
"Tunggu! Ada yang menyusul kita. Mungkin dia membawa berita atau kabar lebih lanjut," pendekar keempat, yang berada di barisan paling belakang berteriak pada teman-temannya.
Enam Pendekar serentak menghentikan langkah kaki mereka. Mereka menunggu orang bercadar yang melesat menyusul. Bisa jadi, orang itu adalah utusan Bos Geledek.
"Hei, ada perintah apa?!" tanya Pendekar kesatu ketika sosok yang mereka tunggu mendarat di sebuah batu tidak jauh dari mereka.
Pria bercadar dan berjubah hitam itu tidak lain adalah Mahesa, yang sengaja menyusul Enam Pendekar untuk menghabisi mereka di tempat yang jauh dari sangkar. Dengan begitu, Enam Pendekar seolah gagal dalam menjalankan misi mereka.
Sekilas, mari kita mengenal terlebih dahulu akan kemampuan yang dimiliki oleh geng penjahat berjuluk Enam Pendekar. Hingga akan sama-sama mengetahui alasannya mengapa Mahesa harus lebih dulu menyingkirkan Enam Pendekar, dan membawa mereka jauh dari markas.
Pendekar kesatu dan ketiga, mereka merupakan pendekar dengan kemampuan tapak tingkat tinggi. Bahkan dengan sekali tepuk, Pendekar kesatu mampu membuat batu yang besar berubah menjadi tepung. Begitu juga dengan pendekar ketiga, kemampuan tenaga dalam yang dia miliki tidak kalah mengerikannya. Dibarengi dengan ilmu panglimunan (kemampuan menghilang dari pandangan) yang dimiliki oleh pendekar kedua, membuat kombinasi dari tiga pendekar itu menjadi momok yang menakutkan dan dihindari oleh lawan.
Pendekar keempat, merupakan seorang ahli pedang. Dia memiliki sebilah pusaka yang bernama Pedang Batu Bintang. Sebuah pusaka langit yang telah digunakan untuk mencabut nyawa puluhan bahkan ratusan pendekar di dunia persilatan.
Pendekar kelima bersenjatakan tombak, yang juga merupakan pusaka langit. Sementara, pendekar keenam merupakan seorang pengendali angin. Dia adalah tipe petarung jarak jauh. Yang mengendalikan benda-benda di sekitar dengan menggunakan bantuan energi angin.
Sebagian orang berpendapat jika pendekar keenam adalah yang paling berbahaya karena dia tipikal pengecut yang selalu mengambil keuntungan dari pertarungan yang diciptakan oleh lima pendekar yang lain. Saat lawan yang mereka hadapi tengah fokus pada pertarungan, tiba-tiba saja pendekar keenam menyerang dari belakang. Membuat konsentrasi lawan menjadi buyar dan bisa dipastikan jika kemenangan berada di tangan Enam Pendekar.
Setelah mengetahui kemampuan semacam itu, membuat Mahesa memutuskan untuk singkirkan duri paling berbahaya di Kelompok Jubah Hitam tersebut. Dengan hanya berhadapan dengan mereka berenam saja, Mahesa masih yakin seratus persen akan mampu untuk menandingi mereka jika tidak mendapatkan gangguan dari banyak pihak. Paling tidak, mereka tidak akan bisa melarikan diri.
__ADS_1
"Fuuiiihhh! Kau membuang-buang waktu kami saja. Jika tidak berkepentingan, mengapa harus menyusul! Menyebalkan!" pendekar keenam terlihat kesal. Jari telunjuknya bergerak, melemparkan sebuah batu yang berada di belakang Mahesa.
Baaarrr !!! Batu tersebut langsung hancur lebur ketika baru begerak sedikit.
Hal itu tentu saja berhasil membuat Enam Pendekar mengerutkan dahi. Mereka baru sadar jika yang menemui mereka adalah seorang penyusup yang hanya membalut tubuhnya dengan jubah dan cadar hitam. Seketika itu juga, Enam Pendekar meningkatkan kewaspadaan. Mereka menyiapkan kemampuan mereka masing-masing untuk lakukan tindakan antisipasi.
