Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Penginapan Muvvah


__ADS_3

"Hahaha !!! Hahaha !!!" tawa lantang meledak dari sebuah rumah pohon yang berada di tepi tebing batu.


Rumah pohon yang sama sekali tidak memiliki jalan untuk mencapainya. Satu-satunya pohon besar yang menjulang tinggi, berada di puncak tebing badas, kiri dan kanan lokasi merupakan jurang yang amat terjal. Bahkan seekor tikus pun akan kehilangan nyawa jika harus terjatuh dari tebing tersebut, apalah lagi manusia.


Namun siapa sangka, justru seseorang malah mendirikan sebuah rumah pohon pada ketinggian yang menantang maut. Dengan menilik keadaan, sudah bisa dipastikan kalau pemilik rumah kayu itu merupakan seorang pendekar yang berilmu tinggi. Untuk bisa pulang dan pergi ke pondok, dibutuhkan kemampuan tenaga dalam yang sangat besar. Minimal harus menguasai ilmu meringankan tubuh yang mendekati sempurna. Jika tidak, bisa dipastikan kalau gravitasi bumi sangatlah kejam.


Berbagai jenis burung cepat berterbangan di sekitar rumah kayu, dan burung-burung tersebut bukanlah burung biasa, melainkan burung yang juga memiliki kemampuan khusus. Mereka dibekali ingatan yang sangat cerdas dan mata yang tajam. Termasuk salah satunya ialah burung yang berada di penginapan tempat Suhita menginap. Dan sekarang burung itu sudah menyampaikan berita yang dia dapat pada majikannya.


Pria paruh baya yang menghuni rumah pohon dan menernak burung pengintai merupakan sosok penjahat kelas kakap yang sudah lama menghilang dari hingar-bingar dunia persilatan, bukan karena dia telah bertaubat, melainkan pria itu sedang menciptakan satu kekuatan baru, kekuatan yang digadang-gadang akan menggemparkan dunia persilatan. Tokoh aliran sesat yang juga pernah bekerja di bawah bendera Aliansi Utara Selatan, dia dijuluki Setan Abang.


Tidak ada yang tahu secara pasti siapa nama kecil Setan Abang. Nama Setan Abang disematkan oleh orang-orang karena wajahnya yang merah seperti udang bakar, juga tindakan yang dilakukan lebih pantas disebut sebagai setan, bukan lagi manusia.


"Ya, ya, ya, sekarang kalian cepatlah pergi! Terus ikuti Tabib Dewa, jangan sampai kehilangan jejak. Aku yakin sekarang dia telah sadar dan coba untuk melarikan diri, atau paling tidak menyembunyikan sumberdaya langka itu. Hahaha! Setelah sekian lama, akhirnya apa yang aku tunggu datang juga!" Setan Abang tertawa terbahak-bahak, penuh kemenangan.


Dengan penuh kepercayaan diri, Setan Abang sangat yakin jika dia merupakan orang pertama yang tahu akan hal itu. Sambil berkemas, tidak henti-hentinya Setan Abang bersiul mencerminkan kegembiraan hatinya. Sudah lama dia tidak merasakan hari sebaik sekarang, dan nampaknya jalannya lebih mulus dari yang diperkirakan. Wajah Setan Abang semakin merah menyala, bukan karena dia sedang marah tapi akibat terlalu gembira.


Tuutuutuuiiittt! Tuutuutuuiiittt !!! siul khas Setan Abang mengalun memenuhi lembah, menebar rasa ketakutan dari mereka yang menyadari jika kekejaman masa lalu akan kembali terulang. Sosok pemangsa darah akan kembali muncul, melengkapi rentetan kekacauan yang silih bersambut.


Dengan banyaknya burung berterbangan mengandung pancaran aura yang kuat, tentu saja membangkitkan sinyal di berbagai tempat, khususnya di setiap tempat yang ada para tokoh aliran sesat berkumpul.


Rata-rata orang akan menilai seseorang menggunakan cara pandang dan kebiasaan hidupnya sehari-hari. Mereka yang suka menipu, tidak akan bisa percaya pada orang lain karena setiap saat merasa orang lain akan menipunya. Juga mereka yang gemar membicarakan keburukan orang. Hidupnya tidak tenang karena setiap mendengar orang tertawa, selalu curiga jika orang-orang mentertawakan kegagalannya. 


