Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Perjalanan Menuju Giling Wesi


__ADS_3

Puspita memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri. Betapa kacaunya pikiran Puspita Dewi mengingat keadaan yang begitu genting menurutnya.


Putrinya, sedang mandi dan akan bersiap-siap untuk pergi ke Padepokan Giling Wesi. Suhita begitu ngebet mau menyaksikan secara dekat berlangsungnya kompetisi bergengsi di sana. Sementara, suaminya tak kunjung pulang.


Selain Mahesa, tidak ada orang yang bisa diandalkan untuk lakukan hal itu. Meskipun Nyi Gondo Arum dan Kalagondang juga memiliki kemampuan ilmu lari cepat yang cukup tinggi, tapi tidak mungkin mereka bisa melakukannya. Padepokan Giling Wesi berjarak sangat jauh. Andaipun dipaksakan, kemungkinan besar pengasuh Suhita untuk sampai sangatlah tipis. Bahkan cenderung mereka akan kehabisan seluruh energi sebelum mencapai perbatasan.


Tep! Cemooolll!


Puspita terkejut luar biasa. Bulu kuduknya sampai merinding, sekujur tubuhnya pun mendadak seperti orang yang kedinginan. Tiba-tiba saja, ada tangan yang mendarat dan meremas bokongnya.


Dengan jantung yang hampir copot, Puspita segera berbalik badan untuk memastikan siapa orang yang berbuat tidak senonoh padanya.


Raut wajah Puspita yang semula pucat, langsung berubah menjadi bersemu merah saat melihat orang yang melakukannya adalah orang yang paling dia kenal. Siapa lagi kalau bukan suaminya. Dasar iseng.


Tanpa bisa berkata-kata, Puspita langsung menubruk dan menggigit dada suaminya sebagai bentuk curahan rasa kekesalan karena Mahesa telah membuatnya ketar-ketir berjam-jam lamanya.


"Aduuu-aduuu-aduuuhhh ... jangan gigit liar di situ. Di sini saja," Mahesa menjambak rambut Puspita, memaksa untuk wajah istrinya menjauh dari dada dan mengarahkan ke bibirnya.


"Hehehe ... maaf, ya," hanya kalimat itu yang selalu menjadi senjata ampuh Mahesa setiap kali berbuat salah.


Anehnya, Puspita selalu saja membuka pintu maafnya. Tidak perduli seberat dan sebesar apa pun kekesalan dalam hatinya, setelah berjumpa Mahesa, menatap mata suaminya itu, maka seluruhnya seketika langsung runtuh. Cintanya yang begitu besar, melebur segalanya.


"Kanda, Hita telah berhasil. Dia nampak begitu bersemangat. Aku yakin, ada hal lain yang mendorongnya menjadi seperti itu. Mungkin, dia telah temukan seorang yang bisa memberi suntikan semangat. Temannya," Puspita bicara dengan mata yang berbinar.

__ADS_1


"Ya, bisa jadi. Anak itu sangat manja. Apa yang menjadi keinginannya, maka itulah yang akan dia lakukan. Selama tidak menyimpang, kita tidak bisa berbuat banyak. Kecuali, dia mulai keluar jalur," Mahesa tersenyum.


Mahesa meminta Puspita untuk siapkan makan malam. Sebelum pergi, mereka perlu mengisi energi tentunya. "Aku ingin pergi melihat anak kita."


Puspita mengangguk. Betapa leganya hati Puspita, apa yang dia khawatirkan nyatanya tidak terjadi. Mahesa merupakan pria yang bertanggung jawab, setidaknya itulah yang Puspita rasakan. Dan mengapa sejak lama dulu, Puspita tidak bisa melupakan barang sebentar tentang Mahesa. Bahkan saat dia menjadi Cahaya Langit sekali pun, hatinya yang cuma satu selalu tertuju. Cinta pertama sekaligus cinta terakhir, harusnya Puspita tidak meragukan itu.


°°°


Hari itu, adalah pertandingan semi final. Para peserta kompetisi dari berbagai cabang akan melanjutkan perjuangan mereka. Terutama, mereka yang bertanding olah kanuragan. Begitu banyak mata yang tertuju, untuk menyaksikan calon pendekar masa depan.


Sementara, Suhita Prameswari masih dalam perjalanan. Meskipun Suhita merasa jika kondisi fisiknya masih cukup kuat, tapi Mahesa memaksa untuk putrinya beristirahat di sebuah kedai. Sekadar mengisi perut dan melemaskan otot-otot.


"Mungkin, ini adalah perjalanan pertamamu. Ayah tidak ingin sampai kau sakit atau terjadi sesuatu ketika kita tiba nanti. Ayah yakin, kau sudah paham mengenai hal itu," Mahesa mengusap kepala Suhita.


