
Permukaan air danau yang semula tenang dan damai, dalam hitungan detik mendadak berubah amat galak. Gelombang kecil yang terhembus angin secepat kilat bangkit membesar, melompat tinggi meninggalkan danau. Dalam sekejap, air yang semula tenang tak beriak sekarang telah menjelma menjadi puluhan anak panah yang bersiap menelan korban.
"Ah?!"
Arya Winangun dan Kencana Sari yang berjalan paling belakang terkejut bukan kepalang. Desus angin yang mendekat secepat kilat membuat mereka tidak mampu berbuat banyak. Hanya kedua mata yang terbelalak, tidak punya cukup waktu untuk bisa menghindar. Sebelum gumpalan air tersebut menyapu tubuh keduanya, hanya tangan mereka terangkat untuk coba menciptakan pertahanan.
Suhita yang telah lebih dahulu menghampiri kereta, sangat tidak menduga jikalau kekuatan spiritual yang ada di permukaan danau akan tetap nekad menyerang mereka. Padahal, sama sekali mereka tidak memancing perkara.
Dengan kecepatan maksimal, Suhita kembali melompat menghampiri danau. Kedua tangannya melepas angin tenaga dalam guna meminimalisir benturan pada kedua pembantunya.
BAAMM !!!
Benturan keras tidak terhindarkan. Tubuh Arya Winangun dan Kencana Sari sampai terjatuh keras di atas kerikil tepi danau. Namun kedua orang tersebut segera bangkit tanpa menghiraukan bekas benturan di tubuh mereka.
"Kalian masih sanggup bertahan?!" Suhita menghampiri keduanya.
"Kami baik-baik saja, terima kasih. Tapi ... pukulan ini memang luar biasa," Arya Winangun sampai mengibaskan kedua tangannya yang terasa kebas akibat benturan.
WUSS! WUUSS! Kembali air danau membentuk jadi anak panah kecil berhamburan menyerang Suhita dan para pembantunya.
Suhita menghela napas panjang, situasi yang sangat tidak dia inginkan. Harus bertarung tanpa tahu akar permasalahan. Sangat tidak masuk akal.
Kedua telapak tangan Suhita memancarkan cahaya perak menyilaukan, menandakan bahwa Tabib Titisan Dewa tersebut mengerahkan kemampuan tenaga dalam Tapak Penakluk Naga miliknya. Ringan bagaikan kapas, tubuh Suhita melayang di udara menyambut serangan anak panah yang berhamburan.
Arya Winangun, Kencana Sari dan Prana pula berusaha untuk melindungi diri mereka dari serangan mendadak tersebut. Hanya sedikit anak panah yang berhasil menjangkau mereka, karena Suhita telah mem-backup sebagai besar.
"Sari! Awasss!" Arya Winangun berteriak seraya coba mengayunkan pedang di tangannya untuk lindungi Kencana Sari.
Di hadapan tiga pembantu Suhita, telah berdiri seorang pendekar dengan pakaian gelap menutupi seluruh tubuhnya. Kecuali mata, hingga tidak bisa dikenali siapa sesungguhnya sosok tersebut.
Tidak banyak ba-bi-bu, musuh nyata yang menjadi lawan Arya Winangun dan dua rekannya. Ketiga pembantu Suhita yang dibekali kemampuan bela diri yang cukup baik, harus berjibaku melawan seorang pendekar misterius yang jelas miliki kemampuan di atas ketiganya.
Serangan demi serangan yang dilakukan ketiga pembantu tersebut seolah hanya menerpa ruang hampa. Sebaliknya, justru mereka yang berada dalam tekanan.
Hanya sedikit lengah, pendekar misterius dengan cepat berhasil menjatuhkan pedang dalam genggaman Kencana Sari. Disusul pukulan berikutnya yang tepat mengenai perut dan bahu, membuat tubuh Kencana Sari jatuh tersungkur dengan darah mengalir di sudut bibirnya.
Arya Winangun terbelalak, dia sadar jika dia tidak akan cukup kuat untuk bisa hadapi pendekar misterius ini, akan tetapi bagaimanapun juga hatinya tidak bisa tinggal diam menyaksikan rekannya dijatuhkan di depan mata.
"Kurang ajar!" dengan geram Arya Winangun mengerahkan kemampuan tenaga dalam untuk coba menyerang pendekar misterius.
BUGH! BUGH! Terdengar seperti suara durian jatuh ketika dua tubuh menyusul Kencana Sari yang tersungkur.
