
"PENGECUUUTTT !!!" dengan sekuat tenaga, seorang pendekar berjubah hitam berteriak lantang. Teriakan itu sekaligus menjadi teriakan terakhirnya, karena setelah itu Mahesa melambaikan tangannya ke arah sang pendekar dan tubuh orang itu seketika terbungkus oleh gelembung kristal es.
"Sepertinya, kita pernah saling berjumpa. Biar aku yang mengatur pertemuan selanjutnya," ucap Mahesa pelan.
Gelembung kristal es melayang mendekat pada Mahesa. Gelembung sebesar tubuh manusia tersebut menyusut hingga bentuknya berubah menjadi sangat kecil, sebelum akhirnya menghilang dari pandangan ketika menyentuh telapak tangan Mahesa.
Mahesa menoleh ke arah Suhita, yang berlindung di balik batang pohon. Dengan satu anggukan kepala, Mahesa meminta untuk Suhita keluar.
Suhita segera berlari mendekat dan membantu Mahesa menyelamatkan dua anak peserta kompetisi yang berada dalam gendongan para penculik.
"Mereka hanya dibuat pingsan. Mengapa para peserta kompetisi justru ditangkap dan dibawa ke dalam hutan?" gumam Suhita seraya menolong dua orang anak yang tidak sadarkan diri tersebut.
Mahesa menghela napas. Dia menoleh ke arah para pendekar berjubah hitam yang masih berdiri mematung akibat terkena pengaruh kekuatan kristal es. "Hmmm ... aku harus menyelidiki ini."
Sebelum menjalankan rencananya, terlebih dahulu Mahesa membantu Suhita membuat kedua anak peserta kompetisi agar sadar dari pingsan. Keterangan dua anak tersebut juga Mahesa butuhkan.
"Kau memang sangat hebat!" puji Mahesa seraya mengelus kepala Suhita.
Kemampuan Suhita sangat luar biasa. Mahesa senang melihat tangan anaknya begitu bermanfaat bagi orang lain. Tabib Titisan Dewa?! Mungkin sudah saatnya Mahesa mendukung perkembangan anaknya. Menjadi seorang juru sembuh yang berguna bagi masyarakat.
"Sayang, ayah minta maaf. Mungkin ayah tidak bisa mengantarkan kalian sampai ke lokasi diadakan kompetisi," Mahesa menghentikan bicaranya, terlebih dahulu dia melirik ke arah para pendekar berjubah hitam. Baru kemudian melanjutkan kalimat.
Sementara waktu, Mahesa akan menyamar sebagai salah satu anggota pasukan berjubah hitam untuk mengikuti segala kegiatan dan menemukan di mana markas mereka. Mahesa yakin, jika telah banyak jiwa yang melayang akibat perbuatan kelompok itu. Mahesa tidak bisa tinggal diam, dia harus secepatnya membongkar kedok orang-orang yang bermain di belakang itu.
__ADS_1
Setelah memaparkan segala rencana, Mahesa mengeluarkan sebuah lencana pengenal dan memberikan itu pada Suhita, "ini adalah lencana emas milik ayah. Saat tiba di Padepokan Giling Wesi, kau cari pimpinan padepokan dan tunjukkan ini. Dia akan mengenali kau sebagai murid ayah."
"Murid?! Ah, itu ide bagus. Dengan demikian Hita bisa rahasiakan jati diri ibu. Ayah, Hita tidak ingin ada orang yang berniat buruk pada ibu karena sepak terjang kita," ucap Suhita.
Mahesa tersenyum lebar. Suatu kebetulan. Dengan demikian, tidak akan muncul pertanyaan atas siapa dan di mana ibu dari anak yang tidak diketahui oleh dunia persilatan. Pendekar Elang Putih tidak perlu khawatir lagi. Ya, kebohongan yang selama ini terpupuk nampaknya masih akan berlangsung. Mahesa masih bisa menepati permintaan Dewi Api untuk tidak memperkenalkan Puspita dan anak-anaknya pada dunia persilatan. Setidaknya, itu bisa membuatnya aman dalam beberapa waktu ke depan.
"Guru ..." Suhita tersenyum geli mendengar suaranya sendiri. Untuk pertama kalinya dia memanggil guru, pada ayahnya pula.
Suhita memeluk Mahesa dengan erat. Tidak ada hal lain yang bisa dia katakan. Ayahnya adalah orang yang patut untuk dibanggakan. Sebagai seorang pendekar aliran putih, Suhita bisa memahami bagaimana hati ayahnya terusik ketika melihat kejahatan di depan mata.
"Aaaakkk ..." seorang anak tersadar.
