Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Efek Negatif Aura Siluman


__ADS_3

"Tangan digunakan hanya saat lidah tak lagi mampu menyambung kata. Kalian tahu, titik lelah seorang pendekar ialah saat pedang di tangannya penuh lumuran darah. Berhenti, bukanlah pilihan. Tapi, jalan selalu ada untuk tidak memulai," Mahesa mengangkat kedua alisnya, memberikan pilihan sulit pada lawan yang sepenuhnya berada dalam tekanan.


"Kau pikir, dengan nama besar yang kau punya bisa dengan mudah menindas kami? Sepertinya kau telah salah!" jawab seorang pendekar seolah tidak tertekan oleh kemampuan Tapak Naga Es yang membelenggu mereka.


"Orang-orang terlalu membesar-besarkan atas apa yang hanya mereka dengar. Hahaha! Saat kau melihat tubuh loreng di antara gerombolan domba, mungkin dialah raja hutan yang belum mengenal jati diri. Aku harap, kalian lebih berhati-hati!"


Mahesa sama sekali tidak menambah ataupun mengurangi tekanan energi yang mengikat empat orang pengintai. Membuat Tapak Naga Es yang mencengkram mengalirkan rasa dingin yang membekukan. Meskipun tanpa pertarungan, sudah bisa dipastikan hal itu membuat Mahesa menjadi pemenang.


Mahesa dikenal sebagai seorang pendekar yang sangat cerdas, sejak awal kemunculannya dia akan menjadi masalah pada setiap lawan yang ditemui. Terlebih saat sekarang, ketika langkah perjalanan yang telah jauh. Menimbun pengalaman yang semakin memperkuat imajinasi.


"Siapa pun yang mengirim kalian, hanya melakukan sesuatu yang sia-sia. Untuk apa menggali di tengah gurun, saat panas menghisap seluruh air. Bicara ataupun tidak, sama sekali tidak berpengaruh untukku!" Mahesa melambaikan tangan, kemudian berlalu pergi.


"Hei, tunggu! Lepaskan kami!" seorang pendekar berteriak sekuat tenaga, tapi suara yang keluar bahkan lebih lemah dari suara kucing.


"Penawaran telah ditutup. Kalian tidak punya pilihan lain. Selamat menikmati!" jawab Mahesa acuh.


Kemampuan Tapak Naga Es yang membelenggu tubuh keempat pengintai membuat mereka akan mati kedinginan. Sampai saatnya nanti bila seorang yang datang untuk menolong, harapanlah yang tersisa.


Seolah tidak terjadi apa-apa, Mahesa kembali menemui Puspita yang duduk menunggu di dalam kedai. Keduanya menyantap makanan yang dipesan. Setelah selesai, segera meninggalkan kedai.


Empat orang pengintai tidak lagi mengetahui ke mana arah Mahesa berlalu. Karena tidak seorang pun dari mereka yang bisa membuat belenggu es mencair. Mungkin, adanya rasa penyesalan merupakan yang paling terlambat. Mereka memilih mati dalam menunaikan tugas, daripada harus membuka suara. Gugur sebagai seorang pahlawan, dalam kelompok mereka.


Setelah dipikir-pikir, hati Mahesa mulai tidak tenang. Bagaimanapun juga, anak-anaknya masih merupakan pendekar muda yang mudah terpancing amarah. Sementara orang-orang yang menjadi lawan adalah para pendekar senior yang telah kenyang mengecap asam garam kehidupan.


"Kanda, apakah Kanda akan pergi menyusul Hita?" tanya Puspita Dewi.


Mahesa menggelengkan kepalanya, "tujuan mereka ialah tempat di mana Ayah berada. Betapa pun jauhnya mereka sekarang, sudah barang pasti akan datang untuk mengacau. Buruknya, mereka akan menggunakan anak-anak kita untuk menjalankan rencana busuk itu."


Wajah Puspita seketika berubah, ingatannya masih bagus. Tentu saja Puspita tahu betul bagaimana cara kerja kelompok aliran sesat, seperti saat dulu dia menjadi bagian dari mereka.


Tidak ada yang bisa Puspita lakukan sekarang, melainkan memanjatkan doa, semoga kedua anak-anaknya dalam lindungan sang pencipta. Terlebih lagi Suhita. Sebagai seorang ibu, Puspita paling tahu bagaimana sifat anaknya gadisnya itu.


