
"Hita, apa lagi yang kita cari?" Kencana Sari terlihat mulai bingung, terhitung setelah hujan kabut reda Suhita hanya berjalan kesana-kemari tanpa tujuan yang jelas.
"Kakek tua tadi. Bahkan kita kehilangan kolam dan sungai kecilnya. Kau tahu kenapa? Karena Gingseng Seribu Nyawa merupakan tanaman langka yang aku saja baru bertemu," ucap Suhita membuat Kencana Sari semakin bingung.
Suhita terus berjalan menyusuri tepi jurang, dari kejauhan mereka bisa melihat adanya celah gua, dan kesanalah tujuan mereka.
Gingseng Seribu Nyawa?! Sumberdaya semacam apa itu? Kencana Sari hanya bertanya dalam hati. Dia tidak berani banyak mulut, lagi pula tidak ada gunanya meskipun Suhita capek-capek menjelaskan. Yang terpenting ialah Sari harus tetap mengikuti Suhita, apa pun yang bakal terjadi.
"Hup! Hati-hati Sari!" Suhita berteriak seraya melompat ke dinding tebing. Batu yang dia injak tergelincir dan jatuh ke jurang, beruntung Suhita bergerak cepat.
"Hita, bagaimana keadaanmu?" tanya Kencana Sari.
"Aku baik-baik saja! Kau lebih waspada!" Suhita mengingatkan dengan setengah berteriak.
Kencana Sari meningkatkan level kewaspadaannya, seperti yang Suhita katakan dia menambah tenaga dalam hingga tahap tinggi. Dengan demikian, akan mampu meminimalisir resiko yang buruk.
Tidak seperti kebanyakan orang yang kerap meminta anak buah untuk memeriksa keadaan sekitar. Justru Suhita berjalan lebih depan supaya bisa memastikan pelayannya tidak beresiko terkena serangan mendadak.
Wuuss! Wuuss! tiga buah tombak berukuran besar meluncur deras ke arah dua orang gadis yang sedang kesulitan berjalan di tepi jurang.
Suhita mengibaskan tangannya, mengerahkan tenaga dalam Tapak Naga untuk menciptakan dua bayangan naga agar menghalau tombak-tombak tersebut. Jika tidak begitu, takutnya salah satu dari mereka bisa terpeleset dan jatuh ke dalam jurang bebatuan yang amat dalam.
"Huuhhh ... huuuhhh ..." akhirnya dengan susah payah mereka berhasil melewati jalanan licin di tepi jurang. Sangat mendebarkan, senam jantung di ujung maut.
"Hita, apa kau yakin kalau Kakek tua itu berdiam di gua ini?" Kencana Sari celingukan mencari-cari tanda di sekitar mulut gua.
"Entahlah ... tapi sepertinya di dalam gua ini ada mata air," jawab Suhita.
"Apa hubungannya?" Kencana Sari mengerutkan dahi.
"Kakek tua yang kita lihat, dia hanya perwujudan semata. Kau tahu, tidak semua yang kita lihat adalah nyata. Celakalah kita bila mudah teperdaya," jawab Suhita.
Kencana Sari mengerti sekarang. Kalau begitu, artinya hujan kabut juga segala jenis halang rintang yang mendadak datang pun hanyalah tipuan mata belaka? Lalu bagaimana jika nekat?
"Jika tadi salah satu dari kita terjatuh ke dalam jurang, atau ada tombak yang tidak terhindari, maka tentu saja bukan ilusi. Kita hanya pemeran, bukan penulis skenario. Jadi tetap berhati-hati, melindungi diri adalah harga mati," ujar Suhita.
Baru saja beberapa langkah mereka memasuki gua, tombak-tombak tajam bermunculan dari dinding gua, seolah berlomba untuk melukai salah seorang tamu yang berkulit mulus-mulus.
Dengan kemampuan ilmu meringankan tubuh yang sempurna, tidak satupun tombak berhasil menyentuh apalagi sampai melukai. Seluruhnya bisa dihindari. Namun demikian bukan berarti rintangan telah usai, boleh saja mereka lega karena bisa menghindar. Tepat ketika kedua kaki menyentuh lantai gua ...
