
Hati siapa yang tidak bergetar, jika sadar diri hanya anak seekor domba, bertekuk di bawah tajamnya taring singa yang lapar.
Tanpa disentuh, sudah bisa dirasakan betapa dinginnya kuduk Nilam Sari saat itu. Awalnya dia menduga jika bocah kecil yang berada di hadapannya yang telah membuat seluruh prajuritnya terbungkus gelembung es. Namun ternyata ada yang lebih gawat dari itu semua yakni suara yang berasal dari belakangnya.
Tidak perlu menoleh, Nyi Nilam Sari telah merasakan dingin yang menembus hingga ke tulang sumsum. Satu tombak es melayang hanya sehelai rambut dari permukaan tulang punggungnya. Belum lagi, puluhan tombak kristal es yang lain telah bersiap merajam sekujur tubuhnya jika Nilam Sari bertindak nekat.
"Bayu Samudera, aku bisa jelaskan semuanya. Tolong ... berikan aku kesempatan ..." mohon Nilam Sari dengan sangat. Kedua tangannya telah di angkat, tanda dia menyerah.
Wuuusss! Mahesa muncul di hadapan Nilam Sari. Wajah mereka begitu dekat, hingga bisa terlihat dengan jelas api kemarahan yang menyala di dalam kedua bola mata Mahesa.
Mahesa mengangkat tangan kanannya, dan dapat dirasakan oleh Nilam Sari jika tombak es telah menempel di tulang punggungnya. Dengan satu perintah lagi, maka tombak itu akan menghancurkan tulang belakangnya.
"Aku sudah memperingatkanmu. Jangan kau berpikir jika aku sebaik yang orang katakan. Dengar, aku adalah seorang pendekar. Kematian lawan sama sekali bukanlah suatu beban bagiku," kalimat yang terucap dari mulut Mahesa, layaknya syair kematian. Yang setiap waktu dapat langsung mengantarkan Nilam Sari ke pintu neraka.
"Guru, saya mohon. Biarkan dia bicara, ini adalah kesalah pahaman," teriak Suhita pada Mahesa.
"Kau berhutang nyawa padanya," desis Mahesa di telinga Nilam Sari.
Perlahan, rasa dingin nan membeku di tulang punggung Nyi Nilam Sari sedikit menjauh. Mahesa menarik serangannya.
"Kau baik-baik saja, sayang?" Mahesa memburu Suhita.
Bekas noda darah di sudut bibir Suhita, membuat dada Mahesa semakin bergemuruh. Tubuhnya sampai bergetar karena menahan amarah yang meluap.
__ADS_1
"Ayah, aku baik-baik saja. Hanya luka kecil, sebentar lagi juga sembuh. Aku ini tabib, masalah seperti ini tanpa obat sekali pun, aku bisa atasi," Suhita tersenyum menenangkan hati ayahnya. Hita tahu, apa pun bisa Mahesa lakukan jika sedang marah. Termasuk menghancurkan seluruh isi gua tersebut.
"Nyai, mengapa tiba-tiba saja kau perintahkan anak buahmu untuk menyerangku? Kau tahu, sekarang kau kehilangan satu kekuatan setelah ada yang celaka," ucap Suhita, melirik pada serpihan salju yang tersisa bekas jasad tubuh prajurit yang hancur olehnya.
Dengan susah payah, Nyi Nilam Sari menjelaskan alasan mengapa dia berniat meringkus Suhita. Sebaik mungkin dia merangkai kata, takut jika salah ucapnya akan benar-benar mengantarkan dirinya sampai ke pintu neraka.
"Jangan berbelit-belit. Langsung saja pada pokok permasalahan," Mahesa memotong kalimat Nilam Sari. Dari balik jubah, Mahesa menunjukkan potongan kayu yang berbentuk unik.
"Kau lihat ini? Kayu ini hanya ada di dalam hutan perintis, bukan hutan jati. Apa kau dan anak buahmu sudah memata-matai Pendekar Tongkat Emas, atau bahkan Organisasi Naga Emas pada umumnya?" lanjut Mahesa seraya melemparkan potongan kayu tersebut pada Nyi Nilam Sari.
"Ya, karena aku curiga jika ada penghianat di tempat Pendekar Tongkat Emas. Mengenai tumbuhan teratai berduri, kami sama sekali belum mendapatkan petunjuk," jawab Nyi Nilam Sari.
Suhita melirik ke arah Mahesa. Dia hendak menghentikan ayahnya dan sesegera mungkin menyelidiki kediaman Pendekar Tongkat Emas. Hita yakin, Nilam Sari bicara apa adanya.
