Ninja Kota 1 (Sang Ninja Api)

Ninja Kota 1 (Sang Ninja Api)
Perbedaan kekuatan (penyerangan kota pasir bagian 7)


__ADS_3

Episode 264


diluar gerbang kota zenai, ketiga penjaga terkuat kota zenai yang terlihat kewalahan menghadapi jumlah pasukan kota pasir yang sangat banyak.


"kita kekurangan tenaga menghadapi pasukan kota pasir ini." kata bendow dengan nafas tersengal-sengal.


"(apakah kami harus mundur)." kata Stalker didalam hatinya.


saat mereka bertiga sudah terkepung, tiba-tiba saja Venar dengan pasukannya datang dan dibelakangnya juga ada pasukan dari kota pasir yang telah bersatu.


"berhenti disitu!!." kata Venar.


"kenapa bisa...." salah satu pasukan kota pasir yang mengepung terkejut melihatnya.


"berhenti semuanya." kata salah satu pasukan kota pasir yang mengambil alih komando.


"apa yang terjadi sebenarnya." mereka yang menjadi terheran-heran.


"dengarlah, untuk sementara kita gencatan senjata." kata Venar.


kemudian salah satu dari mereka pun menjelaskan apa yang sudah terjadi sebenarnya.


"Zela, kuharap kau baik-baik saja." gumam Zahra yang ikut dengan pasukan itu.


"Zahra, ada apa?, kau terlihat seperti mengkhawatirkan sesuatu." kata Konori yang melihatnya.


"aku mengkhawatirkan mereka yang berada didalam." kata Zahra.


"tenang saja, mereka pasti baik-baik saja, kita akan segera menyusul mereka." kata Konori mencoba menghiburnya.


"ya."


&-&


"majulah kalian!!." kata Sazar yang mengelilingi mereka dengan kuda


"Sambaran kilat!!." Opel menyerangnya dengan mengarahkan kedua tangannya.


"serangan seperti itu tidak akan bisa mengenai ku." kata Sazar dengan cepat menghindarinya.


"dia menaiki kuda, benar-benar merepotkan." kata Rowi.


"darimana kita bisa menyerangnya ya." veysa yang bingung.


"jika kalian tidak menyerang, maka aku akan bergerak." kata Sazar yang tiba-tiba berbelok ke arah veysa.


"bayangan pembatas!!." gicha dan gacha membuat penghalang dari bayangan tepat di depan veysa.


"hmp, terlalu lemah." kata Sazar menerobosnya dan menebaskan pedangnya ke arah penghalang bayangan itu.


Sazar dengan menaiki kuda pun melompat di atas veysa yang terjatuh terkena hempasan pedangnya.


"penghalang bayangan ku masih lemah." kata gicha yang juga terjatuh saat penghalangnya hancur.

__ADS_1


"cih." gacha melihat tangannya berdarah.


"(aku harus menyimpan tenagaku agar bisa memakai pedang api, tapi, di kondisi saat ini apakah aku bisa diam saja melihatnya)." kata Ardian didalam hatinya yang kesal melihatnya.


"kakak, akan ku gunakan pedang petir ku." kata Nizar dengan ekspresi serius.


"apakah kau serius?." Ardian yang terkejut mendengarnya.


"ya, akan kulakukan cara apapun untuk menghadapinya." kata Nizar.


beberapa saat kemudian, Nizar pun menggenggam erat tangannya dan fokus saat perlahan-lahan mengeluarkan pedang petir nya.


"Nizar....." semua yang terkejut dan menoleh ke arahnya.


"itu pedang petir, bagaimana anak itu bisa......" gumam Sazar dengan ekspresi serius melihatnya.


"aku akan menghadapinya." kata Nizar dengan memegang pedang petir di tangannya.


dengan cepat Nizar pun bergerak seperti petir yang menyambar hingga dapat mengimbangi laju kuda Sazar.


"menarik sekali." kata Sazar dengan tersenyum kecil.


"Sambaran petir!!." Nizar mengarahkan pedangnya ke arah Sazar.


Sazar dapat menangkisnya dengan ayunan pedangnya, Nizar terus menyerangnya dengan tebasan pedangnya, namun, Sazar dengan mudahnya menangkisnya.


"dia bisa menangkis serangan petir yang begitu cepat dari Nizar." Opel yang terkejut melihatnya.


"dia memprediksinya." kata gacha.


"huh, arghhh...." Nizar yang terjatuh ke tanah dengan terguling-guling.


"Nizar..."