BRAAAKKKK !!! Lantai gua retak dan langsung ambruk. Tanpa sempat melakukan apa-apa, tubuh Suhita dan Kencana Sari ikut tersedot gravitasi, jatuh bersama bongkahan tanah.
"Aaaaa ....." Kencana Sari menjerit saking kagetnya. Dia berusaha menyambar lengan Suhita, tapi gagal.
Bruuuk! Bruuuk!!! Suara gemuruh benda-benda yang terjatuh, sebelum kemudian sepi senyap setelah tiada lagi yang menyusul.
"Aduuuhhh ..." Suhita menyingkap tanah yang menimbun kakinya. Beruntung hanya tanah biasa, tidak ada batu yang mengenai tubuhnya, hingga rasa sakit pun sebatas kewajaran.
__ADS_1
Ruangan itu sangat gelap gulita. Mereka terjatuh begitu dalam hingga ujung lubang tidak lagi mampu memberikan cahaya. Mustahil untuk bisa dipanjat.
"Hitaaa !!! Tabiiibbb !!!" terdengar suara Kencana Sari berteriak.
"Sari! Aku di sini, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" Suhita menyahut.
"Hita, gelap sekali di sini. Apa kau bisa melihatku?"
Tentu saja sama. Karena mereka berada di satu ruangan. Suara yang menggema karena pantulan dari dinding gua, yang membuat jadi terasa jauh.
Suhita mengalirkan kekuatan tenaga dalam pada telapak tangannya, kristal berwarna putih muncul dan memberikan penerangan. Gelap gulita yang semula memutus nikmat, sekarang telah terkalahkan oleh cahaya terang yang dipantulkan oleh benda-benda di dalam ruangan gua.
Suhita melepas bola kristal bercahaya tersebut, mengapung di udara dan menjadi pengganti rembulan. Tidak sedikit pun tersembunyi ruangan yang rahasia, semuanya nampak, terlihat dengan jelas.
"Hita, lihat di sana! Aku yakin ini adalah jalan menuju ruang rahasia," ucap Sari.
Suhita mengangguk, keduanya melangkah menyusuri gua. Dengan konsentrasi penuh, Suhita menebar pandangan ke sana ke mari, takutnya ada jebakan yang terpasang di sepanjang jalan.
Apa itu? Dinding kristal?! Di depan, terlihat adanya bongkahan es yang menutup pintu gua. Suhita menyentuh dinding tersebut, coba mempelajari. Hingga kemudian dia melangkah mundur, memusatkan konsentrasi lalu mengalirkan kekuatan pada kepalan tangannya. Suhita melompat tinggi, gerakan selanjutnya dia menghantam dinding kristal dengan tinjunya.
Praakkk!!! Dinding kristal tersebut pecah berhamburan, berubah menjadi butiran kecil batu es yang segera mencair.
Bukan main! Sekarang di hadapan mereka tersuguhkan pemandangan yang begitu apik. Bagaimana tidak, keduanya disambut oleh kilau cahaya yang memancar sinar kekuningan dari tumpukan gunung emas. Dan tepat di puncak gunung emas itu, ada satu cahaya lain yang mengkilap berwarna putih bersih. Mutiara Hati.
Sumberdaya yang diperebutkan oleh para pendekar itu muncul di depan mata. Bagaimana tidak diperebutkan, bila dengan menelan satu mutiara hati maka akan mampu meningkatkan kemampuan hingga tahap tinggi. Meskipun resikonya cukup berat, yakni gila. Jika kemampuan tubuh tidak bisa menetralisir efek sampingnya maka kekuatan besar Mutiara Hati akan merusak sistem kerja otak.
Suhita menatap pada Kencana Sari, memastikan jika Kencana Sari melihat hal yang serupa. Dan tentu saja dalam ruangan itu sudah tidak lagi ada tipuan mata ataupun kemampuan lain yang sejenis.
Ketika keduanya saling terpana, dari arah lorong lain terdengar suara gemuruh. Terjadi pertarungan di sana dan pastinya para pendekar mulai berdatangan.
"Tabib, cepat lakukan sesuatu. Aku akan coba kelabui mereka," ucap Kencana Sari. Tanpa menunggu persetujuan, Kencana Sari sudah melompat untuk sementara waktu coba menahan lawan jangan sampai menemukan Suhita.
