Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Siluman Piton Berbisa


__ADS_3

Bagaimana bisa lalat selalu tahu di mana tempat-tempat bangkai bersembunyi? Bahkan jauh sebelum menjadi bangkai pun lalat telah lebih dulu datang. Dan begitu pula dengan insting para pendekar yang mendalami kemampuan olah kanuragan. Mereka akan bisa merasakan saat di mana energi tenaga dalam muncul. Kemampuan mendeteksi secara otomatis, meskipun terkadang tingkat akurasinya lemah.


"Sialan! Baru juga ditinggalkan sebentar!" Danur Cakra memaki, dengan segera dia menyambar handuk yang tergantung di kamar mandinya. Cakra bergegas keluar dengan hanya melilitkan handuk di pinggang. Pemandangan yang mendebarkan tentunya.


Beruntung, di lorong depan kamar Kemuning tidak lagi ada pemandangan nyeleneh. Sabdo Metu tidak lanjut menggunakan kemampuan tenaga dalam karena Kemuning segera membuka pintu dan bicara dengannya. Jika saja Danur Cakra melihat adanya intimidasi yang dilakukan terhadap Kemuning, niscaya sang naga hitam akan menggeliat.


"Ada apa?! Bukankah aku meminta kalian untuk tidak datang jika tidak aku minta?!"


Kepala keamanan sampai panas dingin, tidak ubahnya dengan pelayan penginapan. Mereka tidak mungkin menyudutkan Ki Sabdo Metu, mereka tidak punya keberanian untuk itu. Tapi raut kemarahan pula tergores pada wajah Danur Cakra. Sangat jelas karena dia merasa terganggu.


"Ah, Tuan pendekar ... mohon maaf, ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan mereka juga dengan penginapan. Semuanya adalah kesalahanku. Aku yang meminta mereka untuk mengantar ke sini, karena ada hal penting yang harus saya sampaikan pada Tuan pendekar," Sabdo Metu serta merta berubah menjadi sangat ramah dan sopan.


Pelayan penginapan itu sampai mengucek-ngucek mata dibuatnya. Selama ini, tidak pernah ada orang yang begitu disegani oleh Sabdo Metu karena kenyataannya orang-orang yang justru menghormatinya.


Danur Cakra menatap pada Kemuning, lalu menggerakkan kepala meminta untuk Kemuning segera masuk kamar. Meskipun sangat terkejut melihat penampilan Danur Cakra yang cuma memakai handuk, tidak pernah dia lihat sebelumnya, Kemuning mengangguk dan segera menutup pintu kamar lalu menguncinya dari dalam.


Pipi Kemuning memerah, tenggorokannya mendadak kering, memaksa gadis itu untuk menelan ludah guna membuatnya basah. Dengan senyum-senyum aneh Kemuning berlari menuju ranjang, dia memekik keras setelah membenamkan wajahnya pada bantal.


Cukup lama Kemuning 'gila' dan mengacak-acak tempat tidur, menjadikan bantal guling dan seprai sebagai sasaran luapan rasa gemesnya. Hingga kemudian terdengar ketukan pada bingkai pintunya.


Kemuning cepat-cepat merapikan rambut dan pakaiannya yang kusut, baru kemudian berjalan menghampiri daun pintu.


"Ya, ada apa?" tanya Kemuning dari dalam.


"Buka pintunya," suara Danur Cakra di luar.


"Eh, naga jelek! Apa kau sudah berpakaian sekarang? Jika belum, jangan datang. Kembalilah setelah kau berpakaian!" teriak Kemuning dari dalam.


Tidak ada jawaban apa pun. Meskipun Kemuning kembali mengulang kalimatnya, Danur Cakra tidak merespon. Beberapa waktu menunggu, Kemuning akhirnya penasaran dan membuka pintu.


"Hah? Ke mana dia?" Kemuning melongo, menoleh ke kiri dan kanan tidak mendapati apa pun. Tidak Danur Cakra juga tidak dengan orang-orang tadi. Lantas ke mana mereka pergi?


Kemuning bergegas menuju kamar Danur Cakra. Karena kamarnya tidak dikunci, Kemuning segera masuk. Dia mendapati adanya suara gemericik air, sepertinya Danur Cakra melanjutkan mandi.


