Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Dua Mata Koin


__ADS_3

"Kakak, aku selalu menghormatimu sebagai seorang pendekar aliran putih yang berbudi pekerti luhur. Sejak dulu hingga sekarang perasaan itu tidak akan luntur. Aku tidak akan pernah menyalahkanmu, apalagi membencimu. Hanya saja, aku kecewa karena sikapmu. Kau orang yang aku kagumi, mengapa bersikap layaknya seorang pengecut bermental picik. Aku kecewa ..." Puspita menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Bibirnya terus berusaha untuk tersenyum.


"Manis sekali bicaramu. Sungguh, aku hampir terharu. Kau buat aku hampir menangis. Hahaha! Jika saja kau hormati aku, kalau kau begitu peduli padaku, lalu mengapa kau masih nekat mendekati suamiku dan sekarang, kau merampasnya dari tanganku. Inikah balasan yang kau berikan atas semua kebaikan yang pernah aku lakukan? Katakan, apa aku salah?! Coba bayangkan jika kau yang berada di posisiku, apa kau masih bisa menjadi dirimu yang sekarang?"


Puspita menggeleng berulang kali, "sama sekali tidak. Kakak tidak salah, kau benar. Kau begitu mencintai suamimu, takut kehilangannya, hingga tidak menginginkan siapa pun mengambilnya dari tanganmu. Hanya saja, keserakahanku yang membuat semuanya menjadi serba sulit. Harusnya aku tahu diri dan mengalah. Tapi ... satu hal yang harus kau tahu. Aku juga sangat mencintai suamimu. Suamiku."


"Bede*bah kau!" Dewi Api meninju sebatang kayu di sampingnya, membuat kayu itu menjadi pelampiasan kemarahannya. Terbakar, dalam beberapa saat berubah menjadi arang.


"Kakak, tidak ubahnya seperti dirimu, aku pun inginkan suamiku seutuhnya. Meskipun aku tidak bisa lakukan itu. Aku tidak bisa meminta untuk Kanda Elang menceraikanmu. Aku tahu, cintanya kepadamu sama besarnya seperti kepadaku. Begitu pun juga, aku tahu kau begitu mencintainya. Hingga tidak mungkin dia mampu untuk menentukan yang mana, kau atau aku."


"Hahaha! Kau memang pandai merangkai kata-kata. Anggap saja kau pandai bicara. Tapi sayangnya, bicaramu itu sangat tidak berpengaruh padaku. Kau tahu mengapa aku bisa mendapatkan tempat dalam hati Mahesa? Itu karena saat itu dia menganggap kau sudah tidak ada. Dan kau tahu tujuan kedatanganku sekarang?"


"Kau ingin membuat hal itu kembali terulang. Kau ingin benar-benar melenyapkan aku, hingga Kanda Elang sepenuhnya menjadi milikmu. Hahaha! Kau sangat benar, Kakak maka lakukanlah," Puspita menyambung kalimat Dewi Api. Dia nampak telah mengetahui segalanya dan siap akan semua resiko.


Dewi Api tersenyum sinis. Senyum yang menebar aroma kematian dari pintu neraka, "aku bukan seorang pengecut. Sekarang kau tidak miliki kemampuan apa pun. Maka, aku akan lakukan sebagaimana halnya wanita biasa."


Dewi Api menarik seluruh aura bertarung yang dia punya. Mengosongkan aliran tenaga dalam yang menyelimuti tubuhnya. Dewi Api menggunakan jurus tangan kosong untuk menyergap Puspita.


Plaak! Plaak!


Pukulan yang Puspita terima tidak ubahnya hanya pukulan biasa, tanpa iringan tenaga dalam dan hanya menyisakan sakit yang masuk akal.


"Kakak, mungkin kau lupa. Aku adalah istri sahnya Kanda Elang. Meskipun aku merupakan yang kedua, tapi aku punya hak yang sama besar denganmu," Puspita berusaha untuk menghindari serangan-serangan yang dilepaskan oleh Dewi Api.

__ADS_1


Pertarungan tangan kosong itu berlangsung tidak seimbang. Bagaimanapun juga, Dewi Api masih tetap diunggulkan. Setiap hari, dia terus melatih kemampuan bela diri hingga gerakannya sangat lincah dan terarah. Berbeda dengan Puspita yang memang tidak lagi mengulang gerakan silatnya. Hingga gerakannya sangat kaku dan kecepatan dan ketepatan serangannya tidak lagi akurat.


Bugh! Bruuukk!


Dewi Api menyarangkan tendang tepat di ulu hati Puspita membuat tubuh Puspita terlempar beberapa meter ke belakang. Puspita tidak bisa berdiri lagi, napasnya sangat sesak. Ulu hatinya seolah berhenti berfungsi. Pukulan Dewi Api hampir saja mengambil nyawanya.


"Wanita kotor, cepat bangun. Atau kau sengaja inginkan tubuhmu semakin kotor oleh tanah, serupa dengan hatimu. Luar dalam kau kotor, sungguh hina!" Dewi Api melompat mendekat, kakinya terayun sekuat tenaga menendang perut Puspita.


