
"Arya, tunggu!" teriak Suhita. Kemudian tabib muda itu bergegas turun dari kereta.
Arya Winangun menghentikan langkahnya, menunggu hingga Suhita tiba. Entah apa yang ada di dalam pikiran Suhita, hingga dia nekad mendekati si nenek tua tanpa persiapan sama sekali. Praduga baik yang Suhita miliki justru membuat para pelayannya menjadi cemas.
"Nenek ... maaf. Apa nenek terluka?" Suhita menyentuh pundak nenek. Membuat nenek tua itu tersentak kaget.
Suhita tersenyum lalu meminta maaf. Dia tahu jika si nenek seorang tuna rungu, selain itu juga indra penglihatannya sudah tidak jelas. Maklum karena usia yang membuat satu persatu nikmat kehidupan menghilang.
Suhita memberikan nenek itu makan dan minum. Setelah itu barulah sedikit demi sedikit Suhita mengajak nenek itu berbicara. Sedikit sulit, tapi dengan amat sabarnya akhirnya Suhita bisa mendapatkan ketenangan dari si nenek.
Namanya Suratmi. Nenek Suratmi tersesat hingga tempat itu karena dia tidak bisa mengingat jalan pulang. Sebelumnya terjadi kekacauan di tempat tinggalnya. Yang tiba-tiba muncul badai besar juga kebakaran di beberapa titik. Nenek Suratmi berusaha untuk mencari cucu laki-lakinya yang hilang dalam badai. Tidak disangka dia malah tersesat dan semakin menjauh meninggalkan tempat tinggalnya. Sungguh kasihan nasib Nenek Suratmi, akan tetapi dia justru lebih mengkhawatirkan keadaan cucunya yang masih berumur enam tahun.
"Sejak lahir dia tinggal bersama nenek, ayah dan ibunya meninggal dimangsa oleh binatang buas saat mencari kayu bakar," tutur si nenek dengan sedih.
Suhita membesarkan hati Nenek Suratmi, Hita juga berjanji akan membantu untuk menemukan cucu laki-laki nenek. "Siapa tadi namanya ... Jaka ya nek? Pokoknya nenek tenang saja. Saya pasti akan bantu nenek. Sekarang, silahkan habiskan makanannya."
Hati nenek Suratmi lebih tenang. Dia tidak lagi nampak seperti orang kebingungan. Setidaknya ada sebuah alasan yang membuat pikirannya lapang. Dia menaruh kepercayaan dan harapan besar pada wanita muda yang ditemuinya. Nenek Suratmi yakin jika ucapan Suhita bukan sekadar basa-basi semata.
Belum lama singgah, sudah begitu banyak kejadian-kejadian tidak terduga yang Suhita temui di kota Binar Embun. Selain pertemuannya dengan Danur Cakra Prabaska, Suhita merasa tidak ada kejadian lain yang menarik. Kalau begini terus, rasanya dalam tiga purnama pun dia tidak akan sampai ke kota raja.
"Hita, bagaimana kalau malam ini biar aku saja yang mengantarkan nenek pulang. Kau kembali saja dulu ke penginapan, kau perlu istirahat setelah begitu banyak menguras tenaga," usul Arya Winangun.
Suhita menghela napas sejenak. Ucapan Arya Winangun memang benar. Akan tetapi Suhita sangat tidak tega melihat nenek Suratmi. Memandang nenek itu, Suhita jadi ingat pada neneknya. Rengganis sudah berusia lebih dari satu abad, sementara Suhita belum pernah mengabdikan dirinya untuk mengurus sang nenek meski hanya satu pekan. Mengingat itu, hati Suhita menjadi tersentuh.
"Tidak apa-apa, biar aku ikut mengantar nenek. Kasihan dia."
Kereta kuda yang mereka kendarai mengambil jalur ke arah kanan, terlebih dahulu mereka akan mengantar nenek Suratmi untuk kembali ke kediamannya sambil mencari tahu apa yang sedang terjadi di sana.
°°°
Prana menghentikan laju kereta kuda. Di depan, jalanan penuh dengan kayu dan puing atap rumah penduduk. Nampaknya mereka telah tiba di wilayah yang terkena bencana badai, tempat kediaman nenek Suratmi. Nampak dari kejauhan para penduduk sebagian bergotong royong menyingkirkan puing-puing, sementara ada pula yang menangis meraung. Suhita mengajak Kencana Sari untuk melihat keadaan.