Berbuat baiklah, setidaknya untuk diri sendiri. Jangan biarkan hati dan otak kita menderita hanya karena ego dan cara pandang kita yang salah. Jika ada yang berperan penting dalam hidup, tidak lain ialah cara pikir kita.


°°°


Selain Setan Abang, juga jangan lupakan kelompok Tikus Tanah. Kelompok aliran sesat yang setiap saat memasang mata dan telinga untuk tahu berita-berita penting. Jika saja Setan Abang mengetahui kabar yang ia dapat dengan susah payah di sadap oleh kelompok lain, sudah barang pasti Setan Abang akan murka.


Tidak hanya ikut meramaikan setiap perburuan sumberdaya, akan tetapi Kelompok Tikus Tanah pula menjual informasi pada kelompok lain yang diketahui haus sumberdaya. Tidak heran jika setiap ada sesuatu yang terjadi, maka para pendekar dari berbagai kalangan akan berbondong-bondong untuk datang. Kalah dan menang, sukses atau berhasil merupakan poin kedua. Yang terpenting ialah melakukan usaha dan berjuang. Urusan kehilangan nyawa, itu adalah rencana Tuhan.


Hanya mendengar namanya, tentu mata tidak akan berkedip apalah lagi merasa gentar. Akan tetapi, jika sudah berurusan dengan Kelompok Tikus Tanah maka barulah mata terbuka, bagaimana menyulitkannya mereka. Rata-rata kemampuan tenaga dalam mereka memang tidak superior, akan tetapi keahlian lain dimiliki oleh kelompok tersebut. Ya, mereka bisa menembus tanah, melarikan diri melalui jalan yang tidak biasa orang lakukan.


Ilmu Susur Bumi konon berasal dari zaman dahulu kala. Bahkan dalam pewayangan ilmu tersebut pula diceritakan, yang dimiliki oleh pangeran Antarja, putra Bima. 


Sementara pada masa sejak kerajaan Utara dan Selatan berselisih, Ilmu Susur Bumi justru dimiliki oleh tokoh aliran sesat, Ulo Nogo. Mungkin mereka hendak mencerminkan bagaimana tokoh tersebut bisa keluar masuk bumi seperti ikan di dalam air.


"Belum ada tanda-tanda keberangkatan Setan Abang, tapi kita harus waspada. Kita semua tahu betapa dahsyat pukulan pada telapak tangan kirinya, yang tentu saja tidak berarti apa-apa jika tidak mengenai sasaran. Hahaha!" seorang kepala regu Tikus Tanah tertawa, sepertinya dia hanya menganggap kemampuan Setan Abang sebagai candaan. Betapapun hebatnya Setan Abang, buktinya tidak mengetahui kalau informasinya dicuri. Itu artinya, dia memiliki banyak kelemahan.


"Justru yang menjadi PR ialah Tabib Dewa itu sendiri, bagaimana caranya kita merebut Mutiara Hati dari tangannya tanpa harus diketahui?!"

__ADS_1


Bukan karena mereka takut ataupun gentar pada kemampuan olah kanuragan yang dimiliki Tabib Dewa. Tapi lagi-lagi karena alasan klasik yang sama, hingga tidak ada tokoh sesat manapun yang berurusan dengan Tabib Dewa. Tentu saja Kelompok Tikus Tanah harus berpikir ulang untuk miliki musuh di setiap penjuru karena mengusik Tabib Dewa.


"Jika Setan Abang saja bisa, mengapa kita tidak? Tidak ada ahli informasi mana pun yang bisa kalahkan kita. Jika memungkinkan, apa salahnya dengan cara baik-baik kita kelabui Tabib Dewa," seorang menyahut dari sudut ruangan.


Bersamaan dengan terdengarnya suara, sesosok tubuh muncul dari balik dinding batu. Orang itu baru saja kembali dari penginapan tempat Suhita menginap. Dan dirinya mendengar jika Suhita dan Cakra sedang membahas mengenai Mutiara Hati.


"Aku sangat yakin, Tabib Dewa telah mengendus semuanya. Dan pastinya dia akan secepatnya mengkonsumsi Mutiara Hati. Ada kemungkinan sumberdaya tersebut akan digunakan untuk dua kekuatan!"


