
Breett! Breett! Dengan kasar, Suhita merobek-robek kertas di tangannya. Sejak sore, dia tidak ingin ditemui oleh siapa pun. Raka Jaya bisa mengerti, tanpa diminta sekalipun dia menyiagakan lebih dari seratus orang prajurit pilihan di sekitar penginapan tempat Suhita bermalam.
"Hhhmmmhh !!! Haaaaaahhhh !!!" Suhita membanting sobekan kertas di tangannya, menjerit, meluapkan segala kekesalan dalam hatinya.
Sketsa wajah yang dia robek merupakan gambar wajah saudara kembarnya, mana mungkin hati Suhita bisa tenang sebelum mendengar penjelasan langsung dari mulut Danur Cakra. Bisa-bisanya dia bergabung bersama kelompok pemberontak. Apa yang ada di dalam pikiran Danur Cakra sebenarnya?! Suhita tidak habis pikir. Di lain sisi, bukankah Danur Cakra tahu kalau Raka Jaya adalah seorang Jenderal di kerajaan? Apa yang terjadi jika dua saudara tersebut bertemu? Tidak bisa Suhita membayangkan semuanya. Kepalanya terasa meledak. Semoga saja, berita tidak menyenangkan itu tidak sampai di telinga Ayah, Ibu serta Kakek - Nenek. Suhita tidak ingin keadaan semakin buruk.
Tok! Tok! Tok! Terdengar suara ketukan pada daun pintu. Seketika Suhita berusaha untuk menekan segenap perasaan yang bergejolak di dalam dadanya. Setelah hatinya sedikit tenang, Suhita berjalan menghampiri pintu.
"Ah, tabib. Maaf ..." Kencana Sari membungkuk hormat. Dia membawa sebungkus makanan.
"Ah, Sari. Ada apa?" tanya Suhita.
"Aku tahu, begitu banyak pikiran yang mengganjal dalam hatimu, tapi kau harus tahu bahwa makanan ini sangat enak. Pas sekali untuk dinikmati malam-malam begini, mumpung masih hangat," Kencana Sari tersenyum, memamerkan makanan yang dia bawa.
"Apa hubungannya? Dasar sinting!" Suhita menutup pintu, mengikuti pelayannya masuk ke dalam ruangan.
"Bagaimana, enak tidak?" Kencana Sari meminta tanggapan Suhita mengenai makanan yang ia bawa.
Suhita mengangguk seraya tersenyum tipis. Makanan itu merupakan makanan mahal, sudah barang tentu rasa dan kualitasnya terjamin. Paling tidak, Kencana Sari membeli di restoran ternama.
"Sebenarnya, ini adalah kiriman dari Jenderal Muda. Tapi beliau menitipkan padaku, mau menemuimu takut mengganggu katanya ..." sambil cengar-cengir Kencana Sari menjelaskan.
Pantas saja makanan mewah, kiranya Raka Jaya yang membeli. Tapi mengapa dia tidak menemui? Takut mengganggu rasa-rasanya bukanlah alasan yang tepat. Harusnya dia datang dannmencoba untuk menemani dan menghibur saudaranya yang sedih. Atau mungkin Raka Jaya memiliki kesibukan yang tidak bisa ditinggal. Ah, itu pasti. Dia 'kan seorang Jenderal.
"Ada apa lagi? Mengapa malah diam, sedih atau kecewa tidak bisa bertemu dengan Jenderal Muda?" ledek Kencana Sari.
Suhita mengerutkan dahi, bergidik jijik memandang wajah pelayannya.
"Tugas kita di sini sudah selesai, bagaimana selanjutnya?" tanya Sari.
"Mengapa harus bertanya, tentu saja langsung pulang ke Soka Jajar. Sudah terlalu lama kita pergi. Takutnya banyak persediaan ramuan yang menipis," jawab Suhita singkat.
Di Kota Raja, Suhita telah berhasil menyembuhkan sakit aneh pangeran kerajaan. Selain itu, juga banyak orang-orang biasa yang dia tolong. Suhita menganggap pekerjaan di sana sudah selesai.
Besok atau paling lambt lusa, dia dan rombongan akan kembali ke Soka Jajar. Kembali ke Rumah Pengobatan yang Suhita dirikan. Selama Suhita pergi, dia mengalih tugaskan beberapa orang tabib untuk mengurus Rumah Pengobatan.
