Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Putri Foniks


__ADS_3

Setelah hujan, ada pelangi yang menyertai. Tapi tidak berlaku jika di malam hari. Karena pelangi tercipta saat matahari bersinar. Dengan demikian hukum alam tidak berlaku, dikarenakan sebab dan akibat berperan penting dalam setiap kondisi.


"Baiklah ... tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu. Aku harap tidak ada yang Nona sembunyikan," ucap Suhita.


"Tidak perlu sungkan, Tabib. Silakan ..." Kemuning tersenyum, meskipun sesungguhnya di dalam hatinya berdebar tidak karuan, bertanya-tanya tentang hal apa yang Suhita ingin ketahui.


Suhita menghela napas sejenak, dia menatap Kemuning dengan dalam, "apa kau mencintai Cakra? Sebesar apakah cintamu padanya?"


Kemuning tersedak, napasnya terhenti dalam beberapa waktu. Pertanyaan lembut Suhita terdengar bagaikan sambaran petir di telinga, "ah, Tabib. Mengapa kau tanyakan hal itu? Jujur, kami tidak memiliki hubungan apa pun. Lagi pula, saya sangat tahu diri."


"Perubahan yang terjadi padanya, apa tidak membuatmu berubah pikiran? Percayalah padaku, suatu hari nanti kau akan menemukan sosok Cakra tidak seperti saat sekarang," Suhita menghentikan kalimatnya, dalam dalam beberapa waktu menatap bintang yang bertaburan di angkasa. Sebelum kemudian Suhita melanjutkan ucapannya, "dia bukanlah seorang yang baik. Aku yakin Nona sedikitnya mengetahui tentang hal itu. Apakah Nona yakin untuk mendampingi seorang penjahat buronan kerajaan?"


Kemuning terdiam mendengar pertanyaan Suhita. Apa yang dikatakan Suhita memang tidak berlebihan. Cakra bukanlah pendekar di jalan yang lurus, bahkan kemungkinan satu saat nanti dia adalah ancaman bagi kelangsungan hidup banyak orang. Tapi bicara perasaan, terus terang saja Kemuning telah jatuh cinta sejak pandangan pertama. Dan karena cinta itu buta, maka Kemuning tidak peduli atas apa pun latar belakang Danur Cakra. Dia tidak peduli akan masa lalunya, karena Kemuning hanya inginkan kebahagiaan bila hidup bersandingan. Kebahagiaan semacam apa? Entahlah, yang jelas Kemuning bahagia bila bersama Danur Cakra. Dan itu sudah cukup.


"Mengapa, apa Nona masih ragu? Atau ... ya, satu hal yang perlu Nona Kemuning ketahui. Tidak seperti yang diungkapkan pelayanku, sesungguhnya aku dan Cakra sama sekali tidak terikat hubungan. Kami bukanlah sepasang kekasih, dan juga tidak mungkin untuk itu. Sejak kecil, kami tumbuh dan besar secara bersama. Dan sejak lama aku tahu, jika Cakra seorang pria berdarah dingin. Dia tidak segan menumpahkan darah."


Kemuning mendengarkan penuturan Suhita secara seksama. Tidak ada alasannya untuk tidak percaya, karena semua orang tahu jika Tabib Dewa bukanlah seorang yang munafik.


"Tabib, benarkah yang kau katakan?!"


"Tentu saja. Apa gunanya aku berbohong. Hanya saja, aku tidak ingin kau terjerumus dalam penyesalan suatu saat nanti. Selama ini, aku telah berusaha tapi seperti yang kau lihat, Cakra semakin jauh menyimpang."


"Tabib, kau meninggalkan Cakra karena dia bukan orang baik-baik, tidak seperti yang kau harapkan?"


"Aku tidak pernah berpaling dari siapa pun. Selamanya, Cakra akan ada di dalam hatiku. Tidak peduli meski seluruh dunia mengutuknya," tegas Suhita.


Kemuning tersenyum, meskipun tanpa penegasan kata, dia pun akan melakukan hal yang sama. Dia mencintai Danur Cakra dengan setulus hati. Apa pun yang terjadi, Kemuning tidak akan berkhianat.


"Nona Kemuning, terima kasih. Aku sangat senang mendengarnya. Paling tidak, sekarang aku punya teman. Aku berharap kita akan menjadi saudara yang baik."


