Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Raja Genderuwo dan Suatu Rencana


__ADS_3

Suhita berusaha untuk membuat matanya terpejam, hingga kemudian tidur lelap, untuk sejenak melupakan betapa sesaknya napas dalam kehidupan. Hita berusaha untuk lapang dada, menerima semuanya sebagai jalan kehidupan yang pasti ada hikmah di kemudian hari.


Tidak ada orang yang bisa memberikan kita bahagia, kecuali dengan kita menciptakan kebahagiaan itu sendiri. Senyum akan terlepas ketika hati merasa senang. Ketentraman hati merupakan kunci untuk bisa tetap bertahan dalam guncangan badai kehidupan. Betapa akar pohon tidak mengeluh meski indah atas rimbunnya daun membuat bebannya bertambah.


"Huuuhhh ... aku sama sekali tidak mengantuk. Apakah ini pertanda hatiku yang letih?" Suhita tersenyum sendiri. Mengapa tiba-tiba dia menjadi sosok yang cengeng? Sejak kecil dia selalu ditempa oleh pelbagai kesulitan. Tidak ada kesulitan yang diciptakan tanpa jalan keluar.


Bosan berbaring, Suhita kemudian mengambil posisi duduk bersila. Dia memusatkan pikiran, menuntun seluruh energi menuju otak, sebelum kemudian mengalirkannya di setiap detak jantung. Sambil melakukan olah napas, Hita mengembangkan teknik penyembuhan dengan pergunakan Kekuatan Tapak Naga Suci sebagai dasar. Kekuatan maha besar itu, Hita tuntun untuk menyembuhkan seluruh luka dalam yang ada. Mengembalikan kebugaran tubuh, serta menyerap energi negatif untuk kemudian dirubah menjadi kekuatan yang bersifat positif. Jika Hita mampu melakukan penyembuhan untuk orang lain, tentu saja sangat mudah baginya untuk mengatasi masalah diri sendiri.


Sekujur tubuh Suhita memancarkan aura perak yang amat terang, tapi lembut dipandang mata. Aura positif yang bahkan berada beberapa tingkat di atas energi kemampuan yang dimiliki oleh ayahnya. Dan karena tingkat tenaga dalam yang Hita punya sangat sempurna, maka dengan itu pukulan yang dilepaskan Danur Cakra hanya sanggup membuat sebatas pingsan. Padahal saat diserang, Suhita sama sekali tidak dalam keadaan siap.


Suhita membuka matanya, pancaran aura wajah yang amat sejuk, membuat siapa pun akan betah untuk berlama-lama memandang. Saat ini, tubuh Suhita sudah berada di luar bangunan tua tempatnya bermalam. Untuk ketenangan hati, dalam semadi tadi Suhita sekalian membawa tubuhnya ke luar. Di sini Hita bisa mengekspresikan apa pun yang dia ingin. Bahkan pakaiannya pun sudah berganti. Ya, Tabib Dewa adalah Tabib Dewa. Dia berada setingkat di atas rata-rata kemampuan manusia biasa.


Cukup lama Suhita mengolah kemampuan tenaga dalam, dia telah berhasil menguasai diri. Mencuci kekotoran batin hati yang sempat tertarik dalam gemerlap duniawi.


Selain Mutiara Hati, tidak ada sumberdaya lain yang mengisi cincin mustika milik Suhita kecuali sumberdaya berkaitan dalam dunia pengobatan. Ya, tabib dan pendekar merupakan jalan yang berbeda. Suhita tidak bisa berjalan sekaligus di keduanya, kecuali jika inginkan masalah timbul silih berganti.


Setelah beberapa saat lamanya memandangi Mutiara Hati yang tinggal separuh, perlahan Suhita mendekatkan sumberdaya tersebut ke dalam mulutnya. Detik kemudian, Mutiara Hati tidak lagi ada di atas dunia, kedua bagiannya sudah menempati dua raga yang akan selalu dijaga.


Tidak ada hal apa pun yang terjadi, sedikitnya pengaruh dari Mutiara Hati tertekan oleh energi milik Suhita yang dalamnya tidak terukur. Suhita berharap masalahnya akan selesai. Tidak akan ada pendekar yang datang padanya, termasuk Raka Jaya. Mutiara Hati sudah dikonsumsi, disegel dan tidak mungkin didapat lagi.