Tidak ada pilihan lain, mereka harus bertindak cepat. Kecuali tidak mendapatkan apa pun. Meski harus bertarung melawan Tabib Dewa dan para pendekar di sekitarnya, rasanya akan sepadan dengan Mutiara Hati sebagai taruhan.


°°°


"Ah, selamat malam, Tabib ..." dengan sedikit terkejut, Kencana Sari menyapa Suhita yang berdiri di depan pintu kamar Danur Cakra.


Suhita tidak kalah terkejut, dia juga tidak menduga jika Kencana Sari masih terjaga. Dan sekarang Sari memergokinya hendak masuk ke dalam kamar Cakra, untung saja pintu kamar terkunci dari dalam hingga Hita tidak terkesan nyerondol memasuki kamar seorang pria, di tengah malam menjelang dini hari. Hal tersebut tentunya menuntun pemikiran macam-macam dari yang hanya sekadar melihat.


"Sari ... kau belum tidur?" dengan tersipu Suhita coba tersenyum membalas sapaan Kencana Sari.


Kencana Sari membungkukkan badan dengan santun. Dia menatap ke arah pintu kamar yang mulai terbuka dengan perlahan.


Karena sangat capek, Danur Cakra tidur dengan cepat. Ditambah suasana nyaman dalam penginapan membuat tubuhnya semakin rileks, "ada apa, malam-malam mengganggu tidurku? Atau kamar kalian terlalu dingin?"


"Boleh kami masuk?!" tanya Suhita.


Kami, tentu saja yang Hita maksud dia bersama Kencana Sari. Hita tidak ingin Sari berpikir macam-macam perihal mengapa harus mendatangi kamar Danur Cakra pada dini hari. Bukan karena hendak mengajak tidur bersama melewati sisa malam yang dingin. Tapi karena ada hal lain yang tidak bisa Hita tunda sampai besok.


"Hah, dasar! Mengganggu saja!" Danur Cakra mempersilakan keduanya masuk. Sudah kepalang terbangun, tentu akan sulit untuk kembali tidur.


"Sebentar, aku mau pesan minuman hangat dulu. Kalian tunggu di sini," tanpa menunggu jawaban, Danur Cakra segera pergi.


Dengan langkah yang cepat, Danur Cakra menuruni anak tangga dan menemui pelayan penginapan di lantai dua. Setelah memesan minuman hangat juga cemilan, Danur Cakra berniat kembali ke kamarnya. Akan tetapi langkah Danur Cakra dipaksa terhenti ketika dia baru beberapa langkah menaiki anak tangga. Sudut matanya menangkap pergerakan tidak wajar di luar jendela.


"Sialan! Apa itu, beraninya bermain-main denganku," gerutu Cakra seraya merubah arah.


Danur Cakra melompat ke luar penginapan untuk mencari tahu atas apa yang baru saja dia lihat. Sangat jelas terasa jika sosok yang menghindar tadi merupakan sosok pengintai yang berkeliaran di sisi penginapan.


"Apa ini? Adakah tokoh penting yang bermalam hingga penjagaan begitu ketat?" Danur Cakra melepaskan pandangannya ke segala penjuru, begitu banyak aura bertebaran di sekitar sana.


"Bayangan Hitam? Rasanya aku pernah dengar, tapi untuk apa dia datang ke sini? Untukku?! Rasanya tidak mungkin sekali," batin Danur Cakra.

__ADS_1


Beberapa saat lamanya Danur Cakra hanya mengamati, dia tidak melakukan hal apa pun. Yang jelas Cakra sama sekali tidak curiga jika beberapa mata-mata yang dia lihat tidak lain ialah mata-mata yang bertugas untuk mengawasi Suhita. Andai saja Cakra tahu, sudah pasti dia tidak berpangku tangan.


Bayangan Hitam yang Cakra maksud bukanlah utusan Setan Abang ataupun Tikus Tanah. Dia justru pesuruh dari Padepokan Denda Gusta, salah satu padepokan aliran putih yang konon dihuni oleh para pendekar pilih tanding. Rata-rata para pendekar di padepokan itu berusia relatif muda, mereka dengan cepat mencapai tahapan kemampuan dengan mengkonsumsi sumberdaya. Ada seorang ahli nujum yang luar biasa, bisa tahu di mana keberadaan sumberdaya langka. Kalau tidak salah, namanya Balur Saga. Mungkin kemampuan ahli nujum itu hanya beberapa tingkat di bawah Suhita. Akan tetapi Suhita tidak menjadikan penemuan berbagai sumberdaya tersebut untuk diperjual belikan, hanya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Berbeda dengan Balur Saga.


