Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Biara Cahaya


__ADS_3

Tidak ada orang yang bisa menentukan ataupun mengubah takdir. Sebagian dari mereka memang coba memilih jalan hidup menjadi seperti yang diinginkan. Akan tetapi, sekuat apa pun perjuangan tentunya bukanlah menjadi patokan hasil, sepenuhnya hasil merupakan ketentuan sang pencipta.


Danur Cakra membaca catatan lontar di tangannya, berulang kali, hingga pada akhirnya dia menjadi bingung sendiri, ke mana langkahnya harus menuju. Kembali ke desa batu atau mengikuti alamat yang tertera dalam catatan, yang posisinya berlawanan arah dengan desa batu.


Wajah Kemuning muncul, menari di dalam pikiran Danur Cakra. Begitu pula dengan Suhita, sangat jelas jika Suhita begitu menentang keputusan Danur Cakra. Dan sekarang, dua gadis yang begitu berarti dalam hidup Cakra sedang berada di tempat yang sama, Cakra yakin jika Kemuning bersama dengan orang yang tepat. Suhita tidak mungkin membiarkan Kemuning dikalahkan oleh luka yang dialaminya. Dirawat oleh Tabib Dewa, pasti Kemuning akan segera sembuh dan kembali pada kehidupan normal. Tentu saja Cakra sangat senang.


"Aku kirim pesan saja, aku harap mereka bisa mengerti posisiku sekarang," Danur Cakra menghela napas sejenak, sebelum kemudian menulis sepucuk surat yang dia ikatkan pada anak panah lalu kemudian dilepaskan dengan kemampuan tenaga dalam terarah pada pondok yang Suhita bangun di tengah desa batu.


Danur Cakra menghela napas panjang, sebelum kemudian mengayunkan langkah menuju pada alamat yang tertera pada daun lontar. Hanya ditemani kelip cahaya bintang yang tersapu awan, Danur Cakra mempercepat langkahnya, semakin cepat hingga kemudian tidak lagi tertangkap oleh pandangan mata orang biasa saat Danur Cakra mengerahkan kemampuan ilmu meringankan tubuhnya yang berada pada tahap yang sempurna.


Sekali lagi, Danur Cakra membaca keseluruhan tulisan pada pucuk daun lontar di tangannya. Sesaat kemudian ujung daun lontar mengepulkan asap yang berubah menjadi nyala api, membakar habis seluruh tulisan.


"Naga Kecil, ini adalah saatnya. Aku yakin semangat juangmu akan mampu untuk membantuku, membuat semua ini menjadi mudah," Danur Cakra bicara sendiri. Maksudnya tentu saja dia menyampaikan berita gembira pada bayi naga hitam di alam evolusi.


Di bawah sana, sayup mata memandang. Berdiri sebuah bangunan cukup besar, sebuah biara yang masih aktif. Karena biara merupakan tempat tinggal yang juga tempat belajar dan menyembah pencipta, maka sudah pasti dihuni oleh beberapa orang yang berkemampuan khusus. Dan benar, biara tersebut merupakan target pertama yang akan Cakra sambangi.


Biara Cahaya, merupakan tempat peribadatan bagi sebagian kecil penduduk. Biara tersebut memiliki pengurus yang berasal dari negeri seberang. Saat ini terdapat dua puluh orang murid, lima orang guru serta seorang kepala biara yang menetap di biara. Akan tetapi, bukanlah mereka yang menjadi target Danur Cakra. Melainkan seorang tamu, yang singgah beberapa hari lalu.


Tanpa suara, juga tanpa seorang pun mengetahui, Danur Cakra sudah bertengger di atas atap. Memperhatikan situasi di sekitar, melepaskan pandangannya ke segenap penjuru. Tatapan tajam mata Danur Cakra mengikuti langkah seorang biksu yang sedang berjalan dengan membawa sebuah lentera di tangannya. Tengah malam begini, dia masih terjaga, kiranya sang biksu merupakan seorang murid yang bertugas membunyikan lonceng pertanda hari telah berganti.


Danur Cakra tersenyum tipis, dia memiliki sebuah rencana untuk mengerjai biksu pemukul lonceng. Untuk sementara waktu, Danur Cakra tidak melakukan hal apa pun, dia hanya mengawasi, mengikuti langkah pemukul lonceng menuju pada lonceng besar yang berada di halaman depan.