"Naga hitam sialan!" Kemuning mengepalkan tangan.

__ADS_1


Dengan bersungut-sungut, Kemuning berniat untuk segera kembali ke kamarnya. Namun gadis itu menghentikan langkah ketika dia tidak melihat pakaian ganti Danur Cakra yang disiapkan di atas ranjang. Kemuning menghela napas sejenak, sebelum kemudian dia melangkah mendekat untuk mempersiapkan pakaian ganti untuk Danur Cakra, memilih dan melipatnya rapi di atas ranjang.


°°°


"Ha-ha-ha, terima kasih Tuan Pendekar telah sudi menghadiri undangan saya. Silakan Tuan dan Nona mencicipi hidangannya," dengan ramah dan amat sopan Ki Sabdo Metu menyambut kedatangan Danur Cakra dan Kemuning.


Di atas meja yang sangat besar, tersaji dengan rapi begitu banyak makanan, buah-buahan juga minuman yang dikhususkan untuk menjamu Danur Cakra dan Kemuning. Dengan begitu istimewanya sambutan yang dibuat, sudah barang pasti ada hal istimewa yang diinginkan. Bagaimana umpan, target yang dituju, maka begitu pula dengan setelan mata kailnya.


Kemuning terlihat amat cantik dengan balutan gaun putih dan jubah dari bulu beruang pula berwarna putih. Dia berjalan anggun mengikuti langkah Danur Cakra yang pula terlihat amat gagah.


Kemampuan Sabdo Metu yang begitu tinggi, membuat dia tahu jika Danur Cakra merupakan seorang pendekar hebat. Dengan demikian dia bermaksud meminta bantuan Danur Cakra untuk mengurai masalah yang melanda kota Ulir.


"Tuan, aku tidak seperti yang kau kira. Hanya kebetulan melintas mana mungkin bisa membantumu. Menurutku kau salah orang," Danur Cakra menolak untuk membantu. Firasatnya mengatakan jika ada hal yang disembunyikan oleh Sabdo Metu. Meskipun Raka tidak bisa menduganya.


Sebagai seorang ahli sihir, tentunya Sabdo Metu bukan tanpa persiapan. Dia datang dengan tujuan, dan pasti segala sesuatunya sudah diperhitungkan secara matang. Termasuk dengan mempelajari arah, tujuan serta alasan mengapa Danur Cakra dan Kemuning sampai tiba di Kota Ulir. Dia mencari tahu sejak awal bertemu di penginapan.


Kemuning, seorang gadis yang bukan tanpa masalah. Sabdo Metu bisa melihatnya jika gadis itu sedang berada dalam masa penyembuhan. Nampak dari cara Danur Cakra memperlakukannya. Meski Kemuning juga merupakan seorang yang memiliki kemampuan olah kanuragan, tapi dia tidak pernah diizinkan untuk menggunakan sedikit pun kekuatan meski untuk menciptakan kebugaran. Dengan kata lain, Kemuning baru saja mengalami luka dalam yang teramat parah.


"Mungkin Tuan dan Nona sempat bertanya-tanya dalam hati, mengapa begitu jarang sekali ditemui orang yang menginap di kota kami, sampai-sampai harga sewa kamar pun anjlok. Dan tentu saja semua itu bukan tanpa alasan," Sabdo Metu memulai strategi.


Sabdo Metu sedikit demi sedikit mulai mengisahkan cerita mengenai kota Ulir. Sejauh yang dia tahu sampai dengan saat sekarang ini. Rakyat dari generasi ke generasi yang terus menerus digembleng oleh cobaan hidup yang amat berat. Salah satunya ialah dihinggapi rasa lapar.


"Nona terlalu berlebihan, saya merasa tidak pantas menerima pujian ini," Sabdo Metu senang, karena Kemuning merespon apa diceritakan olehnya. Tinggal menunggu waktu dan kesempatan yang pas untuk menyampaikan apa yang menjadi tujuannya.


"Ada satu hal yang tidak sembarang orang mengetahui. Akan tetapi ... saya harus memberi tahu kalian. Di tengah hutan sana, di sebuah gua, ada seekor piton berbisa. Ukurannya begitu besar, dalam sekali makan dia tidak akan kenyang sekadar sepuluh orang manusia. Kemunculan piton tersebut ialah di malam hari, dan ... karena itu pulalah jarang sekali orang menginap di kota kami. Sang piton, begitu sensitif pada bau para pendatang," papar Sabdo Metu.


