Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Gua Misterius


__ADS_3

Danur Cakra Prabaska telah lebih dulu meninggalkan Kota Binar Embun. Adanya Raka Jaya, membuat hatinya bisa tenang. Tujuan Suhita ialah Kota Raja, besar kemungkinan Raka Jaya sengaja datang karena telah mencium bau-bau perselisihan sesama pejabat kerajaan. Ada kelompok yang tidak menginginkan pangeran kerajaan diobati sehingga melakukan berbagai macam cara untuk menghalangi kedatangan sang tabib. Dalam hal ini, Suhita jadi terseret.


Danur Cakra mengurangi kecepatan lari kudanya ketika dia memasuki sebuah kota kecil di lereng bagian barat Gunung Songgo Langit. Matanya mencari kedai yang nyaman untuk beristirahat. Kemungkinan juga Danur Cakra akan menginap barang semalam di tempat itu. Selain dirinya, kudanya pun sudah begitu lelah, terus berlari tanpa henti.


"Pelayan! Daging menjangan panggang, kemudian arak terbaik!" Danur Cakra memesan makanan.


"Baik Tuan. Akan segera kami hidangkan. Lalu apakah ada lagi pesanan yang lain Tuan?" dengan sangat sopan, gadis pelayan membungkuk hormat menawarkan berbagai layanan lain. Termasuk layanan plus-plus.


Danur Cakra tersenyum sinis, tentunya dia menolak hal-hal semacam itu. Usianya masih sangat muda, tidak sepatutnya dirusak oleh kesenangan duniawi yang hanya sesaat. Bagi Danur Cakra, bukanlah suatu yang istimewa bisa tidur dengan puluhan wanita cantik. Dengan adanya uang, apa yang tidak mungkin. Pria istimewa ialah dia yang mampu menjaga kehormatan pasangannya.


Belum selesai lamunan Danur Cakra, pesanannya telah datang. Tanpa menoleh kiri-kanan, perutnya yang lapar segera mendapatkan bagian.


Hanya berjarak satu meja, duduk pula seorang Tumenggung dari Kerajaan Utara. Namanya Tumenggung Surotanu, bersama dua orang pengawal andalannya sedang membicarakan hal penting dengan seorang saudagar kaya raya. Sudah bisa ditebak jika isi di dalam kotak kayu yang terbungkus kain merah itu pasti kepeng uang emas.


"Fiiih!!! Penegak hukum ..." batin Danur Cakra, ingin muntah dia melihat senyum licik di wajah Surotanu.


Terlahir ke dunia hanya seorang diri, tanpa memiliki teman apalagi kerabat. Membuat uang menjelma menjadi sosok raja di mata siapa pun. Uang. Apa-apa uang. Kalau sudah bicara uang, bahkan tidak lagi ada beda antara saudara dan musuh. Saudara kerap menjadi musuh.


"Gusti Tumenggung ... saya sangat percaya kepada Anda," ucap si saudagar.


"Hahaha! Tuan Abdi jangan khawatir. Pasti secepatnya akan kami urus. Masalah seperti ini, gampang!" dengan tawa lepas Tumenggung Surotanu meyakinkan.


Entah mengapa, hati Danur Cakra sangat tertarik untuk ikut campur. Tidak seperti biasanya, mendadak jiwa kepo Danur Cakra bangkit menggebu-gebu. Tidak sepatah kata pun terlepas dari pendengaran Cakra, terlebih setelah dia mempertajam kemampuan pendengaran dengan ilmu Santa Pangrungu. Bahkan ilmu tersebut akan mampu mendengar jelas meskipun terhalang oleh tembok tinggi.


"Pasti ada yang tidak beres," Danur Cakra tersenyum sinis. Matanya menatap tajam pada Saudagar Abdi, seolah hendak mengoyak kebenaran dari mimik wajah penuh kedustaan tersebut.


Saudagar Abdi meminta bantuan pada Tumenggung Surotanu agar secepatnya dapat menemukan anaknya yang hilang. Menurutnya, sudah tiga purnama anak gadisnya tidak pulang ke rumah. Kekhawatiran seorang ayah pada anaknya, memang bukan suatu yang berlebihan. Tidak jarang seorang ayah akan rela mengorbankan nyawa demi sang anak, apatah sekadar harta benda.


