Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Dua Pendekar Pedang Kembar


__ADS_3

Sudah beberapa mil jauhnya Mahesa meninggalkan wisma Pendekar Tongkat Emas. Dia menghentikan langkah di sebuah kaki bukit yang datar dan hijau. Mahesa mengatur napasnya, mengambil posisi duduk bersila guna mengembalikan tenaga dalam yang banyak berkurang setelah digunakan terbang.


"Hmm ... semoga saja tidak ada yang berhasil membuntuti kami," gumam Suhita. Matanya menatap berkeliling, mencari-cari sesuatu yang bergerak mendekat.


"Luar biasa! Kalian mampu mengikutiku hingga sejauh ini. Itu menandakan jika kemampuan tenaga dalam yang kita miliki, berada pada tahap yang sama," tiba-tiba Mahesa berujar, seraya membuka mata.


Suhita berpaling, menatap ke arah ayahnya. Dan saat itulah, Suhita menemukan telah ada dua orang pria yang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Kapan mereka datang?!" Suhita mengerutkan dahi. Dengan sebisanya, Suhita coba untuk mengukur kemampuan yang dimiliki oleh dua orang itu. Mereka memang pendekar pilih tanding.


"Menyusup seperti pencuri, lari seperti kelelawar. Apa kau pantas disebut sebagai seorang pendekar?!" dengan nada yang sangat meremehkan, salah satu dari dua orang itu bicara.


"Saat sama-sama berada di tengah laut, apakah buaya punya hak untuk menyebutnya sebagai muara besar? Lihat dirimu, apa kalian merasa jika kita berbeda?!" Mahesa justru balik bertanya.


"Fiiihhh! Jelas-jelas kau yang lari terbirit-birit. Mengapa harus takut jika tidak lakukan kesalahan."


"Itu karena aku lebih punya hak dibandingkan dengan kalian. Aku adalah bagian dari wisma tersebut. Takutnya, kalian yang tersinggung malah membuta tuli, membalikkan keadaan. Seperti sekarang ini ..." Mahesa mengangkat sebelah alisnya.


Sebelum ada yang menyahut, Mahesa mengangkat tanda pengenal di tangannya, menunjuk lencana emas yang dia miliki. Lencana yang menjelaskan kedudukannya di Organisasi Naga Emas.


Kedua orang pendekar tersebut saling bertukar pandang. Tanpa bicara, keduanya saling menganggukkan kepala.


"Sudah ku duga, keputusanku menjauh sangatlah tepat. Kalian datang dengan suatu maksud, dan aku tidak tahu ada apa di balik itu. Sekarang, baiknya kalian jangan sungkan," sambil bicara Mahesa menoleh ke arah Suhita. Memberikan isyarat untuk putrinya tersebut menjauh dan cari perlindungan.

__ADS_1


Suhita mengerti, dia mundur beberapa langkah. Tidak lupa, Suhita membentengi dirinya dengan kemampuan Tapak Penakluk Naga. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, setidaknya Suhita bisa melindungi diri.


"Kami Dua Pendekar Pedang Kembar, tidak pernah menyertakan orang tidak berdaya berada dalam masalah. Baiknya kau tidak perlu risau," mereka memperkenalkan diri dengan sudut mata yang melirik pada Suhita.


"Tidak semuanya bisa berjalan seperti apa yang direncanakan. Aku hanya berjaga-jaga," jawab Mahesa.


Percakapan mereka menjelaskan jika yang utama dalam benak Mahesa adalah keselamatan anak yang bersamanya. Dia tidak inginkan anak itu dilibatkan. Sementara, Dua Pendekar Pedang Kembar menegaskan jika mereka tidak serendah itu. Hanya untuk kemenangan, harus menyandera seorang bocah wanita. Terlebih, lawan yang mereka hadapi hanyalah satu orang.


"Aku yakin, kedatangan kita dengan tujuan yang sama. Kau pasti tahu sesuatu mengenai sumberdaya racun yang disimpan oleh rekan organisasi-mu itu. Tujuan kami tidaklah buruk, baiknya kita bekerja sama," seorang pendekar pedang kembar menawarkan kesepakatan.


"Kalian tahu, apa yang akan kami lakukan jika ada salah satu anggota penting di organisasi yang berkhianat? Harus kalian catat, kami bukanlah orang-orang jahat," tegas Mahesa.


Mahesa menolak jika mereka menuding Pendekar Tongkat Emas merupakan seorang yang berhati kerdil. Memanfaatkan kebesaran dan posisi untuk memperkaya diri sendiri. Salah satunya dengan melakukan bisnis yang melanggar hukum.