Sabdo Metu menambahkan jika piton berbisa yang dia maksud merupakan salah satu sumberdaya yang begitu dicari. Namun sejauh ini belum juga ada yang berjodoh untuk mendapatkannya. Piton berbisa mempunyai kemampuan spiritual yang begitu tinggi, sangat sulit untuk bisa bertemu apalah lagi bisa mengalahkan sang ular.


"Termasuk untuk mengobati luka dalam. Dengan sekerat daging piton berbisa, disinyalir akan mampu untuk menyembuhkan luka dalam yang parah. Bisa dibayangkan jika mampu kalahkan si piton, pasti kesembuhan akan di dapatkan. Jangankan satu orang, bahkan sepuluh orang lebih," Sabdo Metu meyakinkan.


Meskipun saat itu Danur Cakra tidak menunjukkan ketertarikan, tapi Sabdo Metu berhasil menggoyahkan hati Kemuning. Apa bisa Danur Cakra terus-terusan sok acuh bila Kemuning yang meminta? Sabdo Metu yakin jika itu tidak mungkin terjadi. Danur Cakra pasti akan melakukan apa pun demi kesembuhan kekasihnya. Lihat saja nanti.


Sore sudah hampir berakhir, perubahan suasana mulai terasa semakin sejuk. Sebentar lagi warna jingga akan menghias di ufuk barat. Senja yang sebentar tentunya akan disambut oleh malam yang panjang. Para penduduk Kota Ulir sudah bersiap-siap untuk malam mencekam. Mereka memasang berbagai macam benda-benda dan barang rajahan dari para dukun yang diyakini tidak disukai siluman piton berbisa.


"Ki Sabdo, apa Anda yakin pendekar itu bisa kita gunakan untuk memancing piton berbisa agar keluar dari dalam gua?" bisik seorang pendekar teman Sabdo Metu, namanya Suro Mertolo.

__ADS_1


Sabdo Metu tertawa terkekeh. Dia sangat yakin jika Danur Cakra pasti akan pergi ke tengah hutan untuk mencari gua yang menjadi sarang piton berbisa. Bagaimana pun hasilnya nanti, Sabdo Metu berharap mereka bisa mengambil keuntungan. Paling tidak, kalau Danur Cakra tewas maka tidak akan ada penjaga yang mengawal Kemuning. Saat itu, mereka telah diuntungkan.


"Nanti malam merupakan purnama penuh. Purnama ke empat puluh. Itu artinya piton berbisa akan berganti kulit. Dia tidak keluar gua sudah cukup lama, jika pendekar muda itu berhasil memancingnya keluar, maka ini sangat menarik!" Sabdo Metu begitu sumringah.


Saat berganti kulit, piton berbisa akan kehilangan hampir setengah kemampuan spiritual. Kulitnya yang masih lunak akan bisa ditembus oleh senjata apa pun. Saat itulah begitu besar kesempatan untuk bisa mengalahkan sang ular. Saat puncak purnama, ketika piton berbisa melakukan pembelahan kulit lama yang tebal, Itulah waktu yang tepat untuk menyerang. Sabdo Metu sudah menceritakan semuanya pada Kemuning. Dan tentunya Danur Cakra ikut mendengar. Apa yang dilakukan oleh Sabdo Metu tentunya sudah dengan perhitungan yang sangat matang. Taktik berpolitik yang begitu sempurna.


°°°


Menikmati senja dengan segelas minuman hangat ditemani beberapa makanan ringan, merupakan suasana indah yang sukar ditampik sensasinya. Apa lagi bila di sore yang indah begitu ditemani oleh pasangan dengan tertawa lepas bersama. Sungguh indahnya hidup.


"Aku sangat senang, bisa kembali tertawa, menjalani kehidupan normal dan tidak lagi membuat orang mengkhawatirkan diriku. Apalagi, setelah nanti aku menjalani pengobatan kedua. Pastinya aku bisa kembali berlatih olah kanuragan," ucap Kemuning dengan senyum lepas.