Wuuusss !!! Ada asap putih mengepul tidak jauh dari tempat Suhita duduk bersila. Perlahan dari balik asap yang pekat muncul sosok hitam tinggi besar, mahluk menyeramkan itu hanya menampakkan wujudnya beberapa saat saja, sebelum kemudian bentuk fisiknya kembali mengecil dan berubah menjadi layaknya manusia. Hanya kedua matanya saja yang tetap merah menyala.


Suhita tersenyum manis, tanpa melihat dia bisa merasakan kemunculan mahluk mengerikan itu. Akan tetapi, tentu saja Suhita tidak menyambutnya dengan sedikit pun rasa curiga. Suhita selalu ramah pada siapa pun, tidak peduli manusia ataupun mahluk astral.


"Genderuwo, ada apa? Apakah ada yang bisa aku bantu?" sapa Hita.


Genderuwo itu segera menjatuhkan lututnya, menyembah berulang kali. Dengan berjalan bebek, dia mendekat ke tempat Suhita duduk.


"Tabib Dewa, mohon ampuni kelancangan hamba. Berani mengganggu semadimu, sungguh tidak sebanding dengan nyawa hamba," Genderuwo bicara dengan wajah yang nyaris menyentuh tanah.


"Aku hanyalah manusia biasa, tidak pantas kau perlakukan demikian. Bangunlah, bicara layaknya kita sesama ciptaan Tuhan," Suhita meminta Genderuwo untuk bersikap wajar.


Meskipun dengan sungkan, Genderuwo tidak berani menolak perintah Suhita. Dia duduk bersimpuh di atas tanah, seraya kemudian menyampaikan maksud kedatangannya.


Genderuwo itu merupakan raja dari para Genderuwo di alam astral. Dia datang jelas karena membawa titah. Suhita sangat senang menyambut kedatangan Genderuwo, karena secara tidak langsung dia bisa mengetahui jika Cakra baik-baik saja. Buktinya Cakra masih sempat mengutus anak buahnya untuk datang menemui Hita. Meski hanya untuk mengutarakan permohonan maaf, setidaknya menunjukkan jika Cakra masih mengingatnya.


"Seperti yang kau lihat bukan, aku baik-baik saja. Tanpa kurang suatu apa, tanpa terjadi apa-apa. Hanya kemampuan majikanmu, tidak akan cukup untuk bisa lukai aku. Tolong kau sampaikan itu padanya."


Genderuwo menyembah berulang kali, dia telah melakukan tugasnya, dan waktunya untuk kembali dengan membawa pesan balasan. Ya, berbentuk kesombongan yang hanya Suhita perlihatkan pada sang kakak.


BLEEESSS !!! Sebelum mata berkedip, wujud Genderuwo hilang dari pandangan. Siluman hitam itu pergi beberapa saat sebelum Suhita kedatangan tamu lain. Beruntung kedatangan mereka terjadwal, hingga tidak memancing reaksi apa pun pada orang yang datang.

__ADS_1


Beberapa orang pria paruh baya datang dengan ekspresi wajah sangat terkejut. Tidak jauh dari tepi air terjun, di sebuah batu besar, mereka melihat seorang wanita sangat cantik duduk bersila dengan anggunnya. Tentu saja, pemikiran mereka terarah pada sosok Bidadari, Dewi, dan berbagai perwujudan wanita cantik yang ada di dalam dongeng. Tapi karena saat itu dini hari, membuat ketakutanlah yang menghampiri. Menurut mitos yang beredar, hanya siluman yang munculnya di malam hari. Siluman ular, siluman rubah, dan siluman yang gemar memangsa daging manusia. Serentak para pemburu itu berbalik badan dan lari pontang panting, mereka lebih memilih jalan lain daripada harus mati.


Suhita hendak mengejar, tapi dia mengurungkan niatnya takut malah akan membuat para pejuang nafkah itu semakin ketakutan. Kasihan, dini hari buta sudah berangkat ke dalam hutan. Berburu menjangan ataupun babi hutan, untuk menukar daging tersebut dengan kepeng uang di pasar. 


°°°


Baru saja Suhita berencana untuk kembali ke bangunan kuno tempat mereka istirahat, ketika pandangan Hita terarah ke tempat yang dimaksud, entah mengapa ada perasaan aneh yang hinggap dihatinya. Rasanya sesuatu telah terjadi di sana. Buru-buru Suhita kembali.


Apa yang Suhita khawatirkan kiranya benar adanya. Dari kejauhan terdengar suara dentingan senjata tajam yang beradu. Terjadi pertarungan di pelataran bangunan.