Perhatian Suhita dan Mahesa tertuju pada anak itu. Tidak lama berselang, seorang anak lain pula tersadar. Mereka celingukan, merasa begitu terkejut menyadari telah berada di tengah hutan.
"Ah, terima kasih. Di, di mana kami sekarang?" tanya seorang anak yang lain.
"Di dalam hutan, di tepi kota Giling Wesi. Beruntung, kalian selamat dan tidak kurang suatu apa. Setelah ini, saya minta untuk kalian kembali ke kompetisi. Tidak perlu ributkan apa yang telah terjadi. Dia adalah Tabib Hita, dia yang telah selamatkan nyawa kalian. Jadi, saya minta tolong untuk kalian sama-sama menjadi Tabib Hita saat di kota nanti. Sementara saya ... saya akan urus mereka terlebih dahulu," ucap Mahesa seraya menatap pada orang-orang berjubah hitam.
"Tuan pendekar, sekali lagi terima kasih. Kami pasti akan melindungi Tabib Hita dengan semampu kami."
"Ya, kami janji. Tapi sebaiknya Tuan pendekar berhati-hati. Kelompok Jubah Hitam itu sangatlah berbahaya. Sudah banyak para peserta kompetisi maupun pengawal yang jatuh menjadi korban," anak itu kemudian menceritakan secara singkat sepak terjang yang telah di lakukan oleh Kelompok Jubah Hitam. Termasuk kronologi penangkapan atas diri mereka.
"Ooo ... jadi begitu. Baiklah, sekarang saya akan antar kalian sampai tepi hutan," Mahesa tersenyum.
__ADS_1
Dirasa kondisi fisik kedua anak itu telah jauh lebih baik, mereka segera berangkat. Sampai tepi hutan, Mahesa mengantar mereka.
"Hita, jaga dirimu. Tunggu saja di Padepokan Giling Wesi seandainya ayah belum kembali," bisik Mahesa pelan.
Mahesa mencivm kening Suhita, dan melepaskan putri kesayangannya melanjutkan perjalanan bersama dengan dua orang anak yang merupakan peserta kompetisi. Mahesa merasa lega, dengan begitu tidak sulit bagi Suhita untuk masuk ke dalam Padepokan Giling Wesi. Ada dua orang yang menyingkirkan pertanyaan para penjaga. Serasa semua sudah ada yang mengatur saja. Suhita begitu beruntung.
"Mencelakai para peserta kompetisi, mereka pasti berasal dari salah satu padepokan yang juga mengirimkan wakil dalam kompetisi. Ini memang tidak aneh, tapi begitu menyebalkan," Mahesa mendengkus kesal. Lalu secepatnya kembali memasuki hutan.
Setibanya di tempat para anggota Kelompok Jubah Hitam, Mahesa segera menurunkan tebing tanah ciptaannya. Membuat jalan menjadi rata seperti semula. Sebelum melepaskan kristal es yang membelenggu tubuh para pendekar itu, terlebih dahulu Mahesa menaburkan serbuk penghilang ingatan. Itu ditujukan untuk menghilangkan kecurigaan atas dirinya yang menyamar. Mahesa membatasi ingatan para pendekar itu pada saat muncul tebing yang begitu tinggi.
DAARRR !!!
Ledakan keras terjadi, hingga seluruh para pendekar berjubah terjatuh ke tanah. Debu mengepul begitu pekat, menghalangi pandangan mereka.
Seiring dengan berhembusnya angin, pelan-pelan asap dan debu itu menghilang. Menyisakan orang-orang yang nampak kebingungan.
"Sialan! Pendekar asing itu melarikan diri. Bagaimana ini?!" Mahesa yang telah memakai seragam yang sama persis, langsung berteriak. Seolah-olah dia adalah bagian dari Kelompok Jubah Hitam yang merasa dicurangi.
"Sandera kita lenyap. Kakang Barda Ripa juga tiada. Siapa sebenarnya pendekar yang menyerang kita tadi?" seorang dari mereka bicara. Nampaknya dia merupakan salah satu pimpinan.
Barda Ripa? Rasanya Mahesa pernah dengar. Kalau tidak salah, dia merupakan seorang kepercayaan Jaka Pragola saat dalam peperangan di Lembah Perangkap Kelinci beberapa tahun yang lalu. Ya, Mahesa ingat sekarang. Pantas saja, para penjahat itu bisa masuk ke dalam kota, ternyata ada penghianat.
Mahesa segera bergabung ke dalam rombongan saat mereka memutuskan untuk kembali ke markas. Melapor dan menunggu perintah selanjutnya. Yang jelas, dalam misi kali ini mereka telah gagal.
__ADS_1