Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Penggugah Hati


__ADS_3

Petir menyambar saling bergantian dengan suara dentuman yang menggema, suasana mencekam bukan disebabkan murkanya alam, melainkan anak manusia yang bertaruh nyawa di bawah kolong langit.


Kendati dibantu oleh banyak orang, tetap saja Ki Wadas keteteran ketika harus menahan serangan balik Maung Hitam. Ditambah lagi Kala Munding yang telah mengerahkan kekuatan penuh, satu persatu anak buah Ki Wadas terjatuh.


"Ranggaaa !!!" Jatmiko berteriak histeris, menyaksikan anak sulungnya dilemparkan oleh Kala Munding. Beruntungnya, kakak kandung Arsita hanya tersungkur di semak belukar, hingga tidak terjadi sesuatu yang fatal.


Jatmiko semakin tidak habis pikir pada sosok pemuda yang tadi menyelamatkan dirinya. Disuruh pergi, dia tidak mau. Tapi tidak melakukan apa-apa, hanya menonton pertarungan bahkan setelah Ki Wadas menerima beberapa pukulan.


BRUUUKKK !!! Tubuh Ki Wadas kembali terlempar, bergulingan di atas tanah dan baru berhenti setelah menabrak sesuatu. Ki Wadas mengangkat wajahnya, betapa dia terkejut karena sosok tersebut tidak lain ialah Danur Cakra.


"Kau ... mengapa masih di sini?" tanya Ki Wadas.


"Aku seorang pendekar, mana mungkin pergi tanpa pamit. Menghilang tanpa bekas. Aku di sini, tentu saja untuk membantumu memberi mereka pelajaran," ujar Danur Cakra.


Tanpa menunggu jawaban, Danur Cakra melangkahi tubuh Ki Wadas yang masih tergeletak bingung. Menyambut Maung Hitam dan Kala Munding.


Ketiga pendekar itu saling berhadapan, bertatap tanpa berkedip. Satu sama lain mengerahkan tenaga dalam saling menekan untuk bisa kalahkan lawan tanpa bertarung. Cukup lama, tanpa gerakan.


Praaattt !!! Bussss !!! Percikan api disertai dorongan angin, menghantam sebatang pohon bambu hingga terbakar.


"HIYYAAATTT !!!" Seiring dengan berakhirnya pertarungan diam mereka, Maung Hitam berteriak lantang menyerang Danur Cakra.


Seekor harimau kumbang mengaum keras, memamerkan taringnya yang besar dan tajam. Dalam larinya, harimau kumbang menebar aura kematian yang pekat. Di belakang sang harimau, seekor lembu jantan dengan tubuh sebesar badak turut berlari kencang. Andaikan mampu untuk halau serangan harimau, maka tanduk sang lembu tentu tidak bisa kompromi.


Tidak kalah cepat dari lawan-lawannya, Danur Cakra pun telah siap siaga. Kedua matanya terpejam, hanya mendengar desau suara yang mengalir dari dalam kalbu. Tepat ketika Cakra membuka mata, kilau cahaya menyelimuti tubuhnya. Cahaya itu bergerak melingkar, perlahan berubah warna juga bentuknya. Bersamaan dengan Danur Cakra menghentakkan tangan, dua ekor naga berwarna merah kehitaman berdiri tegak. Sinar matanya yang menyala terarah pada harimau dan lembu, masing-masing mengambil satu jatah.


WUUUSSS !!! BAAAAMMMM !!! Benturan maha dahsyat mengguncang arena pertarungan. Keempat sosok ilusi bentuk tenaga dalam tersebut saling beradu dan menimbulkan ledakan besar.


"Hump!" baik Maung Hitam maupun Kala Munding serentak terdorong mundur ke belakang, cukup jauh. Kali ini mereka bisa merasakan kekuatan yang setara hingga cairan warna pula menghiasi sudut bibir.


Yap! Teknik bertarung yang Danur Cakra miliki tidak hanya mengenai naga hitam, dia juga kuasai jurus rahasia Tapak Naga lainnya. Termasuk menciptakan tombak es seperti yang Suhita lakukan. Sebelum melakukan serangan dengan gunakan dua bayangan naga, Danur Cakra telah lebih dulu menebar benih kristal es di seantero arena pertarungan. Dan saat ini, teknik tersebut diberlakukan.


