Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Racun Penyelamat


__ADS_3

BAAMMM !!! BAAMMM !!! Ledakan demi ledakan terjadi. Memecah kesunyian dini hari yang dingin.


Danur Cakra dengan kemampuan Tapak Naga Kresna miliknya menyergap lawan dengan sangat ganas. Setiap serangan yang ia bangun layaknya deru ombak yang bergulung, terus menghempas tepian pantai tanpa henti.


Korban semakin bertambah. Kemampuan Danur Cakra tidak terbendung. Kendati lawan-lawannya merupakan para pendekar linuwih, tapi tetap saja level tenaga dalam menjadi patokan.


'Naga Api Membelah Bumi' Danur Cakra meluncur dengan deras, sebelum kemudian tubuhnya lenyap dari pandangan mata. Berganti dengan tanah yang membentuk tangan manusia, menangkap kedua kaki lawan hingga tidak leluasa untuk bergerak. Saat itulah, Cakra kembali muncul dan menyerang dengan pukulan energi di tangannya.


Semakin lama, bukannya semakin menurun tapi justru lawan semakin bertambah jumlahnya. Para pendekar Lereng Utara yang beristirahat di kuil tua tentu saja terbangun mendengar suara pertarungan.


Muning Raib yang telah tiba, langsung melibatkan diri dalam pertarungan. Tadi siang, urusannya dengan Cakra belum selesai. Dan sekarang kembali disambung setelah nyata-nyata bahwa Cakra merupakan seorang pendekar yang tidak bisa dipercaya. Sifatnya tidak ubah layaknya siluman yang sama sekali tidak berpikir panjang dalam bertindak.


"Bocah bang*sat! Kita lanjutkan lagi pertarungan kita yang sempat terhenti!" teriak Muning Raib dengan kedua tangannya terjulur menghantam ke arah dada Danur Cakra.


Danur Cakra yang telah siap sedia, lekas menyebar anak panah tajam yang terbentuk dari pasir dan juga tanah keras. Caranya tersebut nyata-nyata bisa menghentikan laju serangan Muning Raib, yang harus lebih dulu menghancurkan dan menghindari setiap luncuran anak panah tenaga dalam Danur Cakra.


"Kau boleh juga! Dan semakin kau menambahkan variasi serangan, semakin terlihat jelas jika kau berlatih dengan kemampuan Tapi Penakluk Naga! Hahaha! Nyaris saja, sandiwara kuno yang kau lakukan membutakan mata kami semua!" Muning Raib berkacak pinggang. Dia melihat jika Cakra tidak lagi akan bisa untuk melarikan diri, terlalu kuat pagar betis yang dibangun pasukan Lereng Utara.


"Aku bukanlah orang yang dilahirkan untuk menjadi kacung. Kubur impian kalian jika inginkan aku menyerah. Lagi pula, aku tidak yakin tangan-tangan keriput yang kalian miliki bisa membuat raga dan jasadku berpisah!"


Salah satu kelebihan Danur Cakra yakni dirinya sama sekali tidak miliki rasa takut. Walaupun di atas kertas saat itu juga dirinya akan kalah, tapi riak wajahnya tetaplah sebagai sosok pembantai. Mental baja, mungkin bisa dikatakan demikian. Sedikit demi sedikit sifat manusia dalam diri Cakra semakin terkikis seiring kemampuan alam evolusi yang ia bangkitkan semakin membuat tubuhnya sekuat siluman.


Satu poin penting yang tentunya menambah kepercayaan diri Danur Cakra. Kena lara ora kena pati. Cakra tahu kalau dirinya hanya bisa disakiti, sementara tidak untuk mencelakai. Haruslah dengan pula mencabut nyawa Suhita, barulah Cakra tidak akan bernapas lagi.


Danur Cakra menghunus pedang pusaka langit yang ia simpan dalam ruang tenaga dalamnya. Pedang itu miliki ketajaman setara sepuluh bilah pedang pusaka biasa. Kecuali kekebalan yang didapat dari olah batin tingkat tinggi, jika sekadar rompi ataupun azimat yang melekat, maka karomah kekebalan tidak akan berfungsi disaat mata pedang tersebut menyambar kulit.


Dengan memadukan tenaga dalam Tapak Naga Kresna, Danur Cakra memainkan jurus rahasia pedang dua belas milik neneknya.


Tubuh Cakra meliuk indah dalam setiap gerakan dia mengayunkan pedang. Gerakan yang cepat dan terarah, diimbangi dengan kombinasi dua belas jurus yang hampir tidak bisa terbaca. Membuat Muning Raib kembali melakukan wisata masa lalu.


