Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Janji Seorang Abdi


__ADS_3

"Cara yang tidak bijak," Suhita bangkit dari tempat duduknya. Namun pundaknya keburu ditangkap oleh Arya Winangun, hingga Suhita kembali duduk.


"Apa yang ingin kau lakukan, membantu?! Ingat, itu tidaklah benar. Bisa-bisa dia kembali terkena masalah akibat perbuatanmu," ucap Arya Winangun yang seketika bisa menghentikan Suhita.


Ini adalah babak penentuan. Suhita tidak ingin kakaknya kalah karena terlalu dikuasai oleh nafsu dan kemarahan. Tinggi hati adalah satu hal yang akan selalu menjerumuskan manusia. Danur Cakra harusnya bisa kuasai semua itu sebelum terlambat. Kecuali jika dia melupakan peraturan yang mengikat dalam pertandingan kompetisi itu. Karena yang terkuat bukan satu-satunya menentukan akan jadi pemenang.


"Kakak, kau pasti bisa," hanya berdoa dalam hati. Itulah yang bisa Suhita lakukan.


Seperti mendengar perkataan adiknya, Danur Cakra melompat mundur cukup jauh. Sampai dia bisa bertatapan dengan Suhita. Danur Cakra sadar, selain dirinya ada orang lain yang amat mengharapkan kemenangannya. Yakni Suhita, adiknya.


"Aku harus kontrol emosi. Jika dia tidak gunakan kekuatan besar, aku tidak boleh berusaha untuk mencelakainya," Danur Cakra menghela napas sebelum kemudian kembali mempersiapkan jurus tapak naga.


"Apa kau mulai gentar? Ayo maju dan serang aku!" tantang Bayu Bajra.


"Hahaha! Justru sejak tadi aku menunggu datangnya angin ribut. Atau jangan-jangan dunia ini sudah damai, hingga angin pun enggan datang?!" Danur Cakra mencibir lawannya.


"Baiklah jika itu yang kau inginkan. Ku harap, kau tidak menyesal!"


Detik selanjutnya, mereka telah kembali dalam pertarungan. Di mana masing-masing berkonsentrasi pada kemampuan yang mereka miliki.


Suasana semakin tegang, manakala di atas arena laga bermunculan energi-energi asing yang bertabrakan satu sama lain. Ada sesuatu yang terasa aneh, Bayu Bajra terlihat tidak begitu leluasa dalam bergerak. Kaki dan tangannya nampak sangat berat saat digerakkan hingga kemampuan pukulan angin yang dia gunakan tidak sebagai mana mestinya.


"Sial, apa yang terjadi? Mengapa berat badanku bertambah signifikan?! Apa yang dia lakukan padaku, jurus apa ini?!"

__ADS_1


Saat Bayu Bajra dalam kebingungan, saat itulah Danur Cakra mendapatkan kesempatan untuk menghantamkan pukulan tapak naga api ke tubuh lawannya.


DAAARRR !!!


Satu ledakan dahsyat berhasil menghentikan pertarungan. Tubuh Bayu Bajra terhempas sampai ke luar arena kompetisi, beruntung dia tersangkut di dinding pembatas hingga tidak sampai jatuh ke tanah. Asap mengepul dari sekujur tubuhnya. Pukulan Tapak Naga Api yang Danur Cakra gunakan berhasil merubah tampilan wajah Bayu Bajra menjadi sedikit gosong dan hampir tidak dikenali. Untung ada gurunya yang langsung mengalirkan hawa murni hingga kondisinya kembali stabil.


Danur Cakra Prabaskara putra Mahesa berdiri sebagai pemenang. Dia akan menunggu siapa pun pemenang selanjutnya untuk perebutkan tempat tertinggi.


"Yeeee ... horeee !!! Aku menang!" Suhita bersorak gembira. Dengan demikian, Arya Winangun harus menebus kekalahannya.


"Ya, baik. Kau menang, laku kau ingin aku lakukan apa untukmu?" ucapnya menyerah.


"Haiiisss ... sabar. Nanti akan ku beri tahu. Sekarang yang pasti kita tunggu pertandingan selanjutnya," wajah Suhita terlihat sangat bahagia.


Dari kejauhan, Suhita melihat Danur Cakra melambai ke arahnya meminta untuk dia segera mendekat. Sepertinya ada yang ingin disampaikan.


Arya Winangun kebingungan, tapi dia tidak punya pilihan. Untuk sementara waktu, dia akan menuruti apa yang Suhita perintahkan sebagai hasil dari taruhan yang tadi mereka sepakati.