Seperti biasa, kemana-mana Suhita selalu membawa perlengkapan pengobatan. Setiap orang yang melihat akan tahu jika dia adalah seorang tabib kecil. Tidak ubahnya di kedai itu.


"Tabib kecil, saya mohon ... kasihanilah saya ..." ibu itu memohon dengan sangat. Wajahnya penuh iba, hampir menangis.


"Heh, apa yang kau lakukan?! Kau hanya mengganggu selera makan tamu kami. Mau minta tolong, tapi tidak lihat-lihat dulu. Bukankah bisa kau tunggu sampai tabib kecil selesai makan. Sungguh tidak masuk akal! Cepat sana pergi!" pelayan kedai segera menangkap pundak wanita paruh baya itu dan menyeretnya keluar kedai.


"Tunggu! Paman jangan lakukan. Biarkan ibu itu selesaikan bicaranya!" Suhita menghentikan.


Saat pelayan kedai melepaskan cengkraman di pundaknya, wanita paruh baya itu segera merangkak mendekati Suhita. Dengan suara yang serak dan kesedihan mendalam dia menceritakan keadaan anaknya yang sedang sekarat. Tentang keluarganya yang dalam kesusahan ekonomi, semuanya.

__ADS_1


Mahesa memicingkan matanya, mungkin orang lain bisa saja iba, akan tetapi Mahesa tidak tertipu oleh penampilan wanita paruh baya yang terlihat begitu sempurna dalam belenggu kemiskinan yang dia perankan. Ingin rasanya Mahesa mengibaskan tangannya, untuk melemparkan wanita paruh baya tersebut keluar kedai. Tapi itu tidak Mahesa lakukan karena ada Suhita di sana. Tanpa adanya bukti, Mahesa tidak bisa berbuat seenaknya.


Benar saja, setelah mendengar cerita wanita itu hati Suhita langsung tersentuh. Suhita berjanji untuk membantu meringankan beban wanita tersebut sebanyak yang dia bisa. Termasuk meminta ayahnya untuk memesan makanan agar wanita tersebut dan anak-anaknya bisa makan enak.


Mahesa hanya tersenyum tipis. Saat wanita paruh baya tadi melirik ke arahnya, Mahesa menatap wanita itu dengan tajam. Pandangan mereka saling bertabrakan, membuat desir yang menyerang dada si wanita paruh baya. Tidak lupa, Mahesa mengerahkan aura membunuh yang khusus ditujukan pada sang wanita, seolah memberi peringatan agar wanita tersebut tidak macam-macam.


"Ayah, apa sudah selesai makannya?" tanya Suhita pada Mahesa. Suhita melihat jika Mahesa nampak tenang-tenang saja. "Emmm ... kita harus pergi ke rumah ibu ini, Yah. Kasihan ...."


"Kalau begitu, tunggu apa lagi. Ayo!" Mahesa segera bangkit.


Di jari tangannya terjepit kepeng uang emas yang di arahkan pada pelayan kedai. "Ambil saja kembaliannya."


Dengan membawa beberapa bungkus makanan, mereka keluar kedai. Mengikuti langkah kaki wanita tua yang menuntun mereka menuju rumah.


"Katanya, anakmu sakit keras. Berapa orang tadi, lima?! Mengapa rumah ini begitu sepi?" Mahesa menatap pekarangan rumah besar yang tak terurus itu.


"Mungkin mereka tertidur, Tuan. Setelah kecapekan menangis sejak fajar," jawab wanita tua sekenanya. Dia bergegas memasuki pondok.


"Sayang, hati-hati. Tetap waspada. Dia bukan orang baik-baik!" Mahesa memeringatkan Suhita.


Suhita kaget mendengar ucapan ayahnya. Bagaimana bisa Mahesa berkata demikian, memvonis orang jahat. Tapi ya sudahlah, Suhita menjawab dengan anggukan. Dengan demikian, masalah jadi beres.


Tidak mengabaikan peringatan ayahnya, Suhita meningkatkan kewaspadaan. Mahesa merupakan seorang pendekar besar yang kaya akan pengalaman. Tidak mungkin dia hanya asal bicara saja.

__ADS_1


"Ayo, masuk. Lakukan tugasmu dengan baik," Mahesa tersenyum. Meminta Suhita masuk lebih dulu ke dalam rumah.


Di dalam rumah, Suhita disambut dengan pemandangan yang serupa seperti apa yang diceritakan si ibu di kedai tadi. Suhita segera membuka kotak pengobatan yang dia bawa.


__ADS_2