Akan tetapi, yang membuat Danur Cakra jadi curiga yakni tindak-tanduk Juragan Abdi yang sangat mencurigakan. Jika benar Kundalini merupakan anak kandungnya,  lantas mengapa harus sembunyi-sembunyi melakukan pertemuan dengan Tumenggung Surotanu. Mereka juga sepakat untuk merahasiakan semuanya dari setiap mata dan telinga.


Begitu juga dengan Tumenggung Surotanu, selain mendapatkan bayaran cukup besar dari Juragan Abdi, dia pun tengah berada dalam satu misi. Terlihat dari ucapannya pada sang pengawal, "jika misi ini berhasil, kita bisa balaskan dendam dengan cara yang paling menyakitkan." Dari sana, Danur Cakra semakin yakin kalau sosok Kundalini bukanlah gadis seperti sosok yang mereka bicarakan. Kundalini bukanlah anaknya Saudagar Abdi. Justru dia adalah bagian dari keluarga yang memiliki urusan pribadi dengan Tumenggung Surotanu. Ini masuk dalam kategori penculikan, perdagangan manusia, dengan dalih berbalut emas. Licik.


Danur Cakra merapatkan gigi geraham, memunculkan otot pipinya dengan iringan suara gemertak. Semakin lama, Danur Cakra semakin tergiring di jalan kelompok orang yang penuh kebencian terhadap pejabat pemerintah. Yang dia temukan, sebagian besar para pejabat kerajaan justru memanfaatkan kedudukannya untuk meraup keuntungan pribadi. Menjijikkan.


Perlahan, Danur Cakra bangkit dari tempat duduk. Dia berjalan menuju tempat para pelayan kedai berkumpul. Memangnya, cuma saudagar dan penguasa saja yang bisa gunakan uang untuk kepentingan pribadi?


Mulut dan lidah para pelayan kedai menjadi sangat lancar berbicara setelah menerima upah besar untuk sekadar bercerita. Dari banyaknya sumber, Danur Cakra tidak menyesali dugaannya. Saudagar Abdi merupakan sosok tua bangka yang sangat doyan daun muda.


"Baik. Kalau begitu aku permisi!" pamit Danur Cakra.


Danur Cakra bergegas keluar dari kedai, mencari alamat seorang penduduk yang pernah bertemu dengan Kundalini. Berdasarkan pemaparan pelayan kedai, seorang yang 'mungkin' disebut bernama Kundalini ialah seorang gadis yang merupakan anggota kelompok sirkus. Konon pertunjukan yang dipentaskan olehnya selalu panen pujian dan yang jelas wajah Kundalini sangatlah cantik. Wajar jika banyak orang yang tergila-gila.


Nah, kelompok sirkus tersebut pernah manggung pada acara hajatan pernikahan anak Ki Ageng Bodo. Laju kuda Danur Cakra, tertuju ke arah itu. Ada kemungkinan Ki Ageng Bodo mengetahui sesuatu mengenai kelompok sirkus tersebut.

__ADS_1


"Kalau aku, orang yang baru datang pun bisa tahu, lalu bagaimana dengan mereka yang memang tinggal di sini?!" Danur Cakra mengernyitkan dahi. Tiba-tiba kepalanya dituntut untuk berpikir rasional. Persetan! Akhirnya Danur Cakra tidak menghiraukan apa pun, karena bertindak berada satu langkah lebih maju dibandingkan sekadar berpikir dengan berpangku tangan.


Tiba di Kediaman Ki Ageng Bodo, suasana terlihat sunyi. Tidak seperti apa yang Cakra perkirakan. Ki Ageng Bodo merupakan orang yang terpandang, juragan empang serta tanahnya sangat luas. Wajar jika ia sanggup mendatangkan kelompok sirkus yang mahal ketika pesta pernikahan anaknya.


"Selamat siang, Den. Ada apa ya?" seorang pembantu Ki Ageng Bodo menyapa Cakra.


Cakra segera turun dari punggung kuda, kemudian menghampiri si tukang kebun.


Danur Cakra mengajak tukang kebun untuk mengobrol. Meskipun pria tersebut nampak sangat sungkan, karena dia tahu jika strata sosial mereka berbeda. Dari pakaian yang dikenakan saja, sudah kelihatan.


"Ooo ... apa Aden yang mau menikah? Atau permintaan calon istri?" tanya tukang kebun. Danur Cakra menjawabnya dengan senyuman kecil.


