Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Kemampuan Ilusi Piton Berbisa


__ADS_3

"Ada apa, bos?" bisik seorang pendekar anak buah Kobar.


"Kampret! Ada apa, ada apa. Kau tahu keberadaan kita sudah diketahui," maki Kobar meskipun dengan suara yang direndahkan.


Anak buah Kobar terhenyak. Semula dia tidak menyangka kalau keberadaan mereka telah diketahui. Posisi mereka dan Danur Cakra cukup jauh, dan hanya dengan pencahayaan sinar rembulan yang redup rasanya tidak mungkin Danur Cakra bisa melihat. Padahal sejauh yang dia ingat, tidak seorang pun dari mereka yang melakukan kesalahan.


"Sudahlah, jangan banyak bicara lagi. Jika kalian pikir pendekar muda itu sedang bersenang-senang, kalian sangatlah bo*doh. Dia sengaja memanas-manasi pada kita," ujar Kobar lagi.


Hati mereka semua sempat berdebar-debar dengan kerongkongan yang kering kerontang saat mata yang mereka gunakan untuk mengintai justru disuguhi oleh pertunjukan tidak mengenakkan. Bagaimana tidak, secara SENGAJA Danur Cakra meminta Kemuning untuk memberi kecvpan di bibir. Ya, semata buta hanya untuk membuat para pengintai jadi panas dingin melihat kesempurnaan bentuk seorang wanita secara sukarela menuruti perintah. Tidak sedikit yang berkhayal memposisikan diri mereka sebagai Danur Cakra. Iri? Tentu saja, itu normal.


Kemuning baru menghentikan aksinya ketika merasakan tanah yang sedikit bergetar akibat geliat makhluk yang membentur dinding gua. Saat juga, para pengintai baru tersadar akan tugas mereka masing-masing. Dengan dada yang masih dag-dig-dug, serentak semuanya mengalihkan perhatian setelah membenahi sesuatu di pangkal paha masing-masing.


"Wow ... besar sekali ..." mereka terpana ketika menyaksikan bentuk sebenarnya dari Piton Berbisa yang selama ini di dengar dalam cerita.


"Cakra ... setahuku ular piton tidak seperti itu. Mengapa piton yang ini memiliki mahkota di kepalanya?" bisik Kemuning dengan suara bergetar.


"Mungkin, ini rajanya," jawab Danur Cakra singkat.


"Ingat pesanku, kau cari tempatnya persembunyian yang aman. Sebentar lagi perhatian para pengintai tidak akan terfokus pada kita, saat itu kau gunakan untuk bersembunyi. Dan jangan keluar sebelum aku kembali," sambung Danur Cakra.


"Ba-baik ... tapi kau harus janji, kau harus selamat dan menemuiku," mata Kemuning berkaca-kaca.


"Ini bukanlah hari perpisahan. Jadi simpan air matamu! Cari tempat yang paling aman. Aku pasti akan bisa menemukan dirimu dengan Batu Pelacak Roh ini," Danur Cakra menunjukkan sebuah batu berwarna merah bergaris hitam. Dengan bantuan kekuatan magis batu itu, dalam radius seratus mil Cakra akan bisa menemukan Kemuning di mana pun bersembunyi.


Danur Cakra menutup matanya sejenak, ketika dia kembali membuka mata, matanya berubah menjadi berwarna kemerahan. Sensor kemampuan mata naga telah diaktifkan.


Di bawah sana, perlahan-lahan Piton Berbisa berjalan melata keluar dari gua. Sudah belasan meter, tapi ujung ekornya belum juga terlihat. Sebanding dengan besar tubuhnya, tentu Piton Berbisa memiliki panjang yang tidak biasa. Kulitnya yang bercorak indah, mengkilap tersinar oleh cahaya rembulan purnama.


Hssssttt !!! Piton Berbisa mendesis, lidahnya yang bercabang terjulur berulang kali, menengadah langit dan menatap bulan. Seolah dengan lidahnya Piton Berbisa berucap terima kasih dengan menjilat rembulan yang berbentuk penuh.


"Piton ini berada pada tahap evolusi siluman tahap ke empat. Dia berhasil mencapainya dalam dua ribu tahun. Sangat luar biasa! Memangkas waktu hingga dua kali lipat," gumam Danur Cakra.