Jurus Pedang Dua Belas merupakan jurus pedang yang dikatakan tanpa tanding di masa jayanya. Saat itu, sosok Bidadari dari Utara merupakan satu-satunya pendekar wanita yang tidak bisa dikalahkan dalam pertarungan pedang. Bukan hanya di seantero tanah utara, melainkan pula menjangkau hingga wilayah selatan.


Crasss! Danur Cakra berhasil melukai paha kanan Muning Raib. Tapi pada saat itu juga, pukulan Muning Raib berhasil membuat Cakra terjatuh.


Ya, keduanya hampir seimbang, meskipun pada kenyataannya Danur Cakra diuntungkan dalam napas, karena usianya yang masih belia. Berbanding terbalik dengan Muning Raib. Pendekar kemarin sore mampu menyamai kepandaian seorang pendekar setingkat Muning Raib, hal itu membuat para pendekar Lereng Utara yang lain jari merinding.


Muning Raib menghentikan aliran darah di kakinya. Dia menotok beberapa titik saraf supaya rasa nyeri pun tidak dirasa. Dia akan kembali menghadapi pertarungan hidup dan mati. Tapi saat itu ...


Bilah pedang yang besar berkelebat di atas kepala Muning Raib. Pedang itu melintas hanya beberapa inci di atas rambutnya, membuat angin menggoyangkan ujung rambut Muning Raib.


Ting! Dentingan suara senjata yang beradu. Pedang yang melintas kiranya menghalau sebilah pisau yang bermaksud menembus leher Muning Raib.

__ADS_1


"Sekarang kita impas!" Nyi Parang Awi mendarat, dia lekas mencabut pedangnya yang tertancap di tanah.


Dalam duel yang adil di atas ring, harus diakui jika Danur Cakra telah berhasil mengalahkan Muning Raib. Pisau yang Cakra lemparkan sejatinya telah menembus leher Muning Raib seandainya Nyi Parang Awi terlambat beberapa detik saja.


Muning Raib mendengkus kesal. Bukan karena hutang nyawa yang lunas. Akan tetapi, baru saja dia dipermalukan oleh seorang pendekar kemarin sore. Bahkan nyawanya nyaris melayang. Di depan para pendekar Lereng Utara, orang-orang yang begitu patuh dan mengakui betapa kuatnya kemampuan yang dipunya oleh Muning Raib. Tapi dini hari sekarang, Danur Cakra telah melempar kotoran ke wajahnya. Membuat Muning Raib kehilangan harga diri. Masih beruntung tidak kehilangan nyawa.


Dengan gigi yang gemertukan menahan amarah, Muning Raib kembali bangkit. Dalam hidup baru dua kali dia diperlakukan demikian. Puluhan tahun lalu, dia hidup berkat pengampunan yang Mahesa berikan. Dan sekarang, saat Muning Raib percaya diri untuk melakukan balas dendam, justru sekali lagi dia dipermalukan.


"Akan ku pastikan, hidupku tidak akan berakhir sebelum bisa mencincang tubuhmu! Dan juga gurumu!" Muning Raib menunjuk Danur Cakra dengan berapi-api.


Teknik yang sama, yang digunakan untuk mengalahkan Muning Raib. Dan sekarang Muning Raib tidak lagi butuh alasan untuk mencari tahu siapa sebenarnya Danur Cakra. Pasti, dia adalah murid dari Raditya atau Mahesa. Dia adalah pendekar Tapak Naga yang menjadi musuh abadi. Hanya saja, sekarang muncul dengan aura kekuatan yang sedikit berbeda.


Mereka saling berpandangan, setengah tidak mempercayai atas apa yang Muning Raib katakan. Rasanya tidak masuk akal jika pendekar muda di hadapan mereka, yang jelas-jelas merupakan tokoh aliran sesat tidak lain adalah Pendekar Tapak Penakluk Naga. Seorang pendekar yang juga miliki darah keturunan tanah selatan.


Tidak banyak cing-cong, serentak mereka mengangkat senjata. Seolah berlomba untuk bisa saling mendahului menyarangkan pukulan di tubuh Danur Cakra. Jika tidak bisa mengalahkan Raditya atau juga Mahesa, mereka bisa melampiaskan segala dendam pada pendekar muda ini.


"Ah, sial!" Danur Cakra mengumpat. Bukan saatnya untuk melakukan secuil pun kesalahan. Dengan seorang diri, dia akan menentang maut. Menghadapi para pendekar yang diuntungkan dari segala segi. Hal yang bahkan tidak pernah Mahesa lakukan.


Andaipun malam ini merupakan akhir perjalanan hidupnya, Danur Cakra sama sekali tidak merasakan penyesalan. Dari sekian banyak orang yang bisa dia kalahkan, merupakan bentuk satu sumbangsih dari cara Cakra untuk membantu menggagalkan rencana para penjahat mengacaukan acara ulang tahun kakeknya.


