Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Kerjasama


__ADS_3

"Bagaimana aku bisa mempercayai kalian?!" Mahesa mengangkat sebelah alisnya.


"Baik. Kita lakukan pertukaran yang jujur. Akan ku kembalikan anakmu, lalu kau serahkan diri. Aku yakin, Elang Putih tetaplah seperti pendekar yang aku kenal," Bulan Jingga tersenyum. Tanpa ragu, dia mengangkat tangannya ke arah di mana Suhita berada.


Satu cahaya menggumpal di udara, cahaya itu bergerak membelah dinding-dinding ilusi yang mengurung ruangan di mana Suhita disekap. Setiap detail gerakan, tentu tidak luput dari perhatian si Tabib kecil. Suhita memperhatikan. Ah, tidak. Tetapi dia coba untuk mempelajari. Pengetahuan Hita akan hal itu ada meskipun sedikit. Saat muncul di depan matanya, Hita bisa mengetahui dan coba untuk mencari celah kelemahan ilmu sesat tersebut. Harus diakui, Kitab Ilmu Wasiat Iblis amat membantu sang tabib kecil.


"Ayah ... tidak!" Suhita yang melayang di udara, tidak berkedip kala menyaksikan Mahesa benar-benar memasang borgol sihir di lengannya.


Mengapa ayahnya begitu bodoh?! Atau memang begitukah aturan dunia persilatan?! Meskipun dalam hati Suhita, ada rasa bangga. Karena ayahnya sangat menjunjung tinggi kejujuran. Seorang pendekar sejati, tidak akan menjilat air ludahnya sendiri.


Dewi Api menutup matanya, dia tidak sanggup untuk menyaksikan semua yang terjadi. Berpuluh tahun bersama, baru kali ini dia melihat Mahesa benar-benar tidak berdaya. Demi anak Puspita?! Ah, tidak. Dewi Api haruslah bisa lebih bijak. Tamparan keras mendarat di wajahnya jika melihat bagaimana anak-anaknya bersikap. Harusnya dia malu, bagaimana anak-anaknya menyikapi hal tersebut dengan bijak. Dewi Api juga bukanlah orang yang tua karena sengatan matahari semata, begitu banyak tempaan yang telah membawanya hingga ke tempatnya sekarang ini. Termasuk dengan memberikan restu pada pernikahan Mahesa tempo hari. Ketika dulu bisa, mengapa sampai sekarang dia masih bersifat kekanakan?!


"Titip anak-anakku. Tolong jaga mereka. Andaipun aku celaka, nyawa mereka jauh lebih berarti," itulah perkataan terakhir yang terucap dari mulut suaminya.


Hati Dewi Api teramat pedih, bak teriris ratusan sembilu berbisa. Tapi bagaimana juga dia harus menghormati pengorbanan suaminya dengan menuruti apa permintaannya. Mungkin, itu merupakan termasuk tanda bakti terbesar yang Dewi Api lakukan.


Sebelum Suhita, Danur Cakra dan Raka Jaya mendarat di atas tanah, Dewi Api telah lebih dulu bergerak memburu. Dengan segenap kemampuan dia membawa ketiganya untuk meninggalkan tempat itu. Pergi bersembunyi, menyelamatkan diri dari kepungan para pendekar di Klan Perisai Hujan.

__ADS_1


°°°


"Kemana ibu kalian?! Aku dengar, mereka coba untuk menemukannya," suara Dewi Api terdengar lirih.


Mereka telah berada di suatu tempat yang cukup jauh dari Klan Perisai Hujan. Dewi Api berhasil menyelamatkan ketiga anaknya, seperti apa yang Mahesa pinta.


"Hita tidak tahu, Bibi. Mungkin firasat ibu yang membawanya untuk pergi. Rasanya, tempat kakek dan nenek merupakan tujuannya," jawab Suhita.


Suasana memang terlihat sangat canggung. Ada jarak yang membentang di hati, antara tubuh mereka yang duduk berdekatan. Terutama Danur Cakra Prabaskara, sejak tadi anak itu hanya diam. Jiwanya yang begitu mudah terbakar emosi membuat guncangan yang terjadi sangatlah besar. Dia masih belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan pahit yang sedang terjadi.


"Semoga saja begitu. Aku hanya tidak ingin ayah kalian semakin menanggung beban derita," Dewi Api lekas berdiri.


