
Apakah sumberdaya harus berbentuk mustika, tanaman, buah atau sejenisnya? Tentu saja tidak. Di hadapan para pendekar itu, pula termasuk sumberdaya. Bagaimana tidak, dalam benak mereka sebentar lagi akan menyantap hidangan lezat. Meskipun mereka ada enam orang, dan hanya ada dua orang gadis? Rasanya pasti luar biasa, masih sempit karena yakin keduanya merupakan perawan. Kapan lagi coba? Meskipun gagal peroleh sumberdaya dari bukit batu paling tidak mereka bisa membayar lunas lelah dalam perjalanan dengan membuat pikiran rileks saat bisa keluar di dalam seorang gadis cantik.
"Siapa pun yang bisa lebih dulu melumpuhkan, maka berhak untuk giliran pertama," ucap salah seorang pendekar sambil mengelap air liur di sudut bibir.
Tentu saja Suhita bisa mendengar, meskipun pendekar itu bicara setengah berbisik. Sedari dulu, Suhita memang tidak gemar berkelahi tapi berbeda cerita ketika dalam ancaman bahaya, membela diri adalah hal utama yang harus dilakukan. Bahkan seekor semut kecil pun akan menggigit bila disakiti.
Sebelum seorang pun dari kumpulan pendekar bejat itu bergerak, Suhita telah mendahului. Dengan satu petikan jari, Suhita mengerahkan kekuatan Tapak Naga Es. Ya, sebagai penerus Mahesa, Suhita kerap melakukan trik yang sama layaknya sang Ayah. Mau tidak mau Hita harus merubah caranya memandang, karena memang dunia ini tidaklah seperti yang Suhita kehendaki. Seperti kata pepatah, semakin tinggi pohon berdiri, maka akan semakin deras angin yang berhembus. Sebaik apa pun Suhita berbuat, akan lebih banyak percobaan kejahatan yang dia terima. Terutama berbentuk pelecehan, karena harus diakui jika Suhita dikaruniai wajah yang amat rupawan.
"Aku tidak ingin ada masalah apa pun diantara kita, apalagi harus bertarung membuang energi sia-sia. Begitu banyak hal lain yang lebih baik bisa kita lakukan," Suhita mengangkat tangannya, mencoba memperingati enam orang yang telah bersiap-siap untuk melakukan serangan.
Tentu saja selain menahan pergerakan lawan, tujuan tangan Suhita terangkat tidak lain untuk memberikan tanda pada kristal-kristal es cipta tenaga dalamnya. Saat lawan menyerang, Suhita tinggal menjatuhkan tangan untuk memerintahkan kristal es meluncur.
"Hehehe ... manis, tentu kami tidak akan berbuat kasar bila kalian bisa diajak kompromi. Begini saja, bagaimana kalau kita sejenak lepas lelah sambil bersenang-senang," ucap seorang pendekar dengan genitnya mengedipkan mata.
Pendekar itu hendak melangkah maju, tapi Suhita segera menghentikannya. Memberi tahu keberadaan kristal es yang setiap saat bisa meluncur menembus tubuh mereka.
"Waahhh!!! Kau boleh juga. Ini menarik, sangat menarik! Kiranya kau pula seorang pendekar!" bukannya gentar, justru para pendekar itu tertawa cekikikan.
"Hita! Tidak ada pilihan lain. Mereka akan mengambil jantung saat kau memberi hati. Preman-preman busuk ini, mereka adalah pembuat kerusakan," desis Kencana Sari dengan tatapan jijik.
Tidak ubahnya anjing kampung yang berlomba mengejar tulang, meskipun di rumah diberi makan daging. Sifat dari jiwa yang kerdil tidak akan bisa berubah. Kecuali setelah mata mereka dibuka dengan cara yang mereka mengerti. Jika sudah tidak mampu untuk bangkit, maka saat itulah rasa takut pembuat penyesalan muncul. Ya, untuk membuat sebuah besi hingga berbentuk menjadi pedang maka diperlukan api yang panas juga pukulan yang keras.
Tanpa aba-aba, Kencana Sari langsung melompat menyerang seorang pendekar yang mendekat. Meskipun tanpa adanya sebilah pedang di tangan, bukan berarti Kencana Sari tidak mampu berbuat apa-apa. Dia tetaplah seorang pendekar wanita yang sekarang kemampuannya hampir mencapai tahap guru di padepokan.