"Baiknya Dinda tidak terlalu cemas, yakinlah kalau mereka akan mampu menjaga diri. Seperti yang kita tahu, keduanya sama-sama miliki pelindung yang bisa diandalkan," ucap Mahesa menghibur istrinya. Meskipun sebenarnya di dalam hati Mahesa merasakan hal yang sama.


Sebelum senja berakhir, Mahesa memanggil burung elang berwana putih peliharaannya. Melalui si putih, Mahesa inginkan kabar dari anak-anaknya.


°°°


Di kuil tua tempat berkumpulnya para pendekar dari Lereng Utara.


Dampu Awuk Awuk yang belum juga kembali hingga matahari tenggelam, membuat perbincangan hangat. Sayup-sayup terdengar celotehan yang mengatakan jika itu semua merupakan perbuatan Naga Kresna, yang datang sengaja untuk mencelakai mereka satu persatu. Namun di sisi lain, ada juga yang beranggapan kalau Dampu Awuk bergerak mendahului. Karena bukan satu atau dua kali dia berbuat demikian. Dampu Awuk merupakan orang yang paling ceroboh dari sekian banyak anak buah Raja Iblis.

__ADS_1


"Kita tahu, selain kita juga ada beberapa kelompok lain yang akan datang ke Bukit Hijau. Dan mereka semua merupakan para pendekar pilih tanding. Sekali kita salah melangkah, maka resiko besar akan sama-sama kita tanggung," ucap Muning Raib.


Sejauh ini, Danur Cakra belum mendapatkan keterangan perihal rencana penyerangan yang akan dilakukan Lereng Utara. Cakra juga belum menemukan titik lokasi yang pasti, di mana mereka akan datang. Besar kemungkinan, Lereng Utara memang belum mengetahui di mana keberadaan Raditya saat ini.


"Hei, kau anak muda! Coba jelaskan padaku alasan mengapa kau bersedia bergabung?!" Raja Iblis menunjuk pada Danur Cakra.


Danur Cakra tidak segera menjawab. Dia kemudian bangkit dari duduknya, berjalan di tengah kerumunan para pendekar Lereng Utara.


Mata Danur Cakra berubah berwarna merah, tangan kanannya terangkat dan seketika muncul gumpalan energi berwarna hitam yang menyebar ancaman maut. Dengan tatapan lurus ke depan, Danur Cakra bersiap mengeluarkan pukulan tenaga dalam Naga Kresna miliknya.


"Kepa*rat! Apa yang kau lakukan!" seorang pendekar lekas berdiri, dia telah mempersiapkan diri untuk menyambut serangan Danur Cakra.


Termasuk juga Muning Raib, hampir seluruh pendekar Lereng Utara yang ada berada pada keadaan siap siaga. Mereka yang belum sepenuhnya menaruh kepercayaan pada Danur Cakra, bersama-sama akan menerkam Cakra jika berani melakukan tindakan bodoh.


Kecuali Raja Iblis. Pimpinan Lereng Utara itu hanya menatap pada Danur Cakra, bibirnya menyungging senyum tipis. Dia tahu jika Danur Cakra hanya pamer kemampuan.


BAAAMMM !!! Ledakan dahsyat mengguncang kuil tua. Kerusakan parah terjadi ketika naga hitam milik Danur Cakra menghantam.


"Aku ingin lihat, apakah kemampuan yang ku punya sudah cukup pantas untuk disandingkan dengan Sepuluh Tapak Penakluk Naga!" desis Danur Cakra.


Mendengar jawaban Danur Cakra, seketika para pendekar menghembuskan napas lega. Usia Danur Cakra bahkan belum menyentuh angka dua puluh, akan tetapi kemampuan tenaga dalam yang dia punya sangat mengerikan. Wajar jika hatinya begitu penasaran untuk bisa menjajal kemampuan Elang Putih yang melegenda.


"Hahaha! Kau datang pada kelompok yang tepat anak muda! Kami akan beri kau kesempatan seperti apa yang kau inginkan!" Raja Iblis tertawa terbahak.


Tepuk tangan terdengar riuh rendah, menyambut bergabungnya Danur Cakra dalam bendera Lereng Utara. Mereka bisa melupakan Dampu Awuk yang ceroboh, berganti seorang generasi muda yang miliki kekuatan lebih potensial.


