
"Selanjutnya!"
Satu demi satu orang yang datang, selesai diobati. Namun seperti air di lautan, para pasien terus menerus datang tiada henti. Dengan bermacam-macam gejala yang timbul, tapi yang jelas mereka semua keracunan.
Belum juga selesai masalah badai misterius, tidak berselang barang satu hari pun sekarang sudah muncul penyakit baru. Mendadak Kota Binar Embun menjadi layaknya neraka, penderitaan rakyat datang silih berganti. Kalau begini, bagaimana caranya Suhita bisa tiba di Kota Raja? Tidak masuk akal.
Tidak ada hal yang baik terjadi di sana, termasuk dengan kondisi Suhita. Tabib Titisan Dewa itu sudah kehilangan banyak tenaga. Wajahnya begitu pucat, tapi meski demikian dia tetap bersikukuh untuk melanjutkan pengobatan.
Hingga malam menjelang, pasien yang membutuhkan pengobatan masih mengantri. Sebesar apapun juga kemampuan tenaga dalam yang Suhita miliki, pada akhirnya dia hanyalah seorang manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Dia bukan monster tanpa rasa lelah.
"Tabib ... baiknya kita lanjutkan lagi esok hari. Kau kehilangan begitu banyak tenaga dalam, apa jadinya jika sampai sesuatu yang buruk terjadi padamu?" Kencana Sari terus membujuk Suhita untuk segera berhenti.
"Uhuukk ... uhuukk ..." Suhita memegangi dadanya yang mulai terasa sakit. Dia tidak bisa berhenti mengobati, karena kalau tidak akan semakin banyak korban yang jatuh, "mengapa kita diberi kemampuan kalau bukan untuk menebarnya, jika sekarang aku diberi ujian lalu bagaimana dengan mereka?"
"Tapi Hita ..." belum sempat Kencana Sari melanjutkan perkataan, Suhita telah lebih dulu mengangkat tangan meminta untuk Kencana Sari segera diam.
"Aku tidak akan berhenti selama aku masih bisa berbuat. Nyawa mereka jauh lebih penting. Baiklah, selanjutnya!" Suhita bersikeras.
Melakukan tindakan terpuji tidak perlu alasan. Suhita terus mengobati satu persatu orang yang sakit. Hingga kemudian dia mencapai batas akhir dan terkulai lemah. Suhita kehabisan tenaga.
"Tabib Dewa !!!" pekik mereka. Dengan cekatan Kencana Sari membawa Suhita ke pembaringan. Sementara penduduk yang sakit, diberi ramuan sementara untuk besok kembali lagi.
Wajah Suhita pucat pasi, napasnya berhembus lemah. Mungkin ini adalah satu-satunya cara Tuhan agar tabib cantik itu mau beristirahat. Tidur untuk pulihkan kondisinya.
Tumenggung Sukamulya dan beberapa para prajurit pilihan berjaga di balai pengobatan. Selain menyelidiki, tentu saja mereka bertugas untuk menjaga keamanan tenaga kesehatan yang sedang berjuang mengobati penyakit-penyakit aneh. Terutama Tabib Titisan Dewa, keberadaannya dianggap sebagai wakil Tuhan yang membantu memberikan kesembuhan. Dan sekarang ketika Tabib Dewa istirahat, tentu menjadi kewajiban mereka untuk ganti pertaruhkan nyawa untuk keselamatannya.
"Maaf, kau siapa? Ada perlu apa malam-malam ingin menemui Tabib Dewa?" dua orang prajurit menahan langkah seorang pria berjenggot panjang.
"Tuan prajurit, saya merupakan pesuruh Tabib Dewa. Lihatlah, saya membawa beberapa dedaunan obat," pria berjenggot panjang itu memperlihatkan barang bawaannya.
Dengan penampilan yang begitu urakan, bagaimana bisa para prajurit percaya bahwa pria berjanggut itu merupakan salah satu pelayan Suhita. Bisa jadi itu hanyalah alasan agar dia diperbolehkan masuk. Para prajurit dan seluruh orang, merahasiakan bahwa sesungguhnya Suhita pingsan karena kehabisan tenaga. Alasan mereka cukup masuk akal dengan hanya menyebutkan istirahat.
Mendengar ada ribut-ribut, Tumenggung Sukamulya datang mendekat. Dia menghampiri pria berjanggut yang memaksa untuk masuk. Setiap gerak berada dalam konsentrasi, tidak satu orangpun prajurit yang lengah.
