesuatu kepada gadis yang ia tangkap sebelumnya, di waktu yang sama Ardian dan Zahra pun mengikuti Zela masuk kedalam.


"ternyata ini adalah rumah mu ya, penyihir. " kata Zela dengan ekspresi serius.


"kenapa kalian bisa sampai kesini, ini tidak mungkin, sejauh ini belum pernah ada orang yang mengetahui keberadaan ku di hutan ini. " kata penyihir kesialan itu yang terkejut saat melihat mereka bertiga.


"kau pikir jejak mu itu tidak bisa dilacak. " kata Zahra dengan tenang.


"dasar bocah-bocah sialan !!. " teriak penyihir itu yang mulai marah.


"hey, penyihir, lepaskan gadis itu !!. " kata Ardian dengan lantang yang tidak tahan melihat gadis itu diikat tidak berdaya.


"memangnya apa yang bisa kalian lakukan, bocah. " kata penyihir itu dengan tersenyum kecil sambil mengeluarkan api dari tangannya dengan jentikan jari.


"(dia mudah sekali mengeluarkan api itu, jadi itu kekuatan istimewa dari seorang penyihir). " kata Ardian didalam hatinya dengan memasang posisi waspada.


"kita harus berhati-hati, lawan kita adalah penyihir, kita tidak mempunyai pengalaman sama sekali menghadapi musuh seperti dia. " kata Zela yang memasang kuda-kuda bersiap untuk bertarung.


Zahra dibelakangnya dengan tenang mengeluarkan aura kegelapan dari dalam tubuhnya.


"hmp, kalian semua akan menyesal karena sudah datang ke rumah ku, Ledakan api !!. " kata penyihir kesialan itu melemparkan bola api nya lalu meledakkan nya saat tepat berada didepan Ardian dan kedua temannya.


ledakan itupun menghancurkan rumah penyihir itu sendiri, ketiganya bisa selamat berkat Zahra yang memasang penghalang bayangan tepat waktu sebelum api yang dilemparkan oleh penyihir tadi meledak.


"kau penyihir yang bodoh ya, menghancurkan rumah mu sendiri hanya untuk melenyapkan tiga bocah. " kata Zahra dengan ekspresi tenang menahan penghalang nya itu.


"siapa yang kau sebut bocah. " ucap Zela menangkal perkataan Zahra itu.


"cih, aku tidak ingin mendengar itu dari bocah seperti mu. " kata penyihir itu mengambil sapu nya lalu terbang mengelilingi mereka bertiga dari udara dengan tertawa jahat.


penyihir itupun berulang kali melemparkan bermacam-macam kekuatan kepada mereka bertiga tapi penghalang yang dibuat oleh Zahra itu masih bisa menangkal nya walaupun hanya bisa mengulur untuk sementara waktu.

__ADS_1


"kita harus membuat rencana untuk mengalahkan penyihir itu, Zahra tidak bisa lebih lama lagi mempertahankan penghalang bayangan nya. " ujar Zela yang melihat Zahra berusaha keras mempertahankan pelindung bayangan nya dengan meneteskan keringat.


"kukira kekuatan Zahra bisa mengimbangi penyihir itu. " kata Ardian yang teringat sesuatu saat berada di kota kegelapan sebelumnya.


"jika kau beranggapan seperti itu, kau salah besar, Ardian, kau pasti mengira kekuatan ku yang sekarang sudah bisa melawan orang-orang kuat sebelumnya di kota kegelapan kan, tapi kenyataannya aku tidaklah sekuat itu, kau tahukan dunia ini sangat luas. " kata Zahra yang masih berusaha keras mempertahankan pelindung bayangan itu.


"(begitu ya, sekuat apapun Zahra, dia masih tetap seorang gadis, kenapa aku baru menyadarinya, aku memang ingin mempercayai teman-temanku tapi aku salah dalam mempertimbangkan kekuatan mereka, ini sama saja seperti aku hanya bergantung kepada teman-teman ku dan melupakan hasil kerja keras ku berlatih selama ini). " kata Ardian didalam hatinya dengan ekspresi kesal.


kemudian setelah menyadari itu, Ardian pun berdiri dengan menggenggam tangannya.


"Ardian. " ucap Zela yang terkejut saat melihatnya.


"dengan ini hancurlah kalian, bola element !!. " kata penyihir itu melemparkan kelima bola elemen sekaligus ke arah mereka bertiga.


seketika pelindung bayangan itupun hancur dan membuat Zahra terhempas jatuh ke bawah dengan kondisi lemas kehabisan tenaga.


