
".Kanda ... sedang cari apa?" sapa Puspita dari belakang.
Puspita terbangun dari tidurnya ketika Mahesa sedang membuka laci penyimpanan, mencari suatu catatan.
Mahesa menoleh pada istrinya. Menghentikan kegiatannya lalu kemudian berjalan mendekati Puspita. Jauh lebih baik Mahesa menanyakan saja semua langsung. Siapa tahu, Puspita memang pernah menyimpan kitab wasiat iblis itu.
"Dinda, tadi sore aku melihat kau sedang menyimpan sesuatu, makanya aku penasaran dan ingin melihatnya. Kau tahu, jika baru saja kita kedatangan tamu tidak diundang," Secara gamblang Mahesa kemudian menceritakan tentang penyusup yang mengintai rumah mereka.
Puspita mendengarkan semuanya dengan penuh perhatian. Terus terang, dia memang menyimpan beberapa catatan milik putrinya itu, tapi sama sekali Puspita tidak membukanya hingga dia tidak tahu isi dari catatan-catatan tersebut.
"Dinda, apa kau tahu sesuatu?" tanya Mahesa.
Puspita menggeleng lemah. Puspita mengatakan jika tidak ada orang lain yang ditemui oleh Suhita akhir-akhir ini. Kecuali dirinya dan dua orang pengasuhnya. Paling ada beberapa orang yang Suhita obati, itu pun Suhita selalu bersama dengan Nyi Gondo Arum.
Catatan Racun Waktu?! Apakah ini saatnya untuk Puspita bicara jujur, jika dirinya telah menulis seluruh pengetahuan, teori hingga teknik ciptakan Racun Waktu pada Suhita. Tapi ... Puspita takut kalau nanti Mahesa memarahinya.
"Matamu mengatakan jika kau menyembunyikan sesuatu dariku. Dinda, hal apakah itu? Katakan saja, terus terang. Kita diskusikan bersama mana tahu bisa temukankan jalan keluar yang baik," Mahesa tersenyum lembut. Meyakinkan istrinya jika semuanya akan baik-baik saja.
"Kesalahan Dinda begitu besar, takutnya Kanda tidak lagi bisa berikan pintu maaf," desis Puspita dengan pelan.
Mahesa menggeleng, dia meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja, "Dinda, kau tahu jika kau adalah satu-satunya wanita yang paling aku sayang. Satu kesalahan yang kau buat, tidak serta merta membuat aku harus marah-marah. Semuanya bisa dibicarakan secara baik-baik. Bicaralah, demi langit dan bumi aku tidak akan marah padamu."
Puspita menghela napas panjang. Dia memantapkan hati untuk bicara. Lagi pula, Suhita pun sudah pernah bicarakan masalah ini. Anak itu tidak ingin ibunya berbohong pada ayahnya hanya untuk membuat Suhita bisa mempelajari semuanya. Jika memang Mahesa tidak mengizinkan Suhita memperdalam pengetahuan mengenai Racun Waktu, maka Suhita akan menghentikan belajarnya.
"Kanda, aku telah menulis seluruh yang ku ingat perihal Racun Waktu dan juga racun semua yang aku bisa. Dan Suhita sudah mempelajarinya, sekarang dia sudah bisa membuat serbuk racun waktu. Aku mohon, ini semua adalah salahku. Mohon kanda jangan hukum Hita, hukum aku saja."
"Kau melakukannya agar Hita bisa menjaga dirinya saat dalam bahaya. Kau tidak ingin ada orang yang mencelakai dan memanfaatkan kebaikan hati anak kita. Dinda, tujuanmu tidak salah. Tapi mengapa kau harus sembunyikan semuanya dari suamimu, itulah kesalahanmu."
"Dinda tahu, makanya Dinda begitu takut jika Kanda sampai tahu" suara Puspita terdengar bergetar. Bulir bening di pipinya mengalir tak tertahan lagi.
__ADS_1
Mahesa diam, tidak bergerak juga tidak merespon apa pun. Pendekar itu nampak berpikir keras, berusaha mengalahkan ego yang menderu di dalam dadanya.
Setelah sekian tahun lamanya, Mahesa ingat jika Puspita adalah istri terbaik di muka bumi. Tidak banyak tingkah, tidak banyak menuntut, juga tidak pernah membuatnya kesal. Satu kali pun. Sebagai manusia biasa tentu tempatnya khilaf dan lupa. Satu kesalahan yang dia lakukan, haruskah menghapus semua pengorbanannya?
"Sudahlah, hapus air matamu, jangan menangis lagi," suara Mahesa sambil menarik Puspita ke dalam pelukannya.
Bukannya diam dan menjadi tenang, malah sebaliknya. Isak tangis Puspita semakin meledak. Puspita menumpahkan segalanya di dalam pelukan sang suami. Melepas segala beban yang menghimpit, menyandarkan segaris jiwanya yang terasa rapuh.
"Jika bicara kesalahan, tentu semua pokok permasalahan ada pada diriku. Coba saja kalau aku punya banyak waktu, semuanya tidak akan seperti ini. Aku begitu keras kepala, sangat serakah dan banyak melukai hatimu siang dan malam. Memiliki dirimu, merupakan suatu anugerah terbesar dalam hidupku. Terima kasih, sayang," bisik Mahesa di telinga Puspita.