Kemuning terkejut mendengar Suhita yang kelepasan bicara. Untung saja Kemuning tidak terpikirkan kalau Suhita dan Danur Cakra benar-benar merupakan saudara. Dia terlampau gembira karena Suhita mengangkatnya menjadi saudara. Bersaudara dengan Tabib Dewa, siapa yang akan bisa menolak. Kemuning menitikkan air mata haru, menangis seraya memeluk Suhita dengan erat.


"Nona Kemuning, maaf. Aku rasa belum saatnya kau mengetahui cerita yang sesungguhnya. Nanti, jika waktunya sudah tepat, kau akan mendapati diriku adalah adik iparmu. Aku titip kakakku, aku yakin kau tulus menyayanginya," batin Suhita yang pula tidak kuasa menahan luapan air mata.


"Tabib ... suatu anugerah bagi saya, kau menganggap saya seperti saudara," Kemuning menghapus air matanya, tersenyum lebar menggambarkan kebahagiaan yang meluap-luap dalam hatinya.


"Ya, jika begitu kau tidak perlu menghormatiku sebagai Tabib. Dalam kesempatan seperti ini, kau bisa panggil saja namaku."


Kemuning tertawa kecil, bagaimana rasanya saat dia memanggil seorang Tabib Dewa dengan nama asli? Apa mungkin dia layak untuk itu? Kemuning merasa jika dirinya sangat jauh dari kata pantas.


"Tabib ... ah, Hita, maaf. Kau perlu tahu sesuatu. Mengenai siapa aku," Kemuning memantapkan hatinya untuk memulai cerita.


Suhita menatap setengah tidak percaya, kiranya kenyataan membuat semua menjadi semakin rumit. Lantas mengapa Diah Pitaloka tidak memperkenalkan dirinya pada Danur Cakra? Ah, menyusahkan saja. Tapi ada baiknya juga kalau Suhita pun ikut bicara. Meskipun Danur Cakra cenderung anti politik dan pemerintahan, bisa jadi karena Kemuning yang ditemukan sebagai seorang jalanan membuat Danur Cakra bisa mengerti.


"Baiklah! Kalau begitu, kita kembali. Lagi pula, malam semakin meninggi, kasihan bintang yang ikut menutup mulut atas apa yang kita bicarakan."

__ADS_1


"Silakan."


°°°


Setelah membuat kerusakan, bukannya bantu berbenah justru Danur Cakra malah pergi. Hingga dia terhindar dari amukan Suhita yang kembali ke desa dan menemukan pondok yang baru saja dibangun sudah berantakan.


"Sari, apa yang terjadi?!"


Kencana Sari menjelaskan pada Suhita, jika ada seorang perusuh yang datang selama Suhita pergi. Selain membuat kerusakan, perusuh itu juga mencelakai banyak penduduk desa serta membakar rumah.


"Di mana Cakra?" tanya Suhita lagi.


"Tadi di sana, tapi sekarang kok tidak ada, ya? Mungkin dia mencari kalian, memastikan penjahat itu tidak mengganggu," Kencana Sari celingukan. Kaget saja, karena mendadak Danur Cakra lenyap.


"Ada pembantaian besar, dan dia tidak berbuat apa-apa?!"


"Ti-tidak seperti itu. Jika tidak ada Pendekar Cakra, mungkin kita tidak lagi bisa berjumpa. Tabib lihat, hampir saja aku celaka," Kencana Sari membela Danur Cakra, dia menunjukkan bekas luka pukul di tubuhnya.


Andaikan Cakra tidak turun tangan, pastinya Kencana Sari sudah meregang nyawa. Penyerang itu kabur lari tunggang langgang setelah bertarung beberapa jurus dengan Danur Cakra. Dan ... tentu saja Kencana Sari menyembunyikan titik buruk dari kekuatan sesat yang Danur Cakra tunjukkan. Dia hanya bercerita mengenai gatis besarnya saja, tanpa menyebut nilai negatif yang juga membuat Kencana Sari kaget.


Suhita tertawa kecil, mengejek, setelah Kencana Sari selesai bicara. Aneh saja, biasanya Kencana Sari begitu membenci apa pun yang Danur Cakra lakukan. Apa karena merasa berhutang nyawa, jadi berubah dengan begitu cepat? Ada-ada saja.


"Hari sudah gelap. Besok saja lagi kita memperbaikinya. Para penduduk yang kehilangan tempat tinggal arahkan untuk mengungsi sementara waktu."