Dengan kemampuan mata naga, Danur Cakra mendeteksi tubuh Piton Berbisa. Meskipun tindakan yang dia lakukan mengandung resiko yang besar, yakni ketahuan. Itu tidak penting. Karena Piton Berbisa akan mendahulukan proses pergantian kulitnya dari pada mengurus sosok pengganggu. Ingat, bagaimanapun hebatnya binatang dia tidak akan mampu berpikir cerdas layaknya manusia. Binatang punya otak tapi tidak memiliki nalar.


Danur Cakra melompat dengan kecepatan tinggi, dia berpindah tempat dengan sekejap. Ketika Piton Berbisa menoleh ke tempat di mana Danur Cakra melepaskan kekuatan pendeteksian, Danur Cakra sudah tidak ada di sana. Yang tertangkap oleh kemampuan Piton Berbisa hanyalah seorang pengintai yang tentunya memiliki kemampuan olah kanuragan jauh lebih rendah.


"Aahhh?!" pengintai itu tersentak. Tidak disangka, dia dikorbankan oleh Danur Cakra.


Semula si pengintai merasa dirinya hebat karena dalam jarak yang dekat dia tidak bisa dideteksi oleh Danur Cakra. Tapi tidak disangka, ternyata tinggi hatinya itu melemparkan dirinya dalam celaka.

__ADS_1


Pengintai terkejut sekali karena tiba-tiba Piton Berbisa menatap tajam ke arahnya. Dia tidak menduga jika yang Danur Cakra lakukan mampu mengusik ketenangan Piton.


Dalam beberapa kedipan mata, si Piton Berbisa saling bertatapan dengan pengintai dan tanpa sadar saat itu mata Piton Berbisa melepaskan kemampuan ilusi yang membuat pengintai menjadi hilang kesadaran.


BRUUUKKK! Tubuh pengintai terjatuh dengan sangat keras. Dia berusaha untuk cepat bangkit, mengusap-usap kepalanya yang terasa sangat sakit karena jatuh tersungkur. Merasa dirinya baik-baik saja tanpa adanya luka, pengintai segera berniat untuk kembali ke tempatnya. Akan tetapi ...


"Ah?! Di mana ini?" pengintai celingukan, bingung, dan yang lebih mengejutkan ialah dia menemukan adanya pohon mangga yang sedang berbuah lebat.


"Ini ... ini ..." Pengintai terbelalak. Tidak salah lagi, itu adalah pohon mangga di belakang rumahnya. Pohon mangga yang akan berbuah lebat setiap tahunnya. Pohon mangga tempat di mana dia selalu bermain dan berlari-lari menghabiskan waktu di masa kecil.


Namun ... pohon mangga itu sudah lama tiada, ditebang dan dibakar setelah sang ayah ditemukan mati bunuh diri di salah satu dahan pohon mangga tersebut. Mengapa tiba-tiba dirinya kembali ke masa lalu? Tidak, ini bukan masa lalu, si pengintai mencubit pipinya dan terasa sakit. Itu artinya ini semua adalah nyata.


Perlahan, air mata mengalir di kedua pipi pengintai. Dia teringat akan masa kecilnya yang indah, penuh tawa, ayahnya memang bukan seorang yang berkecukupan tapi penuh tanggung jawab menghidupi keluarga.


"Ayah ... maafkan aku yang tidak berguna ini. Karena aku ayah meninggal. Adik, kakak, dan semua keluarga kita. Jika saja aku mendengar semua nasehat ayah, pastinya semua tidak akan kacau seperti ini. Aku anak yang tidak berguna! Tidak berguna!" pengintai berteriak lantang, melepaskan seluruh luapan emosinya.


Beberapa waktu si pengintai menangis tersedu-sedan. Sampai pada titik terendah, dia menyalahkan diri sendiri atas apa yang telah terjadi. Dia merasa dirinya hanyalah sampah yang tidak berguna, tidak pantas untuk bahagia, tidak pantas untuk hidup.


Sriiingg! Tangan kanan pengintai mencabut belati panjang di pinggangnya, dengan berlinang air mata dia memandang bilah belati yang di sana tergambar seluruh keburukannya. Dengan memejamkan mata, pengintai menggenggam erat gagang belati dengan kedua tangannya. Dengan satu hentakan keras, dia menghunjamkan belati tersebut tepat menembus jantungnya. Dia melakukannya berulang-ulang, sampai tangannya tidak lagi bisa bergerak. Dan, pengintai itu tewas.


