
Pulau Seribu Pandan tidak ubahnya Pulau Tengkorak di masa lampau. Guncangan besar terjadi setiap dentum tenaga dalam saling beradu. Tidak lagi tersisa seorang pun pelancong, semua lari menyelamatkan diri. Mereka masih inginkan untuk melalui hari esok ketimbang terkubur di pulau indah yang berubah menjadi arena pertarungan.
"Tuan, sepertinya mereka sudah mulai saling serang. Lalu, apa yang akan kita lakukan?" tanya Jaganitra.
Bhadrika Djani mengelus dagu. Hatinya tentu telah bergemuruh, tangannya sudah gatal untuk bisa ikut serta dalam pertarungan. Akan tetapi, rasa gengsi itu masih terlalu berat untuk disingkirkan. Apa yang akan dikatakan Raja Iblis, apa nanti kata orang-orang jika seorang Bhadrika Djani hanya mendompleng pada kekuatan dari Lereng Utara.
"Kita perhatikan awasi mereka dari jarak jauh!" Bhadrika Djani mengambil keputusan yang bijak.
Bersama kedua orang muridnya, Bhadrika Djani menuju pantai. Mereka mencari tempat yang leluasa untuk menonton, melihat perkembangan pertarungan antara Keluarga Raditya dan Kelompok Lereng Utara.
"Hmmm ... kepa*rat!" Bhadrika Djani mendengkus. Dia tidak melihat adanya Raditya yang turun gelanggang. Hanya Elang Putih, Dewi Api, dan empat orang bocah ingusan. Jelas, hal itu merupakan penghinaan besar-besaran terhadap Kelompok Lereng Utara.
"Aku melihat jika Jurus Tapak Naga sebagai jurus pasaran. Lihatlah! Tidak ada yang istimewa, saat ada lebih dari satu orang yang menggunakannya!"
Ucapan Bhadrika Djani memang tidak keliru, akan tetapi terdengar sangat berlebihan. Dengan banyaknya orang yang kuasai, bukan serta merta menjadikan kemampuan Tapak Penakluk Naga tidak lagi menakutkan. Justru malah sebaliknya, terlihat jelas hasilnya di depan mata.
Jika saat puluh tahun yang lalu, hanya ada satu orang dalam satu generasi yang miliki kemampuan Tapak Penakluk Naga dengan sempurna. Setelah Raditya, maka berganti Elang Putih. Hal itu membuat Jurus Tapak Penakluk Naga menjadi kemampuan yang sangat langka. Di mana muncul maka menjadi momok menakutkan.
__ADS_1
Dalam Pertarungan di Pulau Seribu Pandan kali ini, selain Elang Putih juga ada dua orang anak kembarnya yang gunakan kemampuan serupa. Sementara Dewi Api dan putranya pertontonkan bagaimana jurus dari Padepokan Api Suci sangat layak bersanding dengan Tapak Naga.
"Kita harus mengambil sikap. Aku yakin, Raja Iblis dan antek-anteknya tidak mungkin bisa menang dengan mudah. Lihatlah, perlawanan yang dilakukan keturunan Raditya."
"Kami akan tunduk pada perintah Tuan!" Jayadita dan Jaganitra menjawab dengan serentak.
"Aku ingin mencabik-cabik tubuh Raditya, juga si Elang Putih. Akan tetapi, memberikan luka dalam di hati mereka tentu akan terasa lebih indah. Hahaha!" Bhadrika Djani tertawa lantang.
Jayadita dan Jaganitra saling bertukar pandang, keduanya masih coba menerka atas apa tujuan bos mereka. Untuk bertanya tiada guna dilakukan, dengan langkah mantap mereka mengikuti Bhadrika Djani. Yang terpenting ialah membalas dendam pada Elang Putih. Menyingkirkan para pendekar aliran putih merupakan tujuan mereka, agar langkah dan tindak-tanduk mereka tidak dicampuri. Bagi para pendekar aliran sesat, pendekar aliran putih hanyalah orang-orang usil yang selalu ikut campur urusan orang lain.
°°°
Total telah lebih dari lima orang pendekar yang celaka. Itu membuat posisi Kelompok Lereng Utara semakin terpojok, semakin memperkecil kemungkinan untuk bisa menang.