Tidak lama kemudian, Danur Cakra pamit untuk kembali ke tempat istirahat. Untuk sementara waktu Cakra bisa merasakan aman, sampai nanti saat sandiwaranya benar-benar terbongkar.


"Hmmm ... awasi terus bocah itu. Matanya mengatakan jika dia menyimpan kebencian terhadap kita," ucap Raja Iblis pada anak buahnya.


Dalam dunia persilatan, khususnya aliran hitam. Seorang tokoh tangguh akan menjadikan setiap orang sebagai lawan, sampai nanti dia mampu menggenggam dunia, setelah orang-orang tunduk di bawah perintahnya. Siapa pun yang tidak sejalan, maka akan harus disingkirkan. Tidak peduli kawan, saudara, bahkan guru. Siapa pun yang bisa mencelakai gurunya, menandakan telah menguasai ilmu dengan sempurna.


"Dia miliki dasar kekuatan yang berasal dari aliran putih. Aku sangat yakin Tapak Penakluk Naga adalah ilmu yang sebenarnya," tambah Raja Iblis.


Hanya saja, Raja Iblis belum punya cukup bukti. Paling tidak untuk sementara waktu, sedikit banyaknya maka Cakra bisa berguna. Jika tidak memungkinkan, maka orang seperti itu tidak layak untuk dibiarkan hidup. Sifatnya menyerupai siluman. Dan Raja Iblis yakin jika Cakra merupakan alasan di balik hilangnya Dampu Awuk.


"Aku harus lebih fokus. Saat ini Raditya merupakan alasan aku berada di tempat ini. Setelah kepa*rat itu lenyap, barulah batu-batu kecil yang lain mengikuti," gumam Raja Iblis dalam hati.


Apakah Danur Cakra terancam? Tentu saja iya. Jika dia sedikit saja salah mengambil tindakan, maka saat itu juga Raja Iblis dan kawan-kawan akan melenyapkannya. Mereka sedang bermain pion dalam bidang catur. Saat kedua belah pihak dalam strategi, hanya yang miliki strategi terbaik yang bisa selamatkan raja.


°°°

__ADS_1


Danur Cakra sama sekali tidak bisa memicingkan mata, pikirannya melayang jauh. Dia bisa merasakan jika saat ini Suhita sedang melacak di mana keberadaannya.


"Mengapa harus begini? Bisa-bisa rencanaku gagal total!" Danur Cakra menggaruk kepalanya.


Cakra tidak menyalahkan Suhita, jelas saja adiknya menaruh kecemasan karena terakhir terlihat, kala itu Cakra sedang melakoni pertarungan seorang diri.


Danur Cakra bangkit dari tidurnya, dia memikirkan satu cara untuk bisa menghubungi Suhita. Meminta agar Suhita langsung menuju tempat di mana Ayah dan Ibu mereka telah menunggu. Selain akan mengacaukan rencana yang Danur Cakra bangun, tentu saja Cakra lebih mengkhawatirkan Suhita bila harus kembali bertemu dengan para penjahat senior yang miliki kemampuan di atas rata-rata.


Melakukan kontak batin? Jelas tidak mungkin. Berapa pun jauhnya Cakra menggunakan tenaga dalam, pastinya akan tercium oleh Raja Iblis. Juga dengan mendatangkan Genderuwo rasanya juga tidak mungkin. Tentu saja Cakra tidak memandang remeh kemampuan lawan yang ada di sekelilingnya. Belum lagi, pasti ada mata-mata yang bertugas untuk mengawasi setiap gerak-gerik yang Cakra lakukan.


"Semoga saja, gangguan lain muncul sebelum Hita menjangkau tempat ini. Atau ... ah, baiknya aku cari sungai!" Danur Cakra dapatkan ide.


Danur Cakra kemudian bangkit, dan keluar meninggalkan kuil. Meskipun ada beberapa pasang mata yang diketahui mengawasi perjalanannya, tapi Cakra tidak menunjukkan kalau dia merasa risih. Danur Cakra terus berjalan, hingga telinganya yang peka bisa mendengar suara gemercik air yang jatuh dari ketinggian.


Di dalam sungai, pastinya akan ada siluman yang menghuninya. Danur Cakra akan coba untuk kelabui para pengintai dengan gunakan Naga Hitam dari alam evolusi miliknya untuk menghubungi siluman apa pun yang ditemui nanti. Sementara Cakra alihkan perhatian mereka dengan berlatih energi tenaga dalam. Semoga saja, caranya akan berhasil.