Setapak demi setapak, Danur Cakra mulai terdesak. Belum lagi serangan Muning Raib yang begitu ingin mengakhiri pertarungan secepatnya. Terlihat jika Muning Raib ingin membalas atas apa yang telah Cakra lakukan terdapat dirinya.


"Harusnya, bocah itu bisa dimanfaatkan. Dia tidak mungkin bisa sejalan dengan Elang Putih. Dan dengan gunakan tangannya bukankah aku tidak perlu repot-repot mengotori tanganku?" Raja Iblis mencoba untuk memikirkan sesuatu.


Dengan membiarkan Naga Kresna bebas berkelana di dunia persilatan, semakin hari maka akan semakin banyak kekacauan yang sulit untuk diantisipasi. Bukankah itu merupakan tujuan setiap tokoh aliran sesat? Ya, meskipun sangat jelas kalau Naga Kresna begitu egois dan tidak bisa bekerjasama dengan siapa pun. Bukan pula kerugian bagi Raja Iblis, karena pengakuan pendekar terkuat saat ini sudah tidak lagi penting baginya.


Raja Iblis terus mengawasi pertarungan dari jarak jauh. Dia menyaksikan betapa kuatnya tubuh Danur Cakra yang telah berkali-kali menerima pukulan keras. Akan tetapi sepertinya dia tidak merasa kesakitan. Di sini Raja Iblis semakin yakin jika Danur Cakra menguasai kemampuan yang tidak umum dimiliki oleh manusia biasa. Dia teringat pada sosok Cahaya Langit. Pimpinan Aliansi Utara Selatan itu sangatlah kuat karena di dalam tubuhnya bersemayam Siluman Rubah Bulu Emas. Ditambah lagi dalam beberapa waktu lamanya saat Cahaya Langit berhasil merebut Pedang Rembulan dari tangan Elang Putih. Kekejaman yang ditunjukkan melebihi batas kewajaran. Dan Raja Iblis melihat sosok itu pada Danur Cakra.


Raja Iblis sama sekali tidak berpihak pada Danur Cakra. Akan tetapi dia juga tidak mencoba untuk bantu anak buahnya. Hasil yang akan didapat murni merupakan kerja keras dari mereka sendiri.


Cairan berwarna merah mulai menghiasi sudut bibir Danur Cakra. Betapapun kuatnya dia, dengan menghadapi lawan yang terlalu banyak tentu saja membuat dia terpojok.


"Tidak mungkin! Mengapa bocah ini tidak bisa dicelakai?!" Nyi Parang Awi berhasil memukul jatuh Danur Cakra, tapi apa yang terjadi sangatlah di luar prakiraan.


Tubuh Danur Cakra mengepulkan asap berwarna putih, dia menjerit kesakitan. Pukulan Nyi Parang Awi hampir membuat tubuhnya hangus terbakar.


Jerit histeris yang keluar dari mulut Danur Cakra bukan merupakan teriakan Cakra. Lebih tepatnya itu merupakan teriakan Naga Remaja di alam evolusi Cakra. Kemampuan anak naga hitam mampu membuat tubuh Danur Cakra menjadi kebal. Hingga yang terlihat jika Cakra tidak merasakan sakit. Naga hitam yang mengambil alih rasa sakit sejauh yang ia mampu.


"Siluman Naga! Enyahlah kau!" dengan mata melotot hampir terjatuh, Muning Raib melompat dengan segenap kekuatan. Dia mengayunkan pedang ke arah leher Cakra.


Beruntung, Danur Cakra yang sedang dalam balutan rasa kesakitan masih sadarkan diri. Dia menggunakan pedang pusaka langit miliknya untuk menahan laju pedang Muning Raib yang hampir memenggal putus lehernya.

__ADS_1


"Apa kau kira siluman tidak bisa dicelakai?! Hahaha! Kali ini kau akan benar-benar menjadi siluman gentayangan!" seraya menyeringai, Muning Raib menambah kekuatan untuk menekankan pedangnya, terus menekan hingga pedang Cakra terdorong sedikit demi sedikit mendekati lehernya.


BAAAMMM !!! BAAMMM !!!


Tiba-tiba terdengar suara dentuman yang sangat keras. Energi perak menyilaukan berkelebat, menghantam beberapa orang yang mengepung Danur Cakra.


Ledakan tersebut berhasil memancing perhatian, ditambah dengan hujan es yang merubah suasana menjadi sangat dingin.


"Lindungi diri kalian! Awas racun!" Nyi Parang Awi berteriak memperingatkan rekan-rekannya yang masih diliputi rasa kaget.