"Bang*sat!" Maung Hitam terkejut, dia tidak menduga bila pendekar yang dihadapi jauh lebih licik dari yang terlihat. Pemahaman bertarungnya sangat baik, berkali lipat dari usianya.


Tanpa miliki kesempatan untuk lakukan variasi serangan, Maung Hitam dan Kala Munding harus berjuang menghalau hujan tombak es dari segenap penjuru.


"Tidak disangka, yang dikatakan suhu ternyata hanyalah cupu!" desis Danur Cakra.


Tanpa menunggu lebih lama, ataupun sekadar memberi waktu pada Kala Munding perbaiki posisi. Danur Cakra telah datang dengan jurus Sepuluh Tapak Penakluk Naga. Menggebu, hendak tuntaskan perlawanan Kala Munding detik itu juga.


"Ah, celaka!" Kala Munding terkesiap. Namun terlambat, telapak tangan Danur Cakra telah lebih dulu menjangkau dadanya.


BAAAMMM !!! satu pukulan telak mendarat di dada Kala Munding. Seketika tubuhnya menjadi limbung, darah menyembur dari mulut dan hidung.


"Kau ambil saja semua!" Danur Cakra mengibaskan tangan, menghalau cipratan darah, mengembalikan darah tersebut dalam bentuk bongkahan keras.


"Aaakkkhh !!!" Kala Munding kelojotan. Sebelah matanya pecah tertancap oleh darahnya sendiri yang telah dirubah menjadi bongkahan batu. Cara Danur Cakra menyelesaikan lawan sungguh di luar nalar.

__ADS_1


"Pendekar Naga Kresna!" Maung Hitam mendengkus. Setelah anak buahnya, sekarang giliran sahabat setianya yang menjadi korban kebrutalan cara bertarung Pendekar Naga Kresna.


"Kau juga! Secepatnya akan menyusul!" Danur Cakra menuding wajah Maung Hitam.


"Hahaha! Anak kemarin sore ... tidak disangka, orang yang aku cari hanyalah seorang bocah ingusan!" Maung Hitam meludah.


"Kau tahu, perjalananku belum panjang. Dan aku butuh daftar nama orang-orang seperti dirimu. Seekor cacing tanah yang memandang dirinya sebagai naga," balas Danur Cakra tidak kalah sombong.


Maung Hitam menelan ludah. Meskipun dia tahu jika usia lawan tidak sampai separuhnya, tapi dengan kemampuan aneh yang belum pernah dia temui rasanya sangat sulit untuk diatasi. Belum lagi cara bertarungnya yang sangat brutal, bukan cermin seorang pendekar aliran putih.


Sebelum kembali bertarung, sekali lagi Danur Cakra melirik pada Kemuning. Tubuh gadis itu terlihat semakin lemah, dia harus cepat diobati. Itu artinya, Danur Cakra tidak boleh mengulur-ulur waktu lebih lama.


"Bede*bah tua! Panjatkan do'a pengampunan untuk dirimu, sebelum raja neraka menyambutmu!"


"Fuuiiihhh! Kaulah yang akan celaka di tanganku. Kau harus membayar semuanya. HIYYAAATTT !!!"


Kembali pertarungan sengit terjadi. Kali ini lebih serius dari sebelumnya. Dimana kedua belah pihak sama-sama bernaf*su untuk bisa akhiri perlawanan secepatnya.


Siapa yang menduga, jika kemampuan yang saat itu mereka saksikan merupakan ilmu yang Danur Cakra dapatkan dari seorang pendekar aliran putih. Ilmu yang juga sama halnya dengan Tapak Penakluk Naga milik Elang Putih yang melegenda. Mereka memiliki guru yang sama, tapi kenyataannya Naga Kresna dalam bentuk yang berbeda. Mungkin, bisa dikatakan jika Danur Cakra telah berhasil. Dia berhasil menjadi sosok dirinya sendiri, tanpa harus dikenali sebagai bagian dari trah Pendekar Selatan.


Danur Cakra mendaratkan kakinya di atas tanah, kuda-kudanya begitu kokoh, tapi kali ini dia tidak cepat melakukan gerakan. Hanya matanya saja yang berkedip, memandang tetesan darah yang mengalir dari jari jemarinya. Ada benda berbentuk bulat yang baru saja terpecah dalam genggaman itu.


Hening, tiada lagi suara teriakan penuh amarah. Apalah lagi dentuman pukulan tenaga dalam. Pertarungan telah usai. 