Setiap harinya, sangat banyak orang yang datang berobat dari berbagai kalangan. Meskipun Tabib Dewa jarang ada di Rumah Pengobatan, tapi setidaknya juru sembuh yang ada pula memiliki kemampuan pengobatan yang mumpuni. Mereka semua diajarkan berbagai teknik pengobatan langsung oleh Tabib Dewa.
Keberadaan tempat menginap yang dihuni Suhita dirahasiakan oleh segenap pasukan keamanan. Mereka menjaga segala bentuk resiko, sekecil apa pun itu. Selain kedatangan Suhita secara khusus diundang untuk mengobati pangeran, hampir semua pimpinan pasukan pengamanan tahu jika Suhita merupakan teman baik Jenderal Muda. Keamanan tentu menjadi prioritas utama, kecuali mereka akan dianggap lalai.
__ADS_1
"Sialan! Mengapa begitu sulit untuk menemukan sosok yang setiap hari mondar-mandir di depan mata. Apa mungkin, Jenderal Muda menyimpan Tabib Dewa di kediamannya?"
"Hisss! Kau pikir Tabib Dewa itu botol atau apa? Sembarangan cocotmu kalau bicara!"
Bisik-bisik antara beberapa orang terdengar dari tikungan jalan. Mereka memakai seragam yang sama, nampaknya berasal dari satu golongan atau kesatuan. Mencari keberadaan Tabib Dewa, pastinya ada kepentingan tersendiri sampai-sampai rela keluyuran hingga larut malam.
Dari arah yang berlawanan, muncul tiga orang lagi yang juga merupakan rombongan mereka. Sejak sore mereka berpencar untuk melacak keberadaan Tabib Dewa, tapi hingga malam semakin larut mereka belum berhasil menemukan jejak.
Tidak semua orang mencari Tabib Dewa semata buta untuk berobat dan meminta pertolongan. Ada juga sebagian dari mereka yang coba iseng untuk mencari keuntungan bahkan coba untuk mencelakai tabib termasyhur itu. Meskipun sejauh ini belum ada yang berhasil melakukannya.
Rata-rata orang yang berurusan dengan Tabib Dewa merupakan preman ataupun pembunuh bayaran yang disewa pesaing sesama tabib. Jika mereka adalah kelompok aliran sesat sekalipun, tidak akan mau untuk mengganggu Tabib Dewa. Karena suatu waktu nanti mereka pasti membutuhkan pertolongan Tabib Dewa. Sejak dulu, Tabib Dewa tidak pernah memilah memilih orang untuk diobati. Di mata Tabib Dewa, tidak ada baik dan jahat. Yang ada hanyalah sehat dan sakit. Siapa pun yang sakit, butuh pertolongan, maka Tabib Dewa akan membantu. Sudah sebaik itu pun, masih ada saja yang memusuhi bahkan mencoba untuk celakai, entah bagaimana jika Tabib Dewa bersikap sombong.
Sebagai contoh, tidak jauh-jauh. Katakanlah kelompok sirkus yang juga di dalamnya ada Kemuning yang kala itu coba untuk mencelakai Tabib Dewa dan rombongan. Bagaimana detail ceritanya?
Kelompok sirkus di bawah kepemimpinan Ki Wadas sedang melakukan pertunjukan di acara resmi yang dihelat suatu Katumenggungan. Dalam pertunjukan tersebut, kiranya Tumenggung tertarik pada sosok Wedari yang diperankan oleh Kemuning. Tumenggung bermaksud untuk menjadikan Wedari sebagai salah satu selir. Tentu saja Wedari alias Kemuning menolaknya dengan tegas.
Merasa wibawanya direndahkan, Tumenggung tersebut mengkhianati janji. Dia tidak membayar barang sekepeng pun. Bahkan menuduh kelompok sirkus dan anggotanya sebagai biang keladi keributan. Padahal semuanya merupakan rencana busuk Tumenggung untuk bisa dapatkan Kemuning. Tidak terpancing, Ki Wadas dan kelompoknya memutuskan untuk pulang tanpa menuntut apa pun atas hak mereka setelah melakukan pertunjukan.