Biarlah Mahesa sendiri yang akan melakukan penyelidikan dengan menanyakan langsung pada Pendekar Tongkat Emas. Jika benar terbukti salah, barulah dia akan melakukan tindakan. Untuk sementara waktu, Mahesa masih merupakan orang yang berada di pihak Pendekar Tongkat Emas. Tidak perduli tuduhan apa pun yang didakwakan.


Mahesa tertawa kecil, sedikit pun dia tidak merasa gentar, "lakukan saja seperti yang kalian mau."


Empat bilah pedang mengkilap terpancar cahaya matahari sore hari. Dua Pendekar dengan pedang kembar di tangan mereka masing-masing. Mata pedang yang sangat tajam tersebut bersiap untuk menumpahkan darah.


Mahesa menekan tanah tempat dia bersemadi, membuat tubuhnya melompat tinggi ke udara. Saat kembali turun, tangan Mahesa telah menggenggam sebilah pedang pusaka langit yang langsung menuju ke arah tubuh lawan.


"Jurus Sembilan Pedang?!" dua pendekar pedang kembar melompat mundur satu langkah ketika serangan Mahesa datang. Di luar tangan Mahesa, ada delapan pedang lain yang ikut bergerak ikuti serangan. Total, Mahesa miliki dua kali lipat jumlah mata pedang yang digunakan sekaligus untuk menahan garangnya amukan pedang kembar milik lawan.

__ADS_1


Suhita tersenyum, dia yang terlalu merendahkan kemampuan ayahnya. Seperti apa yang dikatakan orang-orang mengenai Pendekar Elang Putih, Suhita menyaksikan sendiri betapa ada seribu satu cara untuk Mahesa kuasai pertarungan. Bakat yang Mahesa miliki, sungguh tiada duanya.


"Itulah mengapa ayah selalu memaksaku untuk berlatih beladiri. Karena dia tidak terbiasa menjadi seorang pesakitan. Ayah, maafkan anakmu ini," Suhita menguatkan hatinya. Dia tidak bisa menjadi seperti yang ayahnya inginkan.


Sekarang, Suhita pun hanya bisa menonton pertarungan ayahnya. Dia memperhatikan setiap rinci gerakan jurus yang diperagakan sang ayah. Meskipun begitu, tidak cukup tergerak hati Suhita untuk bisa menjadi seperti itu. Suhita amat mengagumi, tapi hati kecilnya bukan di tempatkan untuk itu.


Ting! Ting! Ting!


Suara benturan senjata tajam yang mengorek gendang telinga terus saja terdengar. Tidak seperti biasanya, kali ini dua pendekar pedang kembar harus mengakui jika sepasang pedang kembar yang mereka miliki mengalami kemandulan dalam menumpahkan darah lawan. Jurus pedang yang digunakan Mahesa sudah cukup untuk membungkam keduanya, menempatkan pada posisi bertahan.


Hingga pada satu kesempatan, Mahesa mengakhiri serangannya dengan menyertakan satu pukulan Tapak Naga Bumi dalam sabetan kesembilan mata pedang.


DAAARRR !!!


Ledakan mengiringi ketika kedua lawannya pula menggunakan tenaga dalam untuk melindungi diri.


Wuuusss! Wuuusss!


Tombak-tombak yang terbentuk dari bebatuan dan pasir berterbangan mengitari tubuh dua pendekar pedang kembar yang berada pada posisi berlutut. Tidak ada kesempatan untuk mereka mengangkat pedang atau sekadar mengusap darah yang mengalir di sudut bibir mereka.


"Ternyata kau pula seorang pendekar tapak. Selamat, kau berhasil mengecoh kami," ucap pendekar kedua menyerah.


Mahesa tersenyum kecut. Kemudian dia mengibaskan tangannya, memerintahkan untuk tombak tajam yang mengepung sedikit menjauh dari tubuh kedua pendekar.

__ADS_1


"Harus kalian ingat, sekali lagi organisasi kami bukanlah tempat untuk menebar kejahatan. Silahkan kalian lanjutkan penyelidikan, tapi jangan menyesal jika hanya lakukan kesia-siaan," ucap Mahesa sebelum pergi.


Tanpa syarat Mahesa mengakhiri pertarungan memaafkan kedua lawannya dengan begitu saja. Lalu kembali melanjutkan perjalanan pulang bersama Suhita menuju Kota Giling Wesi.


__ADS_2