Bagaimana bisa Kencana Sari mencapai tahapan dalam waktu yang sangat cepat? Tentu saja karena dia mengkonsumsi banyak sumberdaya yang mampu meningkatkan level tenaga dalam dalam waktu singkat. Mengikuti Tabib Dewa sepanjang waktu, bukanlah hal yang sulit untuk mendapatkan sumberdaya berharga, tidak heran jika para pelayannya sekarang telah menjelma menjadi sosok yang tangguh. Ada ungkapan, bila berteman dengan penjual minyak harum niscaya kita akan ikut harum. Orang terdekat ialah sosok yang memberi pengaruh besar dalam kehidupan sehari-hari.
Kembali ke pertarungan. Di mana dalam waktu singkat, Kencana Sari langsung berhasil mendesak lawannya dengan serangan-serangan yang mematikan. Bukan karena lawannya seorang pendekar yang lemah, akan tetapi lebih ke arah dia terlalu meremehkan lawan. Pendekar itu tidak menduga jika gadis muda yang jadi lawannya merupakan seorang dengan kekuatan tinggi. Membuat kesalahan fatal yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang petarung di dunia persilatan.
Melihat rekannya kewalahan, lima orang pendekar yang lain tentu saja tidak tinggal diam. Dengan segera mereka menghunus senjata masing-masing untuk membantu serangan. Akan tetapi ...
Wuuusss! Wuuusss! Kristal-kristal es tiba-tiba berhamburan menghujani mereka bersamaan dengan Suhita menurunkan tangan.
"Sial!" umpat seorang pendekar dengan kaget. Sebuah kristal es dengan ujung yang tajam meluncur deras mengincar dadanya. Tidak punya pilihan lain, dia hanya bisa pergunakan pedang untuk menahan laju kristal es.
Triinggg !!! Benturan keras terjadi, memang kristal es milik Suhita hancur berkeping, tapi tubuh pendekar tersebut juga ikut terpental, terdorong jauh ke belakang dengan begitu keras. Tubuhnya baru terhenti saat membentur batang pohon.
__ADS_1
Sangat beruntung, karena lawan yang mereka hadapi ialah Suhita Prameswari. Sosok Tabib Dewa yang penuh welas asih. Jika saja mereka berhadapan dengan pendekar lain, sudah pasti kristal-kristal es tersebut akan berlomba untuk merajam tubuh lawan.
"Sudah selesai, sekarang kalian sudah tidak penasaran lagi 'kan? Silakan tinggalkan tempat ini," ucap Suhita.
Kencana Sari menarik diri dari pertarungan. Dia mengampuni lawannya tanpa syarat apa pun. Bahkan Kencana Sari tidak memukul di bagian vital lawan, hingga sakit yang diterima hanyalah sakit biasa yang masih jauh dari ancaman nyawa.
"Sari, kita lanjutkan perjalanan," ucap Hita pada Kencana Sari ketika mendapati lawan-lawannya tidak bergeming, jika mereka tidak mau pergi tentu lebih baik Suhita yang pergi.
"Kepa*rat sialan! Kutu busuk! Kita dipermalukan oleh anak kemarin sore. Fuuiiihhh!!!" dengan wajah memerah, malu dan marah, seorang pendekar terlihat sangat tidak terima.
"Gadis ingusan itu, sungguh luar biasa! Aku pernah dengar bagaimana kemampuan Tapak Naga bekerja, tapi kali ini aku merasakan bagaimana dinginnya tulang sumsum saat coba untuk menghalau kristal es," dengan masih menahan sakit di punggung, pendekar yang terlempar menabrak batang kayu memuji kemampuan Suhita.
"Gob*lok! Siapa suruh menyanjungnya, ayo kita habisi mereka sekarang !!!" dengan tatapan berapi-api, pendekar tersebut segera melompat menyusul Suhita.
"Hei, mengapa diam saja?! Ayo cepat!" seorang pendekar yang merupakan kakak tertua dalam kelompok itu menghentikan langkah, menoleh ke belakang, betapa murkanya dia saat mendapati tidak seorang pun rekannya yang turut mengikuti langkahnya, nampaknya mereka gentar untuk kembali berhadapan dengan kekuatan Tapak Naga.