Tidak disangka, Tumenggung memerintahkan anak buahnya untuk menyamar dan coba untuk menculik Kemuning. Tentu saja kelompok sirkus melakukan perlawanan. Menang dan mengorek keterangan. Melampiaskan kekesalan, kelompok sirkus balas menyerang Tumenggung yang menunggu anak buahnya di tenda. Mengalahkan dan menyiksa Tumenggung dengan memberinya obat gatal yang tidak miliki penangkal. Seumur hidup, Tumenggung akan menderita penyakit bintik merah di kulitnya.
Siapa sangka, Tabib Dewa muncul dan membebaskan Tumenggung dari hukuman keji yang dilakukan kelompok sirkus. Mengetahui hal itu, kelompok sirkus tidak terima. Mereka beranggapan kalau Tabib Dewa berpihak pada penguasa zalim. Entah siapa yang mengompori, hingga akhirnya anggota kelompok sirkus melampiaskan amarah mereka pada Tabib Dewa. Mereka menyerang Tabib Dewa yang melintas di sisi tebing, melempari Tabib Dewa dan rombongan dengan bola api, hingga kereta dan barang bawaannya terbakar. Tidak hanya itu, Arsita dan Kemuning bahkan sempat bertarung dengan Tabib Dewa. Meski akhirnya mereka bisa dikalahkan dengan mudah. Lalu diampuni.
Dan karena hal itu, untuk menghindari kejadian yang sama seperti halnya Kemuning, sebagian besar penghuni dunia persilatan mengambil keputusan yang tepat dengan tidak coba-coba membuat masalah dengan Tabib Dewa. Lalu, tikus-tikus got itu?
Besar kemungkinan, tikus got yang malam itu masih belum menyerah untuk menemukan keberadaan Tabib Dewa adalah orang-orang suruhan. Mungkin dalangnya adalah tabib yang merasa tersingkirkan, atau justru lebih dari itu. Kemungkinan besar mereka didanai oleh seorang pejabat kerajaan. Mereka yang tidak menyukai Tabib Dewa menyembuhkan Pangeran. Bisa jadi, kemungkinan untuk itu sangatlah besar.
"Heh, sialan! Bagaimana ini? Apa kita harus pulang dengan tangan hampa?" seorang mengangkat bahu, kehabisan akal.
"Kita pulang, tapi tidak menyerah. Kita susun ulang rencana. Besok pagi juga itu tabib pasti akan muncul," tukas seorang lagi.
Akhirnya, mereka sepakat untuk kembali ke markas. Satu persatu dari mereka berhanjak pergi dengan arah yang berbeda-beda. Mereka mengambil jalan masing-masing supaya tidak dicurigai. Selain itu, siapa tahu sembari pulang ada suatu petunjuk yang bisa membuat mereka mendapatkan arah keberadaan Tabib Dewa.
Setelah seluruh orang itu pergi, barulah muncul pergerakan dari sebuah pohon. Tanpa disadari oleh seorang pun, ternyata ada sepasang telinga yang menguping seluruh pembicaraan tikus-tikus got barusan. Wajah orang itu terlihat buruk karena sama sekali dia tidak mendapatkan apa-apa setelah menguping sekian lama. Tidak lama kemudian, dia melompat turun.
Cahaya rembulan yang temaram akhirnya bisa menembus paras sosok yang sejak tadi bersembunyi dalam rimbunnya dedaunan. Tidak lain orang itu adalah Danur Cakra. Yang juga sedang mencari keberadaan Tabib Dewa.
Danur Cakra bisa keluar dan coba cari keberadaan adiknya karena Kemuning sudah tertidur dengan pulas. Kemuning kecapean setelah menempuh perjalanan jauh. Belum lagi luka dalam yang dideritanya semakin parah, energi murni yang terus Danur Cakra salurkan sudah tidak banyak membantu lagi.
"Hita, di mana dirimu?" Danur Cakra mencoba untuk melacak keberadaan Suhita dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam, tapi tidak berhasil. Suhita sengaja menyamarkan kekuatannya, seperti sudah tahu kalau Danur Cakra akan datang dan mencarinya. Sebegitu bencinya dia?
__ADS_1
"Ah, Raka Jaya!" Danur Cakra terpikirkan satu ide.
Sangat tidak mungkin jika Raka Jaya juga tidak mengetahui keberadaan Suhita, karena pastinya Suhita berada dalam perlindungan Raka Jaya. Atau jangan-jangan Suhita berada di kediaman Jenderal Muda tersebut. Meskipun untuk menemukan Raka Jaya juga tidak mudah, tapi arahnya akan lebih jelas.
