Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Penjaga Pintu Gua


__ADS_3

"Ayah, apakah aku tertidur?!" Suhita tersentak bangun dan merasakan jika tubuhnya telah diselimuti oleh kain tebal. Sementara kepalanya terbaring dengan paha ayahnya sebagai bantal.


Mahesa tidak menjawab, dia hanya membalas dengan senyuman. Memandangi wajah putrinya yang polos dan cerah bak kertas putih yang baru dibuka.


"Apa rencana kita selanjutnya, Yah?" tanya Suhita lagi.


"Malam ini, kita akan mulai untuk menyisir ke dalam hutan. Ayah ingat jika terdapat sebuah gua yang angker. Pertama, kita datangi tempat itu. Kau tidak takut 'kan?"


"Takut?! Ada ayah di sisiku. Alasan apa yang harus aku risaukan?" Suhita mengepalkan tangan kanannya di depan dada, menunjukkan kebulatan tekadnya.


"Baiklah, tapi sebaiknya kau pusatkan energi tenaga dalammu untuk sekadar berjaga-jaga," Mahesa menunjukkan cara yang paling tepat untuk buat diri siap siaga dalam segala kondisi.


Mudah bagi Suhita melakukannya, dia telah mengikuti apa yang ayahnya pinta. Kuda kembali melangkah. Kali ini hanya Suhita yang menunggang, sementara ayahnya berjalan menuntun kuda tersebut memasuki hutan.


"Ayah, apa benar begitu banyak derap kaki kuda dari dalam hutan?!" Suhita kembali memusatkan perhatiannya.


"Iya, kau benar. Mungkin mereka orang-orang yang kemalaman, tidak berhasil melewati hutan sebelum gelap. Atau juga mereka adalah para perampok yang bersiap melakukan aksi kejahatan," jawab Mahesa ringan, seolah tanpa beban dari ucapannya.


Suhita termenung, dia tahu jika ayahnya telah mengetahui hal yang sebenarnya. Namun sengaja membuat Suhita untuk berpikir dan belajar. Inginkan kemampuan yang kuat, memang harus ditebus dengan harga yang sangat mahal. Salah satunya ialah dengan latihan keras yang melibatkan pemikiran dan hati. Insting pendekar dibina dari segenap panca indera yang bekerja bersama di bawah kendali pikiran.


Tidak butuh waktu yang lama, suara derap kaki kuda itu semakin terdengar mendekat. Hanya saja, mereka berada di jalan yang berbeda. Posisi Suhita dan Mahesa lebih tinggi, hingga mereka bisa melihat kelompok orang yang melintas di bagian bawah sana. Dari pakaian yang dikenakan, sepertinya mereka bukanlah orang yang kemalaman. Melainkan merupakan penunggu hutan yang siang tadi diungkapkan oleh seorang pendekar yang bertemu dengan Suhita di kedai.

__ADS_1


"Ayah, mereka orang-orang jahat 'kan? Mengapa ayah membiarkan mereka lewat dan merencanakan kejahatan?!"


"Dari mana kau tahu mereka orang jahat? Karena lambang tengkorak di jubah yang mereka pakai, atau karena mereka berkuda kenang di malam hari?" Mahesa balik bertanya.


Suhita tidak bisa menjawabnya, karena semua yang dia katakan hanyalah dugaan semata. Selama orang-orang itu tidak menyerang dan melukai orang lain, maka belum tentu mereka adalah penjahat. Bisa jadi, hanya kelompok atau organisasi biasa.


"Gua itu tidak jauh lagi. Baiknya kau lebih waspada," pesan Mahesa.


Mereka menambatkan kuda pada akar kayu dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Lebih aman jika demikian, ditambah kedatangan mereka semakin samar dan tidak terdengar.


Suhita terus berkonsentrasi, dia berusaha melakukan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Suhita melihat jika langkah kaki ayahnya sama sekali tidak terdengar. Sangat halus dan tidak terdeteksi. Sementara, dia yang memiliki tubuh jauh lebih kecil justru begitu berisik saat berjalan. Bahkan menginjak daun pun suara yang timbul terdengar begitu keras.


"HRRR !!! Berani sekali kalian kotori tempatku dengan tubuh penuh dosa itu!" terdengar suara yang mengaum, hingga menggetarkan hati.