Sepi, tidak ada jawaban apa pun. Mereka hanya saling bertukar pandang, tidak berani untuk berbicara, apa lagi membuat keputusan. Dengan seorang diri, terlihat jika kakak tertua pun gentar untuk menyusul Suhita. Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi saja. Meninggalkan tempat itu, pulang dengan tangan hampa.
"Ini semua adalah kesalahanmu, coba jika tidak terburu-buru, paling tidak kita tidak akan kecolongan saat gadis tadi mempersiapkan kristal es," gerutu salah seorang dari mereka.
Wuuusss !!!! Pusaran angin muncul menerbangkan dedaunan kering juga debu di sekitar tempat mereka beristirahat. Para pendekar itu menutupi wajah masing-masing, tidak berani membuka mata. Setelah angin misterius itu reda, barulah bisa mengintip dari celah jari.
"Di mana kalian bertemu pendekar dengan kemampuan kristal es?" satu pertanyaan terdengar.
Tidak jauh dari tempat mereka duduk, entah kapan datangnya, telah berdiri seorang pendekar muda. Kiranya dialah yang membuat pusaran angin barusan. Apa tujuannya? Selain membuat masalah rasanya tidak ada lagi. Datang dan langsung menunjukkan kemampuan, apa berpikir untuk membuat lawan gentar?!
"Heh, anak muda! Kau pikir siapa dirimu? Datang tanpa sopan santun! Cari masalah?!"
"Aku tidak akan mengulangi pertanyaanku, jawab atau kalian benar-benar mendapat masalah!" nada penuh ancaman terlontar, suara dengan iringan tenaga dalam membuat ancaman tersebut terasa nyata.
"Bagaimana jika kami tidak mau menjawab?!" tantang kakak tertua seraya mengangkat kedua alisnya.
CRASSH !!! Tidak ada jawaban, yang muncul justru sebongkah batu tajam yang langsung menembus mulut kakak tertua. Menarik kesempatannya untuk terus menikmati udara segar. Tanpa tahu kesalahan besar yang dilakukan, kakak tertua kelompok itu tewas tanpa suara. Sebongkah batu tajam menyumpal mulutnya.
"Ahh?!" lima orang pendekar yang lain terperangah. Bentuk serangan yang dilakukan hampir mirip dengan pola serang yang tadi mereka saksikan ketika berhadapan dengan Suhita. Hanya saja, kali ini energi yang digunakan terasa jauh berbeda. Aura kegelapan terasa begitu pekat menyelimuti bulu kuduk.
__ADS_1
"Ba-baik ... kami akan beri tahu!" seorang dari mereka menjatuhkan lutut, memohon pengampunan. Mereka sadar, sedang berhadapan dengan seorang pendekar sesat berilmu tinggi.
Bicara dengan sejujurnya, tentu saja tidak. Mereka memang mengatakan di mana keberadaan pemilik kemampuan kristal es, akan tetapi cerita mengenai dua gadis tersebut mereka tambah-tambah, diberi aneka bumbu yang mereka racik dengan kelicikan. Termasuk dengan menyangkut pautkan sumberdaya yang di dapat dari bukit batu. Mereka mengatakan jika gadis-gadis yang mengalahkan mereka adalah orang beruntung yang berhasil mendapatkan sumberdaya langka. Mereka juga memaparkan mengenai manfaat dan kegunaan berbagai jenis sumberdaya di bukit batu, berharap pendekar itu tertarik untuk memiliki lalu kemudian menyerang Suhita. Persetan atas benar atau tidaknya berita, yang jelas mereka bisa membalas rasa sakit hati. Siapa pun yang keluar sebagai pemenang nanti, justru merekalah yang menjadi pemenang sesungguhnya.
°°°
"Ah, Cakra ... kau mengejutkan saja. Dari mana saja kau, mengapa lama sekali?" ujar Kemuning yang duduk di depan perapian.
"Maaf, binatang buruan di sekitar sini sangatlah sulit. Aku dapatkan jauh di sana," jawab Danur Cakra berbohong.
Terus terang, Kemuning merasakan adanya sedikit perubahan yang terjadi pada diri Danur Cakra. Entah apa itu, dia tidak tahu secara pasti. Namun, bisa dirasakan kalau pancaran aura di tubuh Danur Cakra berubah dari sebelumnya. Dia semakin terlihat dingin dan bengis.