"Siapa dia?" Danur Cakra menunjuk ke arah Arya Winangun yang ikut bersama Suhita.


"Namanya Arya Winangun, kak. Dia temanku menonton. Selamat ya, kakak berhasil mencapai partai puncak," dengan penuh kegembiraan Suhita memburu Danur Cakra.


Tidak peduli jika saudara kembarnya itu sangat risih diperlukan terlalu berlebihan. Yang jelas, menyaksikan Suhita merangkul Danur Cakra, ada Arya Winangun yang menelan ludah karenanya. Arya Winangun justru heran mengapa Danur Cakra begitu acuh pada Suhita.

__ADS_1


"Hei, kau. Dari mana asalmu? Siapa gurumu?" Danur Cakra memberondong Arya Winangun dengan pertanyaan.


Dengan terbata-bata, Arya Winangun menjabarkan latar belakang keluarganya. Dia mengaku jika dia adalah orang biasa yang hanya dibekali sedikit kemampuan olah kanuragan. Dulu memang ayahnya bekas seorang pendekar, sementara ibunya dulu bekerja sebagai abdi dari seorang pendekar besar. Setelah kedua orang tuanya menikah, mereka memutuskan untuk hidup sebagai warga biasa.


"Ibuku juga dulu seorang abdi. Itu tandanya kau tidak perlu sungkan pada kami. Oh, ya. Kalau boleh tahu, siapa nama ibumu?" Suhita jadi penasaran pada cerita Arya Winangun. Terlihat jika Arya Winangun bicara apa adanya.


"Namanya Endang Kusuma Gandawati, ibuku berasal dari selatan. Sudahlah, kalian tidak mungkin kenal," Arya Winangun tertawa kecil seraya melambaikan tangan. Meminta untuk Suhita tidak perlu memikirkan.


Rasanya Suhita pernah dengar nama itu. Endang Kusuma Gandawati rasanya pernah diceritakan oleh ibunya. Kalau tidak salah. Sudahlah, entoh Suhita juga tidak membuka jati diri keluarganya.


Arya Winangun tidak bisa bicara apa-apa saat dia diajak untuk pergi ke dalam ruang peristirahatan peserta kompetisi. Entah mimpi apa, yang jelas dekat dengan Suhita membawanya pada hal yang tidak terduga. Ya, meskipun tidak jarang hatinya ketar-ketir karena takut.


Suatu kebetulan, jika Arya Winangun bisa mengikuti Suhita ataupun Danur Cakra. Karena tanpa mereka ketahui, jika orang tua mereka juga demikian. Endang Kusuma Gandawati, Puspita dan Mahesa, mereka pernah melewati banyak hal besar dari wilayah Selatan hingga Utara.


"Oh, ya. Sebenarnya namaku bukan Melati. Karena kau dengan ikhlas hati mengikuti aku, maka aku beri tahu kau yang sebenarnya ..." saat di dalam kamar, Suhita menjelaskan pada Arya Winangun. Sambil meminta Arya Winangun membayar taruhannya dengan melayani Suhita saat meracik ramuan untuk Danur Cakra.


"Apa setelah ini selesai, kau akan memintaku untuk pergi?" tanya Arya Winangun.


"Setelah kau selesaikan tugasmu, itu tandanya kita tidak punya sangkutan lagi. Kau bebas melangkah ke mana pun kau suka," jawab Suhita tanpa menoleh.


"Jika aku ingin terus mengikuti dirimu, apa kau keberatan? Aku ingin membantu kau menolong orang. Esok lusa, kau pasti jadi seorang tabib kondang."


Suhita menghentikan pekerjaannya. Dia menatap ke arah Arya Winangun. Begitu juga dengan Danur Cakra. Saudara kembarnya Suhita bangkit dan melangkah mendekat.

__ADS_1


"Apa kau sadar, atas apa yang baru kau ucapkan? Kalau begitu, kau harus siap sedia untuk ikut menjaga keselamatan Hita. Artinya, sekarang kau boleh pulang. Kembali pada orangtuamu dan persiapkan diri. Setelah kau sudah siap, baru datang lagi," suara Danur Cakra terdengar pelan tapi sangat berarti dan dalam.


Arya Winangun menyanggupi syarat itu. Dia akan giat berlatih olah kanuragan. Setelah saatnya nanti, dia akan kembali untuk membantu dan menjaga Tabib Hita dari marabahaya dalam menebar kebaikan.


__ADS_2