"Tuan, maaf. Apa yang baru saja terjadi di sini?" tanya Suhita pada seorang penduduk.
Penduduk bertelan*jang dada itu secara singkat menceritakan perihal bencana yang menimpa mereka. Angin kencang disertai debu tebal memporak-porandakan sudut timur kota Binar Embun. Ada satu hal yang juga membuat kaget dan terbilang janggal. Selepas badai berlalu, sedikitnya terlapor sepuluh orang anak laki-laki yang menghilang. Belum jelas apa yang terjadi, mungkin anak-anak itu tertimbun bangunan yang roboh, atau terbang tertiup angin. Hingga saat itu, pencarian masih terus dilakukan.
"Apakah banyak korban jiwa?" tanya Suhita lebih lanjut.
"Di balai jaga, para penduduk yang terluka diobati. Namun hanya ada satu orang tabib, obat-obatan juga minim. Jadi mereka melakukan pertolongan seadanya," jelas penduduk.
Sebelum menuju balai jaga, terlebih dahulu Suhita mengantarkan nenek Suratmi pulang ke rumah. Kebetulan penduduk tadi mengenali nenek Suratmi, tahu di mana nenek Suratmi tinggal.
"Rasanya aneh, aku merasakan banyak kejanggalan dalam badai ini. Debu-debu yang tersisa, seperti bukan murni gejala alam," ucap Suhita.
Kencana Sari hanya menyimak penuturan majikannya. Dibanding Suhita, tentu kemampuan yang dimiliki Kencana Sari masih jauh tertinggal. Yang terpenting sekarang ialah mengobati orang-orang yang terluka.
__ADS_1
Dalam sekejap, Suhita menjadi orang yang sangat dibutuhkan dalam balai jaga. Bahkan tabib di kota itu pun terlebih dahulu bertanya pada Suhita sebelum melakukan penanganan. Waktu demi waktu Suhita terus menangani pasien. Dia tidak memperdulikan peluh yang membasahi keningnya.
"Tolong pegang kakinya dengan erat. Ini akan terasa sedikit sakit." Suhita kemudian menekan beberapa titik syaraf di tangan seorang pemuda yang dia obati, perlahan membuat lengan tersebut menjadi relax.
KRAAAKK! Dengan satu sentakan mendadak, Suhita membetot tangan sang pemuda. Mengembalikan posisi sendi ke tempat semula. Karuan saja, pemuda itu kelojotan menahan rasa sakit dan nyilu. Tapi setelah itu, berangsur kondisinya membaik karena pusat sakitnya sudah diobati.
Suhita menghela napas lega. Seutas senyum tersungging di sudut bibirnya. Saat diam begitu, mendadak Suhita merasakan adanya sapu tangan yang mengelap keringat di dahinya. Dengan lembut dan penuh kasih, tangan itu membersihkan keringat Suhita yang menetes.
Perlahan-lahan Suhita menoleh ke arah pemilik tangan. Dia mendapatkan seorang pendekar tampan yang begitu hangat memberinya perhatian. Hanya senyum yang bisa Suhita lepaskan, "terima kasih."
"Jangan terlalu memaksakan diri. Demi kesembuhan mereka semua, kau juga harus menjadi kesehatanmu. Bagaimana mereka akan sehat jika kau sendiri yang justru jatuh sakit," ucap pemuda itu. Menarik paksa lengan Suhita untuk kemudian membawanya duduk di sebuah kursi. Kemudian dia pula mengelap kedua tangan Suhita.
"Kak, terima kasih banyak ... dan maaf telah membuatmu cemas menunggu."
Dengan curi-curi pandang, Arya Winangun dan yang lain melirik ke arah Suhita. Mereka juga merasa aneh, mengapa Suhita begitu patuh pada Pendekar bernama Cakra tersebut. Kuat dugaan mereka jika pendekar muda tersebut adalah kekasih Suhita, hanya Suhita saja yang tidak pernah memberi tahu siapa pun.
Bahkan dunia persilatan sendiri buta mengenai hubungan persaudaraan anak-anak Mahesa. Tidak ada yang tahu mengenai hal itu. Hanya segelintir pendekar besar bahkan di Padepokan Api Suci yang merupakan tempat di mana Pendekar Elang Putih sering menampakkan diri menemui anak dan istrinya.
