
"Dasar sialan! Cari masalah saja. Mengapa orang-orang seperti mereka semakin banyak bertebaran di muka bumi?" dengan kesal, Kencana Sari mengumpat. Pakaiannya basah, karena bertarung di bawah guyuran hujan.
Suhita hanya tertawa kecil, dia menjawabnya dengan mengangkat bahu. Kelompok Tikus Tanah memang sudah melarikan diri, tapi itu bukanlah akhir. Pasti mereka akan terus mencari cara untuk selalu menyulitkan. Banyak orang yang mudah percaya pada berita hoax, dan Tikus Tanah memanfaatkan itu demi kepentingan kelompok mereka.
KREEEKKK !!! Tiba-tiba pintu pondok terbuka, seorang wanita tua muncul dari balik daun pintu yang rapuh.
"Cah Ayu, mari silakan masuk," sapanya pada Suhita.
Suhita membungkuk memberi hormat. Dia selalu menghormati orang yang lebih tua, tidak peduli meski yang berdiri di hadapannya hanyalah rakyat miskin. Suhita diikuti Kencana Sari memasuki pondok. Sari bisa berganti pakaian di dalam.
Wanita tua itu memperkenalkan namanya Asih. Dia hanya tinggal berdua dengan seorang cucu yang juga perempuan. Saat ini, cucu perempuan Nek Asih sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja. Namanya Neneng.
Sebenarnya Suhita sedikit kaget, katanya anak gadis lalu mengapa bekerjanya di malam hari? Kerja apa? Namun Suhita tidak melanjutkan bertanya, tidak sopan rasanya mempertanyakan pekerjaan. Siang dan malam, apa bendanya? Banyak kedai dan warung makan yang buka dua puluh empat jam. Mungkin Neneng dapat shift malam, banyak pekerjaan yang baik mengapa harus dikaitkan dengan hal negatif.
Suhita duduk di ruang tengah seraya menunggu hujan reda, sementara Kencana Sari sedang di kamar mandi. Terlanjur basah, mandi sekalian. Sepertinya bukan hanya istilah.
"Cah Ayu ... mari silakan di minum teh nya," Nek Asih keluar dengan membawa dua cangkir teh hangat yang khusus dia buat untuk Suhita dan Kencana Sari.
"Terima kasih, Nek. Harusnya Nek Asih tidak perlu repot-repot," Suhita tersenyum, dengan sedikit sungkan dia menerima teh hangat yang disuguhkan.
Nenek Asih tertawa renyah, dia menyarankan agar Suhita segera meminum teh mumpung masih hangat. Sementara matanya tidak lepas, lekat memandangi Suhita nyaris tanpa berkedip.
Suhita menyadari gelagat yang aneh pada Nek Asih. Ditambah lagi sikap Nek Asih yang terlihat memaksakan Hita untuk segera meminum teh yang disajikan. Sampai-sampai dia menyodorkan gelas teh hingga mendekat pada Suhita.
"Baiklah, maaf sudah merepotkan Nenek, saya merasa tidak enak," Suhita tersenyum, dia segera menyeruput teh hangat yang diberikan padanya.
Mata Nek Asih melotot lebar, dia menunggu sampai air teh yang ada di dalam gelas mengalir ke dalam mulut, sampai ke kerongkongan dan mengisi lambung Suhita. Sepertinya ada sesuatu yang begitu ditunggu-tunggu oleh Nek Asih.
"Bagaimana rasa teh-nya?"
"Terima kasih, Nek. Rasa teh-nya sangat pas di lidah. Saya sangat suka. Lagi-lagi saya hanya merepotkan," Suhita tertawa, berterima kasih berucap basa-basi.
Jika saja bukan Suhita, sudah pasti apa yang ditunggu oleh Nek Asih segera menjadi kenyataan. Teh manis yang disuguhkan sudah diberi serbuk racun, pencuci otak. Saat air teh mengalir ke tenggorokan, maka saat itu juga si target akan tertidur dan pada waktu terbangun nanti dia tidak mampu mengingat apa-apa. Baik nama, bahkan tujuan hidupnya. Sepenuhnya diri si target menjadi milik Nek Asih.
"Ah, mengapa tidak bereaksi? Apakah aku lupa mencampur serbuk pencuci otaknya?!" Nek Asih menggaruk kepalanya, setelah sekian lama menunggu dia tidak melihat adanya reaksi pada diri Suhita. Sangat aneh, ini benar-benar aneh.