Tanpa banyak pertimbangan, Suhita segera melompat menerobos cahaya pelindung yang melingkari Mutiara Hati. Kekuatan Suhita sudah cukup untuk kalahkan cahaya pelindung dan detik selanjutnya Mutiara Hati sudah berada dalam genggaman tangan Suhita.
Ting! Mutiara tersebut menghilang dari pandangan mata. Suhita langsung menyimpannya ke dalam cincin mustika miliknya. Hingga tidak lagi adanya resiko yang bakal datang.
Bruugghhh! Bruugghhh !!! Guncangan besar terjadi ketika Mutiara Hati tidak lagi di tempatnya. Tanah mulai berguguran, pertanda gua tersebut akan ambruk.
Suhita segera mencari Kencana Sari, lalu keduanya lari tunggang langgang menuju jalan keluar. Tidak semua orang yang ada langsung berlari, ada juga dari mereka yang berusaha untuk membawa serta beberapa batang emas sebelum lari ke luar. Ya, tidak jarang keserakahan justru membawa mereka dalam kematian.
Suhita dan Kencana Sari telah berlari sangat jauh, tapi karena mereka tidak tahu seluk beluk gua, tentu saja mereka belum mencapai tempat yang aman. Sementara dinding gua semakin parah berguguran, bersiap mengubur siapa pun yang berada di dalamnya.
"Wah, ini jalan buntu. Sari, kita cari jalan yang lain. Ayo!" Suhita berbalik arah, menuju jalur gua yang lain.
Kencana Sari sudah pasrah. Tidak lagi memikirkan apa yang bakal menimpa dirinya. Andaipun harus terkubur di dalam gua, maka berada di dekat Suhita dan celaka bersama merupakan suatu kebanggaan baginya. Mana tahu, Suhita akan terus bersamanya hingga nanti bertemu raja akhirat.
"Bocah ingusan! Lewat sini!" Kakek tua yang Suhita cari tiba-tiba muncul ketika keadaan sedang genting.
__ADS_1
"Ayo!" Suhita menarik Kemuning untuk segera mengikuti arah Kakek tua.
Meskipun jalur yang diambil seperti tidak masuk akal, tapi dengan penuh keyakinan Suhita terus berusaha menyusul Kakek tua. Gingseng Seribu Nyawa tidak mungkin salah, bahkan tidak akan ada siapa pun yang melebihi paham seluk beluk tanah di bukit berbatu dibandingkan dirinya.
Byuuurrr !!! Tubuh Suhita dan Kencana Sari terperosok lalu terjatuh ke dalam air yang sangat dingin.
Mereka berusaha berenang menepi, meskipun dinginnya air seolah membekukan hingga tulang sumsum.
Suhita berhasil meraih sebuah ranting pohon yang condong ke atas danau. Meski tanpa tenaga yang penuh, Suhita terus menggenggam pergelangan tangan Kencana Sari, membawanya naik dan memegang ranting yang sama.
"Ahahaha! Hahahah!!! Akhirnya aku dapat tangkapan! Hahaha !!!!" tawa terkekeh penuh kegembiraan terdengar begitu renyah.
Baik Suhita maupun Kencana Sari terkejut bukan main, tidak dikira ternyata sosok yang tertawa-tawa tidak lain adalah Kakek tua yang sedang memancing. Dia terlihat sangat gembira dan puas menggenggam mata kail dengan erat. Betapa tidak, gagang pancing yang selama ini dia tunggu kali ini mendapatkan tangkapan bagus. Karena Suhita dan Kencana Sari berpegang di sana. Mereka berharap akan belas kasihan si kakek tua.
Penantian Kakek tua yang teramat panjang akhirnya membuahkan hasil. Dia mendapatkan tangkapan bagus meskipun bukan ikan. Tidak sia-sia memancing dengan joran yang terbalik. Buktinya jika dilakukan dengan penuh keyakinan pada akhirnya membuahkan hasil.
Suhita basah kuyup, dia naik ke darat seperti anak kucing yang baru dimandikan. Dengan tubuh menggigil, Suhita melihat beberapa bagian bukit batu yang longsor. Tanpa banyak yang tahu, jika di dalam longsor itu tertimbun begitu banyak emas batangan.
