Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Karpet Emas


__ADS_3

"Lihat diri kalian! Bahkan untuk menelan air liur saja butuh banyak tenaga. Enyahlah!" Danur Cakra mengibaskan tangannya, mengusir para anak buah Ki Upas.


SRIIING !!! yang terdengar justru suara pedang yang tercabut dari warangka.


Danur Cakra menyungging senyum masam. Ancamannya sama sekali tidak berhasil membuat lawan menjadi gentar.


Namun ... perlahan-lahan kepalan tangan Danur Cakra merenggang, kembali mengurai jarinya yang sekarang tak lagi berniat mencelakai.


"Yaaattt !!!" beberapa orang pengawal serentak mengangkat pedang mereka, melayangkan serangan berbahaya ke arah Danur Cakra.


Dengan hanya berkelit ringan ke kiri dan kanan, nyatanya tidak satupun mata pedang yang singgah, meski sekadar melukai sehelai benang pada kain yang dipakai Cakra.


Tap! Tap! Braaakk! Bruuukkk !!! Tidak jelas atas apa yang baru terjadi, tapi yang pasti beberapa pengawal Ki Upas telah terhempas ke berbagai arah. Mereka tidak cukup mampu menghalau Danur Cakra yang berniat menemui guru mereka.


"Hujan tanpa tetes air, dan angin yang tak berbentuk. Apa yang kau harapkan gunakan jerami busuk sebagai tameng!"


Wuuusss! Selepas bicara, Danur Cakra mengibaskan tangannya, mengirim beberapa mata pisau ke sudut ruangan, pada titik yang sedikit gelap.


Beberapa detik sebelum lemari kayu di sudut ruangan tersebut hancur, sekelebat bayangan melompat keluar. Seorang pria paruh baya dengan rambut acak-acakan tak terurus serta jubah hitam yang kumal berhasil menghindari serangan kilat yang Danur Cakra lepaskan.


Dia lah Ki Upas, dukun kondang yang merupakan kepercayaan kepala desa, pengatur kehidupan di desa Randu Watu. Di tangan dukun tersebut, nasib masyarakat bergantung.


Mulut Ki Upas tak henti-hentinya komat-kamit merapal mantra. Kiranya sejak tadi ia bersembunyi, bermaksud untuk pengaruhi pikiran Cakra dengan mantra iblis. Sebuah mantra ilusi yang dia gunakan untuk mengatur daya pikir orang-orang yang datang untuk supaya manut dan mengikuti apa yang dia perintahkan.


Mata Ki Upas terbelalak lebar, dia hampir tidak percaya atas apa yang terjadi. Pantas kiranya tidak sedikit pun mantra-mantra yang ia rapal bisa bekerja, karena mantra tersebut terkhusus untuk manusia. Dan pria tampan yang menjadi tamunya kali ini tidak termasuk kategori tersebut.


"Siluman Katak Beracun! Kau gunakan mantra racun rendahan untuk pengaruhi otak manusia. Meskipun sekarang kau memanggil seluruh budak-budakmu, aku rasa kau hanya membuang-buang waktu dengan percuma," Danur Cakra menghela napas sejenak, sebelum kemudian melemparkan sebilah pedang pada Ki Upas.


"Kau ... kau ..." Ki Upas menunjuk pada Danur Cakra. Hanya matanya yang terbelalak, sementara pedang pemberian Cakra sama sekali tidak digunakan sebagaimana mestinya.

__ADS_1


"Kau ingin kabarkan pada orang-orang jika kau bertemu manusia tampan?! Hahaha!" Danur Cakra tertawa mengerikan tepat di telinga Ki Upas.


Tep! Tangan Cakra telah lebih dulu menempel di tekuk Ki Upas. Panas dingin rasa tak menentu menjalar ke seluruh syaraf dalam tubuh Ki Upas, hingga membuat dukun dengan kemampuan ilusi dan racun tersebut sampai kesulitan bernapas.


"A ... apa yang kau inginkan?!" dengan terbata-bata Ki Upas beranikan diri untuk bertanya. Rasa takut akan kematian membuat dia nampak seperti anak kecil yang tunduk di bawah lecut rotan ibu.


"Hahaha! Lucu sekali! Sangat menggelikan! Bukankah kau katakan jika nasib manusia berada di telapak tanganmu? Mengapa sekarang jadi terbalik seperti ini?!" Cakra meledek Ki Upas.


Tanpa berani membuka suara, Ki Upas hanya diam seribu bahasa andaipun Danur Cakra mencabut nyawanya saat itu juga.


Ki Upas, sejatinya hanyalah dukun biasa. Awalnya dia hanya memiliki sedikit kelebihan karena bisa berkomunikasi dengan lelembut dan bangsa halus seperti jin dan para siluman penghuni batu - kayu (kita sering menyebut indra keenam). Kemampuan langka tersebut dimanfaatkan oleh Ki Upas untuk membantu memperbaiki perekonomian keluarga, dengan menjadi seorang dukun.


Hal tidak terduga terjadi. Saat Ki Upas sedang mencari ramuan herbal berkhasiat obat di dalam hutan, tanpa sengaja dia bertemu dengan Siluman Katak Beracun yang kala itu tengah bersembunyi. Setelah sedikit bicara dan bernegosiasi, timbul kesepakatan. Katak Beracun menggunakan tubuh Ki Upas sebagai tempat persembunyian, dengan syarat menutup rapat rahasia tersebut. Sebagai imbalan, Ki Upas bisa menggunakan kemampuan racun alami yang dimiliki oleh Katak Beracun untuk berbagai keperluan.