Kepala desa, diikuti beberapa warga segera membubarkan diri. Mereka tidak terlalu cemas, karena Suhita yang akan menanggung seluruh beban biaya. Juga jangan dilupakan Danur Cakra, tentunya dia punya banyak kepeng uang yang bisa membantu kehidupan warga desa batu untuk beberapa bulan ke depan.


°°°


Cakra tidak menemukan apa pun, bahkan kemampuan deteksinya sama sekali tidak mampu menangkap apa-apa. Tidak ada orang lain di sana. Akan tetapi, Danur Cakra sangat yakin jika ada sosok yang sejak tadi mengikuti dirinya.


Tubuh Danur Cakra bergetar, seolah ada yang memanggilnya dari dalam jiwa. Ya, Naga Kecil di alam evolusi miliknya meminta untuk bertemu. Sialan! Bagaimana jika tiba-tiba muncul sosok nyata yang menyerang, apa yang terjadi pada tubuhnya? Danur Cakra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hah?! Foniks?!" Danur Cakra terperanjat saat melihat bentangan sayap nan indah dari burung foniks.


Foniks yang pertama dia lihat di alam evolusi, dan sekarang menghampiri ke alam nyata. Jika terus-terusan begini, rasanya Danur Cakra bisa gila. Sejak awal dia mempelajari kemampuan siluman, Cakra tidak memiliki seorang guru, dia hanya mengandalkan pemahamannya dari Kitab Terlarang Langit dan Bumi semata sehingga dia sama sekali tidak memiliki tempat untuk bertanya.


Burung Foniks merupakan kasta tertinggi dari lambang energi roh. Berada di atas roh naga, juga lambang istimewa lainnya. Bisa disimpulkan bahwa Foniks merupakan pimpinan dari seluruh roh evolusi.


"Hei, Foniks! di mana Tuanmu?" tanya Danur Cakra setengah berteriak.


Burung Foniks hanya mengepak-ngepakkan sayap, mempertontonkan keindahan yang dia punya, tanpa peduli pada pertanyaan Danur Cakra.


"Dasar sialan! Lantas apa tujuanmu menemuiku? Jangan main-main, kau buat aku bingung saja!" Danur Cakra sedikit kesal, dipermainkan oleh sosok Foniks.


Wuuusss! Wuuusss! Ratu Foniks mengepakkan sayap, membuat tubuhnya melayang rendah menerobos gelapnya malam. Tidak ingin ketinggalan, Danur Cakra segera melompat, menggunakan kemampuan meringankan tubuh untuk mengejar burung foniks.

__ADS_1


Bagaimanapun juga Danur Cakra menambah kecepatan terbangnya, tetap saja dia tidak mampu memangkas jarak dengan burung foniks. Seperti mengejar bayangan, semakin Cakra menambah kecepatan, maka semakin jauh pula Foniks meluncur ke depan.


"Apa ini alam evolusi?! Atau justru aku memasuki alam evolusi Ratu Foniks?" Danur Cakra memandang berkeliling, menyaksikan keindahan alam yang mustahil berada di alam manusia.


"Nona Foniks, tunggu aku!" Danur Cakra berteriak keras, menuju ke tempat wanita bercadar yang pernah dia temui di alam evolusi miliknya.


Seiring dengan munculnya wanita bercadar, burung bersayap indah yang Danur Cakra ikuti lenyap dari pandangan mata. Mungkin dia kembali ke alamnya.


Danur Cakra tidak bisa melihat wajah wanita itu dengan utuh, sebagian besar tertutup oleh topeng berhias bulu indah yang dikenakannya. Tapi Danur Cakra sangat yakin jika sosok wanita itu memiliki paras yang amat cantik. Tapi persetan dengan itu semua, Danur Cakra sama sekali tidak peduli pada semuanya karena yang dia inginkan hanyalah keterangan yang jelas mengenai fenomena yang dia alami.


"Selamat malam, Nona. Senang bisa berjumpa Anda," Danur Cakra membungkuk menghaturkan hormat layaknya seorang pendekar.


Wanita bercadar itu hanya menoleh kemudian mengangguk, tanpa membalas sapaan yang Danur Cakra berikan. Dan mungkin dia adalah wanita tercuek yang pernah Danur Cakra temukan.