Suhita tidak mengenali siapa orang-orang yang tiba-tiba menyerang. Tapi sepertinya mereka berasal dari kelompok aliran sesat. Mengira serangan itu masih berkaitan dengan dirinya, tanpa berpikir lagi Suhita langsung melompat ke medan laga. Jika incaran mereka adalah dirinya, Hita berharap pertarungan itu segera disudahi.


Namun sepertinya tidak. Setelah Suhita berada di antara para petarung, tidak seorang pun yang coba untuk mendekat apa lagi menyerang. Tentu saja mereka mengenali sosok Tabib Dewa, akan tetapi tujuan mereka bukanlah untuk Tabib Dewa. Percuma saja, sumberdaya yang semula diincar sudah berpindah tangan.


"Begitu cepatnya berita menyebar. Mereka tahu jika tidak lagi ada yang berharga padaku. Lantas untuk tujuan apa mereka datang?!" Suhita melepaskan pandangannya pada para penyerang yang rata-rata miliki kemampuan kelas atas.


Suhita tidak melihat Raka Jaya, anak buahnya bertarung mati-matian masa pimpinannya enak-enakan tidur.


Suhita membuka telapak tangannya, seketika muncul sebuah tabung dengan tutup kain berwarna kuning. Kain penutup tersebut jelas memiliki arti tersendiri, sebab jika penutupnya dengan kain merah itu tandanya isi di dalam tabung bambu merupakan serbuk atau ramuan yang sangat berbahaya.


Dengan ibu jari, Suhita mendorong penutup hingga terlepas. Kemudian satu gerakan memutar nan indah, Suhita menebar isi di dalam tabung bambu ke udara. Dengan iringan tiupan angin yang tercipta oleh kekuatan tenaga dalam, membuat serbuk berwarna kuning itu menyebar dengan sempurna.


"BERHENTIII !!!" Suhita berteriak lantang.


"Tabib ... kami harap, kau jangan ikut campur! Sama sekali tidak ada kaitannya dengan dirimu!" seorang tokoh aliran sesat berteriak dari seberang kabut racun.


Suhita tidak bereaksi, lagi pula dengan sendirinya kabut racun yang Hita tebar akan lenyap seiiring angin berhembus.


"Tuan, ada apa sebenarnya?" tanya Suhita pada seorang prajurit kerajaan.


Dengan singkat, prajurit itu menjelaskan perihal serangan yang terjadi. Mereka merupakan pendekar bayaran yang sengaja datang untuk mengacau.


"Lalu, di mana Jenderal Muda?" tanya Suhita lagi.


Prajurit itu gelagapan, meskipun akhirnya dia mengatakan tidak tahu. Sejak serangan di mulai, Jenderal Muda tidak menampakkan batang hidungnya.


Kencana Sari, Kemuning, mereka juga tidak terlihat. Apa mungkin mereka semua telah pergi? Suhita bergegas masuk ke dalam bangunan. Dia menuju ke tempat Kencana Sari tidur saat terakhir Suhita tinggalkan.


Benar saja, tidak ada siapa-siapa di dalam. Bahkan sebagian besar prajurit pun sudah pergi. Dan mereka yang tertinggal hanyalah bentuk dari strategi yang Raka Jaya persiapkan untuk mengecoh lawan.


Suhita memicingkan matanya, dia melihat ada sebuah benda berwarna putih yang tergeletak di atas lantai tempat semula Kencana Sari tidur. Suhita memungut benda bulat kecil itu, dan kiranya bulatan isi gelang yang Suhita tahu milik Kencana Sari.

__ADS_1


Sebelum pergi, Kencana Sari sengaja memutus tali gelang yang ia pakai. Guna meninggalkan jejak, Sari menjatuhkan satu demi satu isian perak yang menyerupai tasbih. Tidak mungkin bisa diduga jika bukan Suhita miliki ketelitian yang tinggi, tapi Kencana Sari tentu tahu akan hal itu.


"Ada apa sebenarnya?!" Suhita hanya bisa menghela napas panjang, dia bergegas mencari jalan pelarian di bangunan tua tersebut. Hita yakin, Raka Jaya membawa anak buahnya pergi tidak melalui jalan yang biasa.


Di sudut ruangan bagian dalam, Suhita kembali menemukan isi gelang yang terjatuh. Menembus dinding, rasanya tidak mungkin. Pasti ada kunci untuk membuka jalan rahasia.


