
Beberapa bayangan naga berwarna hitam terus berkelebat, melingkar di antara naga putih yang bergerak cepat mencari celah untuk bisa mendarat di tubuh lawan.
Saat Jayadita terjerembab, sudut mata Jaganitra tentu saja melirik untuk memastikan bagaimana keadaan rekannya. Saat sepersekian detik dia lengah, tentu saja Danur Cakra menggunakan celah itu untuk mendaratkan pukulannya.
"Kepa*rat !!! Tameng Waja !!!" Jaganitra merentangkan kedua tangannya, menciptakan lingkar energi yang amat tebal.
Dinamakan Tameng Waja, tentu kemampuan energi tersebut tidak ubahnya tameng pelindung yang super keras, sukar untuk ditembus meski dengan gunakan kekuatan besar sekalipun. Jaganitra telah menguasainya dengan baik.
Pukulan Naga Kresna, terlihat kesulitan untuk menebus Tameng Waja. Hingga keduanya terlibat saling dorong energi tenaga dalam.
Mata Danur Cakra menyala merah, dia terus menekan. Dan tanpa di duga, Cakra mengeluarkan satu jurus rahasia. Pukulan tanpa wujud yang dia lepaskan diantara celah kekuatan tenaga dalam. Kemampuan siluman yang tidak dikuasai oleh manusia. Kekuatan tersebut mampu melakukan teleportasi dengan sangat cepat. Meskipun berbentuk kekuatan tenaga dalam, tapi seperti memiliki nyawa tersendiri.
Nampak seimbang dari kejauhan. Di mana Tameng Waja milik Jaganitra masih mampu menahan tekanan taring Naga Kresna. Danur Cakra sengaja tidak menambah kekuatan tenaganya, dia bahkan seperti memberi ruang pada Jaganitra untuk membuat kekuatan Tameng Waja mampu mengangkat tubuh Danur Cakra lebih tinggi ke angkasa.
Sedikit tindakan mempengaruhi hasil yang besar. Bagaimanapun besarnya Jaganitra miliki pengalaman, tetap saja dirinya terkecoh oleh teknik Danur Cakra yang lebih licik. Jaganitra merasa jika kekuatan Danur Cakra tidak mungkin mampu menebus Tameng Waja miliknya, makanya dengan penuh percaya diri dia menggunakan kemampuan energinya hingga tahap akhir untuk balas menyerang Danur Cakra.
Namun saat itulah bencana datang tanpa terduga. Ada seekor naga hitam tiba-tiba menyerang Jaganitra, naga yang beranjak remaja itu mendadak muncul di dalam lingkar energi Tameng Waja. Lantas apa yang bisa Jaganitra lakukan? Dia tidak ubah hanyalah manusia biasa. Lemah.
Tidak salah lagi. Naga hitam tersebut merupakan naga peliharaan Cakra di alam evolusi miliknya. Yang beberapa waktu lalu hanyalah cacing berparas naga, sekarang dia telah menjadi naga seutuhnya. Naga hitam yang mulai beranjak remaja.
Naga hitam berasal dari dimensi yang berbeda, dia tidak terlihat oleh mata telan*jang. Terlebih lagi, saat tadi konsentrasi Jaganitra terlalu fokus pada sosok Danur Cakra dengan kemampuan Tapak Naga yang mengancamnya. Dia tidak menyadari, jika Cakra telah mengirimkan seekor anak naga tepat disaat Jaganitra mengarahkan kemampuan tenaga dalam tahap akhir.
Puncak kekuatan merupakan titik kelemahan. Sebelum kekuatan penuh keluar, saat itu terjadi pelemahan di beberapa titik kemampuan Tameng Waja, membuat naga hitam berhasil masuk tanpa disadari oleh Jaganitra. Dan sekarang, naga hitam itu menjadi ancaman yang menakutkan. Karena gerakannya terlalu cepat untuk bisa dihindari.
Plaaak! DAARRR !!! Naga hitam menghantam dengan sekuat tenaga, membuat tubuh Jaganitra terpental sangat jauh, layaknya anak kecil membuang makanan di tangan. Darah segar menyembur ke udara, menciptakan embun yang berbau amis.