Tepat di belakang Danur Cakra, Maung Hitam sudah tidak lagi bergerak kelojotan. Dia kalah. Jasadnya sangat memprihatinkan, dengan kondisi dada yang terbelah. Ya, benda yang tadi pecah dalam remasan tangan Danur Cakra tidak lain adalah jantung Maung Hitam.


Danur Cakra mengalirkan tenaga dalam pada telapak tangan kanannya, membuat energi panas yang seketika menghapus seluruh darah Maung Hitam. Sebelum kemudian dia kembali menghampiri Ki Wadas dan yang lain.


"Ayo cepat! Hati-hati ... hati-hati ..." suara hiruk pikuk terdengar menggema dalam pantulan dinding gua.


Seorang tabib wanita paruh baya sedang mengobati luka-luka yang diderita oleh para pemain sirkus anak buah Ki Wadas. Dia juga telah memberikan ramuan yang diminumkan pada Kemuning. Akan tetapi, karena luka dalam yang diderita Kemuning merupakan yang terparah, maka kondisi gadis cantik itu belum menunjukkan kemajuan berarti.


Tabib Mala, dia merupakan seorang tabib baik hati yang bisa dipercaya. Oleh sebab itu, Ki Wadas dan Jatmiko mempercayainya untuk masuk ke dalam gua persembunyian.


Arsita beserta Kakaknya, Rangga. Baru saja kembali dari mencari ramuan obat. Mereka menemui ayahnya.


"Ayah, bagaimana keadaan Kemuning?" tanya Arsita.


"Tabib Mala telah mengobatinya, percayalah seiring berjalannya waktu dia pasti akan sembuh," jawab Jatmiko.


"Oh, ya. Di mana Cakra?" tanya Arsita lagi. Sejak memasuki gua, dia sama sekali tidak melihat bayangan orang baru itu.


"Tadi dia dipanggil oleh Tabib Mala. Mungkin ada sesuatu yang harus dikerjakan."


Arsita dan Rangga saling bertukar pandang. Bagaimana bisa Tabib Mala justru lebih percaya pada orang baru itu ketimbang yang lain? Apa karena dia memiliki kemampuan olah kanuragan yang tinggi? Apa hubungannya.


"Kakak, baiknya kita cari tahu. Ayo," bisik Arsita. Kakaknya mengangguk.

__ADS_1


Bahkan ketika Kemuning memakai cadar, begitu banyak orang yang mengejar-ngejar. Bagaimana ceritanya dengan sekarang? Kemudian Pendekar Cakra, tidak mungkin dia datang tanpa maksud dan tujuan. Arsita beberapa kali memergoki Cakra sedang melakukan tindakan aneh kala mengitari gua tersebut seorang diri. Wajar 'kan kalau tumbuh rasa curiga?!


Sementara itu, Tabib Mala baru saja merampungkan meracik obat rebus. Dia juga sudah menyalakan api. Dengan ramuan itu, diharapkan bisa mengurangi rasa sakit yang mendera tulang Kemuning.


"Cah Ayu, kau pasti bisa melewati ini. Yakinlah pada dirimu sendiri," dengan senyum Tabib Mala menuntun Kemuning untuk berendam di dalam air rebusan yang masih hangat.


"Tabib, terima kasih. Aku tidak akan melupakan jasamu," Kemuning berusaha untuk tersenyum.


Kekuatan tenaga dalam yang dimiliki oleh Kemuning hanyalah separuh dari kekuatan Maung Hitam. Wajar saja, saat terkena pukulan yang telak maka dia mengalami luka yang amat serius. Masih beruntung tidak kehilangan nyawa.


Kemuning menyandar, membuat tubuhnya menjadi relax guna menekan stres yang menekan. Bila dia menambahkan dengan beban pikiran, pastinya luka ini akan semakin parah. Tenang, dia berusaha untuk hadapi semuanya dengan rasa bahagia.


"Permisi ..." terdengar suara seorang pria yang sangat asing dari luar ruangan.


Sontak seluruh konsentrasi Kemuning mendadak buyar. Siapa gerangan? Bagaimana bila orang itu memaksa masuk, sementara Kemuning sedang berendam dan tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Celaka! Dalam riuh debar jantungnya, Kemuning menaruh harapan paling besar pada Tabib Mala.


"Tuan pendekar, silakan masuk."