Suhita telah menjelma menjadi seorang pendekar wanita dengan kemampuan sempurna. Seperti diketahui, Hita merupakan anak Mahesa yang mewarisi kemampuan tenaga dalam Tapak Penakluk Naga pada tahap yang sempurna. Ditambah dengan pengetahuannya perihal Racun warisan ibunya, membuat Suhita menjelma menjadi sosok yang setara dengan Cahaya Langit, si pimpinan aliansi utara selatan tempo dulu. Memang benar, Suhita tidak diperkaya oleh begitu banyak jurus yang membuat kemampuan bertarungnya menyamai level sang ayah. Tapi dengan tenaga dalam diimbangi racun berbahaya, sudah lebih dari cukup untuk Hita melenyapkan lawan dengan mudah.
Di tempat lain, Danur Cakra yang tengah berhadapan dengan Muning Raib telah melewati puluhan jurus. Tapi hasilnya, pendekar senior aliran sesat tersebut harus mengakui kedigdayaan lawan. Kendati usia Danur Cakra masih sangat belia, akan tetapi kemampuan bertarungnya sudah menyamai pendekar yang berusia lebih dari setengah abad. Dengan kata lain, Cakra unggul dalam berbagai hal. Memaksa Muning Raib hanya berada pada posisi bertahan.
__ADS_1
Setapak demi setapak Muning Raib dipukul mundur menjauh dari rombongan. Di sana, dia akhirnya mengetahui bagaimana cara bertarung lawan yang sesungguhnya. Tatkala Danur Cakra sepenuhnya menggunakan kekuatan Naga Kresna, barulah Muning Raib sadar jika dia tengah melawan manusia setengah siluman. Bagaimana mungkin bisa dikalahkan.
"Kau seorang pendekar aliran sesat, kita adalah sama. Suatu kesalahan jika harus berhadapan saling mencelakai. Lawan kita adalah mereka!" ucap Muning Raib berusaha menurunkan tempo permainan.
Danur Cakra menghentikan serangannya, membiarkan Muning Raib menyelesaikan kalimat. Yang intinya coba untuk sadarkan kekeliruan yang Cakra lakukan.
"Sudah bicaranya?! Sudah istirahatnya?! Kali ini aku akan antarkan kau kakek tua ke peristirahatan panjangmu!" dengan suara bergetar berat Danur Cakra sampaikan ancaman.
Perlu diketahui, setelah pengembaraan panjang yang Danur Cakra lakukan, menyisir alam manusia dan lelembut. Pada akhirnya Danur Cakra berhasil mengumpulkan seluruh Fragmen guna kesempurnaan naga hitam di alam evolusi miliknya. Sekarang, Danur Cakra bisa gunakan dua kekuatan sekaligus setelah dia menjadi sosok manusia setengah siluman.
Danur Cakra memejamkan matanya, saat kembali terbuka mata itu berubah menjadi merah menyala. Yang menjadi lawan Muning Raib kali ini ialah Pendekar Naga Kresna yang seutuhnya. Sosok pendekar aliran sesat yang haus darah.
Pertarungan kembali berlangsung, di mana Muning Raib harus mati-matian menyelamatkan diri dari setiap pukulan yang Danur Cakra lepaskan.
"Dan inilah rencananya ..." Bhadrika Djani yang sejak tadi menjadi penonton segera bangkit. Dia membawa kedua pengikutnya menuju ke arah pertarungan Danur Cakra dan Muning Raib.
Kalah dan menang adalah hal yang wajar. Jika takut kalah, harusnya jangan ikut bermain. Untuk mendapatkan satu tujuan tentu tidak mengkhianati perjuangan. Tekad Bhadrika Djani telah bulat, meskipun harus kehilangan nyawa dia tidak peduli. Yang terpenting bisa balaskan dendam yang terlanjur membara di dalam dada. Tidak Raditya atau anaknya, maka cucunya adalah hal yang sama. Di hari ulang tahun Raditya kali ini, Bhadrika Djani inginkan tangis pilu yang mengalir, menggores luka ke dalam relung hati yang paling dalam. Dan dia yakin, pasti rencananya akan berhasil.
__ADS_1
Tiga bayangan berkelebat dengan cepat, tapi tidak menghalangi mata Suhita tetap bisa melihatnya. Mendadak hati Suhita bergetar kala menyadari kalau tiga bayangan tersebut bergerak ke arah tempat pertarungan Danur Cakra.
Wuuusss ... Wuuusss ... nyaris saja hidung Suhita tergores pedang karena pandangan matanya teralih dari pertarungan. Tidak ada yang bisa Hita lakukan kecuali mengalahkan lawan terlebih dahulu barulah setelah itu memastikan keadaan kakaknya.