"Apa?! Ini tidak mungkin!" Jayadita menoleh ketika mendengar lolongan panjang yang terlontar dari mulut Jaganitra. Rasanya seperti di dalam mimpi, sulit untuk diterima akal sehat. Dua bocah ingusan berhasil mengalahkan pendekar Kujang Kembar, murid dari Bhadrika Djani yang kesohor di tanah selatan pada masanya.
Jayadita bukanlah seorang yang bodoh. Kalah dan menang adalah hal yang wajar. Bagaimana bisa belajar dan memperbaiki diri jika tidak pernah dikalahkan. Pengalaman pahit akan membuat diri menjadi lebih bersemangat untuk bisa bangkit menjadi lebih kuat lagi. Karena cambuk, membuat kerbau terus kuat.
Tanpa banyak berpikir, Jayadita melompat meninggalkan Suhita. Dadanya juga sangat nyeri, dia mengalami luka dalam yang cukup parah. Jika terus bertahan, maka bisa dipastikan yang diterima hanyalah kematian. Mundur untuk kemudian kembali datang, dengan kemampuan yang lebih kuat. Tidak ada gengsi, lari bukan berarti menyerah. Meskipun kalah hari ini, dunia masih menyiapkan hari esok untuk balaskan dendam.
Suhita tidak mengejar Kujang Kembar, membiarkan mereka lari berharap keduanya merenungi kesalahan, untuk tidak diulangi di hari esok.
Sementara itu, naga hitam telah kembali ke tempatnya. Setelah lakukan tugas dan menikmati segarnya darah manusia, si anak naga kembali menyelam dan berusaha berenang untuk melewati gerbang tahap keempat.
Danur Cakra menyusut darah di sudut bibirnya. Lawannya kali ini merupakan para pendekar linuwih, selain kaya akan pengalaman mereka juga miliki kemampuan olah kanuragan yang sangat tinggi. Pilih tanda langka lawan. Terus terang, Danur Cakra tidak bisa menduga jurus dan kemampuan itu berasal dari mana. Sejauh kakinya melangkah, tidak ada padepokan di seantero kerajaan utara yang punyai ciri khas demikian.
"Hita, bagaimana keadaanmu? Biar ku bantu obati luka dalammu!" Danur Cakra menghampiri adiknya yang masih mengatur napas dengan lelah.
Suhita menggeleng, meskipun wajahnya terlihat sangat kusut dan juga sedikit pucat. Tidak biasanya Suhita pergunakan kekuatan Tapak Penakluk Naga hingga sebesar sekarang. Masih untung dia tidak celaka, karena Cakra cepat datang.
__ADS_1
"Kak, apa kabarmu?" tanya Suhita dengan suara bergetar.
Danur Cakra sedikit kaget. Sangat jarang orang yang dia temui bicara menanyakan kabar. Rasanya amat canggung terdengar di telinga. Tapi tentu saja sekarang sangatlah berbeda, di hadapannya berdiri sang adik yang sangat ia rindukan.
"Aku tidak baik-baik saja, sekarang. Tapi aku senang karena kau masih cantik," jawab Danur Cakra dengan senyum yang dipaksa.
Suhita malah tersenyum mendengarnya. Aneh saja, karena ternyata Danur Cakra tidak berubah. Suhita mendekap Kakaknya dengan sangat erat. Seolah tidak ingin melepaskannya lagi. Orang yang menyayangi dirinya dengan setulus hati.
"Kak, aku kira dengan diriku sekarang kau tidak lagi bisa sombong. Jelas-jelas kau tidak mungkin bisa mengalahkan aku. Tapi ternyata aku salah, hahaha!" Suhita tertawa setengah menangis, dia senang tapi air matanya justru inginkan dia sedih.
"Kau terluka dalam, baiknya banyak istirahat," bisik Danur Cakra seraya membelai lembut rambut Suhita.
"Kau juga terluka, apa bedanya kita?" jawab Suhita.
Danur Cakra tidak menjawab lagi. Dia lebih memilih untuk mengalah, tidak pula ada gunanya jika tetap ada pada posisi yang kalah.
Beberapa pejabat hukum yang datang, diikuti oleh para prajurit, mereka bergegas menghampiri Suhita, Cakra dan juga Kencana Sari. Mereka berniat baik, berusaha untuk menolong, tapi Danur Cakra menolak karena merasa mereka bisa mengurus diri sendiri. Selain Kencana Sari sudah sadar dari pingsannya, luka dalam yang dialami oleh Cakra dan Hita masih bisa untuk mereka menahannya sementara waktu. Sampai mereka dapatkan tempat istirahat yang nyaman.