Dada Suhita terasa sesak menyaksikan semuanya. Terlebih, sedikitnya dia mulai bisa menebak siapa pendekar misterius yang tiba-tiba menyerang mereka. Kesal! Jelas saja. Nyawa manusia bukanlah candaan yang lucu.
Suhita mengepal keras, seraya melompat menghampiri. Dalam waktu yang bersamaan, kedua tangannya terjulur mengerahkan tenaga dalam Tapak Penakluk Naga tahap tinggi.
Dua ekor naga berwarna biru menggeliat di udara, dengan tatapan sangar taring tajam dari dua ekor naga tersebut bersiap menelan tubuh pendekar misterius hidup-hidup.
BAAAMMM!!!!!
Getaran dahsyat terjadi, hingga menggetarkan danau. Ringkik kuda penarik kereta turut menyempurnakan suasana. Mencekam.
Waktu masih berjalan, bahkan ketika di medan laga tersebut tanpa pergerakan. Asap tipis berwarna putih perlahan hilang terhembus angin, terlihat jika Suhita telah memberikan pertolongan pertama pada ketiga pembantunya. Setelah menelan masing-masing satu butir pil yang diberikan, kondisi Arya Winangun dan yang lain segera membaik.
__ADS_1
"Ah, di mana penyerang itu?!" Kencana Sari memandang berkeliling. Tidak ada siapa-siapa, orang itu sudah pergi.
"Aku yakin, di depan sana ada perkampungan. Lebih baik kita cari penginapan untuk beristirahat," ucap Suhita.
Wajah Suhita terlihat begitu buruk, gadis itu nampaknya sangat kesal. Meskipun bibirnya berkata tidak, tapi sikapnya tidak bisa berbohong. Memendam kemarahan.
°°°
Benar saja, tidak terlalu lama berjalan, dari kejauhan sudah terlihat perkampungan di depan mereka. Suhita mengarahkan kereta ke sebuah kedai yang juga menyediakan penginapan. Mereka akan beristirahat di sana untuk malam ini.
Setelah memesan dua kamar untuk ditempati, membersihkan diri dan berganti pakaian, Suhita dan ketiga pembantunya menuju kedai yang lokasinya berhadap-hadapan dengan penginapan.
Memasuki kedai, pandangan mata Suhita terlempar ke segenap penjuru, dia nampak mencari-cari keberadaan seseorang. Mengabaikan puluhan pasang mata yang memandang kagum padanya.
"Bro, cewek cantik ..." bisik-bisik pelan terlontar dari mulut para pria yang menelan ludah kala memandang wajah Suhita.
"Silakan Nona, Tuan ..." dengan sangat sopan para pelayan menyambut kedatangan Suhita.
"Terima kasih ..." senyum Suhita tentu saja membuat hati meleleh.
"Hei, pelayan! Cepat layani kami!" suara bentakan terdengar kasar dan tidak bersahabat.
Beberapa orang berperawakan tinggi besar dan seram memasuki kedai. Wajahnya menunjukkan jika mereka merupakan para perampok yang kebetulan melintas.
"Sudah, layani saja mereka lebih dahulu. Lagi pula, kami masih bisa menunggu," tanpa beban Suhita mempersilakan para pelayan untuk meninggalkan meja mereka.
"Aneh, mengapa orang tidak berakhlak begitu banyak berkembang biak di dunia ini!" gerutu Kencana Sari.
Suhita tersenyum seraya menggeleng lemah, "andai semuanya berjalan seperti yang kau inginkan, itu namanya dunia sudah tidak seimbang."
"Bicara apa barusan?!" terdengar suara berat di samping telinga Kencana Sari.
Seorang pria besar telah berdiri di sebelahnya. Bukan karena perkataan Kencana Sari yang terdengar, melainkan tentu karena pesona Suhita. Layaknya sekuntum bunga yang mekar, pastinya akan mengundang banyak kumbang mendekat.
"Tuan, mohon untuk tidak membuat keributan di tempat makan. Jika kalian memiliki kepentingan denganku, kalian bisa temui setelah aku makan," Suhita berbicara dengan tenang.
"Hahaha!!! Manis sekali, manis sekali! Mengapa tidak kita sekalian makan bersama? Dengan senang hati aku akan traktir!" tawa lepas dari sang pria, memperlihatkan gigi-gigi yang tidak terurus.