Serangan yang berlangsung sangat cepat, bayangan naga berwarna putih menghantam roboh dua pendekar Lereng Utara. Belum juga mereka mempersiapkan diri untuk serangan berikutnya, hujan es tiba-tiba melanda. Bukan sekadar hawa dingin, tajamnya tombak es yang turun pula mengandung racun yang sangat ganas. Racun yang tidak berwarna juga tidak berbau menyengat. Racun Pelebur Raga.


Kemampuan ilmu racun yang telah lama menghilang dari dunia persilatan. Racun Pelebur Raga merupakan tingkat kemampuan tertinggi dari level racun yang dikuasai oleh Cahaya Langit. Ya, Cahaya Langit yang sebelumnya juga menjadi Kencana Wungu (ahli racun selatan), merupakan satu-satunya pendekar yang begitu mahir gunakan berbagai kemampuan racun. Tidak heran, saat Cahaya Langit menjadi pucuk pimpinan, dalam waktu singkat Aliansi Utara Selatan tumbuh sebagai aliansi hitam terbesar yang ditakuti kawan maupun lawan.


Kemampuan dan tubuh siluman diketahui berbaur dalam diri Danur Cakra. Dan saat siluman itu hampir dikalahkan, muncul satu kekuatan lain yang juga semula merupakan berasal dari satu sumber.


Racun Pelebur Raga, sudah lama menghilang dari jagat persilatan. Jangankan itu, bahkan serbuk penghilang kesadaran pun hanya secuil tokoh sesat yang kini menguasainya. Lantas siapakah sosok yang datang? Belum sempat mata terbuka mendadak kabut asap muncul mengganggu penglihatan.


Bukan sekadar kabut biasa, serbuk racun telah ditaburkan sebagai bumbu. Membuat siapa pun akan berpikir berkali lipat untuk berani membuka mata.


"Air seni! Tampung air seni kalian pada kain lalu gunakan untuk menutup hidung dan mata!" teriak Raka Iblis dari kejauhan.


Dengan menggunakan tenaga dalam sebagai jalan keluar, para pendekar dari Lereng Utara ramai-ramai mengencingi kain untuk kemudian air dengan aroma khas itu di gunakan sebagai anti racun. Menutupi hidung dan juga mata mereka.


Raja Iblis memang berpengalaman, meskipun dengan mata tertutup dia mengerahkan tenaga dalam untuk menciptakan angin, mengusir asap beracun yang berhasil memaksa mereka melakukan hal yang menjijikkan.


Setelah hembusan angin menyapu habis kabut asap, dengan segera para pendekar Lereng Utara mencampakkan kain yang menempel di wajah mereka. Karena tadi kain itu mereka basahi dengan air seni. Dan nyatanya berhasil selamatkan mereka dari racun dalam kabut asap.


Raja Iblis mengepal penuh amarah. Setelah semuanya usai, lebih dari separuh anak buahnya tergeletak tidak tentu arah, tidak bernyawa. Sebagian dari mereka ada yang tewas tekena Racun Pelebur Raga, ada juga yang tidak sempat kencing dan keburu kabut asap beracun menutup kesempatan mereka untuk melanjutkan cerita hidup.


"Kepa*rat! Siapa baji*ngan yang datang itu?" Nyi Parang Awi meludah berulang kali, dia mengutuk penggunaan kabut beracun yang memaksa dirinya menikmati aroma syahdu air seni Muning Raib. (Terlalu repot bagi wanita untuk buru-buru membasahi kain tentunya).


"Tidak. Aku sekilas sempat melihat jika sosok yang datang bukanlah Cahaya Langit ataupun Elang Putih. Dia masih muda ..." Raja Iblis kehabisan kata-kata, karena memang dia juga kecolongan.


Kelompok Lereng Utara lagi-lagi dipermalukan. Mereka yang merupakan kumpulan pendekar senior harus dua kali dipermalukan oleh pendekar muda. Dan yang lebih mengagetkan ialah, kemampuan yang muncul merupakan kemampuan yang pernah berkaitan dengan mereka di masa lalu.


Kedatangan Lereng Utara memang untuk membuat perhitungan dengan Raditya dan Mahesa. Seperti layaknya Bhadrika Djani, Raja Iblis sekali lagi akan menantang kemampuan Sepuluh Tapak Penakluk Naga milik Raditya.


Tapi ... yang mereka dapatkan justru kemampuan yang sama, tapi dari sosok yang sama sekali tidak dikenal.


Tapak Penakluk Naga muncul sekadar untuk memecah konsentrasi, membuat Muning Raib melepaskan Danur Cakra yang hampir ia kalahkan. Namun serbuk racun mematikan milik Cahaya Langit itu ?????

__ADS_1


__ADS_2