Begitu banyak korban lain yang harus diurus. Danur Cakra kemudian memberikan beberapa kantong uang emas pada pejabat hukum, untuk difungsikan memperbaiki kerusakan pasar dan juga santunan pada para korban. Setelah sedikit berbasa-basi, Cakra segera meninggalkan bekas pasar.
°°°
"Mengapa tiba-tiba Kakak bisa ada di sini?" tanya Suhita setelah mereka berada di penginapan.
"Ooohh, sekarang Hita tahu. Kakak 'kan yang telah membeli ukiran kayu stigi langka itu?" keduanya saling bertanya. Seolah telah menemukan jawaban dari pertanyaan masing-masing.
"Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa ada orang lain yang mengetahui jika kita semua akan melintasi tempat ini. Aku curiga, pejabat itu yang membuat orang jadi sigap," Danur Cakra mengelus dagu.
Suhita melotot, dia tidak setuju pada Danur Cakra. Hita bisa menangkap, jika orang yang dimaksud oleh Danur Cakra tidak lain ialah Raka Jaya. Saudara mereka lain ibu. Bagi Suhita, tuduhan Danur Cakra itu sangatlah tidak masuk akal.
"Ya, karena kau terlalu ikuti perasaan, tidak pernah mau gunakan logika. Kau hanya menilai orang lain bagaimana hatimu bersikap. Cobalah sedikit berpikir, kau akan tahu bagaimana sisi lain dari setiap tindakan yang orang lakukan."
Suhita menjulurkan lidahnya, tidak memperdulikan apa yang Danur Cakra coba jelaskan. Tidak pernah mereka sependapat, cara pandang mereka sangatlah berbeda. Bagaikan dua sisi koin yang saling melengkapi, saudara kembar itu tidak mungkin bisa dipisahkan meski menghadap ke lain arah.
"Kak, hari ulang tahun Kakek sudah di depan mata. Aku hanya tidak ingin terjadi kerusuhan nanti. Kau bisa 'kan kendalikan emosimu untuk satu hari?" Suhita mengangkat kedua alisnya.
"Hahaha! Jangan sok pintar. Apa pernah, setiap tahunnya ada keributan? Tapi entah mengapa, di usia seratus tahun ini aku merasa jika Kakek akan kembali terlibat dalam urusannya yang belum selesai di masa lalu. Tapi ... ini hanya instingku, kita berdoa saja supaya ini adalah salah."
Danur Cakra kemudian menambahkan jika menurut dugaannya, lawan yang baru saja mereka hadapi merupakan bagian dari semua itu. Karena Cakra yakin, kemampuan yang mereka gunakan bukanlah ciri khas kemampuan para pendekar utara. Ya, sama seperti kemampuan yang Suhita punya. Mirip.
"Sudah, sudah, Hita yakin Kakak pasti salah. Jangan sok pintar ya, anak kecil!" Suhita mengusap-usap ubun-ubun Danur Cakra. Membuat Danur Cakra melotot lebar, hampir saja biji matanya terjatuh.
__ADS_1
Danur Cakra menangkap tangan Suhita, menggigitnya dengan geregetan. Jika saja bukan adiknya, pasti sudah Cakra hancurkan kepalanya saat itu juga.
Danur Cakra dan Suhita tertawa lepas, mereka seperti anak kecil yang sedang bermain boneka panda. Tanpa beban, juga seperti tidak punya masalah. Bahkan mereka mungkin lupa jika ada orang lain selain mereka di sana.
Kencana Sari tidak henti-hentinya melongo, jelas saja dia mendengar semua percakapan Danur Cakra dan Suhita. Mereka ada di satu ruangan, hanya berjarak tidak lebih dari lima meter.
"Aku tidak sedang tidur, mengapa harus bermimpi?" Kencana Sari mencubit pipinya hingga beberapa kali, dan disetiap cubitan tentunya terasa sakit.
Mengapa tidak, Kencana Sari harus mendapati kenyataan jika dua orang itu tidak lain adalah saudara kembar. Satu ayah, satu ibu.