Segenap mata yang ada di kedai tersebut tentu mengalihkan perhatian pada Suhita dan anggota rampok. Dari sikap yang terlihat, nampak banyak para pendekar yang sedang makan menunjukkan sikap yang respect. Sewaktu-waktu, mereka pasti akan bergerak membantu bilamana keadaan memburuk.
"Silakan Tuan kembali ke meja Tuan. Tujuan kita di sini sama, bukan cari keributan," pinta Suhita dengan sopan.
Namun seperti yang sudah diduga, namanya juga perampok. Tentu saja akan selalu memaksakan kehendak. Bukan seorang itu saja, melainkan teman-temannya justru mendekat. Jelas mereka bukan bertujuan makan, melainkan cari gara-gara.
"Apa yang kalian inginkan? Tolong jangan cari masalah!" Arya Winangun bangkit dari kursi kemudian menatap satu persatu wajah para perampok.
"Fuuiiihhh! Besar sekali mulutmu. Apa ingin mencicipi celurit milikku ini?" seraya meludah, seorang perampok memamerkan senjata miliknya.
"Owh, ternyata kalian adalah gerombolan Rampok Celurit Baja. Berani sekali muncul di siang hari," terdengar suara dari arah lain.
Gelak tawa yang pecah terlontar dari mulut para perampok. Melihat dari pakaian yang dikenakan, tidak lain orang yang baru saja bicara ialah salah satu anggota keamanan di daerah tersebut.
"Mari kita selesaikan semuanya di luar!" tantang pasukan keamanan.
__ADS_1
Suhita cuma bisa menghela napas panjang kala menyaksikan langkah kaki para pendekar menuju halaman. Hilang selera makannya. Lagi dan lagi harus menyaksikan orang-orang mempertaruhkan nyawa yang hanya selembar.
"Hita, kita harus membantu para pendekar itu. Rampok-rampok busuk meresahkan ini harus dilenyapkan!" ucap Arya Winangun yang pula di iya-kan oleh Prana dan Kencana Sari.
Tak ubahnya yang lain, Suhita diikuti para pembantunya melangkah menuju tepi halaman. Menyaksikan pertarungan dari jarak dekat.
Pertarungan telah dimulai. Mereka, para pengunjung kedai, penghuni penginapan, bahkan para penduduk yang melintas, menyempatkan diri untuk ikut menyaksikan pertarungan. Sudah seperti sabung ayam saja. Bersorak-sorai menyemangati para pendekar, untuk menumpas kelompok rampok yang terkenal sangat kejam tersebut.
Suhita bisa membaca tingkat kemampuan para rampok yang cukup tinggi. Hanya saja, dia sedikit terheran-heran kala mengikuti jalannya pertarungan. Sangat tidak masuk akal bila para penjaga keamanan tersebut bisa menang. Tapi nyatanya ... hal yang tidak mungkin itu benar-benar terwujud.
Seorang rampok dengan kemampuan terbesar melompat tinggi di udara, tangannya telah terangkat untuk mengayunkan celurit yang tergenggam. Bersiap menebas leher lawan. Akan tetapi ... serangan tersebut seolah terhenti. Ada serangan lain yang menghalangi.
Suhita menelan ludah, tersenyum kecut. Sudah cukup lama dia dibodohi. Lengan kanan si perampok baik-baik saja, kemampuannya normal. Hanya saja, gerakannya tidak secepat rencana dikarenakan adanya serangan dari jarum kasat mata yang menancap di urat nadinya, yang kemudian memberi ruang pada penjaga keamanan bisa balas lakukan serangan. Bisa dikatakan curang, tapi mungkin ini jauh lebih baik karena dengan demikian dapat menekan jumlah korban yang jatuh.
Suasana gegap-gembita menyambut keberhasilan para penjaga keamanan meringkus para anggota Rampok Celurit Baja yang sangat kejam. Rampok yang tidak berdaya kemudian digelandang ke pengadilan untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.
Para pengunjung kedai, kembali ke tempat mereka masing-masing. Tidak terkecuali juga Suhita yang diikuti tiga pembantunya. Berencana melanjutkan makan yang sempat tertunda.
Bukan main, betapa terkejutnya Suhita ketika tiba di meja yang semula mereka pesan. Di sana, telah duduk seorang pemuda yang nampak asik menyantap hidangan di atas meja. Pemuda tersebut terlihat tidak begitu peduli pada hiruk pikuk pertarungan yang terjadi di luar kedai.