"siapa selanjutnya." Sazar yang memprovokasi mereka.


"selanjutnya hadapi aku!!." kata Rowi dengan tombak anginnya bergerak hendak menyerang Sazar.


"lemah." kata Sazar yang begitu mudah menghempaskan nya saat beradu senjata.


"bagaimana ini, sulit sekali untuk mengalahkan orang seperti dia." kata Peter.


"(hmm, jika ku keluarkan ular ku aku tidak yakin bisa mengontrolnya)." kata bari didalam hatinya.


"selanjutnya kau!!." Sazar yang bergerak ke arah gicha.


"huh...." gicha yang tidak bisa menghindarinya.


"awas!!." gacha mendorong adiknya kesamping dengan tangan bayangan.


"cih, meleset ya." kata Sazar yang sempat menebasnya hanya mengenai sehelai rambut gicha.


"huh, mbak, kau baik-baik saja?." tanya gicha melihat lengan gacha yang berdarah itu.

__ADS_1


"aku baik-baik saja." jawab gacha kemudian berdiri.


"aku tidak bisa menunggu lagi." kata Ardian yang semakin kesal melihat teman-temannya terluka.


"selanjutnya kau!!." Sazar yang kemudian hendak menyerang ke arah Ardian.


"Ardian, awas!!." teriak Veysa.


"naga api, aku pinjam kekuatan mu." kata Ardian.


Ardian tidak bergerak sedikitpun dari tempat walaupun Sazar sudah cukup dekat, lalu saat sudah berada tepat di depan Ardian pun merunduk lalu menarik kaki Sazar hingga jatuh dari atas kuda lalu menghempaskan nya dengan kekuatan api.


"Ardian menjatuhkannya." Peter yang terkejut melihatnya.


"masih belum." kata Ardian dengan kobaran api di tangannya.


"hooh, kau cukup tangguh bisa menjatuhkan ku." kata Sazar yang kemudian berdiri.


"(sepertinya aku terpaksa menggunakan pedang api)." kata Ardian perlahan-lahan mengeluarkan pedang api nya dari kobaran api di tangannya.


"pedang api, jadi begitu ya, kaulah anak yang di bicarakan oleh raja tanah, sang ninja api dari kota zenai." kata Sazar yang pernah mendengarnya.


"aku tidak peduli tentang itu, ayo kita selesaikan ini dengan cepat." kata Ardian mengayunkan pedangnya ke arah Sazar.


"pemiliknya tidak sehebat dengan pedang api ini, kau masih perlu banyak belajar, nak." kata Sazar menangkis serangan Ardian dengan tersenyum kecil.


"aku tidak ingin mendengarnya darimu." kata Ardian terus menyerangnya.


"hmp, lemah." kata Sazar kemudian menghempaskan nya dengan mudah.


"aarghhhhh......" Ardian yang jatuh terguling-guling ke tanah dengan keras.


"orang itu benar-benar tidak bisa dihentikan." kata Peter.


"kekuatannya sangat beda jauh dengan kita, ini berbeda sekali dengan lawan-lawan kita sebelumnya." kata veysa.


"selanjutnya siapa!!." kata Sazar yang terlihat menikmati pertarungan itu.


"cukup sampai disitu, Sazar." kata raja api yang baru saja sampai.


"raja api, kebetulan sekali, tadinya aku hendak menuju ke kerajaan untuk memenggal kepala mu, sekarang semuanya menjadi mudah denganmu yang datang sendiri." kata Sazar dengan tersenyum kecil.


"aku tidak akan membiarkan mu melukai anak-anak ku, jika kau ingin memenggal kepala ku coba saja kalau bisa." kata raja api dengan menghunuskan pedangnya.


"hmp, memangnya apa yang bisa anda lakukan dengan pedang biasa itu." kata Sazar yang meremehkannya.


"kita lihat saja dulu." kata raja api dengan ekspresi serius.


"kau telah salah karena memilih anak itu menggunakan pedang api legendaris, dia benar-benar tidak ada apa-apanya." kata Sazar yang menyerang duluan.


"kau belum melihat dirinya yang sebenarnya, kau tidak mengetahui apapun tentang anak-anak itu, aku yakin di masa depan, mereka lah yang bisa merubah kota zenai ini kearah yang baik." kata raja api menangkis serangannya dengan pedang yang dibawanya.


"seperti biasa anda terlalu naif ya, raja api, kalau begitu akan ku hancurkan masa depan kota zenai sekarang juga disini." kata Sazar yang terus menerus menyerangnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG............


__ADS_2