Oh, ya. Jika bicara mengenai daging siluman piton yang Cakra kalahkan tempo hari, sama sekali tidak merubah keadaan. Karena hingga sekarang daging itu masih utuh. Mereka sempat singgah di beberapa ahli pengobatan juga tabib. Akan tetapi, tidak seorang pun yang mampu untuk menjinakkan daging siluman tersebut. Apalah lagi untuk mengubahnya menjadi obat. Yang ditakutkan, justru hanya akan memperburuk keadaan Kemuning.
Terpaksa, mau tidak mau kali ini pun Kemuning harus menurut. Mereka yang sudah pergi jauh dan merubah tujuan, harus kembali mengarah ke Soka Jajar. Tentu saja untuk kembali memohon pertolongan Tabib Dewa. Apa yang bisa Kemuning lakukan selain mengangguk, karena jujur dia pun sangat inginkan kesembuhan.
"Setelah makan, kita menyeberangi hutan kecil itu. Aku lihat ada sebuah kampung kecil di kaki bukit, kita bisa istirahat di sana," kata Danur Cakra.
Bukan karena Danur Cakra sudah melihat kondisi medan, akan tetapi dia peroleh keterangan tersebut dari para pendekar tadi. Ya, karena orang yang mencelakai kakak tertua dari enam pendekar itu tidak lain ialah Danur Cakra.
Cakra yang sedang memburu menjangan merasakan kemunculan aura manusia. Hingga dia putuskan untuk mencari tahu. Siapa sangka, ternyata para pendekar itu baru saja dikalahkan oleh seorang gadis yang diduga memiliki kemampuan Tapak Naga. Siapa lagi, Danur Cakra yakin jika gadis itu ialah Suhita.
Mencelakai seorang yang terkuat, dengan mudahnya Cakra peroleh keterangan gamblang dari lima pendekar yang tersisa. Meskipun perkataan pendekar itu banyak yang dilebih-lebihkan, yang terpenting Danur Cakra mengetahui posisi Suhita.
Dari ungkapan hiperbola yang dibuat dalam mendefinisikan sumberdaya, bukannya Cakra tidak tahu kalau para pendekar itu berusaha mengompori dirinya untuk mencelakai Suhita. Cakra sadar betul, dia sengaja dimanfaatkan untuk sarana balas dendam. Para pendekar berharap Danur Cakra terpancing lalu kemudian menyerang Suhita untuk merebut sumberdaya.
Mereka pikir, Danur Cakra adalah seorang yang bodoh? Jika demikian, mereka salah besar. Berharap pelangi setelah hujan, tapi justru hujan badai meluluh lantakkan peradaban. Nyawa mereka yang Suhita ampuni, tidak bersisa di tangan Danur Cakra. Salah siapa, beraninya berurusan dengan saudara kembarnya. Sambil berlalu pergi, Danur Cakra mencabut sisa napas para pendekar dengan satu petikan jari.
°°°
Cerita mengenai bukit berbatu, menyimpan banyak misteri. Para pendekar yang datang sebagian besar pulang dengan tangan hampa. Masih beruntung daripada mereka yang harus kehilangan nyawa, juga yang terkubur di dalam perut gua.
Seorang pendekar, juga tokoh masyarakat, Lurah Paku Gelung berhasil selamat dari maut. Meskipun tubuhnya terluka cukup parah, dia terus memaksakan langkah untuk mencapai desa batu. Berharap pertolongan dari para penduduk miskin di sana.
"Huuuhhh ... huuuhhh ... aku harus kuat. Pasti ada salah seorang penduduk yang mengenaliku. Aku seorang lurah ternama, mereka pasti masih akan menaruh hormat padaku," dengan sekuat tenaga, Lurah Paku Gelung menyeret langkah.
__ADS_1
Sebelum kehilangan kesadaran, seorang warga yang sedang menebang bambu menemukan Lurah Paku Gelung dan segera menolong. Kiranya banyak warga desa, dan kesemuanya laki-laki sedang bergotong royong mengumpulkan bambu dan kayu. Mereka bekerja di bawah komando Pak Murdoko, yang tentunya bekerja untuk Suhita. Membuat gubuk untuk pelatihan pengobatan.