Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Hancurnya Kelompok Jubah Hitam lll


__ADS_3

"Lihat! Di sana itu pasti tempat pertarungannya!" ucap Jaka Pragola seraya menunjuk ke arah munculnya cahaya putih.


Dengan segera, rombongan itu melesat menuju arah cahaya. Itu pasti cahaya dari Pukulan Tapak Naga yang Mahesa gunakan dalam pertarungan.


Dan benar saja, ketika mereka tiba di sana bebatuan yang hancur telah banyak berserakan. Imbas dari pukulan-pukulan tenaga dalam yang terlepas dari pertarungan itu.


Mahesa tersenyum melihat kedatangan rombongan, para pendekar sahabatnya datang pada waktu yang tepat. Dengan demikian, mereka akan menyelesaikan masalah tersebut dalam sekaligus. Ada yang mengurus empat pendekar pimpinan Jubah Hitam, sisanya lagi membekuk anggota yang lain.


"Kakak, apa kabar?! Terima kasih atas bantuannya," Mahesa mendekat pada Jaka Pragola.


"Adik, kau terlihat semakin gagah. Hahaha!" Jaka Pragola memeluk Mahesa dengan hangat. Sudah cukup lama mereka tidak saling berjumpa. "Adik, harusnya aku yang berterima kasih padamu. Kekacauan ini terjadi saat hajat besar dihelat di padepokan ku. Jika bukan karena dirimu, mungkin masalah ini akan semakin berlarut-larut."


"Kakak, kau terlalu memuji. Oh, ya. Aku serahkan empat pimpinan Kelompok Jubah Hitam itu padamu. Ada banyak sandera di dalam sana. Aku akan urus mereka!" Mahesa menepuk pundak Jaka Pragola, "Kak, usahakan jangan celakai mereka semua. Sisakan satu atau dua. Ada skandal lain yang harus kau ketahui," pesan Mahesa sebelum pergi.


"Baik, Pendekar Elang. Sekali lagi, terima kasih," Jaka Pragola mengangguk tanda mengerti. Dia juga sebenarnya sudah menduga adanya kongkalikong dalam kasus ini. Mahesa sudah punya bukti, itu sangat menarik.


Jaka Pragola melambaikan tangannya, sejenak memandangi punggung Mahesa yang melayang turun dan memasuki gua Lubang Kaca Mata.


Mahesa mengibaskan tangannya, memukul roboh pasukan Jubah Hitam yang berusaha hentikan langkahnya. Mahesa terus melangkah memasuki gua, dia mengarah ke ruangan penjara. Mahesa yakin, terjadi kekacauan yang terjadi di luar prediksi setelah tadi ada pendekar yang nekad keluar dan tertangkap.

__ADS_1


Jubah dan cadar berwarna hitam yang melekat di tubuhnya sudah tidak ada lagi, terhitung saat Jaka Pragola dan teman-temannya datang. Hingga wajah dan tubuh Mahesa kali ini benar-benar terlihat. Dia sudah bukan anggota kelompok Jubah Hitam lagi, melainkan seorang dengan pakaian bangsawan yang kuasai ilmu kanuragan tingkat tinggi.


Dugaannya tidak meleset, peperangan sudah terjadi di lorong menuju penjara. Ki Maung Koneng dan para pendekar aliran putih di sana, sedang bertarung mati-matian untuk melindungi pintu penjara.


Sudah banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak. Baik pasukan Jubah Hitam maupun pendekar aliran putih. Namun demikian, tidak sedikit pun semangat juang para pendekar itu surut. Meskipun harus mati, setidaknya mereka mati sebagai pejuang penegak keadilan.


Bruk! Bruuukk! Satu, dua, tiga dan terus bertambah pasukan Jubah Hitam yang roboh. Membuat pendekar aliran putih bisa menarik napas dengan lega.


Tombak es menancap di punggung orang-orang yang tewas. Ya, Mahesa yang melakukan semua itu. Beruntung dia belum terlambat hingga nyawa para pendekar aliran putih masih banyak yang tertolong.


HIIYAAATTTT !!! BYAARRR !!!


Sejenak, lorong depan penjara itu menjadi sunyi sepi setelah getaran gelombang energi yang Mahesa lepaskan menghilang. Ki Maung Koneng dan yang lain seolah terpukau atas apa yang baru saja mereka saksikan. Tidak salah lagi, mereka sekarang bisa menebak siapa pendekar yang tidak mereka kenal itu.


