
Puspita Dewi berjalan hilir-mudik, pikirannya tidak bisa tenang sampai hari hampir gelap, suaminya belum juga kembali. Jika Mahesa saja tidak kunjung pulang, lalu bagaimana dengan anaknya? Huuuhhh ... tiada hal lain yang bisa dilakukan Puspita kecuali menghela napas panjang. Teriring doa dan harapan agar semuanya selamat.
Satu detik waktu berputar, terasa amat lama. Menunggu memang hal yang sangat membosankan. Terlebih, bayang ketakutan menghiasi benaknya. Sungguh Puspita takut jika keselamatan anaknya terancam. Meskipun ada dua orang pengasuh yang memiliki kemampuan olah kanuragan tinggi, tapi tetap saja Puspita bisa sepenuhnya mengandalkan mereka. Bukan rahasia lagi, jika para pendekar aliran sesat juga memiliki kemampuan yang sangat menakutkan. Ditambah lagi, mereka selalu bergerak secara berkelompok. Hingga menyusahkan untuk diatasi. Karena kerjasama yang apik, akan menumbuhkan kekuatan yang begitu amat besar.
"Ibuuu!!!" suara pengobat hati Puspita terdengar. Seketika, seluruh lara dan ketakutan itu lenyap tatkala Puspita mendengar suara anaknya memanggil dari luar pekarangan.
Puspita berlari menyambut kedatangan putri kesayangannya. Begitu juga dengan Suhita, mereka berpelukan dengan erat.
"Sayang, mana ayahmu? Apa kau sudah bertemu dengannya?" tanya Puspita.
"Ayah bilang, dia akan bicara dengan orang-orang itu. Ayah akan menjelaskan pada mereka kalau tabib seperti aku tidak boleh dicelakai. Sebentar lagi juga ayah akan datang, bu. Tadi ayah sudah berjanji padaku," jelas Suhita.
Puspita tersenyum getir. Dia tahu apa yang dilakukan oleh suaminya. Tidak ubahnya seperti para preman kampung yang dulu pernah membuat masalah pada Suhita, Mahesa pasti akan menghabisi orang-orang itu. Entah sampai kapan Mahesa akan selalu melakukan hal semacam itu. Puspita hanya takut kalau tindakan Mahesa yang begitu justru akan semakin menjerumuskan Suhita. Membuat semakin banyak kalangan yang menaruh dendam pada tabib kecil itu.
"Nyonya, tadi Tuan ..." Nyi Gondo Arum berniat buka suara, tapi Puspita keburu mengangkat tangannya meminta untuk nenek tua itu tidak melanjutkan.
Puspita masih tersenyum lebar pada anaknya, dia hanya menatap sekilas dan mengangguk lemah pada Nyi Gondo Arum.
"Emmm ... hari sudah hampir gelap. Ayo semuanya, kita tunggu saja di dalam rumah. Tidak lama lagi, ayahmu pasti akan pulang. Ayo sayang, kau harus mandi," Puspita menggandeng tangan anaknya untuk segera memasuki rumah dan melupakan semua yang terjadi.
Hanya Kalagondang yang tidak ikut masuk. Itu karena memang dia tinggal terpisah. Kalagondang menempati bangunan samping, kediaman mereka dipisahkan oleh jalan kecil yang menuju pekarangan belakang.
Puspita memperbolehkan Kalagondang tinggal bersama mereka, tapi tetap saja mereka tidak tinggal satu atap. Kediaman Mahesa yang amat luas, memungkinkan Kalagondang untuk tidur di mana saja kecuali di bangunan utama.
__ADS_1
"Ah, apa yang aku saksikan ini? Ayah Non Hita ternyata Pendekar Elang Putih. Sungguh aku tidak menyangka, pendekar sebaik Elang Putih ternyata memiliki wanita simpanan. Atau ... ah, pasti aku yang tidak tahu apa-apa. Mana mungkin Dewi Api tidak bisa mengendus tempat ini. Pasti ada sesuatu," lamun Kalagondang.
Saat pertama berjumpa tadi, hampir saja Kalagondang mati tersedak ketika mengetahui bahwa ayah dari bocah yang mereka asuh tidak lain adalah Elang Putih. Pendekar dengan kemampuan tak tertandingi itu. Dan memang benar, Nyi Gondo Arum tidak sedang bermain-main karena Elang Putih dan Suhita sendiri yang mengakuinya.
"Ah, memangnya apa peduliku?! Lagi pula aku bukan siapa-siapanya Dewi Api. Andaipun Tuan Elang Putih memiliki sepuluh orang istri simpanan, semuanya sama sekali tidak berpengaruh. Itu urusannya sendiri," Kalagondang menepis segala pemikiran yang dia anggap aneh itu.
Setelah berhasil mengalahkan hari kecilnya, Kalagondang buru-buru mandi. Puspita sangat sensitif mengenai kebersihan. Jadi, kalau mau terus berada di tempat itu, Kalagondang harus mengikuti seperti apa yang Puspita mau. Paling tidak, harus mandi dan berganti pakaian sehari dua kali.