Meskipun selama ini Sari sudah sering mendapati bagaimana hubungan antara Cakra dan Hita lebih dari sebagai teman, tapi rasanya dia masih tidak percaya pada kenyataan di depan matanya.
"Sari ... kau sudah bangun?!" Suhita menyapa Kencana Sari seraya duduk di tepi ranjang.
"A, aahhh ... i-iya," Kencana Sari tergagap.
"Hei, apa kau mendengar semua pembicaraan kami?" Danur Cakra langsung melemparkan pertanyaan yang semakin membuat Kencana Sari panik.
Kencana Sari kemudian mengangguk, dia mengakui semuanya. Karena memang itu kenyataannya.
"Kau ..." Danur Cakra menunjuk wajah Kencana Sari, tapi Suhita segera menepis telunjuk itu.
"Kak, mau sampai kapan kita terus menutupi kenyataan ini? Lagi pula, saat kau tidak ada Sari adalah orang yang selalu bersamaku siang dan malam, dia sudah ku anggap seperti saudara. Sekarang dia ku ajak, tentu dengan alasan ini," Suhita menatap Danur Cakra dengan dalam.
Dengan kata lain, sebenarnya Suhita sengaja membuat Kencana Sari mendengar atas apa yang mereka bicarakan. Dia tahu kalau Sari sudah bangun, tapi tetap membahas perihal ulang tahun Kakek mereka yang akan jatuh di pekan depan.
"Bukan kalian 'kan yang sengaja membuat banyak pendekar datang ke sini?" tanya Danur Cakra kemudian.
Suhita menatap Kencana Sari, karena memang mereka tidak merasa, maka Suhita menggelengkan kepalanya. Sama sekali tidak ada hubungannya pendekar tadi dengan mereka.
Danur Cakra tersenyum getir, kemudian menghela napas panjang. Membuat kumpulan pertanyaan mengisi kepala Suhita. Hita tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Danur Cakra.
"Tetap saja, aku berharap Kakek tidak mendapatkan masalah di hari ulang tahunnya yang keseratus. Kakek dan nenek yang menuntun tanganku ketika aku belajar berjalan, sampai sekarang aku bisa lari cepat. Tidak peduli siapa pun, aku tidak berpikir dua kali jika sampai terjadi sesuatu pada mereka!"
Karena sejak bayi Danur Cakra diurus oleh kakek dan neneknya, dibanding dengan dua saudaranya yang lain, Cakra merupakan orang yang paling dekat dengan Raditya. Bahkan kemampuan olah kanuragan yang Danur Cakra kuasai pun berasal dari sang kakek. Cakra memiliki guru yang sama dengan Mahesa. Walaupun pada akhirnya Danur Cakra tidak mengembangkan kemampuan legenda asal selatan itu, dan lebih berfokus untuk kembangkan kemampuan sebagai ciri khasnya sendiri, membina naga hitam yang pada akhirnya membuat samar ciri khas aura kekuatan Tapak Penakluk Naga. Ya, meskipun dasarnya sama, dan tetap miliki banyak sekali persamaan. Tapi karena hanya orang-orang tertentu yang tahu, maka membuatnya jadi berbeda.
"Kak, terima kasih. Kau adalah yang tebaik!" Suhita tersenyum seraya merentangkan kedua tangannya, berharap Danur Cakra mau mendekapnya.
Tapi apa, Danur Cakra justru melemparkan bantal pada Suhita, membuat Suhita merenggut.
Dua anak Mahesa sudah tiba di Kota Bukit Hijau, mereka pastinya akan menuju barat daya dan akan menyeberangi laut untuk mencapai pulau kecil di sana, di mana Mahesa mengadakan acara untuk ulang tahun sang ayah.
__ADS_1
Bilangan usia Raditya genap di angka seratus pada tahun ini. Dan seperti biasa, satu-satunya anak Raditya yakni Mahesa akan datang bersama keluarga besarnya, merayakan hari gembira itu. Setiap tahun selalu begitu, meskipun di tempat yang berbeda-beda.
Tidak hanya tiga orang cucunya, tapi kedua menantu Raditya selalu hadir. Puspita Dewi biasanya datang bersama Mahesa, sementara Dewi Api ditemani oleh Raka Jaya. Tidak terkecuali juga dengan tahun ini. Mereka akan merayakan ulang tahun di Pulau Cugung Karang, yang berada di barat daya Kota Bukit Hijau.