Setelah Hita tiba di darat dengan selamat, tidak lagi terlihat keberadaan Kakek tua yang menarik mereka dari dalam air. Di tempat Kakek tua tadi duduk mencangkung, justru berganti dengan dedaunan hijau, yang tumbuh dengan subur. Dari bentuknya, tanpa perlu diduga itu adalah tanaman yang sejak tadi Suhita cari. Batang Gingseng. Selain akarnya juga daun gingseng itu bisa digunakan untuk obat.
Selintas dilihat, tiada beda dan tidak nampak jika gingseng itu adalah Gingseng Seribu Nyawa yang sangat langka. Hanya saja, kemunculannya yang secara tiba-tiba dan sangat misterius membuat aura magis begitu kental di sekitar lokasi.
"Hita ... apa itu Gingseng Seribu Nyawa yang kau maksud?!" Kencana Sari mengerutkan dahi, menilik dengan seksama ciri-ciri tumbuhan di depannya.
"Aku tidak bisa menjelaskan secara gamblang. Akan tetapi, instingku mengatakan demikian. Dan mengapa dia menjelma sebagai sosok kakek tua, juga aku tidak tahu. Yang jelas, itu hanyalah gambaran dari kehebatan Gingseng Seribu Nyawa. Dan kita beruntung karena berjodoh dengannya. Ayo Sari, setelah memanen kita harus segera pergi dari sini!" ucap Suhita.
Dengan waktu singkat, mereka telah selesai memanen Gingseng Seribu Nyawa. Tidak menunggu lama, Suhita langsung meninggalkan bukit berbatu dan kembali ke desa di kaki bukit.
Meskipun Suhita dan Kencana Sari pergi dengan terburu-buru, bukan berarti membuat mereka terhindar dari mata para pendekar. Ketika tiba di lereng bukit, sekelompok pendekar telah menghadang jalan.
Tidak ada yang Suhita bawa, begitu juga dengan Kencana Sari. Keduanya hanya turun dengan tangan hampa. Meskipun demikian, tentu para pendekar tidak serta merta percaya dan melepaskan Suhita.
"Pakaian yang kalian kenakan, menunjukkan jika kalian bukan berasal dari desa batu. Kalian hanyalah pendekar yang menyamar!" seorang pendekar meneliti Suhita dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Tentu saja Kencana Sari sangat risih, dia bisa melihat tatapan penuh nafsu tertuju pada tubuh molek mereka. Namun Suhita melarang saat Kencana Sari hendak melakukan perlawanan.
"Tuan-tuan pendekar, kami hanya kebetulan melintas. Kami memang bukan orang desa batu, akan tetapi kami sedang membangun rumah persinggahan di sana. Jika tidak percaya, kalian bisa ikut kami," dengan senyum, Suhita bersikap sopan tanpa coba untuk menyinggung.
"Aahhh, banyak bacot! Aku tidak percaya. Kalian pasti menyembunyikan sumberdaya berharga di balik pakaian kalian. Aku bisa merasakan adanya aura yang kuat, apa kalian kira kami hanyalah kumpulan anak kecil?!" bentak seorang pendekar.
"Haruskah kami menanggalkan seluruh pakaian untuk membuat kalian percaya jika kami tidak menyembunyikan apa pun di baliknya?" Suhita mengangkat sebelah alisnya. Secara menjurus, ucapan pendekar itu memang bermaksud demikian.
Suhita tersenyum getir, ketika mendapatkan sambutan hangat atas pertanyaan yang ia lontarkan. Wajah-wajah kumpulan pria di hadapan mereka, sudah seperti kelompok anak anjing yang menggoyangkan ekor ketika melihat daging segar.
Sekarang, apa yang bisa dilakukan? Ketika perdamaian hanya sebatas di ujung lidah, bicara baik-baik hanyalah membuang-buang waktu. Tidak ada hal lain yang akan menjadi solusi selain tawaran untuk menyerahkan diri. Sebelumnya mungkin tidak ada niat, akan tetapi saat kesempatan muncul membuat para pendekar itu berubah pikiran. Bisikan setan membuat pangkal paha terasa hangat.
Dua orang gadis muda nan cantik berada di tengah hutan, dikelilingi sekumpulan serigala lapar akan kehangatan. Jika bisa melarikan diri, hanyalah orang yang beruntung.
__ADS_1