Pria berjanggut yang datang, tidak lain adalah Danur Cakra. Dia yang merupakan seorang buronan tidak mungkin menampakkan wajahnya. Bukan karena takut di tangkap, melainkan dia hanya tidak ingin menambah masalah baru.
"Ah, Aki-aki ..." Prana yang kebetulan melintas bisa mengenali jika orang tua dalam samaran itu adalah Danur Cakra. Meski awalnya dia tidak berniat ikut campur, tapi akhirnya hatinya tergugah untuk membawa Cakra masuk ke dalam. Mana tahu pendekar itu bisa membantu alirkan hawa murni untuk percepat menambah kekuatan fisik Suhita. Jika bukan demi untuk bantu Suhita, mana sudi Prana membantu pendekar congkak itu.
Dengan bantuan Prana, Danur Cakra berhasil masuk ke dalam balai pengobatan tanpa dikenali oleh prajurit. Meskipun tidak ikhlas, Prana menekankan jika dia hanya melakukan demi majikannya.
"Kalian memang tidak berguna. Atau harus menunggu hingga majikan kalian mati? Bukankah bisa hentikan dia sebelum semua jadi terlambat seperti sekarang?" Danur Cakra memaki, setelah mendengar penuturan Prana atas apa yang menimpa Suhita.
__ADS_1
Prana mengepal keras. Pria tidak tahu budi, bukannya berterima kasih malah memaki. Ingin rasanya Prana membalas dengan kalimat yang lebih kasar, tapi di sisi lain dia tidak ingin membuat keributan yang tiada artinya.
Kekuatan tenaga dalam Danur Cakra pun baru kembali separuh. Dia masih dalam masa pengobatan yang intensif. Ramuan herbal juga beberapa sumberdaya yang Suhita berikan padanya banyak menolong, tapi kejadian seperti ini sangat tidak dia harapkan.
"Dengan kondisimu yang seperti ini, kau tidak terlihat sebagai seorang gadis yang cerewet. Tapi kau tahu, betapa hatiku sakit," Danur Cakra menghela napas panjang. Ada sesuatu yang terasa menusuk-nusuk ulu hatinya, melihat wajah adiknya pucat pasi sungguh Danur Cakra merasa pilu.
Danur Cakra segera mengambil posisi duduk bersila, tanpa banyak berpikir dia segera mengalirkan hawa murni pada Suhita. Dalam ilmu yang mereka pelajari, ada yang dinamakan teknik nafas naga. Teknik pengobatan yang menggunakan hawa murni untuk bisa menambah keseimbangan detak jantung. Bahkan pada tahap tertinggi, ilmu tersebut bisa mengembalikan ruh yang hampir keluar dari jasad.
Teknik Napas Naga, termasuk bagian dari inti kemampuan Sepuluh Tapak Penakluk Naga. Tentunya baik itu Suhita maupun Danur Cakra, keduanya telah menguasai kemampuan yang sama. Jenis tenaga dalam mereka pun sama. Jelas, ini tidak sulit. Hanya saja, keduanya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Setelah mendapatkan transfer energi dalam jumlah yang besar, keadaan Suhita berangsur membaik. Wajahnya tidak lagi pucat, bibirnya pun terlihat kembali ranum. Tahap terakhir, Danur Cakra harus menyalurkan kristal naga yang dia bentuk dari napas terdalam. Kumpulan energi yang kemudian membentuk gumpalan menyerupai bulatan berukuran kecil, dari dalam tubuh Danur Cakra yang dihimpun oleh tenaga dalam.
Kristal napas naga telah terbentuk dan melayang di dalam rongga tenggorokan Danur Cakra. Saat Danur Cakra membuka sedikit celah pada mulutnya, maka kristal tersebut akan keluar dengan kecepatan tak tergambarkan. Satu-satunya cara untuk tidak memberikan ruang udara hanyalah dengan menyatukan kedua bibir mereka. Ya, mau tidak mau Danur Cakra harus mencivm Suhita. Bukan masalah karena mereka adalah saudara seayah dan seibu. Tidak ada aturan manapun yang melarangnya. Tapi yang menjadi masalah, Danur Cakra belum pernah melakukan hal semacam itu. Dan tidak ingin.