"Sayang sekali, Den. Tapi ... menurut yang saya dengar-dengar, kelompok itu sudah bubar. Bahkan tiga atau empat bulan yang lalu, kabarnya pemiliknya tersangkut kasus hukum. Markas sementara mereka di Kedutan dibakar habis. Anggotanya yang tidak tertangkap ya pada melarikan diri," papar tukang kebun.


Kening Danur Cakra berkerut, sangat kebetulan sekali. Berita yang dia dengar kali ini begitu berbalik 180° dari seperti yang diucap Tumenggung Surotanu dan Saudagar Abdi. Ada sabotase di dalamnya, membuat Danur Cakra semakin penasaran untuk bisa membuka kedok Tumenggung Surotanu.


"Huuuhhh ... sayang sekali. Terima kasih, pak. Maaf karena sudah mengganggu waktunya. Kalau begitu, saya pamit," Danur Cakra segera meninggalkan kediaman Ki Ageng Bodo.


Gunung Songgo Langit yang amat subur, membuat orang-orang betah membangun permukiman di sana, hingga banyak sekali kota-kota kecil yang berdiri di kaki-kaki gunung. Dari lima penjuru, gunung itu dikelilingi oleh permukiman.


Matahari baru setengah condong ketika Danur Cakra memasuki pelataran bekas markas sementara kelompok sirkus. Di desa Kedutan. Pondok sederhana tapi sangat besar, tinggal menyisakan puing-puing yang mulai dibalut oleh tanaman liar yang tumbuh subur.


Danur Cakra berjalan mengitari lokasi. Setiap sudutnya tidak luput dari pengamatan. Masih terlihat sisa-sisa alat musik dan perlengkapan sirkus bekas dilahap si jago merah. Nampak juga kasarnya tangan manusia yang menghancurkan tempat tersebut.


Dalam hening, telinga Danur Cakra menangkap suara langkah kaki yang begitu halus. Lokasinya cukup jauh dari tempatnya berada, membuat Danur Cakra masih sempat untuk menyembunyikan kuda.


Beberapa saat kemudian, Danur Cakra sudah bertengger di sebuah dahan kayu besar. Matanya tajam menyisir penjuru tempat di bawahnya, mencari sesuatu yang bergerak. Tingkat kemampuan tenaga dalam memang tidak bisa dibohongi, bagaimanapun orang coba untuk menyembunyikan suara, tetap saja Danur Cakra berhasil menemukan.


Di bawah sana, sebatang tumbuhan liar masih bergoyang. Beberapa saat yang lalu ada sosok yang menyenggol rumput itu, pasti manusia. Danur Cakra melompat menghampiri.


"Ayah ... kau sudah kembali?" seorang wanita di dalam gua menyambut kedatangan ayahnya.


Sang Ayah, dengan wajah lusuh dan pakaian yang cabik segera menghempaskan pantatnya di atas batu datar. Mimik wajahnya tidak memancarkan kebahagiaan. Dia nampak tertekan.


"Kak Rangga?" gadis itu kembali melempar tanya.


Dengan napas yang masih tersengal, orang tua itu kemudian menjawab. Benar saja, dia tidak membawa kabar baik. Bahkan ia pun hampir kehilangan nyawa bila tidak cepat melarikan diri.


"Selain para pendekar itu, sekarang prajurit kerajaan semakin banyak berkeliaran. Ayah tidak tahu, berapa lama lagi kita bisa bertahan di tempat ini. Namun ini adalah pilihan terakhir. Mereka pun ayah rekomendasikan untuk pindah ke sini," ucapannya.


"Apa Ayah diikuti?"


"Tidak. Ayah sangat yakin."

__ADS_1


Kedua ayah dan anak tersebut kemudian tersenyum. Sang anak menyiapkan beberapa kerat makanan untuk mereka nikmati bersama. Namun belum juga mereka mulai makan, sang ayah menyadari sesuatu.


"Ada yang datang," bisiknya pada sang anak.


"Maaf, aku menguping semua pembicaraan kalian. Tapi percayalah, aku bukan bagian dari siapa pun," Danur Cakra segera angkat bicara sesaat setelah keberadaannya diketahui. 


Dua orang tersebut kaget bukan kepalang. Entah sejak kapan ada orang lain di dalam gua, tapi mereka tidak menyadarinya. Hal tersebut menunjukkan jika kemampuan orang yang datang jauh melampaui tenaga dalam yang mereka miliki. Andaipun dia langsung menyerang, pastinya tidak akan bisa untuk dihindari.