Suhita menoleh ke arah halaman, di mana tadi yang menjadi tempat berkelahi. Melihat tata letak meja dan posisi duduk si pemuda, Suhita menyimpulkan jika pemuda ini adalah orang yang ikut andil membantu para penjaga keamanan. Ya, orang ini yang melemparkan jarum kasat mata dan membuat para anggota rampok terlihat tidak berdaya.
"Hita, siapa dia? Mengapa mengambil meja kita?" bisik Kencana Sari. Sementara, sudah tidak lagi ada meja yang kosong di kedai itu.
"Aku yakin, dia adalah orang yang ikut membantu menyerang para perampok dari sini," jawab Suhita juga dengan berbisik.
Pemuda tersebut duduk membelakangi, hingga wajahnya sama sekali tidak terlihat. Tapi ... tunggu dulu. Rasanya Suhita sudah tidak asing lagi dengan orang ini.
"Ada apa Hita?" tanya Kencana Sari lagi.
Suhita tersenyum lebar. Dia meminta para pembantunya untuk tetap diam, sementara Suhita melangkah mendekati pemuda itu secara perlahan-lahan.
Arya Winangun menyenggol siku Kencana Sari. Kedua alisnya terangkat, sebagai kode pengganti pertanyaan mengapa tiba-tiba perilaku Suhita jadi aneh. Kencana Sari mengangkat bahu, sama sekali tidak tahu jawabannya apa. Ketiga pembantu Suhita hanya bisa memendam pertanyaan di dalam hati, mata mereka lekat memandang, mengawasi Tabib Titisan Dewa majikan mereka dari belakang.
Biasanya, Tabib Hita tidak pernah tertarik pada urusan orang. Apalagi mengurusi pria yang tidak jelas. Bahkan, para pangeran tampan juga putra saudagar kaya yang cuma menggoda pun harus gigit jari. Tabib Titisan Dewa hanya menganggap semua pria itu sama. Bisa menjadi teman, tidak ada yang spesial.
Suhita sudah tiba di belakang pemuda yang sedang makan. Sejenak Suhita diam, seolah memastikan jika perkiraannya tidak salah. Tidak lama kemudian, tangan kanan Suhita terangkat lalu menepuk pundak pemuda di depannya.
Tidak ada respon apa pun, pemuda itu seolah tidak merasakan apa-apa, dia masih asik mengunyah. Membuat Suhita semakin yakin kalau dia tidak salah. Dengan cepat, Suhita menjewer telinga pemuda tersebut. Memaksa untuk dia berbalik dan memperlihatkan wajah.
"Eee ..." suaranya keluar, menahan sakit akibat dijewer oleh Suhita.
"Cepat balik badan, atau telingamu akan hilang," ucap Suhita tanpa melepaskan tangannya dari telinga si pemuda.
Arya Winangun, Kencana Sari dan Prana terbelalak lebar. Mereka saling pandang, tapi tidak tahu harus apa. Aneh saja, melihat perilaku Suhita yang mendadak jadi nyeleneh. Padahal, ini adalah tempat umum. Begitu banyak orang di dalam kedai yang juga tidak sedikit dari mereka sejak tadi terus memperhatikan Suhita, bahkan sejak pertama Suhita memasuki kedai, menarik perhatian.
"Ah! Kakak !!!" pekik Suhita histeris tepat ketika pemuda yang dia jewer berbalik badan dan menunjukkan wajahnya.
Kedua pipi Suhita memerah, kegembiraan yang teramat sangat terpancar di wajah Tabib cantik itu. Tanpa sungkan Suhita merangkul pemuda dihadapannya. Dipeluknya dengan sangat erat.
Gleekk! Jakun para pria yang melihat adegan tersebut serentak bergerak naik-turun. Kerongkongan mereka mendadak jadi kering.
Lalu, siapa gerangan pemuda itu? Parasnya memang sangat tampan, sepadan dengan wajah Tabib Hita yang pula manis. Namun bukan berarti jadi alasan untuk Suhita peluk-peluk di tempat umum.
__ADS_1
"Kakak dari mana?! Mengapa-mengapa ada di tempat ini?!" tanya Suhita masih dalam balutan kebahagiaan.
Tentu saja, pemuda tampan itu memiliki tempat khusus di dalam hati Suhita. Bahkan sangat spesial, tidak ada duanya. Karena dia adalah saudara kembarnya. Danur Cakra Prabaska.