Tok! Tok! Tok!
"Ayah, ibu, kalian baik-baik saja?!" terdengar suara Suhita mengetuk pintu kamar.
"Ibu, baik-baik saja, sayang," sahut Puspita menekan tangisannya.
"Hita dengar ibu menangis, apa ibu sakit?" tanya Suhita lagi.
"Sayang, mengapa kau sudah bangun?" tanya Mahesa dengan senyum.
"Ayah, ibu kenapa? Hita dengar ibu menangis, Hita takut terjadi sesuatu padanya. Selama ini, Hita tidak pernah mendengar ibu menangis."
Mahesa tertawa kecil, "ayo masuk. Kau lihat saja sendiri kondisi ibumu. Menangis belum tentu karena bersedih, ada kalanya menangis karena gembira."
Suhita tersenyum, dia menghambur dan memeluk ibunya dengan erat. Begitu juga dengan Puspita, air mata yang baru saja bisa dia kendalikan kini harus kembali mengalir.
"Sayang, besok kau akan belajar banyak hal pada ayah. Sekarang kembalilah tidur, supaya kau bisa konsentrasi penuh. Ayah juga akan istirahat lagi," Puspita menyentil hidung anaknya dengan lembut.
"Baik, ibu," Suhita mencivm kedua pipi ibunya sebelum bangkit, "ayah, Hita titip ibu, jangan dicubit lagi. Kalau ayah nakal, maka akan berhadapan dengan Hita."
__ADS_1
Mahesa langsung berdiri tegap dan memberi hormat. Ancaman anaknya tidak mungkin dia berani anggap angin lalu.
Setelah Suhita kembali ke kamarnya, barulah Mahesa bisa tidur dengan lelap. Dia bahagia karena telah mengambil keputusan yang tepat.
Di samping Mahesa, Puspita pun tertidur dengan senyum menghiasi wajah. Bayangan ketakutan yang kerap menghantuinya, nyatanya tidak terwujud. Suaminya bukanlah monster, melainkan malaikat yang membuat hidupnya semakin sempurna.
°°°
Suhita Prameswari membuka dan telah membaca seluruh isi catatan ilmu racun yang diberikan oleh ibunya.
Juga catatan yang dia dapatkan dari seseorang yang menyelamatkannya saat terjatuh ke dalam jurang di sekitar gua tanpa dasar.
Kitab pengobatan dewa dan kitab sesat wasiat iblis. Dua kitab itu bisa dipelajari sekaligus olehnya. Kakek di dasar jurang itu mengatakan, jika hanya Suhita yang bisa memperlajarinya. Orang lain akan melihat itu sebagai catatan biasa.
"Bagaimana jika ayah tidak mengizinkan aku mempelajari ini, Kek?" tanya Suhita.
Kakek berjubah putih itu tersenyum, dia memang hanya bisa tersenyum. Tanpa membuka mulut, suaranya terdengar memberikan penjelasan pada Suhita. Kakek misterius itu mengatakan kalau ayahnya akan mengalah.
"Ibu bilang, sebagai kepala keluarga Ayah memiliki kekuasaan penuh untuk keluarganya. Bertanggung jawab dan memberikan hal terbaik untuk keluarganya. Apa yang ayah katakan, maka Hita tidak mungkin bisa membantah."
"Yang punya kekuasaanlah yang bisa mengalah. Sementara yang tidak punya apa-apa, hanya bisa menyerah. Takdirmu sudah tergores, kau tidak bisa menghindar. Yakinlah jika Tuhan telah mempermudah seluruh jalan untukmu."
Suhita tersenyum, dia membungkuk memberi hormat. Sebagai ungkapan rasa terima kasih. Namun ketika Suhita mengangkat kepalanya, kakek misterius berjubah putih itu sudah menghilang, tidak lagi ada di tempat semula. Hingga Suhita mau tidak mau harus menerima kedua kitab itu dan bergegas pergi meninggalkan dasar jurang. Hingga beberapa saat kemudian ayahnya datang.
"Untuk semakin membuat semuanya lancar, aku harus miliki kemampuan tenaga dalam. Belakangan, aku tahu kalau ayah adalah seorang pendekar, bukan pedagang. Aku harus minta ayah untuk mengajariku kemampuan tenaga dalam. Aku yakin, ayah pasti mau. Sejak dulu juga ayah menginginkan aku menjadi seorang pendekar," Suhita Prameswari memantapkan hatinya. Dia telah mengambil keputusan.
Hari-harinya selain mempelajari kemampuan mengobati, Suhita juga harus mempersiapkan diri sebagai tabib. Semakin sempurna kemampuan tenaga dalam seorang juru sembuh, maka tangannya akan semakin memiliki karomah untuk singkirkan segala jenis penyakit.
Kenyataan memberikan pelajaran, jika tidak harus menjadi pendekar untuk kuasai kemampuan tenaga dalam. Kewajiban Suhita dalam mengobati, juga memerlukannya.
__ADS_1
Suhita yakin, jika keputusannya sangat tepat. Keyakinannya, mengatakan demikian. Dia harus mempersiapkan diri sebagai seorang juru sembuh masa depan.