"Tunggu di sini, aku akan segera kembali," dengan senyum yang dipaksakan, Dewi Api membelai kepala Danur Cakra.


"Ah, tidak. Aku tahu kemana tujuan ibu. Pasti ibu akan menyelamatkan ayah, benar 'kan bu?!" desak Raka Jaya.


Tiga orang anak Mahesa saling bertukar pandang. Mereka sadar akan bahaya besar yang akan Dewi Api hadapi. Dengan kemampuan pas-pasan yang mereka miliki tentunya mereka tidak akan berpangku tangan mendapati ayah mereka menderita.

__ADS_1


"Aku tahu, kemampuanku tidak besar, tapi biarkan aku berbuat untuk ayahku. Aku janji, tidak akan menjadi beban," mohon Suhita.


"Hita benar, aku pun tidak mungkin diam saja. Akan ku lakukan apa pun untuk bisa selamatkan ayah. Memang benar kami telah di tangkap dan menyebabkan ayah  menderita seperti sekarang. Tapi Bu, ibu harus tahu satu hal ..." Raka Jaya ikut mendukung Suhita dan merayu Dewi Api agar berpikir ulang akan keputusannya.


Bukannya bermaksud memuji, tapi semua yang Raka Jaya ucapkan atas Suhita memang benar adanya. Kemampuan bela diri yang Suhita miliki, memang paling rendah diantara mereka bertiga. Akan tetapi, kemampuan Tabib Dewa yang terlanjur menyatu dalam diri Suhita mengharuskan siapa pun mulai memperhitungkan bocah kecil itu.


Bukannya Dewi Api tidak tahu. Kabar yang menyebar dari mulut ke mulut mengenai Tabib Dewa juga telah berulang kali menggemparkan para pendekar di Padepokan Api Suci. Hanya saja, Dewi Api masih belum bisa sepenuhnya percaya jika orang yang di maksud dalam kabar itu adalah seorang anak yang terlahir dari rahim Puspita, istri dari suaminya yang juga berstatus sebagai madunya.


"Ibu, jangan kira kami akan biarkan ibu pergi untuk mengantarkan nyawa. Walaupun sangat tidak mungkin meminta bantuan pada Padepokan. Tapi kita butuh satu rencana yang matang," Raka Jaya terus meyakinkan ibunya, dia tahu kalau Dewi Api tidak akan memarahinya hingga Raka amat berani untuk utarakan pendapat.


"Jika sampai terjadi sesuatu pada salah satu dari kalian, maka pengorbanan ayah kalian merupakan suatu kesia-siaan. Mari kita memulai taruhan besar ini," Dewi Api menghela napas.


Akhirnya Dewi Api menyerah dan mengizinkan untuk ketiga putra Mahesa ikut terlibat. Dengan catatan besar, mereka harus ikut dan patuh dalam komando darinya. Bagaimana pun, keselamatan tiga anak tersebut sekarang telah menjadi tanggung jawabnya. Ya, benar. Hingga sekarang Dewi Api masih belum bisa menerima dengan sepenuh hati akan keberadaan Puspita di sisi suaminya. Akan tetapi, itu tidak berlaku untuk anak-anak tidak berdosa yang terlahir dari rahim Puspita. Yang Dewi Api benci adalah Puspita bukan anaknya.


Senyum mengembang di bibir Suhita, pun begitu dengan Raka Jaya. Meskipun tidak banyak bereaksi, Danur Cakra pun akan melakukan sebanyak yang dia bisa untuk menyelamatkan ayahnya. Meski kemampuan mereka tidak besar jika dibandingkan dengan para pendekar di Klan Perisai Hujan, tapi mereka yakin jika bekerja sama akan bisa membebaskan Mahesa.


Mengenai borgol sihir itu, Suhita akan mencoba kemampuannya. Dalam beberapa jam, Hita telah kembali membuka Kitab Ilmu Wasiat Iblis dan menambah pengetahuannya akan ilmu sihir yang digunakan untuk mengurung diri Mahesa. Jika kali ini dia gagal untuk menyelamatkan orang yang dia cintai, maka Suhita bertekad untuk berhenti menjadi seorang juru sembuh. Tiada guna kemampuan besar jika tidak bisa digunakan untuk selamatkan sang ayah.

__ADS_1


Tidak menunggu lebih lama lagi, empat orang itu telah bergerak meninggalkan tempat persembunyian. Mereka melakukan taruhan besar. Antara gagal dan juga berhasil.


__ADS_2