Layaknya sang Ayah, Suhita mengandalkan Ilmu Mata Naga guna dapatkan jawaban atas apa yang dia cari. Kemampuan Tapak Naga memang tidak mengecewakan, membuat Suhita bisa melanjutkan perjalanan.


Suhita mempercepat langkah kakinya, ingin segera dia menyusul jejak Kencana Sari. Dengan meninggalkan petunjuk seperti itu, membuat Suhita berpikir jika Kencana Sari berada dalam tekanan, dan hanya menuruti perintah seseorang untuk pergi. Padahal apa susahnya menunggu sampai Suhita pulang? Lagi pula, lawan-lawan yang datang tidaklah berarti apa-apa bagi Raka Jaya. Mengapa harus lari?


Matahari mulai memperlihatkan wajahnya yang gagah, menunjukkan pada mayapada jika raja sesungguhnya telah muncul kembali. Suhita sudah tiba di jalan utama yang menghubungkan dua kota besar. Di sana, Suhita sedikit kesulitan untuk menemukan petunjuk yang Sari tinggalkan. Sudah begitu banyak orang yang melintas, ada kemungkinan roda pedati membuat isian gelang menjadi tertutup debu tebal.


"Selamat pagi, Nona. Maaf, apakah yang sedang Nona cari?" beberapa orang yang melintas menghentikan perjalanan kala melihat Suhita di pinggir jalan.


"Ah, Tuan. Gelang saya terputus, dan saya kehilangan satu mutiara yang terjatuh entah ke mana," jawab Suhita.


Tanpa diminta, dengan ketulusan hati mereka turun dari punggung kuda dan ikut membantu Suhita. Semakin banyak orang yang datang, pencarian pun menjadi lebih luas.


"Nona, bukankah ini?" seorang remaja putri berteriak seraya mengangkat mutiara bulat yang ia temukan.


Suhita mendapatkan arah, jalan tersebut menuju Kota Ambar dan pada akhirnya jika terus ke arah barat maka akan tiba di Kota Raja. Ah, sial. Mengapa baru sadar, pasti ini adalah salah satu rencana Raka Jaya untuk bisa membawa paksa Kemuning pulang ke Kota Raja. Sekarang, Suhita tahu jawabannya.


Setelah membayar seekor kuda, Suhita melanjutkan perjalanan dengan kuda. Dia akan ke Kota Raja, menemukan pelayan dan juga sahabatnya.


Seperti kesetanan, Suhita menggebrak kuda tanpa henti. Tidak biasanya dia berlaku tidak adil pada binatang. Memaksakan kuda berlari tanpa berkesempatan menghela napas.


Selamat datang di Kota Ambar. Suhita melintasi tugu perbatasan. Jika terus berkuda dengan kecepatan tinggi maka lewat tengah hari nanti Hita akan tiba di Kota Ambar.


"Tuan, maaf. Boleh saya bertanya?" Suhita mendatangi sebuah kedai besar, menemui pemilik kedai itu.


Suhita menunjukkan lencana emas yang diberikan raja kepadanya. Dengan lencana itu, Hita memperkenalkan dirinya sebagai Tabib Dewa, penduduk istimewa yang memiliki hak untuk bicara dan bergerak ke mana pun.


"A-ampuun, Tabib ... adakah yang bisa saya perbuat untuk membantu Anda?" sontak pemilik kedai langsung bergetar hatinya. Entah mimpi apa dia semalam.


"Tuan, aku tahu kau menyebar banyak sales promosi di jalan. Bisakah kau bantu aku? Apakah dari anak buahmu ada yang melihat rombongan dari istana yang melintas?"


Dengan sesegera mungkin, pemilik kedai memerintahkan anak buahnya untuk mengumpulkan seluruh sales promosi yang tersebar di berbagai penjuru. Setelah itu, Tabib Dewa bisa tanyakan langsung.


Teknik yang sangat cerdas. Dalam keadaan mendesak, mendadak Suhita memiliki kepandaian layaknya pendekar berpengalaman. Dengan begitu, Suhita bisa dapatkan banyak informasi yang dia mau. Karena mata para sales promosi sangatlah tajam.


Tentu saja dari mereka ada yang melihat rombongan berkuda dengan ciri dan jumlah seperti yang Hita maksud. Bahkan tempat istirahatnya pun sudah diketahui, sebuah penginapan di barat daya.

__ADS_1


Suhita segera pamit.


__ADS_2