Ki Maung Koneng segera menjatuhkan lututnya, "Tuan Pendekar, maaf. Maafkan atas kebodohan kami hingga sampai tidak mengenali diri Anda."


"Hei, Ki Maung. Apa yang kau bicarakan. Kalian juga, mengapa ikut-ikutan berlutut. Ayo cepat bangkit dan obati luka kalian," Mahesa menggeleng lemah melihat kelakuan para pendekar itu.


Tanpa hirau pada basa-basi mereka, Mahesa memaksa untuk memberikan pil penyembuh pada mereka yang terluka. Setelah itu, Mahesa bergegas melangkah ke dalam penjara untuk membebaskan seluruh tahanan.

__ADS_1


"Kalian tenang dulu. Jangan terburu-buru, percayalah kita semua pasti akan pulang. Di luar, masih banyak pasukan Jubah Hitam yang berkeliaran. Jadi, aku mohon kerja sama kalian," ucap Mahesa pada para tahanan. Berharap mereka semua bisa tenang dan tidak menyusahkan saat di evakuasi nanti.


Disaat fajar menyingsing, cuaca yang begitu cerah mendukung seluruh mata untuk bisa melihat dengan jelas. Pasukan bantuan pun sudah berdatangan untuk membantu evakuasi para tahanan.


Dari kejauhan, Mahesa melambai pada Ki Maung Koneng. Kemudian mengacungkan jempol sebagai tanda kerjasama mereka yang sukses. Ki Maung Koneng membalasnya dengan membungkuk berulang kali. Sama sekali tidak pernah terbayangkan jika seorang pendekar kecil sepertinya bisa bekerjasama dengan seorang pendekar besar sekelas Elang Putih. Sampai saat itu, Ki Maung Koneng belum bisa percaya sepenuhnya.


Ki Maung Koneng boleh berlarut dalam kebanggaan. Meskipun Mahesa tidak lagi berada di tempat itu. Pendekar yang terkenal memiliki wajah tampan itu sudah berdiri bersebelahan dengan Jaka Pragola.


"Syukurlah, mereka tidak ada yang meninggal. Setelah semuanya selesai, tentu baru kita eksekusi mereka di bawah komando hukum," Mahesa tersenyum getir seraya menatap wajah Surya Petir.


Empat orang dedengkot Kelompok Jubah Hitam itu bisa dijinakkan oleh Jaka Pragola dan pendekar besar lainnya. Tidak perlu Mahesa yang turun tangan. Saat ini, wajah mereka sudah bisa dilihat secara gratis oleh siapa saja yang sudi untuk memandang. Cadar berikut jubah hitam kebanggaan mereka sudah dilucuti. Tidak lama lagi, mereka akan dihadapkan pada pengadilan untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka selama ini.


Mahesa membuka telapak tangannya. Samar tapi pasti, gelembung kristal es muncul lalu kemudian melayang di udara. Gelembung itu terus bertambah ukuran hingga membentuk bola es besar yang mampu menampung tubuh manusia. Dan di dalamnya memang terlihat mengurung manusia.


"Adik Elang, siapa yang ada dalam kristal es mu itu?" tanya Jaka Pragola.


Begitu juga dengan tokoh pendekar yang lain. Mereka semua sangat penasaran. Mahesa pasti akan menunjukkan satu bukti lain. Dan orang di dalam gelembung kristal es tersebut merupakan orang yang berkaitan.


Saat semua mata tertuju pada kristal es yang menyimpan sebuah bukti, ada sepasang mata yang justru menatap ke arah yang berbeda. Mata indah seorang wanita pendekar yang berasal dari Padepokan Anggrek Jingga. Mata itu justru terarah pada orang yang menjadi pemilik kristal es.

__ADS_1


Sulistya Sandra. Wanita itu sampai sekarang belum berkeluarga. Dia memang tidak pernah secara terang-terangan menunjukkan cintanya pada Mahesa. Berburu cinta, apa lagi mengungkapkan perasaannya. Akan tetapi, disaat tersiar kabar Mahesa dan Dewi Api akan segera menikah, Sulistya Sandra adalah orang pertama yang langsung jatuh sakit. Sakit yang sangat keras, karena jiwanya yang terkoyak.


__ADS_2