°°°
"Bu, mengapa ayah belum pulang, ya? 'Kan sudah malam. Tidak mungkin ayah tersesat. Hita saja tidak pernah tersesat di hutan itu," Suhita berdiri di depan jendela yang menatap ke arah halaman.
Dari tempat itu, Suhita bisa melihat ke arah pintu masuk dengan jelas. Dia akan mengetahui kalau ayahnya sudah pulang atau belum. Dan sampai saat itu, Mahesa belum juga nampak.
Sementara itu, Mahesa masih menelusuri bekas-bekas jalan yang Suhita lalui. Termasuk ke dasar jurang tempat tadi Suhita terjatuh.
Tidak ada tanda-tanda jika tubuh Suhita membentur tanah ataupun tersangkut di akar pohon. Itu artinya, ada seseorang yang menangkap tubuh Suhita. Dan pastinya orang itu memiliki kemampuan tenaga dalam yang sangat tinggi, hingga bekas energi yang dia keluarkan sama sekali tidak terlacak.
"Huuuhhh ... aku yakin, jika ada yang berbuat baik pada Suhita pasti dia bukan orang sembarangan. Semoga saja, dia tidak punya niat yang terselubung," Mahesa mengedarkan pandangannya ke seantero jurang. Tidak ada tanda-tanda siapa pun. Mahesa kemudian memutuskan untuk pulang saja. Hari sudah malam, lagi pula dia punya hutang janji pada anaknya.
Dengan mengandalkan kemampuan ilmu meringankan tubuh yang begitu sempurna, membuat Mahesa membelah hutan hanya dalam beberapa waktu saja. Belum sempat keringatnya keluar, Mahesa sudah sampai di tempat kudanya tertambat. Lalu kemudian menggebrak kuda itu memasuki desa, menuju rumahnya.
"Nah! Itu pasti suara kuda ayah. Ayo cepat tersenyum dan rapikan rambutmu," Puspita memapah Suhita untuk segera berdiri.
__ADS_1
Wajah Suhita masih ditekuk, sungguh hatinya masih kesal. Ayahnya melewatkan waktu makan malam mereka, padahal tadi sudah berjanji.
Mengerti akan hal itu, Puspita tidak memaksa anaknya. Justru Puspita yang begitu antusias menyambut suaminya pulang. Sudah sangat lama Mahesa tidak pulang. Tentu saja Puspita sangat rindu.
Kalagondang datang saat Mahesa dan Puspita sedang berpelukan. Pendekar tua itu bertatapan mata beberapa waktu dengan Mahesa. Sebelum kemudian menunduk dengan dalam. Memendam gemuruh di dalam hatinya seorang diri.
"Pasti Hita ngambek. Aduuhh ..." Mahesa menghela napas.
"Sebentar lagi juga, dia akan baikan. Kanda, sejak tadi dia menolak untuk makan katanya sudah janjian dengan ayahnya. Baiknya Kanda cepat masuk, ayo," Puspita membersihkan bekas noda gincu di pipi suaminya. Kemudian menggandeng masuk ke dalam rumah.
Dari kejauhan, sekali lagi Kalagondang menoleh. Meskipun hatinya sudah sangat yakin jika Nyonya Puspita adalah istri Elang Putih selain Dewi Api, tapi tetap saja Kalagondang dihantui rasa penasaran akan siapa Puspita itu sebenarnya.
Wajah Puspita memang cantik, tapi tentu saja bukan menjadi satu-satunya alasan mengapa Elang Putih begitu menyayanginya. Pasti ada hal lain. Terlalu banyak wanita di muka bumi ini yang memiliki wajah lebih cantik dari Puspita.
Tapi Elang Putih justru memilih Puspita yang sama sekali tidak memiliki kemampuan apa-apa. Jiwa kepo Kalagondang jadi meronta-ronta.
Malam itu perut diisi tidak sesuai jadwal. Meskipun wajah Suhita sudah menjadi ceria lagi, tapi rasa kantuk telah menyerangnya dengan sangat kuat. Suhita tertidur dalam pangkuan ayahnya.
Mahesa mengantarkan putri kesayangannya itu ke kamar. Setelah menyelimuti anaknya, Mahesa kembali keluar. Dia melangkah menuju bangunan samping. Di mana Kalagondang yang menginap di bangunan itu. Mahesa tersenyum penuh misteri sebelum mengetuk daun pintu.
Puspita juga belum tidur. Saat suaminya membawa Suhita ke kamarnya, Puspita mengemasi barang-barang yang di bawa oleh Suhita.
Puspita sangat terkejut ketika menemukan beberapa gulung kertas usang di dalam tas kecil milik anaknya. Meskipun tidak paham, tapi Puspita tahu jika itu adalah kitab rahasia. Dari mana Suhita dapatkan itu?
__ADS_1