Mungkin karena firasat, biksu pemukul lonceng merasakan bulu kuduknya berdiri, merinding tidak karuan. Tidak seperti biasanya malam terasa begitu dingin dan mencekam. Sang biksu terlihat celingukan dengan rasa takut membalut diri.


"Malam ini hawanya begitu aneh. Apa mungkin, ada siluman yang melintas?" gumam biksu seraya mengangkat lentera besar yang ia bawa, memutarkan cahayanya sekeliling tubuhnya berharap bisa melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dia lihat.


Tidak ada apa-apa, mungkin hanya perasaannya saja. Biksu pemukul lonceng kembali melanjutkan langkah, menyeberangi halaman yang luas untuk menjangkau tempat lonceng yang berada tepat di tengah halaman.


Sebelum melepaskan tali pengikat kayu pemukul, sang biksu kembali mengangkat lentera yang ia bawa, mengawasi sekitar tempat bangunan lonceng raksasa tergantung. Tidak ada binatang berbisa, hewan melata atau sejenisnya. Baru setelah yakin biksu malang itu meletakkan lentera di sebelah kanannya, dengan cepat dia membuka tali pengikat kayu pemukul. Akan tetapi, belum juga ia selesai melepaskan tali, tiba-tiba dari arah belakang pundaknya terasa ada yang menepuk.


Biksu pemukul lonceng terdiam, jelas-jelas tadi dia tidak melihat adanya orang di tempat itu. Mengapa secara tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Dengan tegang, biksu memutar kepalanya, menoleh dengan cepat ... tidak ada apa-apa.


Merinding, seketika bulu kuduk biksu pemukul lonceng berdiri. Keringat dingin mengucur deras di dahinya. Sungguh, dia merasa begitu takut malam ini. Beberapa cerita horor yang dia dengar mengenai siluman membayangi penglihatannya, membuat rasa ketakutan semakin menjadi.

__ADS_1


Dengan gemetaran, buru-buru biksu melepaskan tali pengikat kayu pemukul, dia ingin secepatnya menyediakan tugas lalu kembali ke kamar. Akan tetapi begitu malang nasibnya, tali belum terlepas justru tubuhnya yang terangkat. Seseorang mencengkeram pinggangnya dan tubuhnya terangkat tinggi dengan kepala terarah pada lonceng besi.


TUUNGGG!!! Lonceng berbunyi menggema, mengoyak keheningan malam yang dingin. Menyampaikan tanda pergantian malam. Jika ada anggota biara yang ingin melakukan ritual, tentu mereka menanti suara lonceng tersebut.


Tidak ada kejadian janggal. Terlebih lagi bagi mereka yang masih terlelap dalam tidur. Bahkan para guru yang miliki kemampuan olah kanuragan, tidak ada yang menduga jika suara lonceng yang berkumandang terjadi bukan karena dipukul oleh kayu khusus yang telah disediakan, melainkan suara itu berasal dari benturan keras lonceng besi dengan kepala manusia, kepala biksu kecil pemukul lonceng.


Mereka akan semakin tidak percaya jika melihat pemandangan mengerikan yang ada di sekitar lonceng besi. Darah yang menyembur, bercampur isi kepala yang berserakan. Bahkan tergores retakan kecil pada lonceng besi, menggambarkan betapa kerasnya benturan yang baru saja terjadi. Sungguh, pemandangan menjijikkan yang tidak mungkin bisa dicerna akal sehat, apa lagi dilakukan oleh seorang manusia.


"Biksu bo*doh! Malang sekali nasibmu," Danur Cakra mengelap telapak tangannya, kemudian mengambil lentera yang menjadi saksi kejadian mengerikan perbuatan siluman kejam.


Dalam waktu kurang dari satu jam, tidak akan ada orang yang berada di luar ruangan. Karena mereka yang berkeliling ke luar kamar hanyalah petugas pemukul lonceng yang berganti setiap satu jam. Sekarang biksu pemukul lonceng pertama sudah celaka, jika dari penghuni biara melihat adanya lentera yang melintas maka mereka tidak akan berpikir macam-macam.