"Ah, apa dia bisu? Tapi harusnya, paling tidak gunakan bahasa isyarat untuk menjawab pertanyaanku, dasar sialan!" Danur Cakra memaki dalam hati, sungguh sikap cuek Putri Foniks bukannya membuat Cakra penasaran justru rasa kesal yang tumbuh di dalam hatinya.


Putri Foniks diam seribu bahasa, tanpa senyum, tidak bergerak, menatap jauh lurus ke depan. Namun demikian dia tidak pergi dan menghilang, menemani Danur Cakra dalam diamnya.


Danur Cakra berjalan mendekat, memohon pada Putri Foniks untuk mau bicara, Cakra ingin tahu perihal alam evolusi yang sekarang dia mulai petualangan di dalamnya.


Putri Foniks menggelengkan kepala, entah menolak atau karena dia memang tidak bisa berbicara bahasa manusia. Lalu bagaimana cara untuk berkomunikasi? Ah, Cakra bahkan tidak memiliki seorang pun teman 'gagu' atau bisu.


"Begitu banyak beban yang kau bawa, harusnya kau tinggalkan salah satu saat pundak tidak mampu untuk memikul."


Satu suara terdengar menggema di telinga, suara milik Putri Foniks? Tapi tidak terlihat dia membuka mulutnya. Danur Cakra mengerutkan dahi, rasa-rasanya dia pernah mendengar suara itu, suara yang begitu familiar di telinga Cakra.


"Nona, perkenalkan namaku Cakra. Kau ingat, kau pernah datang ke alam evolusi milikku. Sekarang aku datang untuk meminta petunjukmu, bagaimana cara untuk aku bisa keluar?" tanya Danur Cakra.


Putri Foniks menatap Danur Cakra dengan dalam, sorot matanya menusuk memancarkan rasa tidak senang. Dia tidak inginkan kalimat seperti tadi terlontar dari mulut Danur Cakra.


"Kenapa? Kau tidak suka?! Apa kau pikir aku senang, sejak tadi berdiri dan bicara tanpa sekali pun kau tanggapi. Mengapa harus muncul kalau tidak mau membantu?" Danur Cakra berkacak pinggang, menginterogasi Putri Foniks seraya mengacungkan jari telunjuk.


Tap! Putri Foniks menangkap pergelangan tangan Danur Cakra, mengangkat dengan ringan, membuat tubuh Danur Cakra ikut terangkat tinggi.


"Sialan! Hump!" Danur Cakra berontak, berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Putri Foniks. Namun sepertinya dia melakukan usaha yang sia-sia, genggaman tangan Putri Foniks semakin erat mencengkeram. Dengan sekali ayunan, tubuh Danur Cakra terlempar jauh.


Byuuurrr !!! Danur Cakra terhempas ke dalam sungai. Namun saat Danur Cakra berdiri, dia sadar jika telah berada di dalam aliran sungai alam evolusi miliknya.


Tidak ada jalan untuk kembali, Danur Cakra tidak bisa membebaskan diri dari perjalanan tahap evolusinya. Mungkinkah dia akan menjelma menjadi setengah siluman? Atau mungkin juga, Naga Kecil miliknya akan celaka sebelum mampu melintasi gerbang evolusi selanjutnya?


Di dalam perjalanan menuju pertengahan tahap satu, Naga Kecil berenang menghampiri Danur Cakra. Naga itu menyapa dan memberi isyarat supaya Danur Cakra cepat meningkatkan level evolusi, dia nampak mulai bosan berada pada awal level.


Melampaui level satu, bukanlah hal yang mustahil. Akan tetapi, itu artinya Danur Cakra harus memperpanjang rentetan pembunuhan yang dijalani. Dengan mendapatkan lima darah murni, maka Danur Cakra akan mencapai puncak tahap pertama.


Danur Cakra melompat, keluar dari alam evolusi dan kembali ke dunia manusia. Saat mendarat di tempatnya semula, Danur Cakra mengetahui bila jasadnya tidak tertinggal di alam manusia ketika dia pergi ke sungai evolusi. Seberapa pun lamanya, maka tidak akan ada yang bisa menemukannya. Dengan kata lain, Danur Cakra membawa serta raganya.

__ADS_1


Kelebat sayap nan indah kembali muncul di depannya, Danur Cakra baru menengadah saat sebilah daun lontar melayang dan jatuh di telapak tangannya.


Petunjuk! Di mana Danur Cakra bisa meningkatkan level evolusinya untuk mencapai tahapan selanjutnya, membuat dirinya sekuat batu karang.


__ADS_2