Danur Cakra terlihat sangat ragu, ada keinginan untuk menghentikan semuanya. Sangat tidak mungkin dia harus mencivm bibir adiknya sendiri. Tapi haruskah dia egois seperti itu? Jika dengan kekuatan kristal napas naga akan membuat Suhita sembuh dengan segera. Sementara di sisi lain Danur Cakra sudah berhutang nyawa pada Suhita. Kala itu, Suhita menolong bahkan tanpa berpikir lagi. Apa boleh buat, semua demi kebaikan. Danur Cakra menambah jumlah tenaga dalam yang mengalir di seluruh pembuluh darahnya. Perlahan kepalanya menunduk, semakin mendekat pada bibir Suhita.
Para pelayan Suhita yang tidak meninggalkan ruangan hanya bisa menelan ludah menyaksikan pertunjukan di depan mata mereka. Untuk pertama kalinya, mereka menyaksikan betapa kuatnya pancaran aura kemampuan Tapak Naga. Wajar saja jika ilmu tersebut tercatat sebagai ilmu yang sukar menemukan tandingan.
Tapi ada hal lain yang membuat dada para pembantu Suhita riuh berdebar. Terutama bagi mereka para pria. Di depan mereka, dengan mata kepala sendiri harus menyaksikan sosok panutannya dikecup oleh seorang pendekar asing. Ada darah meski jelas tiada luka.
Perlahan, cahaya putih menyilaukan yang memancar di tubuh mereka memudar dan lenyap dari pandangan mata. Tiada lagi bayangan naga yang menari, tinggallah dua orang yang saling berpagutan.
Suhita membuka matanya tepat sedetik sebelum Danur Cakra mengangkat kepala. Sehingga membuat Suhita tahu atas apa yang baru terjadi. Seorang pria berjanggut baru saja melvmat bibirnya. Dan ini merupakan kali pertama semenjak Hita tumbuh menjadi seorang gadis.
Kristal napas naga. Teknik rahasia pengobatan Sepuluh Tapak Penakluk Naga. Tidak mungkin ada orang lain yang menguasainya. Pria ini ... ah, dia pasti Danur Cakra yang memakai janggut palsu. Sialan! Untung saja Suhita berada dalam kesadaran penuh, tidak berpikir kotor.
"Tabib Dewa ..." Kencana Sari mendekat dan lekas membantu Suhita untuk duduk.
Suhita tersenyum, dia mengatakan jika dia sudah dalam keadaan baik. Suhita kemudian mengalihkan pandangannya pada Danur Cakra. Perlahan senyum mengembang di sudut bibir Suhita. Melihat Danur Cakra dengan memakai janggut, rasanya sangat lucu. Geli.
"Emmm ... bagus. Kakak terlihat sangat dewasa," tangan Suhita bergerak hendak meraih janggut Danur Cakra.
"Tidak ada ucapan terima kasih?! Kau justru mengejekku. Ckckck! Luar biasa!" Danur Cakra menggeleng dengan tatapan mata miris.
"Oh, iya. Maaf, maaf ... penampilanmu membuat aku terpana sampai lupa ucapkan terima kasih. Tuan pendekar ... terima kasih atas bantuan Anda. Semoga Tuhan membalas kebaikan Anda dengan berkali lipat," Suhita menghaturkan hormat berulang kali.
"Terlambat! Aku sudah melupakannya. Sekarang kita impas. Aku sudah membalas kebaikanmu, jadi aku harap kau tahu diri," jawab Danur Cakra.
Suhita mengangkat sebelah alisnya, menatap wajah Danur Cakra dengan dalam. "Benarkah?! Bukannya kau datang untuk mengambil sesuatu dariku atau sudah merasa sehat dan tidak lagi butuhkan aku?"
Danur Cakra menghela napas, dia kehabisan kata-kata. Kesombongannya seketika luntur. Benar juga, bagaimana dia bisa memperoleh kesembuhan kalau sementara waktu ini tidak menurut pada adiknya meskipun menyebalkan. Sial, ini namanya mati kutu.
__ADS_1
°°°
Angin malam yang membelai lembut, menyampaikan bisik syahdu nyanyian malam. Menebar keindahan pancaran sinar rembulan di pucuk daun. Sayup-sayup alunan dari nyanyian burung malam memecah kesunyian.