Sudah merupakan hal yang lumrah terjadi pada diri manusia. Ketika berada di atas, maka akan lupa bagaimana tanah yang merupakan sanggahan berpijak. Saat sedang jaya, seolah tidak akan tersentuh oleh kesulitan.


Ki Upas menggunakan kemampuan racun untuk mengelabuhi begitu banyak orang, meracuni pikiran mereka untuk takluk dan tunduk di bawah perintahnya. Hingga dengan sukarela bersedia mengorbankan apa pun yang dimiliki untuk memenuhi nafsu angkara Ki Upas.


"Catatan hidupmu yang indah gemerlap terbakar habis hari ini. Langkahmu terhenti, bahkan matahari pagi tidak lagi akan menghampiri," desis Danur Cakra, membuat bulu kuduk berdiri. Suara yang menghembuskan aroma kematian.


Tep! Tep! Tep! Dengan beberapa totokan yang terarah pada syaraf Ki Upas, Danur Cakra berhasil memaksa Katak Beracun untuk keluar dari persembunyiannya.


Dengan ekspresi yang amat ketakutan, Katak Beracun melompat sejadi-jadi berusaha untuk melarikan diri. Bagaimanapun istimewanya seekor katak, manalah mungkin bisa disandingkan dengan seekor naga kresna.


Claasss! Jarum berwarna perak bergerak lebih cepat menembus kulit sang katak. Energi tapak naga es membuat seluruh tubuh Katak Beracun membeku dan pada akhirnya berubah menyerupai sebuah boneka katak yang amat lucu, berwarna putih bersih. Seperti mainan putri dewa yang seolah tidak menyembunyikan hal berbahaya di baliknya.


Setelah menyimpan Boneka Katak Beracun, Danur Cakra kembali mengalihkan perhatiannya pada Ki Upas yang hampir mati ketakutan. Dia baru sadar setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika sosok pria dingin tamunya itu tidak lain ialah Pendekar Naga Kresna yang namanya hangat di seantero dunia persilatan. Sungguh wajah dan penampilan Cakra tidak sesangar seperti yang banyak diceritakan orang-orang.


"Ampuni hamba pendekar, ampunnn ..." dengan memelas Ki Upas berharap Cakra berbelas kasih.

__ADS_1


Senyum sinis penuh makna tersungging di sudut bibir Cakra. Dia menatap dengan tajam pada Ki Upas, "kecuali jika kau bisa membantuku untuk segera tiba ke tempat yang aku tuju."


Darah yang hampir meninggalkan tubuh, perlahan kembali mengisi sinar wajah Ki Upas. Ada secercah harapan untuknya masih bertahan.


"Hamba yakin bisa membantu, pendekar. Hamba tahu di mana keberadaan karpet emas yang bisa membawa Tuan Pendekar ke mana pun, dalam waktu yang singkat!" dengan bersemangat Ki Upas menjawab.


Danur Cakra mengangkat sebelah alisnya. Ia pernah mendengar perihal Karpet Emas. Benda pusaka yang memiliki kemampuan teleportasi. Meskipun kemampuan teleportasi Karpet Emas hanya bisa digunakan tidak lebih dari tiga kali, paling tidak itu lebih dari cukup untuk membuat Danur Cakra bisa secepatnya tiba di Pulau Seribu Pandan tanpa harus keluar tenaga.


"Katakan di mana keberadaan Karpet Emas itu. Aku berjanji, tidak akan membunuhmu!" ucap Danur Cakra.


"Seorang kesatria sejati tidak akan pernah menarik perkataannya. Hamba percaya, Tuan Pendekar berhati mulia," jelas terlihat Ki Upas merupakan seorang penjilat.


Danur Cakra mengangguk pelan. Sebagai bukti, dia melepaskan totokan di tubuh Ki Upas.


Tidak lama kemudian Ki Upas memberikan sebuah peta, petunjuk keberadaan Karpet Emas. Kiranya tempat persembunyian Karpet Emas tidak jauh dari desa Randu Watu, hanya saja Ki Upas tidak miliki cukup daya dan kemampuan untuk mengambilnya.


Danur Cakra mengambil peta tersebut, kemudian bergegas pergi. Sebelum melangkah keluar ruangan, Danur Cakra berhenti sejenak.


"Aku memanglah seorang kesatria yang selalu menepati janji. Tapi aku tidak tahu, bagaimana dengan mereka," ucap Danur Cakra sebelum kemudian melanjutkan langkah tanpa menoleh barang satu kali pun.


Ki Upas mengerutkan dahi, mencoba mencerna maksud dari perkataan Cakra barusan. Akan tetapi, belum juga dia berhasil dapatkan kesimpulan, kenyataan telah memberikan jawaban.


Braaakk !!! dengan paksa, dinding ruangan didobrak oleh sekelompok orang.


Tidak lain, mereka ialah orang-orang yang selama ini diperkerjakan oleh Ki Upas dengan semena-mena. Setelah Katak Beracun berhasil ditaklukkan, seketika itu juga pengaruh mantra sihir di otak mereka lenyap. Dan sekarang mereka datang dengan api kebencian yang menyala. Masing-masing hendak mencabik tubuh Ki Upas menjadi serpihan tak berbentuk.


"TIIDAAAKKKK !!!" teriakan Ki Upas menggema mengisi kolong langit. Ia membayar atas apa yang telah diperbuat.


Sejenak, Danur Cakra menghentikan langkah saat mendengar lengkingan suara Ki Upas. Ada orang lain yang mewakili dirinya untuk lenyapkan si biang bencana. 

__ADS_1


Saat ini, Fokus Cakra ialah untuk secepatnya mendapatkan Karpet Emas. Pikiran Cakra tidak tenang, jangan-jangan sesuatu telah terjadi di pulau Seribu Pandan.


__ADS_2