"Sial! Apa gunanya aku belajar olah kanuragan, jika harus melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi!" Danur Cakra memaki dirinya sendiri, merasakan jika dia hanyalah tikus kecil yang coba berlari mencuri makanan. Tidak bermartabat.


"Apa yang kau lakukan di tempat ini?" seorang pendekar menghadang jalan Danur Cakra.


"Apa ada larangan untuk mandi di malam hari? Asal kau tahu, aku akan mengabaikan jika seandai hal konyol itu memang benar ada!" Danur Cakra menabrak tubuh orang yang menghadang jalannya.


Danur Cakra yang pada dasarnya memang seorang dengan emosi tinggi, langsung terpatik kemarahannya saat dia merasakan ada orang yang begitu ikut campur urusannya. Baru saja dia membenci tindakan pengecut yang dilakukan, sekarang harus bertemu dengan mereka yang membuat kesal. Sifat siluman yang haus darah membuat Cakra sulit mengontrol emosi, dan hal ini menjadi salah satu kelemahan pada diri Cakra.


"Penyusup! Jangan berpura-pura lagi, kau yang menghabisi Dampu Awuk. Kali ini kau tidak bisa mengelak lagi!" pendekar tersebut menangkap pundak Danur Cakra, menahan Cakra untuk tidak melanjutkan perjalanan.


Terlihat sangat jelas, jika orang-orang itu sengaja memancing kemarahan Danur Cakra. Mereka ingin menunjukkan pada Raja Iblis siapa sebenarnya Cakra. Dan harus segera diketahui, jika mereka sedang mengurung singa di dalam kandang domba.


Seekor ikan akan selamat jika bisa menjaga mulutnya, mata kail akan jauh dari menyentak nyawa. Namun tidak bagi Danur Cakra. Meskipun lidahnya sangat terjaga, tapi gerakan tangannya selalu memancing darah mengalir membasahi bumi.


Dengan gerakan yang sangat cepat, Danur Cakra menghantam dada lawannya hingga darah menyembur seiring dada yang terbelah. Tanpa suara, seorang anggota Lereng Utara kembali jatuh tersungkur tidak bernyawa.


"Tangkap dia!" teriak rekannya.


Serentak beberapa anggota Lereng Utara langsung menyergap Danur Cakra dengan serangan-serangan yang berbahaya. Tidak ada pilihan lain, Danur Cakra lolos atas tindakannya menghabisi Dampu Awuk. Dan sekarang dia harus berhadapan dengan lebih dari satu pendekar.


"Kalian pikir aku peduli?! Sama sekali tidak!" Dengan beringas Cakra melepaskan serangan demi serangan. Tidak lagi banyak yang ia perhitungkan. Keselamatannya?! Sama sekali tidak penting.


Andaipun Muning Raib atau Raja Iblis sekalian yang datang, sekalian saja Danur Cakra menuntaskan semuanya malam ini juga. Karena cuma ada dua pilihan, tentu hanyalah berhasil atau gagal. Hidup atau mati. Sebagian besar tokoh aliran hitam tentu tidak takutkan hal itu, termasuk Danur Cakra di dalamnya.


Pertarungan sengit segera berlangsung. Para pendekar yang menjadi lawan Danur Cakra bukanlah pendekar kemarin sore. Mereka merupakan pengikut Raja Iblis sejak lama. Jadi, kemampuan mereka telah ditempa dari waktu ke waktu.

__ADS_1


"Aku harus selesaikan mereka secepatnya. Dan mungkin ada kesempatan untuk bisa melarikan diri. Jika tidak, aku pastikan Raja Iblis akan mati bersamaan denganku!" tekad Danur Cakra.


Perhitungan Danur Cakra kali ini, sepertinya terlalu terburu-buru. Dan inilah efek negatif energi siluman yang ia bangkitkan. Sangat mempengaruhi dalam tindakannya. Jelas saja, sandiwara yang Danur Cakra lakukan menjadi sia-sia belaka, jika dia masih harus menentang maut dengan melawan kelompok Lereng Utara dengan seorang diri. Sedangkan belum sedikit pun informasi yang Cakra dapatkan. Bahkan Cakra belum mengetahui tujuan pasti serangan yang akan dilakukan.


__ADS_2