Sungguh mengerikan kemampuan ilusi yang dimiliki oleh Piton Berbisa. Dan pengintai tadi adalah korban dari kemampuan ilusi tersebut. Siapa pun yang bertatapan mata dengan Piton Berbisa ketika dia menggunakan kemampuan ilusi, maka bisa dipastikan dirinya akan mengalami hal serupa. Mati mengenaskan seperti yang diinginkan oleh Piton Berbisa.


Melihat apa yang baru saja terjadi, pantas saja belum ada orang yang mampu untuk mengalahkan Piton Berbisa. Bagaimana caranya untuk bisa menyentuh jika belum sampai saja sudah terpengaruh kekuatan ilusi. Bila pun berhasil menyerang, pastinya sisik baja yang begitu tebal akan membuat senjata tidak menembus tubuh Piton Berbisa.


Danur Cakra berdecak kesal, dia menyesal juga mengapa tidak melanjutkan dalam mempelajari tahap evolusi kemampuan. Pernah dulu, Danur Cakra mencoba untuk bangkitkan tahap evolusi naga dalam dirinya tapi tidak dilanjutkan. Dengan bimbingan Kitab Terlarang Langit dan Bumi, Danur Cakra telah membuka pintu gerbang evolusi dalam dirinya. Karena menganggap hal itu tidak banyak berguna, Danur Cakra menghentikan mempelajarinya.


Hups! Jika mengandalkan kemampuan evolusi, mana mungkin Danur Cakra bisa menghadapi Piton Berbisa itu. Jelas-jelas Piton Berbisa telah mencapai tahap evolusi siluman tahap keempat. Setelah pergantian kulit nanti, dia akan melalui gerbang tahap keempat dan terus berjalan. Sementara Danur Cakra baru saja membuka pintu gerbang evolusi siluman di tubuhnya. Bahkan belum melewati gerbang tahap satu. Naga hitam itu baru berbentuk dan mungkin masih menyerupai anak cacing.


Danur Cakra kembali berpindah tempat, kali ini dia mendarat di depan tiga orang pengintai yang bersembunyi di balik batu besar. Danur Cakra berniat menghabisi mereka dengan cara yang sangat halus. Dia tidak mengangkat tangan secara langsung melainkan menggunakan kemampuan ilusi Piton Berbisa. Dan bisa ditebak, setelah Danur Cakra berpindah tempat tiga orang pengintai tersebut langsung berubah menjaga orang linglung, lalu kemudian melenyapkan diri mereka sendiri.


Tiba di padang ilalang, Piton Berbisa semakin mendesis dengan keras. Dia mengibaskan ekornya kian kemari, membuat rerumputan yang tumbuh di sana seperti di libas oleh benda besar dan keras. Rata, dan berubah layaknya lapangan bola.


Beberapa saat kemudian, Piton Berbisa mulai melingkarkan tubuhnya. Kepalanya terangkat tinggi, dengan lengking suara yang menggetarkan tempat di sekitar. Piton Berbisa terus bergerak, mengeluarkan tenaga yang begitu besar untuk memulai proses pergantian kulit.


Danur Cakra menatap tidak berkedip, dia menunggu waktu yang tepat untuk melakukan serangan. Di tangannya, muncul sebilah pedang pusaka yang mengkilap nan tajam. Pedang yang akan digunakan untuk menyerang Piton Berbisa. Danur Cakra merasa dengan pedang itu sudah cukup untuk menembus kulit Piton Berbisa. Dengan catatan, serangan dilakukan pada saat Piton berganti kulit.


Detik demi detik berputar kian melambat. Pergerakan bulan purnama seolah terhenti untuk pergantian hari. Di mana waktu yang ditunggu oleh Piton Berbisa untuk naik level evolusi, waktu yang sangat dinantikan oleh Danur Cakra dan juga para pendekar yang menanti titik lemah Piton Berbisa.


Wuuusss !!! angin malam berhembus pelan, mengiringi cahaya pertama rembulan purnama yang bersinar pada pergantian hari.

__ADS_1


Hssssttt !!! Piton Berbisa mengerang dengan keras, segenap tenaganya dikerahkan untuk memulai proses pergantian kulit.


BBRRRTTTTT !!! Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu datang juga. Piton Berbisa berhasil mengawali proses pergantian kulit yang telah dia tunggu-tunggu selama hampir seratus tahun.


Pada saat yang bersamaan, dari atas tebing Danur Cakra melompat ke udara. Pedang di tangannya menyala berwarna merah kehitaman, dialiri tenaga dalam Tapak Penakluk Naga tingkat tinggi. Danur Cakra melepaskan sabetan keras ke arah kepala Piton Berbisa.