"Hahaha! Baguslah jika kalian sudah sadar. Tinggal di tempat yang hangat, membuat tidur kalian begitu lelap. Aku hampir tidak percaya, jika Enam Pendekar yang begitu kesohor begitu mudahnya aku bodohi," Mahesa mengibaskan tangannya. Seketika jubah dan cadar hitam yang menutupi tubuhnya lenyap dan berganti dengan tampilan seorang pendekar berpakaian serba putih dengan topeng perak menutupi sebagian besar wajahnya.
"Pendekar Topeng Perak?! Wah-wah, tidak disangka. Setelah hampir sepuluh tahun menunggu, akhirnya berkesempatan juga bertemu denganmu. Dulu, kau begitu populer setelah mengobrak-abrik Aliansi Bunga Suci."
"Ingatan yang bagus! Jika saja, kalian tidak bersembunyi di dalam gua pengap dan menutup sekujur badan dengan pakaian serba hitam itu, mungkin waktu kalian untuk menunggu tidak selama ini. Tugasku juga lebih mudah, untuk membabat habis akar serabut Aliansi Bunga Suci," Mahesa berjalan semakin mendekat. Sebilah pedang pusaka langit muncul di telapak tangannya.
Mata Mahesa melihat jika pendekar kedua telah sembunyi di balik jubah pendekar kesatu. Dengan ilmu panglimunan itu, dia akan membuat Mahesa kalang kabut saat hadapi dua orang yang ternyata adalah tiga.
"Apa kalian sudah selesai bersiap dalam formasi? Kalau begitu, mari kita mulai!" Mahesa tersenyum kecut. Dia sengaja menunggu lawan-lawannya menyelesaikan taktik bertarung, barulah memulai serangan.
Dalam dunia persilatan, meskipun cara demikian bisa digolongkan sebagai pertarungan yang fair, tapi sebagian besar pendekar menganggap tindakan itu termasuk salah satu cara merendahkan kemampuan lawan. Karena dalam pertarungan, ialah bagaimana kita menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Menang adalah jawaban dari segalanya.
Ting! Ting!
__ADS_1
Benturan senjata tajam terdengar begitu nyaring tatkala pedang di tangan Mahesa beradu dengan Pedang Batu Bintang milik pendekar keempat. Dengan jurus rahasia pedang dua belas, Mahesa membuka serangan dengan menggoreskan luka di bahu pendekar tersebut.
Bisa dilihat, siapa ahli pedang yang sesungguhnya. Karena semua orang pastinya bisa menggenggam gagang pedang, semua orang juga bisa mengaku jika dirinya mahir dalam memainkan pedang. Namun, siapa pun yang bisa melukai lawan lebih dulu, tanpa menamai diri pun orang akan tahu jawabannya.
"Teknik yang terlalu kuno! Harusnya kau lebih belajar agar bisa berkembang!" Mahesa melompat dan kembali menusukkan pedangnya ke arah dinding tebing.
Sekilas, Mahesa nampak menyerang ruang kosong. Tapi setelah ujung pedang Mahesa hampir sampai, barulah sosok di sana menampakkan diri. Ya, pendekar kedua yang gunakan aji panglimunan berdiri di tempat itu. Dia menghindar dengan melompat mundur hingga punggungnya berbenturan dengan tebing batu.
Mahesa tidak berhenti sampai di satu saja. Dia kembali menyerang dengan pedang di tangannya. Tidak memberikan kesempatan pada pendekar kedua untuk kembali menghilang dari pandangan.
Pendekar kedua mengerahkan pukulan tenaga dalam untuk tahan gerakan Mahesa. Akan tetapi, Pendekar Elang Putih bukanlah anak ingusan yang hanya dikendalikan nafsu membunuh semata. Tentunya dia telah dalam persiapan yang lebih matang. Ujung pedang yang digunakan untuk menembus energi pendekar kedua telah diselimuti oleh kekuatan Tapak Naga. Hingga pedang itu tidak kesulitan untuk tetap bergerak maju.
"Adik kedua !!!" Pendekar pertama berteriak lantang. Dia segera memburu ke arah yang sama. Tangannya, mengepal pukulan tapak berwarna biru pekat.
WUUSS!
Mahesa tiba-tiba menghilang. Dia bergerak sangat cepat, hingga sekarang telah berdiri di belakang pendekar kedua.
"Uuuppp ... kepa*rat!" pendekar pertama menarik tangannya berusaha untuk menahan pukulan. Jika dia tidak berhenti dan tetap menyerang, maka pendekar kedua yang akan menikmati pukulannya.
__ADS_1