"Zahra, bertahanlah. " kata Zela yang berhasil menangkapnya saat akan terhempas jatuh ke bawah.


"Zela, bisakah kau membantu ku. " pinta Ardian yang masih berdiri dengan ekspresi serius sambil menggenggam kepalan tangannya dengan erat melihat penyihir itu masih terbang di atas mereka.


"huh, Ardian, kita tidak mungkin bisa mengalahkannya. " kata Zela yang melihat kondisi Zahra itu.


"Ardian, kau. " ucap Zela yang terkejut saat melihat aura merah yang keluar dari dalam tubuh Ardian itu.


Zahra yang sedikit sadarkan diri melihat aura merah Ardian pun langsung agak terkejut lalu tersenyum kecil.


"kita bisa menang. " ucap Zahra dengan tersenyum kecil.


"ya. " ucap Zela yang tadinya agak ragu langsung berubah pikiran.


"kekuatan apa itu. " gumam penyihir kesialan yang terkejut saat melihat aura merah dari dalam tubuh Ardian.


I--------------------------------------------I


di alam bawah sadar Ardian............


"Ardian, sudah lama tidak bertemu. " kata naga api yang berada didalam tubuhnya setelah bangun dari tidur panjang.

__ADS_1


"naga api, kau sudah bangun ya. " kata Ardian yang senang saat melihatnya.


"seharusnya ini belum waktunya aku bangun, ini masih dalam 90% proses sebelum kekuatan ku terkumpul seluruhnya. " kata naga api dengan memejamkan matanya.


"begitu ya, maaf kalau aku membangunkan mu. " ucap Ardian.


"jika kau bisa sampai disini tanpa kekuatan ku sepertinya kau sudah berkembang ya. " kata naga api dengan tersenyum kecil.


"mungkin saja. " ucap Ardian.


"apakah kau berniat untuk meminjam kekuatan ku saat ini ?. " tanya naga api yang langsung melihatnya dengan ekspresi serius.


"sejujurnya aku masih ragu. " jawab Ardian dengan ekspresi gelisah.


"jika aku meminjamkan kekuatan ku sekarang juga maka proses pengumpulan nya akan berkurang 1% setiap 5 menitnya, walaupun begitu apakah kau masih mau meminjam nya ?. " tanya naga api yang terdengar seperti sedang menguji Ardian.


beberapa saat setelah berfikir sejenak, Ardian pun mengambil keputusan nya dengan ekspresi serius.


"aku......, untuk sekarang aku tidak akan bergantung kepada kekuatan mu, jadi, simpanlah kekuatan mu itu untuk bertarung saat berada di Medan perang nanti, untuk sekarang aku akan menggunakan kekuatan ku sendiri yang merupakan hasil latihan keras ku selama ini untuk melawan penyihir itu. " jawab Ardian dengan bersungguh-sungguh mengambil putusannya.


"apakah kau yakin tidak akan menyesali keputusan mu ?. " tanya naga api untuk yang terakhir kalinya.


"ya, aku tidak akan menyesalinya. " jawab Ardian dengan ekspresi serius.


"kalau begitu aku akan kembali tidur, jangan sampai gugur sebelum berada di Medan perang, Ardian. " kata naga api sebelum melanjutkan tidurnya.


"ya, aku tidak akan gugur semudah itu, tidur yang nyenyak, naga api. " kata Ardian sebelum menghilang dari alam bawah sadarnya.


I--------------------------------------------I


setelah kembali dari alam bawah sadar nya, Ardian yang masih mengepalkan tangannya pun melihat ke arah penyihir yang berada di atas nya itu dengan ekspresi serius.


"apa-apaan dengan tatapan bocah itu. " kata penyihir itu yang kesal saat Ardian menatapnya.


"tidak akan ku sia-sia kan perjuangan Zahra tadi. " kata Ardian dengan perlahan-lahan mengeluarkan pedang api nya dari gumpalan api di tangannya.


"itu, pedang api. " ucap penyihir itu yang terkejut saat melihatnya.

__ADS_1


"aku akan mengalahkan mu disini sekarang juga, penyihir. " kata Ardian dengan lantang sambil memegang pedang api nya dengan erat mengeluarkan kobaran api yang berwarna merah menyala.


BERSAMBUNG.............


__ADS_2