Hanya Raka Jaya, yang sekarang menjadi seorang jenderal di Kerajaan Utara. Putra Mahesa dan Dewi Api itulah yang banyak dikenal orang. Sementara sepasang anak kembar yang terlahir dari rahim Puspita Dewi, masih luput dari perhatian. Bahkan Tabib Titisan Dewa yang mereka kenal, siapa yang menduga jika tenyata juga merupakan putri dari Pendekar Elang Putih.
Begitu tertutupnya kisah asmara Mahesa yang rumit, menjadikan dunia buta pada kehidupan pribadinya. Termasuk juga anak-anaknya, terlebih lagi memang tidak seorang pun anak Mahesa yang mau mendompleng nama besar sang ayah. Mereka senang berjuang di dalam takdir mereka masing-masing.
"Hei, kau kenapa? Diminum teh nya," Kencana Sari menyentuh pundak Suhita yang masih duduk dengan pikiran mengembara.
Suhita menoleh ke arah Danur Cakra yang berjalan seorang diri mengitari balai jaga. Kondisi pendekar muda itu sedang tidak prima, harusnya dia tidur dan istirahat. Hita jadi semakin merasa bersalah, karena dirinya yang tidak kunjung pulang juga tidak memberi kabar makanya Danur Cakra nekad menyusul.
"Sari, kau gantikan aku sebentar ya. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya," ucap Suhita seraya menepuk pundak Kencana Sari.
Kencana Sari tertawa kecil. Tanpa diminta sekalipun, bukankah sejak tadi itu yang dia lakukan? Sudah merupakan tugasnya untuk membantu Suhita. Apalagi jika Suhita sedang dalam kepentingan mendesak seperti sekarang.
"Dia bicara apa padamu?" tanya Arya Winangun setelah Suhita berlalu.
Kencana Sari mengangkat sebelah alisnya, matanya tidak lepas menatap tajam wajah Arya Winangun. "Jangan katakan jika kau merasa iri, apalagi cemburu. Kau belum gila 'kan?"
Arya Winangun menelan ludah. Yang bisa dia lakukan hanyalah ngedumel. Perkataan Kencana Sari dirasa terlalu kasar dan mempermalukannya di depan banyak orang. Tidak salah bukan, jika dia mengkhawatirkan keselamatan Suhita.
°°°
"Ada aroma siluman yang tertinggal di debu-debu ini. Aku yakin kalau pembuat kekacauan bukan berasal dari bangsa manusia," Danur Cakra mengendus-endus sisa-sisa debu yang menempel di celah kayu.
"Menurut Kakak, siluman apakah yang kerjanya menculik anak laki-laki?" tanya Suhita. Hita percaya pada pernyataan kakaknya, karena dia tahu kalau sejak kecil Danur Cakra mempelajari ilmu terlarang yang membuat dirinya bisa bersahabat dengan genderuwo.
"Siluman besar. Dengan usia di atas tiga ribu tahun. Aku yakin kemampuannya sekarang telah meningkat berkali lipat berkat selalu mengkonsumsi sup anak laki-laki," jawab Danur Cakra enteng.
Apa?! Jadi siluman tersebut menculik anak-anak kecil untuk dimasak menjadi sup, kemudian disantap demi menambah kekuatan. Apa arti semua ini? Suhita menelan ludah. Miris.
__ADS_1
"Kakak, Hita mohon untuk tidak memikirkan hal lain kecuali kesembuhanmu. Besok Hita akan pikirkan cara untuk bisa percepat kesembuhan luka dalam Kakak. Tapi dengan satu syarat ..."
"Apa itu?"
"Kakak harus menurut dan tidak boleh bandel. Kalau tidak ... jangan salahkan Hita seandainya luka dalam Kakak justru akan semakin parah."
Danur Cakra mengerutkan dahi. Kebiasaan lama Suhita mereka kembali muncul. Padahal sudah jelas-jelas Hita tahu kalau Danur Cakra paling anti berada dalam protokoler.
"Kau mengancamku? Apa kau pikir akan mempan?! Tanpa dirimu, sejauh ini buktinya aku bisa bertahan. Sudahlah, lupakan saja! Jangan sok-sok'an di hadapanku!"
Suhita mendengkus kesal. Satu-satunya sifat Danur Cakra yang paling tidak Suhita sukai yakni kesombongannya. Entah mengapa, tidak seperti ayah dan kakeknya justru Danur Cakra seorang yang arogan. Itu nampak sedari masih kecil dulu.