Suatu ide bagus yang sangat gila. Mengapa gila? Tentu saja karena status Danur Cakra yang merupakan seorang buronan kerajaan. Bila dia hanya pendekar biasa pastinya itu akan menjadi mudah.
Danur Cakra lebih dulu memasuki pusat perbelanjaan. Dia harus merubah penampilannya, supaya tidak mudah untuk dikenali. Cara klasik yang nyatanya masih eksis hingga saat ini.
Menyusuri lorong jalan yang mulai sepi, Danur Cakra terkejut karena menemukan seorang yang penyamarannya lebih baik darinya. Dengan bermodalkan pakaian tidak layak, ditambah coreng di tubuh. Ya, orang itu adalah penipu dengan modus pengemis. Sebenarnya tubuhnya normal tanpa cacat, tapi dia mampu menarik simpati dan rasa kasihan orang yang melihat dengan membuat tubuhnya seolah-olah cacat. Yang terpenting ialah uang, hasil bukan proses. Pendapatan hariannya bahkan jauh lebih besar dari mereka yang memakai seragam prajurit.
"Heh, apa yang kau lakukan?" tegur Danur Cakra yang datang tanpa diketahui.
Pengemis itu tergagap. Segala kebohongannya terbongkar. Untung saja yang datang hanya seorang diri, jika tidak maka tamatlah mata pencariannya.
"Tu-tuan ..." pengemis itu ketakutan. Danur Cakra mengintimidasi dengan mengerahkan kekuatan tenaga dalam.
"Penipu sialan! Apa kau tahu, di mana letak kediaman pribadi Jenderal Kerajaan?" tanya Danur Cakra.
"Jenderal siapa Tuan? Jenderal ..."
"Jenderal Muda!" potong Danur Cakra.
Pengemis itu menelan ludah, dia begitu ketakutan. Padahal dia tidak menemukan gerak-gerik yang mencurigakan dari Danur Cakra. Pemuda itu bertanya seperti umumnya orang biasa.
Dengan masih dalam ketakutan, pengemis itu memberi tahu di mana kediaman Jenderal Muda. Dia juga menyebutkan kira-kira jumlah pasukan yang berjaga. Dengan kata lain, pengemis menekankan kalau kediaman Jenderal Muda tidak akan mudah untuk di tembus kecuali datang dengan satu laskar pasukan perang.
"Apa kau pernah dengar mengenai Tabib Dewa?" tanya Danur Cakra lagi.
"Pernah, dan konon Tabib Dewa baru saja mengobati seorang pangeran kerajaan yang menderita sakit aneh. Tapi orang seperti saya mana mungkin berjodoh untuk bisa melihat paras Tabib Dewa," jawab pengemis dengan jujur, apa adanya.
Danur Cakra mengangguk berulang kali. Begitu sulitnya menemukan Suhita, tapi dalam hati Danur Cakra juga muncul semacam perasaan lega. Dengan hadapi kenyataan seperti ini, itu menandakan jika keselamatan Adiknya sangatlah terjaga. Tidak sembarang orang bisa bertemu apalagi mencoba untuk melukai.
"Sebenarnya, ada apa Tuan? Mungkin saya bisa membantu," pengemis menawarkan jasa.
"Tidak perlu. Baiknya kau urus saja dirimu sendiri. Jika aku bisa membongkar trik tipuan yang kau lakukan, itu artinya ada orang lain yang bakal lakukan hal serupa," Danur Cakra melangkah meninggalkan pengemis.
Seiring dengan berlalunya Danur Cakra, si pengemis merasakan udara yang mengalir kembali sejuk. Lututnya tidak lagi gemetaran, menarik napas bisa dengan leluasa. Sungguh mengerikan aura yang Danur Cakra miliki, layaknya aura seekor singa jantan dengan leher gondrong.
Danur Cakra mempercepat langkahnya, sebelum Kemuning terjaga dia harus berhasil menemukan di mana Suhita menginap. Jika saja, malam itu Danur Cakra tidak berhasil menemukan Suhita maka besar kemungkinan kesempatannya untuk bertemu di Kota Raja akan semakin menipis. Karena mungkin Suhita tidak lagi berdiam cukup lama di Kota Raja, besok atau lusa Suhita akan kembali ke Soka Jajar, dan pastinya itu merupakan rahasia yang tidak semua orang bakal tahu.
__ADS_1