Nek Asih jadi salah tingkah, dia lekas bangkit dan segera izin ke belakang. Pastinya untuk mengecek serbuk pencuci otak miliknya. Apa benar dia lupa mencampurkan ramuan pada teh yang disuguhkan untuk Suhita?
Suhita tersenyum, bukannya Hita tidak tahu apa yang membebani pikiran Nek Asih. Pasti perempuan tua itu pusing tujuh keliling, melihat Suhita baik-baik saja. Saat jari Suhita menyentuh gelas berisi air teh, Suhita mengetahui jika di dalam air telah tercampur ramuan berbahaya.
Tanpa menimbulkan rasa curiga Nek Asih, Suhita mengerahkan salah satu kemampuan terbaiknya untuk menawarkan pengaruh racun melalui telapak tangannya. Hingga saat diminum, air teh itu telah kembali menjadi air biasa, sama sekali tidak berbahaya. Bahkan gelas teh yang disiapkan untuk Kencana Sari pun, dengan sekali sentuh racunnya sudah Suhita tawarkan. Ya, mana mungkin bisa dikaji secara akal karena memang Suhita melakukannya dengan bakat.
"Nenek cari apa?" tanya Neneng pada Nek Asih yang sibuk tidak karuan, mencari sesuatu hingga di bawah meja.
"Bukan apa-apa. Kau cepatlah berangkat! Patung ada di tempat biasa!" jawab Nek Asih tanpa menoleh.
__ADS_1
Neneng mengangguk, dia segera berbalik badan lalu melangkah meninggalkan Nek Asih. Terlihat jika Neneng begitu patuh pada setiap perintah yang diucapkan Nek Asih. Tanpa membantah dan tidak pernah menolak perintah.
Melintasi ruang depan, membuat Neneng bertemu dengan Suhita. Dia hanya tersenyum lalu membungkuk memberi salam. Tanpa sepatah kata yang terucap.
Suhita bukanlah tipe orang yang dipenuhi rasa curiga, dia juga tidak pernah usil pada kegiatan orang lain. Akan tetapi, untuk kali ini hatinya seperti terpancing rasa ingin tahu. Terus terang, Suhita menemukan adanya kejanggalan dari sikap Neneng.
Tabib Dewa dikenal sebagai sosok penyembuh paling handal di muka bumi. Setidaknya lebih dari separuh orang berpendapat demikian. Selain penyakit lahir, dia juga berkemampuan menyembuhkan penyakit-penyakit aneh, penyakit tidak normal yang disebabkan oleh mahluk halus ataupun perbuatan syirik manusia.
"Nona, kaukah yang bernama Neneng? Maaf, boleh minta waktunya sebentar?" Suhita menghentikan langkah Neneng yang sedang mencari payung.
"Aku harus pergi kerja, tidak boleh terlambat. Maaf," jawab Neneng dengan polos.
"Nanti aku akan mengantar ke tempat kau bekerja. Tunggu sebentar, seorang temanku sedang siap-siap," Suhita menangkap lengan Neneng, membuat Neneng diam terpaku seperti kuda disetir tali kekang.
Suhita mengamati Neneng dari ujung kaki hingga ujung kepala. Jelas gadis ini dalam pengaruh satu kekuatan ghaib. Bukan sekadar racun pencuci otak, tapi seseorang telah berhasil mengendalikan hati dan pikirannya. Jelas, tempat kerja yang dimaksud tidak lain ialah rumah bordil.
Sangat tidak diduga, kiranya Nenek Asih tergabung dalam sindikat perdagangan manusia. Tampang kerap menipu, wajah polos yang ditunjukkan dalam rupa wanita tua ternyata hanyalah kamuflase, layaknya pupur dan gincu yang menyembunyikan kerutan di dahi.
Selama Suhita berdiri menunggu sampai pelayannya muncul, selama itu pula Neneng terdiam karena tangannya terus dicengkeram oleh Suhita. Entah sudah berapa lama, hidup Neneng dikontrol oleh orang lain.
Hujan masih berderai, gerimis manja enggan meninggalkan bumi. Kencana Sari yang baru saja berganti pakaian, kembali harus menembus rintik hujan seraya menuntun kuda, mengikuti Suhita yang mengantar Neneng pergi kerja.