Suhita menggigit bibir bawahnya, mengambil posisi duduk di samping Danur Cakra. Sejak tadi, tiada kata yang terucap dari bibir Danur Cakra.
"Kak, kau kenapa? Apa kakak mengetahui sesuatu dan tidak memberitahu Hita?" tanya Suhita memecah kesunyian.
Danur Cakra melirik sekilas pada Suhita, dia hanya mengangkat bahu. Tanpa membuka suara.
"Percuma juga mempelajari Kitab terlarang Langit dan Bumi, tidak bisa diandalkan!" ucap Suhita pelan. Namun kalimat itu justru terdengar bagaikan petir di telinga Danur Cakra.
"Bisa kau ulang perkataanmu? Aku rasa kau belum pernah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan lidah," Danur Cakra melotot.
"Kakak tadi berusaha menggigit lidahku ya?"
"Ah?! Sialan. Kau ini ... heehhmm!" kepala Danur Cakra terasa mau pecah rasanya. Baru kali ini, dia merasakan kehilangan harga diri.
"Maaf, kak. Hita cuma main-main. Baiklah, kalau begitu lupakan saja. Bagaimana kalau kita bicarakan hal lain?" Suhita cengengesan.
Danur Cakra bersungut-sungut, detak jantungnya berdetak berkali lipat. Entahlah, dia marah atau sekadar kesal.
"Kak, bagaimana jika kau panggil saja Genderuwo sahabatmu itu. Aku ingin tanyakan banyak hal padanya," permintaan Suhita barusan semakin membuat kepala Danur Cakra semakin panas.
Danur Cakra mengurut dahi, sebelum kemudian dia mulai bercerita. Tidak perlu mendatangkan Genderuwo ataupun siluman lainnya, Danur Cakra rasa dia sudah cukup hanya dengan penjelasannya.
"Badai debu dan hilangnya anak-anak merupakan perbuatan Siluman Lipan. Sejauh ini anak buahku masih melacak di mana markas Siluman Lipan itu. Akan tetapi penduduk yang keracunan, rasanya dilakukan oleh orang lain."
Dalam waktu satu hari, Genderuwo sudah mendapatkan informasi sejauh ini. Rasanya itu merupakan pencapaian yang luar biasa. Bisa-bisanya Suhita bicara kalau Kitab Langit dan Bumi tidak berguna.
"Syukurlah, paling tidak kita bisa melakukan satu hal baik. Siluman Lipan yang kakak maksud pasti memiliki kemampuan yang besar. Hita hanya mengkhawatirkan Kakak. Tenaga dalam ..."
"Sssttt! Jangan berpikir terlalu jauh. Ada dirimu, apa yang perlu aku takutkan," potong Danur Cakra.
Suhita mengerutkan dahi, meskipun akhirnya tawa kecil mengiringi. Terdengar sedikit janggal pada kalimat yang baru saja Danur Cakra ucapkan. Tapi ya sudahlah, capek juga jika harus bertengkar setiap waktu. Harusnya sebagai kakak adik yang lama terpisah, mereka lalui saat bersama dengan penuh canda tawa. Karena tidak lama lagi juga mereka akan kembali terpisah.
Siluman besar yang disebut Danur Cakra, merupakan seekor Siluman Lipan. Siluman yang gemar memangsa anak laki-laki kecil untuk dijadikan hidangan pembuka. Kegemaran tersebut bukan tanpa alasan. Semakin banyak Siluman Lipan makan anak kecil, maka akan semakin bertambah kemampuan yang dia miliki. Bayangkan saja jika selama dua ribu tahun, dalam satu bulan dia memakan seorang anak laki-laki, maka satu tahun sudah dua belas orang. Tidak terbayangkan bagaimana tingginya tumpukan tulang kecil anak-anak tidak berdosa jika disatukan. Begitu banyak anak-anak tidak berdosa yang telah menjadi korban.
Siluman Lipan selalu berpindah tempat. Setelah mendapatkan mangsa maka dia akan segera mencari lokasi baru dengan modus baru, oleh sebab itu dia sangat sulit untuk dihabisi.
Di Kota Binar Embun, muncul dua kekacauan dalam dua hari berturut-turut. Mempelajari kebiasaan siluman tersebut, Danur Cakra menyimpulkan kalau penyebar racun bukanlah perbuatan Siluman Lipan. Ada orang atau kelompok lain yang sengaja memperkeruh suasana.
__ADS_1