"Kau memang sosok pengganti ayah bagiku, tapi untuk hal ini aku pun berhak menjadi sosok ibu untukmu. Sekarang ini, memangnya apa yang bisa kau lakukan? Dengan satu serangan saja, aku bisa membuatmu jatuh tidak berdaya. Apa kau mau pesona kependekaran yang lama kau bangun hancur begitu saja?" ancam Suhita.
"Aku sedang tidak mau bertengkar denganmu. Lagipula mana pernah seorang wanita salah. Jika wanita salah, pasti laki-laki lebih salah!" Danur Cakra melengos. Berbalik badan meninggalkan Suhita.
Suhita tertawa kecil, kebanggaan tersendiri baginya jika bisa membuat kakaknya kesal sampai tidak bisa bicara lagi.
"Kakak, tunggu dulu. Jangan marah, nanti kau terlihat semakin buruk rupa," Suhita berlari mengejar Danur Cakra. Bergelayut manja di bahu kakaknya.
"Hish!" Danur Cakra berontak. Sangat tidak nyaman baginya, meskipun Suhita merupakan saudarinya.
Begitu banyak pasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan, semakin menambah rasa tidak nyaman bagi Danur Cakra. Dari sekian orang tersebut, tidak seorang pun yang mengetahui hubungan persaudaraan mereka. Pasti ada yang berpikir jika Danur Cakra adalah kekasih Suhita. Menanggapi hal tersebut sepertinya Suhita cuek-cuek saja dan tidak perduli pada pandangan orang-orang disekitarnya.
Danur Cakra sendiri, dia tidak pernah menjelaskan asal-usul dirinya. Yang orang tahu, hanyalah kemampuan Jurus Tapak Penakluk Naga yang menampakkan kalau dia berasal dari keturunan trah Pendekar Naga Suci. Membuat orang-orang tahu kalau Suhita adalah adiknya, adalah satu hal paling bodoh. Danur Cakra tidak ingin Suhita terlibat dendam kesumat yang mengarah padanya.
Ya ... mungkin jauh lebih baik berjalan seperti sekarang. Di mana mereka bisa melangkah bebas tanpa melibatkan satu sama lain dalam masalah pribadi masing-masing.
Sebelum pergi, Danur Cakra mengumpulkan beberapa bukti yang dianggap penting. Setelah kondisinya membaik, Danur Cakra akan melakukan penyelidikan. Dia yakin jika dugaannya benar. Ada siluman di balik kekacauan yang terjadi di sana. Sayangnya, untuk saat ini Danur Cakra hanya bisa bersabar karena dia butuh energi yang besar untuk bisa pergunakan kemampuan.
"Ada apa, Kak?!" tanya Suhita.
"Sssttt! Ceritanya sangat panjang. Kau harus dengar keseluruhannya agar tidak salah paham. Sekarang, baiknya kau jangan banyak bertanya," Danur Cakra menyilangkan jari telunjuknya di atas bibir Suhita.
"Ihhh, apa sih. Menyebalkan sekali," Suhita malah menggigit jari telunjuk Danur Cakra.
Jika berani bicara jujur, ingin rasanya Arya Winangun menegur Suhita dan menyatakan perubahan aneh dari sikap Suhita semenjak kedatangan Cakra. Pendekar muda tidak jelas asal-usulnya itu bahkan menghindar saat hampir kepergok dengan prajurit kerajaan. Apa mungkin dia seorang buronan? Tapi anehnya, mengapa Suhita begitu menurut padanya?
"Baiknya kita cari waktu yang tepat. Kau juga harus pandai jaga sikapmu, lihatlah Tabib Hita merasa tidak nyaman kalau salah satu dari kita dirasa mengganggu kebersamaan mereka," ucap Kencana Sari yang di-iyakan oleh Prana.
Sebagai pembantu yang sudah cukup lama mengikuti Suhita, wajar kalau ketiganya khawatir. Terlebih lagi melihat sikap Danur Cakra yang lebih mirip pendekar aliran sesat, membuat harus meningkatkan kewaspadaan berkali lipat. Bukan hal yang baru, lawan bertopeng kawan. Untuk bisa celakai Tabib Dewa, segala hal akan mereka lakukan.
"Sungguh aku penasaran siapa pendekar itu. Aku curiga dia merupakan seorang buronan kerajaan," ucap Arya Winangun.
Arya Winangun memisahkan diri dari kedua temannya. Dia tidak langsung kembali ke penginapan, melainkan berjalan menghampiri prajurit kerajaan. Seorang tumenggung yang menjadi pemimpin pasukan.
__ADS_1