Dan seperti apa yang diduga, tujuan mereka ialah rumah bordil. Neneng bekerja di sana. Dan banyak wanita lain yang melakoni pekerjaan serupa. Yang menjadi masalah ialah, para pekerja menjajakan diri tidak dalam kesadaran. Mereka di bawah pengaruh kekuatan sesat yang mengambil keuntungan dari perdagangan tersebut.
"Ya, dugaanmu tidak meleset. Dan teh hangat tadi merupakan awal mula dari rangkaian cerita miris ini," Suhita tersenyum. Hita tahu, Kencana Sari juga meminum teh tersebut. Hanya saja Sari tidak tahu kalau pengaruh racun dalam teh sudah ditawarkan, wajar saja jika Hita amat cemas dan berpikir macam-macam.
"Kita ikuti Neneng, aku penasaran," ucap Suhita. "Oh, ya. Jangan takut, teh itu sudah aku tawarkan. Jangan berpikir terlalu banyak."
Kencana Sari tersenyum lega, dalam hati ingin rasanya memaki Suhita karena berhasil membuat dirinya cemas. Tadinya Sari mengira jika mereka datang ke rumah bordil itu karena pengaruh obat di dalam teh. Tapi ternyata kemampuan Tabib Dewa berada di atas para durja*na itu.
"Tubuh gadis-gadis tidak berdosa ini dijual, di alam bawah sadar mereka. Aku tidak bisa bayangkan jika anggota keluargaku salah satu dari mereka. Demi meraup keuntungan besar, melakukan segala cara. Bia*dap! Akan ku patahkan tulang rusuk baji*ngan-baji*ngan tengik ini!"
"Emosi hanya akan membuat masalah menjadi semakin runyam. Sabar, kita harus mengurai benang kusut ini. Mencabut masalah itu harus dari akarnya!" Suhita menepuk pundak Kencana Sari.
Keduanya melangkah memasuki rumah bordil. Aura kecantikan alami yang Suhita pancarkan membuat begitu banyak mata mengalihkan perhatian padanya. Pakaian yang dikenakan memang tidak seperti umumnya wanita penghibur yang lain, tapi itu sangat wajar karena mereka mengetahui jika Suhita merupakan 'barang baru'.
Mengira Suhita dan Kencana Sari berada dalam pengaruh gendam, seorang petugas datang menghampiri dan mengarahkan mereka ke satu ruangan di lantai atas. Sepertinya mereka akan melakukan brifing.
"Mengapa masih berpakaian norak seperti itu? Lihatlah, kami punya banyak stok pakaian nan indah. Kalian bisa memakainya untuk mempercantik diri," seorang pria tersenyum, tangannya menunjuk ke arah lemari besar yang penuh berisikan pakaian-pakaian minim.
Suhita tersenyum manis, mendebarkan dada para pria hidung belang yang ada di dalam ruangan tersebut. Bisa dilihat jika para manager dan bos-bos itu menelan ludah melihat kecantikan yang terpancar alami tatkala senyum Suhita mengembang.
"Siapa pimpinannya? Aku ingin bicara," ucap Suhita.
"Bos besar sedang tidak ada di tempat. Bukankah Nek Asih sudah mengajari kalian? Sekarang adalah saatnya melakukan pekerjaan," seorang pria berusia sekitar kepala tiga melangkah mendekat. Dia merupakan manager yang membawahi beberapa gadis penghibur.
__ADS_1
Suhita melirik ke arah lemari pakaian, tidak berselang lama lemari itu mendadak hancur berikut seluruh isi di dalamnya. Mencair bagaikan es yang terkena sinar matahari.
"Ah?!" seketika seisi ruangan dibuat terkejut bukan kepalang.
Saat itulah, ketika mereka semua masih terpana, Suhita diikuti Kencana Sari bergerak dengan cepat, menotok satu per satu para penjahat kela*min itu, membuat tubuh mereka hanya berdiri tanpa bisa bergerak. Barulah mereka sadar, sedari tadi kiranya berhadapan dengan para gadis berilmu tinggi.
Seorang manager yang baru keluar dari pintu kamar, seketika terbelalak lebar menyaksikan rekan-rekannya sudah tidak berdaya. Tapi belum sempat dia berbuat banyak, Kencana Sari telah lebih dulu tiba di depannya.