"Sial! Di mana kamar yang ditempati oleh Guru Besar itu?! Celaka, aku tidak bisa menebak sebelum melihat wajahnya," Danur Cakra berdecak kesal. Dia baru pertama datang, bahkan satu wajah pun tidak ada yang dia kenal. Bagaimana caranya untuk menemukan guru besar yang dimaksud dalam catatan lontar?!


Danur Cakra menghentikan langkah di depan sebuah kamar. Sudut matanya melihat adanya pergerakan dari dalam kamar, itu artinya seseorang terjaga di dalam sana.


Dengan satu kibasan tangan, Danur Cakra membuka pintu yang terkunci. Gerakannya begitu cepat, ketika penghuni kamar coba menengok apa yang terjadi pada pintu, Danur Cakra sudah masuk dan menangkap leher biksu berkepala botak itu.


"Akhhh ..." selain suara itu, tidak ada yang bisa biksu ucapkan. Dia bahkan kesulitan untuk menyalurkan udara menuju paru-paru.


Tanpa suara yang sempurna, dalam ketakutan sang biksu menunjukkan tempat yang Danur Cakra tanyakan. Dia tidak berbohong, karena kemampuan Danur Cakra berhasil mengintimidasi sebelum biksu mampu berbuat.


Cakra melepaskan cekikan di leher biksu, dia bangkit dan menuju ke kamar yang dimaksud. Akan tetapi sebelum Danur Cakra keluar kamar, biksu tadi bangkit dan menuju sudut ruangan kamarnya. Menyambar alat komunikasi yang tersimpan rapi, dengan sekuat tenaga dia berteriak membangunkan seisi biara, "SILUMAAANNN !!!!"


Danur Cakra menoleh, padahal sebelumnya dia tidak berniat mencelakai biksu itu. Akan tetapi karena dia berani membuat masalah, Cakra tidak bisa menahan gerakan tangannya. Melepaskan satu pukulan jarak jauh yang kemudian membuat tubuh sang biksu hitam membeku.


Toongg !!! Toonggg !!! Toonggg !!! Suara kentongan dengan cepat saling bersahutan, membangunkan para murid untuk bersiap siaga.


"Pembunuhan !!! Pembunuhaaannn !!!" dari arah lain, terdengar juga suara teriakan. Kiranya ada dari mereka yang sudah menemukan jasad biksu pemukul lonceng yang tewas mengenaskan.


Danur Cakra berdecak kesal, rencananya tidak berjalan dengan mulus. Apa boleh buat, dia bukanlah seorang pengecut yang akan pergi sebelum tujuannya tercapai. Danur Cakra sama sekali tidak coba untuk kabur ketika para biksu menemukan keberadaannya. Dia justru menatap dengan mata menyala, mencari keberadaan kepala biara.


"Aku datang untuk mencari seseorang, jika kalian ingin tetap hidup, maka jangan persulit jalanku," ucap Danur Cakra. Desis suaranya mencerminkan sosok siluman yang begitu menakutkan. Padahal, Danur Cakra baru berada pada tahap evolusi pertama.

__ADS_1


"Amithaba ... kekosongan membuat seseorang mampu melihat betapa indahnya damai, berpaling dari jalan yang menjerumuskan. Isi adalah kosong, kosong adalah isi," seorang biksu meletakkan tangan di depan dada, membungkuk pada Danur Cakra. Dia bukanlah kepala biara, bukan orang yang Danur Cakra cari.


"Mana kepala biara? Aku ingin bertemu dan bicara dengannya. Kalian domba-domba kecil, baiknya cepat kembali dan tidur di kandang masing-masing!" dengan nada yang angkuh, Danur Cakra menatap rendah pada setiap wajah yang mengepungnya.


Pengurus biara, para guru, mungkin mereka bisa kendalikan diri dengan baik. Akan tetapi mereka yang merupakan murid dan biksu kecil (biksu berusia muda), tentu saja mendidih hatinya kala berhadapan dengan sosok manusia yang lebih kejam dari siluman. Mereka beranggapan kalau siluman harus dibasmi untuk menyelamatkan dunia di masa depan. 