"Uhuukkk!" kali ini, Puspita tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi harus menghindar.


Darah segar menyembur dari mulut Puspita, pepohonan menari-nari dan langit pun berubah menyerupai gelombang lautan. Mata Puspita berkunang-kunang, tapi dia berusaha untuk pertahanan kesadaran.


"Kau memang tidak pantas dapatkan kematian yang begitu mudah. Kau harus tahu, bagaimana pedihnya satu kesakitan," Dewi Api menghunus belati kecil yang sangat tajam.


Tidak tahu akan digunakan untuk apa belati itu, tapi yang pasti sasarannya tidak lain adalah tubuh Puspita. Bagian mana pun, pastinya akan terasa sangat lunak.


"Aaa ... aaa ..." Puspita berusaha meronta saat Dewi Api mencengkeram dengan keras, memaksa mulut Puspita untuk terbuka.


Sebenarnya, siapa dari mereka yang merupakan penjahat kejam, lalu siapa pula yang menjadi pendekar baik hati? Saat Puspita menjadi Cahaya Langit, bahkan dia belum pernah menyiksa seorang gadis yang tidak berdaya. 


"HENTIKAANN !!!"


Satu teriakan berhasil selamatkan lidah Puspita. Sebelum Dewi Api benar-benar memotong lidah itu.

__ADS_1


Dewi Api segera berdiri dan melepaskan Puspita. Pisau belati di tangannya langsung menghilang tanpa bekas.


Seiring teriakan yang mengalun, seorang pria tampan berdiri di tengah-tengah mereka. Pria itu memandang kedua orang wanita yang bertarung dengan berjuta perasaan iba. Ya, dia tidak lain adalah orang yang sedang diperebutkan. Suami dari kedua wanita yang bertengkar. Elang Putih.


Mahesa menatap tajam pada Dewi Api yang membuang wajahnya, pura-pura tidak melihat. Sementara itu, Puspita yang hampir kehilangan kesadaran berusaha untuk tidak mengeluh ataupun sekadar meringis kesakitan. Sebenarnya, ingin Puspita segera bangkit dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, dia pasti melakukannya jika saja tubuhnya mampu.


Mahesa segera membantu Puspita untuk duduk bersandar, lalu kemudian memberi beberapa sumberdaya yang bisa redakan rasa sakit. Bantuan hawa murni yang Mahesa salurkan juga membuat Puspita cepat pulih.


"Apa yang kalian lakukan, bertarung?! Memperebutkan apa?! Jika ingin celakai orang, maka akulah orangnya. Ayo lakukan agar kalian merasa puas!" ucap Mahesa dengan nada yang tinggi. Dia bicara kencang agar kedua istrinya bisa mendengar dengan jelas.


"Kanda, aku yang meminta Dewi Api untuk datang dan menyelesaikan masalah di antara kami. Sama sekali, ini bukan kesalahannya," jawab Puspita.


"Jangan sok jadi pahlawan, kau. Akulah yang datang ke sini untuk membunuh Puspita. Kau bisa salahkan aku, atau sekalian kau bisa balaskan rasa sakit yang diderita istri kesayanganmu itu," Dewi Api membantah pembelaan yang Puspita lakukan terhadapnya.


"Sekarang, apa kalian sudah selesai? Apa yang kalian dapatkan?! Rasa sakit, kehancuran hati? Apa kalian tidak pernah merasa lelah? Tidak disangka, kalian bersikap manis dan baik hanya saat aku ada. Tapi di belakang, kalian menyimpan pisau beracun."


Tidak ada yang menyahut. Baik Puspita maupun Dewi Api, keduanya hanya menunduk. Terlebih lagi Dewi Api, dia yang biasanya membayar perkataan Mahesa dengan setakar garam setakar beras, tapi saat kepergok lakukan kesalahan, tidak berani banyak bicara.


"Mengapa semua orang mengharapkan rembulan bersinar terang? Apa kalian berpikir jika rembulan bisa kau miliki hingga tidak ada orang lain yang boleh memandang? Tentu saja tidak. Asalkan mau menengadah, maka rembulan itu membagikan pancaran sinarnya pada siapa pun."


Dewi Api menghela napas berulang kali. Dia tahu, yang Mahesa umpamakan sebagai rembulan adalah dirinya sendiri.


Dewi Api belum linglung, tindakannya mengacungkan belati di hadapan wajah Puspita merupakan satu kesalahan yang pastinya tidak akan Mahesa maafkan. Apa lagi jika Puspita mengatakan semuanya, mungkin ini adalah hari terburuk bagi dirinya dengan memberikan kemenangan besar pada Puspita.

__ADS_1


Dewi Api tidak akan pernah bisa menjadi Puspita, begitu juga sebaliknya. Keduanya bagaikan dua mata koin yang berbeda tapi tergabung dalam satu lempengan. Tidak bisa terpisah meskipun berada di tempat yang berbeda.


"Mungkin, akan lebih baik aku yang pergi. Dengan demikian, kalian semua akan terbebas," Dengan mata berkaca-kaca, Mahesa melangkah meninggalkan Dewi Api dan Puspita.


__ADS_2