"Kurang ajar kalian!" pria itu meraih asbak di atas meja dan melemparkan pada Kencana Sari. Dia kalap, ditambah kemampuan bela diri yang tidak mumpuni membuatnya semakin ketakutan.
Plaaak! Desshh! Pria itu hanya bisa bersandar di dinding dengan menahan rasa sakit yang tidak tergambarkan. Mau tidak mau dia menjadi petunjuk jalan daripada harus kehilangan nyawanya saat itu juga.
Si manajer membawa Suhita ke sebuah ruangan yang berada di lantai tiga, di sanalah ruangan tempat pemilik rumah bordil berada.
Braakk! Kencana Sari mendobrak pintu ruangan dengan paksa.
"Kepa*rat! Habisi gadis gatal itu!" perintah pemilik rumah bordil.
Seseorang nampak berusaha kabur, jelas untuk memanggil bantuan. Dengan sengaja Kencana Sari membiarkannya. Pasti ia hendak menghubungi tokoh utama yang berperan penting mencuci otak para gadis. Memang itulah yang ditunggu.
"Akkhh ... lepaskan aku, aku mohon ..." pemilik rumah bordil memohon pada Suhita. Kedua tangannya terasa hampir putus terikat oleh gelang es yang pastinya sangat dingin.
"Aku bukanlah penegak hukum ataupun pendekar penegak keadilan, tapi aku juga tidak bisa melihat kezaliman yang semena-mena kalian perbuat. Mencuci otak gadis-gadis tidak berdosa, untuk kalian perdagangkan, dijadikan wanita penghibur. Apa kau tidak pernah mengingat jika kau pun terlahir dari rahim seorang wanita? Mengapa kau perlakukan mereka seperti binatang peliharaan? Bagaimana jika anak gadismu berada di posisi ini?!" mata Suhita sampai berkaca-kaca, hatinya sangat sakit mendapati kenyataan yang begitu kejam.
"Ampuun ..." hanya kata itu yang bisa terucap dari mulut pemilik rumah bordil.
Sementara itu, Kencana Sari sudah selesai melumpuhkan seluruh tukang pukul yang ada. Mengikat mereka dengan kuat, sampai nanti prajurit kerajaan datang menindak lanjuti.
"Kau, cepat bawa aku untuk bertemu dukun yang mencuci otak para gadis!"
"Ba-baik pendekar ..." seperti ayam sayur terpapar penyakit, pemilik rumah bordil yang semula seram berubah ciut layaknya bunga yang layu. Dengan menyeret langkah, dia berjalan ke luar.
Hiruk pikuk terjadi, para pendekar receh dan juga para pengawal bos-bos yang sedang 'jajan' berusaha untuk menghalangi jalan Suhita. Dan yang lebih mengejutkan, dari mereka juga ada yang merupakan petugas keamanan kerajaan, patas saja bisnis esek-esek itu berjalan mulus.
Terlanjur berbuat, maka harus diakhiri. Suhita melompat dan melepaskan beberapa bayangan naga berwarna putih, yang melingkar dan menyerang barisan tukang pukul yang menghadang.
Jurus Tapak Naga! Sudah lama menjadi perbincangan, sejak Pendekar Elang Putih tidak lagi mengembara, jurus legenda itu jarang muncul di dunia persilatan. Bahkan putra Elang Putih sendiri, lebih cenderung gunakan kemampuan milik ibunya, dari Padepokan Api Suci. Tapi sekarang ...
Bayangan naga meluluh lantakkan barisan pengawal dan tukang pukul. Mereka harus mengakui bertapa energi yang maha dahsyat, mengincar detak jantung.
"Ayo, terus jalan. Aku tidak ingin sampai aku kehilangan kesabaran," Suhita memerintahkan pemilik rumah bordil melanjutkan perjalanan.
"Wah ... ternyata diam-diam Hita miliki kekuatan yang, ckckck ... bahkan aku sendiri baru menyaksikan sekarang," Kencana Sari menggeleng-gelengkan kepala, jika tidak melihat secara langsung, rasanya akan sulit untuk bisa percaya.
Dengan diantar sebuah kereta kuda, pemilik rumah bordil membawa Suhita ke sebuah padepokan yang berada di kaki bukit, di pinggiran kota. Mereka, harus pula ikut mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab.
__ADS_1