BAAAMMM !!! BAAMMM !!!


Ledakan maha dahsyat mengguncang seantero hutan, membangunkan burung-burung yang sedang tertidur lelap.


Kepulan asap membumbung tinggi ke udara, akibat benturan tenaga dalam yang terjadi.


Danur Cakra mendarat di atas tanah, tapi hanya beberapa saat. Dia segera kembali melompat tinggi ketika melihat tubuh Piton Berbisa ambruk ke bumi. Kaki Danur Cakra menginjak kepala Piton untuk membuat tubuhnya terdorong meluncur menuju cugung tebing.


Setelah beberapa saat kelojotan, akhirnya tubuh Piton Berbisa ambruk ke tanah. Kepalanya terhempas dengan sangat keras dan menimpa sebongkah batu hingga hancur berkeping.


Wuuss! Wuuss! beberapa anak panah meluncur dengan kecepatan tinggi mengarah kepada Danur Cakra.


Dengan cepat, Danur Cakra kembali melompat menghindar hingga anak panah itu hanya menerobos angin. Danur Cakra mundur beberapa langkah, tangannya menggenggam bola energi yang kemudian melebur bersama udara sebelum kemudian energi tersebut melesat ke langit dan membentuk panah kristal yang bersiap menghujani siapa pun yang menjadi lawan.


"Kepa*rat! Mereka pikir sedang berhadapan dengan siapa?!" gigi Danur Cakra sampai gemertukan menahan marah. Matanya yang semula merah, sekarang menjadi menyala. Siapa pun yang berani berhadapan bersiaplah untuk kehilangan nyawa.


Belasan pasukan panah berlompatan mendekat dengan gelombang serangan mereka yang begitu terarah. Sebelum menyambut serangan, Danur Cakra sempatkan untuk melihat Batu Pelacak Roh. Setelah memastikan posisi Kemuning cukup jauh, Cakra bisa dengan leluasa menghisap darah musuh-musuhnya. Sudah begitu lama naga hitam dalam tubuhnya berhenti bekerja.


Kali ini mereka bisa melihat sisi gelap dari seorang Danur Cakra. Orang yang mungkin mereka anggap anak kemarin sore, dan seorang bucin. Tapi sekarang lihatlah ... tidak seorang pun yang bisa hentikan Cakra menumpahkan darah.


Satu persatu pasukan pemanah yang datang jatuh tersungkur setelah punggung mereka ditembus anak panah kristal yang dilepaskan dari udara. Sisanya menghembuskan napas terakhir setelah tangan Danur Cakra menembus jantung mereka.


Sementara Danur Cakra membantai pasukan pemanah dan beberapa pendekar, di depan Piton Berbisa telah berdiri beberapa sosok dengan memakai topeng. Di balik topeng itu tersembunyi wajah Sabdo Metu, Suro Mertolo, Kobar dan beberapa pendekar andalan lainnya. Mereka berniat menguasai Piton Berbisa sepenuhnya. Setelah memanfaatkan Danur Cakra untuk membuat hewan setengah siluman itu kalah, sekarang mereka datang untuk memenggal kepala Piton.


"Ketua ... coba lihat!" Kobar menunjuk ke bagian bawah tubuh Piton Berbisa.


Sabdo Metu yang terburu-buru hendak menebas kepala piton menghentikan langkahnya, dia melihat ke arah yang ditunjuk oleh Kobar.


Ada satu hal yang sangat aneh, benar-benar aneh. Mengapa tidak, bukankah Piton Berbisa sudah kalah? Lantas mengapa proses pergantian kulitnya masih terus berlanjut? Itu artinya Piton Berbisa masih memiliki kekuatan, dia masih hidup. Perhatian mereka terpecah pada Danur Cakra, juga mungkin mereka terlampau senang karena bisa mendapatkan Piton Berbisa malam itu. Hingga mereka melupakan kemampuan ilusi Piton Berbisa yang sangat tinggi. Ya, mereka telah terkurung dalam kegembiraan ilusi.


HSSSSTTT !!! Teriakkan kencang kembali keluar dari mulut Piton Berbisa. Matanya terbuka, memancarkan aura membunuh yang begitu menakutkan.


"Berlindung!!!!" Sabdo Metu berteriak lantang.

__ADS_1


__ADS_2