"Siapa kau?! Mengapa bisa masuk ke tempat ini?!" tanya pria berbaju lusuh. Dia bersiap siaga, sebilah pedang telah tergenggam di tangannya.


Danur Cakra melangkah dengan santai. Dia sama sekali tidak melakukan persiapan, karena memang tiada maksud di hatinya untuk bertikai. Mereka itu sama, sama-sama buronan kerajaan meskipun dengan kasus yang berbeda.


"Kalian boleh percaya ataupun tidak. Kita berada di posisi yang sama, yang menjadi pembeda hanyalah tempat tinggal. Aku belum memiliki tempat persembunyian karena bagiku penginapan jauh lebih nyaman," Danur Cakra tersenyum penuh misteri. Dia kemudian mengambil tempat duduk di hadapan pria lusuh. Sangat dekat. Jika pria tersebut mengayunkan pedang, sudah barang pasti kepala Danur Cakra akan terbelah. Setelah beberapa tarikan napas Danur Cakra melanjutkan bicaranya, "sebagian orang menyebutku dengan nama Pendekar Naga Kresna."


"..." mulut kedua orang itu sampai ternganga, hampir tidak percaya atas apa yang baru saja mereka dengar.


"Hahaha! Kalian harusnya tidak perlu percaya. Aku datang untuk inginkan beberapa informasi, terutama berkaitan dengan kelompok sirkus yang markasnya dibakar."


Dua orang ayah dan anak itu saling bertukar pandang. Antara percaya juga tidak. Tapi sepertinya mereka percaya kalau Danur Cakra bukanlah bagian dari mereka yang menjadi musuh. Pemuda itu tidak terlihat hendak mencelakai.


"Ah ... itu artinya kita bisa bicara baik-baik. Aku sangat senang mendengarnya," ucap sang ayah seraya menghembuskan napas lega.


Danur Cakra mengangguk. Firasatnya mengatakan jika kedua orang dihadapannya adalah bagian dari anggota kelompok sirkus yang sekarang menjadi buronan. Besar kemungkinan, maka Cakra akan bisa menemukan sosok Kundalini dari mereka berdua. Ya, tujuan utamanya tidak akan pernah berubah. Danur Cakra memang bukan tipe manusia tanpa tujuan, tapi meski demikian dia pula termasuk manusia dengan hati. Terlebih, kala melihat gadis tersebut dia teringat pada adiknya.


Danur Cakra melangkah mengitari gua. Di sana dia menemukan beberapa titik penting dari gua. Dengan kata lain, gua tersebut menyimpan banyak teka-teki. Banyak ruangan yang sengaja disembunyikan. Tidak masalah jika untuk sementara waktu Cakra berada di tempat itu. Esok juga, orang yang dia tunggu akan datang menemui. Itu jauh lebih baik.


Menemukan hal yang menarik, bukan Cakra namanya jika tidak mencari tahu. Tanpa meminta izin sekali pun, langkahnya terayun mantap menyusuri dalamnya gua.


"Luar biasa! Harusnya kelompok sirkus tersebut tidak perlu hancur. Lantas siapa yang punya kemampuan sebesar itu?" Danur Cakra berpikir keras.


Ada beberapa bagian gua yang menunjukkan bahwa gua tersebut dibuat oleh manusia. Mengamati misteriusnya gua, sudah barang pasti yang merancang gua semacam itu merupakan sosok yang luar biasa. Bahkan untuk memasukinya pun dibutuhkan pemecahan teka-teki yang amat rumit.


'Tapak Naga Bumi' dengan kekuatan tenaga dalam tingkat tinggi, Danur Cakra mencoba untuk menghantam dinding gua. Menunggu apa yang akan terjadi. Dan benar saja ... seperti yang dia duga sebelumnya. Hanya debu dan pasir yang bergeser akibat getaran, sementara dinding gua tetap berdiri dengan kokohnya.


Danur Cakra tersenyum, mendapatkan tantangan yang lebih besar merupakan suatu kesenangan.


"Tuan pendekar ..." gadis yang bernama Arsita tersebut datang dengan tergopoh.


"Sudah berapa lama kalian tinggal di gua ini?" tanya Danur Cakra.


"Sekitar satu bulan, Tuan. Sejak serangan itu, kami selalu hidup berpindah-pindah. Tanpa sengaja kembali ke sini dan menemukan tempat yang cukup aman."


Lantas milik siapa gua ini? Ada ruang rahasia, sudah barang pasti ada jalan untuk melarikan diri.

__ADS_1


__ADS_2