Nyi Nilam Sari menyerah. Dia menceritakan apa yang mereka dapatkan saat mengintai kediaman Pendekar Tongkat Emas. Awalnya karena tumbuhan teratai berduri, akan tetapi mereka menghentikan kegiatan karena tidak dapatkan hal apa pun.
"Satu hal yang harus kau catat. Sakit yang diderita Pendekar Tongkat Emas, sama sekali tidak ada kaitannya dengan kelompok kami. Kami telah lama berhenti bahkan saat pertama Pendekar Tongkat Emas terluka," tandas Nyi Nilam Sari.
Mahesa mengangguk. Dengan satu petikan jari, seluruh bola kristal yang membelenggu tubuh para prajurit Nilam Sari seketika hilang. Tubuh mereka kembali terjatuh di lantai.
"Anggap saja tidak terjadi sesuatu. Jaga diri kalian baik-baik dan terima kasih atas sambutan hangatnya," Mahesa menggandeng tangan Suhita keluar meninggalkan ruangan gua. Dengan diantar oleh tatapan Nyi Nilam Sari dan seluruh anak buahnya yang diam membisu.
Di pintu gua, Mahesa dan Suhita kembali berpapasan dengan empat mahluk hitam menyeramkan yang sempat di hajar saat hendak masuk. Kali ini keempat makhluk itu berdiri dengan kepala tertunduk di kiri dan kanan jalan.
__ADS_1
"Oh, ya. Saya punya sedikit hadiah. Berikan masing-masing dua butir pada teman-temanmu. Minumlah saat hendak dan bangun tidur," dengan senyum, Suhita menghadiahi para penjaga itu sumberdaya untuk kesembuhan luka dalam yang mereka derita.
Dengan sungkan, makhluk hitam itu menerima sumberdaya yang Suhita berikan. Bagaimanapun juga, mereka sangat membutuhkannya. Meskipun tidak separuh kekuatan, tapi efek pukulan Cakar Elang yang Mahesa lepaskan membuat empat penjaga tersebut masih sesak saat bernapas.
"Hmmm ... kau begitu murah hati. Jangan sampai karena kebaikanmu itu, orang-orang justru memanfaatkan dirimu," komentar Mahesa.
"Ayah, jangan bicara begitu. Mengapa ayah tidak izinkan aku berbuat kebaikan?!" Suhita cemberut.
"Baik dan salah, hanya orang yang bisa menjabarkan. Belum tentu hal yang kau anggap baik, akan baik pula dinilai orang. Ayah hanya tidak ingin, anak ayah menjadi lemah karena rasa kasihan."
"Ayah jangan khawatir. Hita janji tidak akan salah langkah. Bila perlu, mereka yang semula jahat akan menjadi baik jika selalu diberi kebaikan," Suhita tersenyum.
"Baiklah. Jika begitu, kau harus tetap baik-baik saja. Agar terus bisa menebar kebaikan. Tanpa henti, selamanya," Mahesa membopong tubuh Suhita dan membawanya melesat cepat menuju kuda mereka ditambatkan.
"Aaaa ... hahaha! Saat pacaran, ayah pasti sering lakukan hal semacam ini pada ibu, ya?" Suhita tertawa terbahak-bahak, saat tubuhnya di bawa melayang.
Pengalaman terbang yang sangat menyenangkan. Apa lagi, jika bersama dengan seorang yang spesial. Ah, apa mungkin suatu saat Danur Cakra ataupun Raka Jaya bisa lakukan hal serupa? Sungguh, Suhita inginkan semuanya terjadi dalam waktu dekat.
Tunggu dulu, mengapa harus Danur Cakra?! Saudara kembarnya itu mana tahu cara menyenangkan hati orang. Buktinya tidak pernah satu kali pun dia buat Suhita merasa gembira saat bersama. Yang ada malah sebaliknya, darah Suhita selalu terpancing naik sampai ke ubun-ubun. Kesal yang tiada duanya.
Kalau begitu, Suhita akan tunggu Raka Jaya saja. Anak itu begitu baik padanya. Suhita sangat nyaman jika sedang bersama. Semoga saja, Raka Jaya bisa wujudkan mimpi Suhita. Terbang bersama.
"Sayang, kita akan bermalam di hutan ini. Kita cari tempat untuk istirahat. Kau tahu, ini adalah malam kedua kita di sini," ucap Mahesa.
__ADS_1
Suhita hampir tersedak ludah. Itu artinya, dia menghabiskan waktu satu hari satu malam berdiam di dalam gua siluman?