"Apa baiknya aku tanyai orang itu? Tapi ... apa untungnya untukku? Ah, membuang-buang waktu saja!" Danur Cakra  segera turun dari tempatnya mengintai, kembali ke penginapan.


Di anak tangga yang sama seperti sebelumnya, Danur Cakra sekarang berpapasan dengan pelayan penginapan yang baru turun dari lantai atas, mengantarkan minuman hangat yang tadi Danur Cakra pesan. Dengan kata lain, Danur Cakra pergi dalam waktu yang cukup lama.


"Tuan ... pesanannya sudah saya letakkan di atas meja," ucap pelayan penginapan itu setelah membungkuk memberi hormat.


"Ya! Bukankah ada temanku di sana?"


"Maaf, Tuan. Ti-tidak ada siapa pun di kamar Tuan," jawab pelayan penginapan.


Danur Cakra mengerutkan dahi mendengarnya, aneh sekali mengapa begitu cepat Suhita pergi? Ada-ada saja. Dengan berlari kecil, Danur Cakra meniti satu persatu anak tangga. Dan langsung menuju kamar Suhita.


"Hita ... kau di dalam?" tanya Danur Cakra, meskipun tangannya langsung meraih gagang pintu yang tidak lagi terkunci.


"Mengapa lama sekali?! Apa lebih dulu kau mengitari kota?" sambut Suhita jutek.


Danur Cakra hanya mengangkat bahu, tidak menjawab satu patah katapun. Dia malah langsung menanyakan atas tujuan Suhita tadi datang ke kamarnya.


"Sayup-sayup, aku mendengar suara benturan di luar sana. Apa lagi-lagi kau menumpahkan darah?" Suhita malah mengintrogasi Danur Cakra.


Tentu saja Cakra mengelak, karena memang dia tidak melakukan hal apa pun. Hanya melihat-lihat situasi saja. Masalah pertarungan atau pun apa-apa yang tidak ada sangkut-paut dengannya, tentu saja Danur Cakra tidak ambil pusing. Persetan dengan apa pun yang terjadi, Cakra tidak akan turun tangan.


"Seburuk-buruknya muka, akan tetap indah bila diimbangi dengan indahnya sikap. Jika menganggap seluruh manusia jahat, alangkah tidak adilnya Tuhan melakukan hal itu. Hanya saja, terlalu banyak manusia yang bertindak tidak sesuai dengan hati nuraninya."


"Apa maksudnya? Anggap saja aku tidak mengerti. Sekarang baiknya kau katakan saja, apa yang membebani benakmu?" Danur Cakra duduk di atas meja, menghadap pada Suhita yang duduk bersebelahan dengan Kencana Sari.


"Apa tadi Kakak lihat, ada berapa pendekar yang datang?" tanya Suhita.


"Tidak ada. Memangnya kenapa?"


"Ketika di desa batu, aku mendapatkan beberapa sumberdaya berharga. Salah satunya ialah sumberdaya yang diburu oleh banyak pendekar, baik aliran putih maupun kelompok aliran sesat. Dan sekarang apa Kakak paham yang aku maksud?"


Danur Cakra menatap tajam kedua bola mata Suhita, seolah hendak menyelam hingga ke dasar benak pikiran terdalam sang adik. Danur Cakra paham atas situasi seperti sekarang, situasi serba salah yang harus Suhita hadapi.


"Jangan takut, bukannya aku ada di sini? Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu, kecuali jika aku sudah tidak bisa bergerak. Bagaimana pun beratnya beban, jika dipikul bersama akan terasa lebih ringan," ucap Danur Cakra dengan mantap.

__ADS_1


Suhita tersenyum getir, dia sudah tahu apa yang akan Cakra katakan. Dan memang, Cakra merupakan orang yang akan berikan apa pun untuk dirinya. Kakak yang penuh tanggung jawab. Nampaknya Mutiara Hati memang berjodoh untuk mereka berdua. Dengan demikian, selamanya Cakra akan bisa melindungi Suhita. Kecuali mereka mati secara bersamaan.


__ADS_2