Danur Cakra balas tersenyum, seraya mengangguk setuju. Tentu saja, mereka akan tiba pada hari yang dimaksud. Kali ini Danur Cakra sengaja mengambil jalan yang berbeda dengan Suhita karena selama perjalanan dia tidak ingin terus merepotkan Suhita perihal Kemuning. Meskipun rute mereka berbeda, yang jelas mereka akan sama-sama tiba di Soka Jajar walau dengan waktu yang berbeda.


"Ya, sebesar harapanmu itu, Tabib Dewa akan membantu untuk mewujudkannya. Percayalah, bukankah kau sendiri yang berkata jika dia begitu ikhlas?"


Kemuning menyeringai, jika harus jujur tentu dia sangat tidak senang ketika mendengar Danur Cakra sedikit saja memuji Tabib Dewa. Tentu saja dia cemburu, meskipun saat ini mereka belum terikat oleh ikatan apa pun, tapi Kemuning inginkan agar di mata Danur Cakra dia lebih baik dari Tabib Dewa, atau paling tidak bisa sejajar.


"Emmm, Cakra ... apa pria tua yang tadi mentraktir kita makan merupakan seorang pembual? Aku lihat kau begitu tidak senang," tanya Kemuning.


Danur Cakra menggelengkan kepalanya, entah jawaban dari pertanyaan yang mana. Mungkin Danur Cakra tidak menganggap Sabdo Metu sebagai pembual, atau mungkin menyanggah bahwa dia tidak senang.


"Lalu ... apa kau percaya?" Danur Cakra balik bertanya.


Kemuning menghela napas beberapa saat, dia kemudian mengangguk lemah. "Aku, aku percaya kalau memang mungkin saja ada sejenis ular besar yang menjadi penunggu hutan. Tapi selebihnya aku juga kurang paham."


Danur Cakra tersenyum tipis. Dia bisa menebak apa isi kepala Kemuning. Gadis itu hanya tidak terlampau berani untuk bicara jujur, kalau dirinya sangat tertarik pada cerita yang Sabdo Metu paparkan. Terutama perihal daging piton berbisa yang katanya berkhasiat obat.


Terus terang, sejujurnya Danur Cakra juga penasaran pada ungkapan terakhir itu. Sumberdaya berkhasiat memang selalu ada di tempat-tempat yang aneh dan tidak terduga. Jika berasal dari binatang, pasti juga yang cukup sulit. Akan selalu ada harga mahal yang harus dibayarkan dari setiap hasil bagus yang didapat.


Tidak heran jika dipasaran harga selangit akan dibanderol atas sumberdaya - sumberdaya langka. Selain resiko yang amat besar ketika mendapatkannya, juga merupakan suatu kebetulan bila berjodoh untuk bisa menemukan. Di toko-toko besar yang menjual sumberdaya saja, akan sulit di dapat apalagi di alam bebas. Karena sekali lagi, sehat itu mahal.


"Apa kau tidak tertarik untuk mencari tahu? Kau tidak inginkan sedikit pun khasiat piton berbisa itu?" tiba-tiba Danur Cakra melontarkan pertanyaan yang mengejutkan.


Kemuning menelan ludah. Sejatinya ucapan Danur Cakra barusan adalah gambaran di dalam hatinya. Tapi Kemuning tidak berani mengucapkannya. Dia tidak ingin jika Danur Cakra berbuat nekad dengan mendatangi sarang piton berbisa. Kemuning tidak mau membuat Danur Cakra terluka karenanya. Tapi di sisi lain, Kemuning juga tidak ingin berhutang terlalu banyak pada Tabib Dewa. Rasa sungkannya akan semakin menjadi-jadi karena sampai detik ini dia tidak mampu melepaskan Danur Cakra untuk Tabib Dewa.

__ADS_1


"Diam berarti iya. Baiklah, kita akan lihat nanti malam!" ucap Danur Cakra seraya mencubit dagu Kemuning.


Kemuning ternganga, ingin dia berkata tidak. Agar Danur Cakra tidak berbuat bodoh dan mendatangi sarang piton berbisa. Tapi suara Kemuning tidak keluar karena hatinya juga sangat ingin terbebas dari hutang budi pada Tabib Dewa. Dia tidak lagi perlu datang pada Tabib Dewa untuk pengobatan kedua jika luka dalamnya sudah berhasil disembuhkan oleh kemampuan magis piton berbisa.


__ADS_2