Memang benar, jika iblis dan siluman merupakan wujud nyata yang harus diperangi, dimusnahkan, hingga lenyap dari muka bumi. Tidak ada yang salah mengenai hal itu, kepercayaan mereka mengatakan demikian. Akan tetapi, bentuk kesalahannya ialah karena mereka harus berurusan dengan Danur Cakra. Sosok siluman yang berwujud manusia terkuat.


Lebih dari lima orang biksu kecil menyerang dalam formasi, mereka tidak berniat untuk membalas dendam atas kematian dua orang biksu di biara cahaya. Akan tetapi, tujuan mereka ialah menghentikan rentetan pembantaian, mencabut akar masalah dengan menangkap biang keladinya.


"Kepa*rat! Di mana kepala biara, di mana guru besar itu? Domba-domba jelek ini hanya membuang-buang waktuku saja!" Danur Cakra melepaskan serangan-serangan berbahaya, menjatuhkan satu per satu lawan dalam beberapa gerakan saja.


Tidak ketinggalan, Danur Cakra pun memberikan hadiah pada para guru yang belum bertindak. Serangan yang Danur Cakra lakukan memaksa seluruh biksu untuk turun bertarung. Dan sekarang, pertarungan menjadi semakin menarik. Percikan api menimbulkan kebakaran di beberapa titik. Meskipun Danur Cakra seorang pendekar hebat dengan tenaga dalam yang sukar ditemukan tanding, akan tetapi untuk mengalahkan para biksu yang dibekali kemampuan, tentu tidak seperti membalikkan telapak tangan. Dia harus berjuang keras untuk bisa selesaikan semuanya. Termasuk dengan mengerahkan pukulan tenaga dalam Naga Kresna.


Dengan cepat, api melahap atap bangunan dan merembet ke bangunan lainnya. Tidak lama kemudian, si jago merah berkobar besar tanpa mampu dikendalikan.


Sisa-sisa anggota biara yang masih hidup tidak tahu harus berbuat apa, mereka berusaha memadamkan api tapi terlambat, hanya sia-sia menyiram air, membuat api semakin berkobar. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Danur Cakra untuk menyusul kepala biara dan para tamu yang melarikan diri melalui pintu belakang.


"Lindungi Guru Besar!" teriak seorang pengawal yang memikul tandu.


Kepala biara, serta mereka yang ikut dalam rombongan begitu terkejut karena ternyata Danur Cakra telah berhasil menyusul jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Mereka tidak menduga jika sosok siluman yang menyerang begitu tangguh, tidak mampu ditanggulangi oleh para biksu yang memiliki kemampuan tinggi.


BAAAMMM !!! Danur Cakra melepaskan kilau cahaya menyilaukan, menyabet tandu dan menghancurkan seluruh penutupnya. Membuat isi di dalamnya terlihat dengan jelas.


Seorang anak kecil?! Guru Besar yang dimaksud ternyata hanyalah seorang bocah berusia tujuh tahun.


Bukannya rasa iba, ataupun pemikiran yang berubah dalam ragu. Meskipun secara jelas lawannya ialah anak yang tidak tahu apa-apa, Danur Cakra malah semakin bersemangat. Tubuhnya mengeluarkan cahaya berwarna hitam pekat, bayangan seekor naga menggeliat keluar dan dengan cepat menyambar ke arah Guru Besar.


"Tiadaaaakkk !!!" Kepala biara berteriak lantang, dengan cepat dia melompat tinggi berupaya untuk menghalau serangan naga hitam.


Setitik kecil cahaya pelita kebenaran yang terpancar dari tubuh Kepala Biara tidak mampu untuk menerangi dunia yang gelap gulita. Bahkan hembusan angin yang begitu kencang menerbangkan pelita, memadamkan titik cahaya, menelannya dalam gelap yang semakin pekat. Seiiring dengan tubuh kepala biara yang terbujur tanpa ada detak jantung yang berdegup.


BAAMMM !!! Sekali lagi dentuman keras terjadi. Sesaat kemudian tidak terlihat adanya pergerakan di seantero lokasi. 

__ADS_1


Hanya ada satu tarikan napas, yakni Danur Cakra yang menghela napas lega. Naga Kecil telah berhasil melompati gerbang kedua.


__ADS_2