DUAAARRRR !!! Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Perkataan Tabib Mala membuat tubuh Kemuning bergetar hebat. Namun tiada yang bisa dia lakukan, karena untuk mengeluarkan suara saja begitu lemah.


Mata Kemuning tidak lepas dari daun pintu. Dia penasaran pada sosok yang akan datang. Harap-harap cemas menghantuinya. Kejadian-kejadian mencekam yang ditemui belakangan ini membuat Kemuning kena mental. Terlebih pada orang asing, sama sekali dia tidak bisa percaya. Saat ini, yang bisa Kemuning percaya hanyalah teman-temannya di kelompok sirkus. Tapi kenyataannya, dalam ruangan itu dia hanya bersama dengan orang yang tidak dikenalnya.


Dalam beberapa waktu, Kemuning lupa cara untuk bernapas. Wajah pemuda asing muncul dari balik daun pintu. Danur Cakra.


Pertama kali ketika Danur Cakra muncul, saat itu Kemuning dalam keadaan luka parah. Dia tidak bisa mengingat siapa yang menyelamatkan dia dan teman-temannya dari serangan Maung Hitam dan Kala Munding. Dan sekarang kehadiran Danur Cakra, menjadi sosok monster yang amat menakutkan. Kemuning yakin jika pria itu merupakan orang yang selama ini hendak menangkapnya.


"Ti-tidak ... jangaann ..." suara Kemuning lemah. Dia hendak bangkit dan berlari tapi apa daya yang bisa dia lakukan, selain pasrah dan memohon bantuan Tuhan.


Yang lebih celakanya lagi, Tabib Mala justru tidak menyadari hal itu. Dia begitu sibuk dalam pekerjaannya. Terlebih lagi Danur Cakra datang dengan membawa beberapa ramuan yang dibutuhkannya, hingga dia langsung larut dalam kesibukan.


Air mata Kemuning mulai mengalir ketika Danur Cakra memandang ke arah. Seluruh persendiannya lemas ketika langkah Danur Cakra terayun mendekat.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Danur Cakra dengan lembut.


Kemuning tidak menjawab, justru berusaha untuk sekuat tenaga menahan tangis. Sampai-sampai air tempatnya berendam jadi bergelombang disebabkan oleh tubuhnya yang gemetaran.


Danur Cakra menghela napas, matanya menatap wajah Kemuning dengan tajam, seolah hendak mencari tahu sendiri apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu. Ya, terus terang paras gadis itu sangat cantik.


Rempah-rempah, dedaunan dan berbagai macam jenis obat yang serentak direbus, membuat warna air menjadi berubah. Pula rempah tersebut mengapung memenuhi bak, menyelamatkan tubuh Kemuning dari jangkauan mata Danur Cakra. Hanya wajahnya saja yang terlihat, sudah cukup untuk Danur Cakra menyimpulkan kalau gadis itu sangat cantik.


"Apa kau inginkan sesuatu? Mungkin aku bisa membantumu," sekali lagi Danur Cakra bicara, menawarkan jasa. Sepertinya, dia sudah menyusun strategi untuk cari perhatian. Gadis cantik ini, telah menggugah hatinya.


Kemuning tetap menunduk dalam balutan rasa takut. Hanya kepalanya yang menggeleng lemah, menjawab tawaran Danur Cakra.


"Baiklah. Konsentrasi saja pada kesembuhanmu. Jika sudah memungkinkan untuk melakukan perjalanan, aku akan membawamu pada Tabib Dewa. Aku yakin, dia pasti punya cara untuk bisa sembuhkan dirimu," ujar Danur Cakra seraya tersenyum, sebelum kemudian dia bangkit.


"Jika kau butuh sesuatu, jangan ragu untuk beritahu aku," satu kata terakhir yang terucap sesaat sebelum melangkah menjauh.

__ADS_1


Berangsur-angsur kondisi Kemuning kembali seperti semula. Degup jantungnya perlahan kembali normal. Pemuda itu kiranya tidak seperti yang dia duga. Bahkan menawarkan banyak kebaikan. Pendekar itu pula yang membawa sejumlah ramuan obat untuk dirinya. Mungkinkah dia benar orang baik?


Kemuning mengangkat kepalanya, dia tidak lagi menemukan keberadaan Danur Cakra. Mungkin pria itu sudah keluar ruangan.


__ADS_2