Suhita meningkatkan kekuatan tenaga dalamnya, berusaha untuk menekan aura pekat yang menyerang dirinya. Rasanya selama bersama dengan Nyi Gondo Arum, Hita belum pernah menemui aura yang begitu menakutkan seperti sekarang. Suhita beruntung, dia bersama dengan Mahesa. Hingga ketika Mahesa balas mengerahkan tenaga dalam, saat itu juga seluruh aura yang tadi muncul lenyap seketika. Berganti dengan aura biru tapak naga yang dominan.


Perlahan, muncul sesosok hitam tinggi besar dengan taring tajam menyembul dari balik bibirnya. Ya, penampilan mahluk itu jauh lebih menyeramkan dari genderuwo anak buah Danur Cakra Prabaskara.


"Maafkan kami yang mengganggu istirahatmu. Akan tetapi, kami datang tentunya dengan keperluan yang mendesak. Bisa kau beri kami jalan untuk bertemu dengan pimpinanmu?" tanya Mahesa pelan.


"HRRR !!! HAAHAAHAA! Dengan persembahan seorang anak kecil saja, kau berani bernegosiasi denganku. Bagaimana jika aku tidak setuju?! Tambah dua anak lagi, maka akan ku pertimbangkan!"

__ADS_1


Mahesa tersenyum kecut. Pada telapak tangannya muncul cahaya putih terang berkilau, "dengar, aku tidak sedang bernegosiasi. Jika hendak berpikir, baiknya jangan lama-lama. Karena aku terbiasa melakukan paksaan."


Tanpa diketahui kapan pastinya, tiba-tiba tubuh Mahesa telah berdiri begitu dekat dengan tubuh mahluk tinggi besar itu. Dengan tangan yang terjulur, telapak tangannya telah menempel di perut sang mahluk. Memberikan satu dorongan keras, merobohkan mahluk tersebut hingga menghantam bebatuan.


"HRRR !!!" auman penuh amarah keluar dari mulut mahluk hitam itu. Punggungnya yang menghantam bebatuan hingga hancur, pastinya terasa sakit luar biasa. Belum lagi tambahan pukulan Cakar Elang yang Mahesa hadiahkan, menjadikan isi perut mahluk hitam itu seperti diaduk.


"Buka pintu, atau aku yang akan mendobrak dengan paksa!" ancam Mahesa. Tekanan tenaga dalam yang Mahesa sertakan dalam kalimatnya, membuat bulu kuduk Suhita ikut berdiri. Mahesa yang amat tampan, terasa sangat menakutkan.


"Siapa kau?! Ada urusan apa mencari pimpinan kami?!" Mahluk menyeramkan hitam dan tinggi besar kembali berdiri.


"Apa sudah biasa, seorang murid selalu ingin tahu urusan gurunya? Sampaikan. Aku Bayu Samudera dari Organisasi Naga Emas," Mahesa mengangkat lencana pengenal organisasi tepat di depan wajah mahluk menyeramkan itu.


Ekspresi wajah mahluk hitam itu langsung berubah. Wajahnya tidak lagi terlihat garang, berganti dengan ekspresi ketakutan yang amat tinggi. Namun sebelum mahluk itu melakukan sesuatu, muncul beberapa mahluk lain yang tidak kalah menyeramkannya. Mereka semua adalah penjaga pintu masuk ke dalam gua angker hutan jati. Gua siluman yang tidak semua orang mengetahui keberadaannya.


"Oh, kalian lebih suka kontak fisik. Baiklah, pastinya ini sangat menyenangkan!" Mahesa kembali mengayunkan tangannya.


Tubuh Mahesa bergerak dengan sangat cepat. Lenyap dari pandangan dan ketika muncul telah kembali menghantam tubuh mahluk hitam pertama, yang tadi baru saja terjungkal. Untuk kedua kalinya, mahluk itu terhempas. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya.


"GGGRRRR !!!  Tangkap penyusup itu!" teriak tiga mahluk yang baru datang.


Suhita masih berdiri di tempat semula. Dia menonton aksi ayahnya dalam menghadiahi satu per satu pukulan pada setiap penjaga pintu gua.

__ADS_1


__ADS_2